
- Jumlah kata
- 8.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 11
Sinopsis
Hari sial memang tidak ada di kalender. Itu juga yang dirasakan Alden, pemuda 23 tahun yang ingin menghilangkan penat dan pergi ke klub malam terkenal di kotanya, justru berakhir di jual oleh teman baiknya sendiri. Karena terlalu banyak minum, Alden sampai tak sadarkan diri. Ketika kesadaran mulai muncul yang dia lihat adalah dirinya tanpa busana terbaring di tempat tidur kamar hotel. Dia dibeli oleh seorang eksekutif muda sukses bernama Nadira Prameswari pemilik tunggal Prameswari Holdings. Perempuan itu butuh lelaki yang bisa membuatnya hamil untuk mematahkan tudingan jika dirinya adalah wanita mandul. Alden menjadi pebinor bayaran sejak malam itu. Dia terjebak dalam kisah cinta yang rumit. Alih-alih merutuki nasibnya, dia justru menikmati perannya sebagai berondong simpanan Tante Nadira yang tajir melintir. "Ada cobaan, gue cobain. Ada tantangan, gue tantangin! Selama yang gue hadapi bukan Tuhan atau malaikat Izrail, maju aja! Gue nggak takut!" celetuk Alden bangga.
Ulasan
1 ulasan
Abdul Ram
17/4/26 18:08
lanjuut bangg........suka sama ceritanya, lucu juga,semangat 32😁👍....................................
1. Dibayar Tunai!
Kepala Alden terasa seperti ditumbuk palu godam berkali-kali ketika cahaya matahari menyusup lembut lewat tirai sutra tipis penthouse mewah itu. Cahaya itu seperti menampar wajahnya tanpa ampun. Silau. Menyebalkan. Terlalu terang untuk seseorang yang bahkan masih belum yakin dia hidup atau nyaris mati.
Aroma asing memenuhi indera penciumannya, parfum mahal bercampur sisa alkohol dan... muntahan?
"Ugh…"
Alden mengerang pelan. Dengan mata masih terpejam, lelaki tersebut mengangkat tubuhnya perlahan dari kasur empuk yang terasa terlalu nyaman untuk ukuran hidupnya. Selimut sutra melorot dari tubuhnya tanpa permisi.
Dingin. Sepi. Dan… Tak terhalang apapun?
Beberapa detik berlalu. Otaknya akhirnya kembali berfungsi sebagai mana mestinya. Matanya langsung terbuka lebar.
“...”
Sunyi satu detik. Lalu detik berikutnya...
“SETAN—!”
Alden refleks menarik selimut, menutup bagian vitalnya yang jelas-jelas lagi terekspos tanpa izin. Nafasnya memburu, matanya liar menatap sekeliling. Ruangan ini mewah banget, pikirnya.
Langit-langit tinggi. Kaca besar menghadap kota. Interior elegan yang bahkan lebih mahal, bahkan vas bunga kosong tanpa hiasan itu jelas-jelas berharga mahal.
“Ini di mana anjir…?”
Tangannya meraba tubuh sendiri. Masih utuh. Nggak ada luka. Tapi kok,
“Bangke… gue telanjang?!”
Panik langsung naik ke ubun-ubun. Dia bangkit dari kasur, celingukan kayak maling yang lupa bawa senter.
“Celana gue mana?! Boxer gue mana?! Sialan!”
Nggak ada. Nggak ada apa-apa di kasur. Dia cari di bawah, turun ke lantai. Celingukan siapa tahu barang-barangnya teronggok tak berdaya di bawah sana. Nihil! Tak ada apapun juga.
Matanya menatap ke bagian bawah tubuhnya yang tak terhalang apapun. "Bangke, gue diperkosa siapa ini??" Kesadaran Alden muncul sepenuhnya sekarang meski masih tersisa pusing tuing tuing.
"Syu, asyu! Segala sempak juga ilang?? Ini gue dirampok secawet-cawetnya gitu??" Masih murka dia.
"Punya mulut bisanya cuma buat maki-maki aja ya?"
Duaaaar!
Alden terkejut. Dia memutar tubuhnya secepat kilat sambil mengeratkan selimut sutra untuk menutupi bokong dan bagian depan bokongnya yang sejak tadi terekspos gondal-gandol tak tentu arah.
Seorang perempuan nampak duduk santai di sofa. Dia terlihat elegan. Sangat tenang. Seolah semua kekacauan Alden barusan cuma hiburan di pagi hari.
Rambut hitamnya tergerai rapi. Kakinya disilangkan anggun. Tatapannya… tajam, tapi dingin. Kayak es batu yang bisa nyayat.
Suara wanita tadi asli bikin jantung Alden nyaris copot dari tempatnya. Apa dia yang nyulik Alden? Yang merkosa Alden? Yang preteli semua pakaian Alden hingga sesempak-sempaknya? Kurang ajar! Alden wajib marah kalau gini sih!
"Heh, nggak sopan banget lo mbak! Balikin baju, celana sama.. sempak gue! Ngefans sih ngefans mbak, tapi nggak gini gini juga!" Satu tangan menunjuk ke arah perempuan itu, satunya lagi mencoba memegangi selimut agar tidak jatuh yang memperlihatkan apa yang sedang berusaha Alden tutupi.
"Pakaian lo kotor kena muntahan! Lo mabuk parah semalam!" Judes banget perempuan itu sambil melempar tote bag besar ke arah Alden. Reflek tangan Alden menangkap barang tersebut dengan cekatan. Namun yang terjadi adalah, selimut sutra yang dia pegang dengan tangan kiri meluncur mulus ke lantai.
"Jiangkreeek!" Alden mengambil lagi selimut yang terjatuh dengan sangat cepat. Dia merasa dijadikan tontonan tante-tante girang kalau gini ceritanya.
"Norak." Singkat. Jelas. Tanpa ekspresi. Perempuan itu bahkan terlihat tak peduli.
Perempuan tadi duduk elegan di sofa, tak memperdulikan Alden yang sibuk membuka tote bag, menemukan pakaian bermerek di sana dan langsung memakai pakaian dengan gerakan semprawut yang penting cepet kelar. Sesekali matanya memindai wanita yang tak meliriknya babar blas.
Wajah Alden merah padam menahan malu, seumur hidup belum pernah dia telanjang bulat di depan lawan jenis seperti tadi. Oke lah dia tampan, tapi nggak malu-maluin juga kali??
Alden menatap perempuan itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Orang nggak waras sekalipun akan mengatakan jika perempuan elegan yang sedang sibuk dengan ponselnya itu adalah jelmaan bidadari. Cantiknya unreal banget!
"Gue emang cantik, nggak perlu liatin gue nyampe mata lo mau copot kayak gitu." Suara itu mengagetkan Alden untuk kedua kalinya.
'Bahaya! Sering kaget kayak gini bisa memicu penyakit jantung! Cantik sih jangan ditanya, tapi kalau galaknya ngalahin Sumala gini ya siapa yang bisa betah lama-lama di dekatnya?' batin Alden menatap perempuan itu dengan mata menyipit.
"Maaf ya, mbak. Mungkin mbak ada hutang penjelasan sama gue? Kok bisa gue ada di sini.. dengan keadaan memprihatinkan seperti tadi? Apa mbak nggak merasa butuh menjelaskan sesuatu?" Alden duduk di depan perempuan cantik itu tanpa disuruh.
"Lo udah gue beli." Alden kembali terperanjat mendengar penuturan perempuan yang kini menyodorkan kertas bermaterai serta ada cap jempol di atas materai tersebut.
"Heh! Sembarangan! Gue bukan dagangan, mbak! Nyokap gue juga nggak setega itu sampai jual gue ke elo! Ini lagi! Ini lho jaman apa, masih guna apa cap jempol kayak gini??" Alden syok membaca selembar kertas yang isinya adalah proses jual beli antara dirinya dan.. Nadira??
"Nadira Prameswari?" Alden mengulang nama yang baru saja dia baca.
"Gue nggak peduli lo setuju atau enggak. Di situ jelas tertulis kalau gue udah beli lo, dan lo udah setuju. Cap jempol, serta video ini jadi buktinya."
Buru-buru Alden mengambil ponsel yang sejak tadi Nadira pegang, di sana memperlihatkan video ketika Alden mabuk parah di sebelahnya ada Ryu, sahabatnya dan juga ada Nadira yang meletakkan selembar kertas sambil disaksikan oleh Ryu. Ya, perempuan ayu itu bernama Nadira Prameswari. Si cantik dengan paras menyerupai bidadari tapi tengilnya setengah mati! Ya kali dia beli manusia, kaya sih kaya tapi nggak gitu juga kelez.
"