Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pekerjaan yang Mengurung di Pulau Terpencil

Pekerjaan yang Mengurung di Pulau Terpencil

Eriska | Bersambung
Jumlah kata
43.2K
Popular
135
Subscribe
12
Novel / Pekerjaan yang Mengurung di Pulau Terpencil
Pekerjaan yang Mengurung di Pulau Terpencil

Pekerjaan yang Mengurung di Pulau Terpencil

Eriska| Bersambung
Jumlah Kata
43.2K
Popular
135
Subscribe
12
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeMengubah NasibPria MiskinPertualangan
Seorang pria sulung dari tujuh bersaudara tumbuh dalam keluarga sederhana yang penuh beban. Ibunya sering jatuh sakit, sementara ayahnya lumpuh dan sepenuhnya bergantung pada keluarga. Di tengah kondisi itu, sebagian besar tanggung jawab rumah justru jatuh ke pundak anak keduanya. Hingga suatu hari, sebuah tawaran kerja datang—menjadi nelayan di sebuah pulau terpencil. Tanpa banyak curiga, ia menerimanya demi mengubah nasib keluarga. Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi jebakan. Pekerjaan yang dijanjikan ternyata tidak pernah ada. Ia justru terperangkap di pulau asing, jauh dari rumah, dalam kehidupan keras yang hampir tak memberi jalan pulang. Di tengah keterasingan itu, ia bertemu seorang perempuan cantik yang perlahan mengubah arah hidupnya… tanpa ia sadari, pertemuan itu menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar upaya bertahan hidup.
Bab 1

Pagi itu rumah kecil yang ditempati keluarga paling miskin di kota ini, bangunannya sudah tidak layak huni, jika melihat dari dalam maupun dari luar tidak ada kebagusan sekali rumah nya.

Di dalam rumah itu ada 9 orang yang tinggal di rumah jelek ini, terdengar dari dapur ada suara seorang wanita yang batuk yang tertahan, napasnya yang terdengar berat, dan setiap kali batuk dia mengeluarkan darah. Di sudut rumah, seorang pria yang duduk di tepi tikar lusuh, menatap ayahnya yang terbaring tak berdaya, sembari mengurus ayahnya yang tidak bisa apa-apa.

Tubuh ayahnya dulu menjadi tempat berlindung keluarga. Sekarang hanya diam diri, seperti waktu yang berhenti di satu titik yang tidak mau bergerak lagi.

Setelah dia selesai mengurus ayahnya, dia pun pergi menghampiri anak sulung yang bernama Baskara.

Sementara di dapur kecil, ibunya itu sedang berusaha melayani meski tubuhnya lemah. Tangannya gemetar saat berusaha untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Di antara semua itu, hanya satu orang yang terus bergerak tanpa benar-benar istirahat—anak sulung keluarga itu, dia yang paling sayang keluarganya, dia ingin mengubah nasib keluarga ini, dia juga orang yang tidak pernah mengenal lelah karena baginya kalau dia nggak kerja dia nggak dapat duit.

Ya, Baskara bukan anak yang banyak sekali bicara. Tapi matanya menyimpan terlalu banyak hal yang tidak pernah dibicarakan.

Kini dia menoleh dia kedatangan adiknya, dia anak kedua.

"Kakak!"

“Kalau kamu terus begini, Kakak, kamu juga bisa jatuh sakit, istirahat saja,” suara anak kedua terdengar pelan dari belakang.

Anak kedua itu masih berdiri, menatap saudaranya yang lebih tua. Wajahnya lelah, tapi masih mencoba kuat.

“Kalau aku malas-malasan,” jawab si sulung tanpa menoleh, “siapa yang akan cari uang untuk kebutuhan hidup kita semua?”

Jawaban itu tidak bisa dijawab karena memang si anak sulung yang kerja untuk menghidupi keluarga. Karena adik-adiknya yang lain tidak mau bekerja dan pemalas.

“Dek, di antara adik-adik, kamu yang paling peduli sama ibu, ayah, dan kakak. Gimana kalau besok kamu juga bantu kakak cari kayu di hutan? Kayu-kayu ini kita jual, biar dapat duit. Kalau kamu ikut bantu, ada uang tambahan. Apalagi kalau kamu bisa nyuruh adik-adik kamu ikut bantu kerja,” kata Baskara.

“Tapi, Bang… aku kan punya tugas ngurus ayah. Abang yang nyuruh juga,” jawab Bagas.

“Nanti diganti sama si Kelana,” balas Baskara singkat.

“Mana mau dia…” ucap Bagas pelan, ragu.

“Kamu kan nyuruh Abang istirahat. Kamu bisa bantu angkat kayu itu, ditata ke barisan itu,” kata Baskara lagi.

"Sebenarnya aku kesini nggak mau bantuin, Bang,"timpal Bagas.

"Tapi baiklah, aku bantuin,"lanjut Bagas.

Kini si Baskara dan si Bagas akhirnya mengangkat kayu satu per satu ke barisan. Dengan tenaga yang tersisa, mereka menata kayu-kayu itu hingga yang semula berserakan kini menjadi rapi dan tersusun.

Peluh mulai terlihat di wajah keduanya, namun pekerjaan itu tetap mereka lanjutkan tanpa banyak bicara. Hening, hanya suara kayu yang bergeser dan napas yang sedikit berat.

Setelah semua kayu tertata dengan rapi, Baskara menoleh ke Bagas.

“Dek,” ucap Baskara pelan namun tegas, “Abang serius ngajak kamu kerja bareng besok. Kalau kita jalan berdua, hasilnya bisa lebih cepat. Kita bisa bantu keluarga lebih banyak.”

Bagas terdiam sejenak, menatap kayu-kayu yang sudah mereka rapikan. Wajahnya masih ragu, tapi ada sedikit perubahan di sorot matanya—seperti mulai memahami beban yang selama ini dipikul kakaknya sendirian.

Baskara tidak menunggu jawaban panjang. Ia hanya melanjutkan pekerjaannya, seolah ingin menunjukkan bahwa ini bukan sekadar ajakan, tapi langkah nyata untuk bertahan hidup bersama.

Dan akhirnya pekerjaan itu selesai. Baskara menarik napas panjang, ada sedikit rasa lega setelah kayu-kayu itu berhasil mereka tata. Ia lalu mengajak Bagas masuk ke dalam rumah.

Begitu tiba di dalam, Kelana tampak panik.

“Ibu pingsan!” ucap Kelana.

Mendengar itu, Baskara langsung berlari ke arah ibu mereka. Bagas ikut menyusul tanpa berpikir panjang.

"Ibu!"teriak Baskara sambil lari.

"Ibu!"teriak Bagas dengan sambil menangis takut ibu kenapa kenapa.

Baskara begitu berada di samping ibunya, segera menggendong tubuh ibunya yang pingsan itu dengan hati-hati.

“Ibu…” ucapnya lirih, menahan panik yang mulai naik di dadanya.

Ia sekarang berjalan dengan langkah perlahan-lahan membawa ibunya keluar dari rumah, diikuti langkah cepat si Bagas yang membuka pintu depan. Sementara Kelana si bungsu mengekor dibelakang.

Suasana mendadak berubah menjadi penuh kecemasan, hanya satu tujuan di pikiran mereka: segera membawa ibu ke tempat pertolongan.

“Kak, apa yang kita lakukan kita itu nggak punya uang banyak?” tanya Bagas dengan suara cemas.

Baskara berhenti sejenak, lalu menjawab cepat, “Kakak mau bawa ibu ke rumah sakit. Kamu jaga rumah, Kelana.”

Ia menatap Bagas lagi, lebih tegas kali ini. “Dan kamu, Bagas, cari uang pinjaman untuk biaya ibu di rumah sakit. Kita butuh cepat, takutnya ibu harus dapat perawatan segera.”

Sementara itu, adik-adik lainnya baru keluar setelah mereka sudah berada di luar.

“Ibu mau dibawa ke mana, Kak?” tanya Damar.

“Aku tadi sudah ketok-ketok, tapi nggak dibawa. Padahal aku sudah bilang kalau ibu itu pingsan didapur, kalian ini nggak mau bukain pintu dan nggak dengerin” ucap Kelana dengan nada kesal sama kakak-kakak nya itu.

Baskara menoleh ke arah mereka semua—Damar, Bima, Raka, dan Arga. Wajahnya tegas, meski jelas ada kepanikan yang ia tahan.

“Kalian juga ikut cari pinjaman,” ucap Baskara singkat.

Begitu selesai berbicara, Baskara meneruskan langkahnya tanpa menunggu jawaban dari adik-adiknya yang lain. Ia segera membawa ibunya mendekati tukang becak, lalu mengangkatnya naik ke dalam becak untuk menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, Baskara memeluk ibunya erat-erat. Tatapannya kosong namun penuh kecemasan. Ia takut terjadi sesuatu pada ibunya. Meski ia sudah sering melihat ibunya sakit-sakitan, rasa kasihan itu tidak pernah benar-benar bisa ia tahan.

Dalam hatinya, ia hanya berharap satu hal: ibunya masih diberi umur panjang.

Di tengah laju becak yang pelan, pikirannya terus berputar. Ia berharap salah satu adiknya berhasil mendapatkan pinjaman, bahkan lebih baik jika kelimanya bisa mendapatkan pinjaman uang. Karena ia sangat tahu , biaya rumah sakit tidak akan mengeluarkan biaya kecil.

Pada akhirnya mereka sampai juga di parkiran rumah sakit. Tanpa menunggu lama, Baskara segera mengangkat ibunya dari becak.

Dengan napas yang masih terengah, ia menggendong ibunya masuk ke dalam rumah sakit. Langkahnya cepat, meski tubuhnya mulai terasa berat.

Begitu masuk ke dalam, ia langsung membawa ibunya ke brankar yang tersedia. Beberapa saat kemudian, suster yang bertugas datang dan segera mendorong brankar tersebut menuju ruang pemeriksaan lebih lanjut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca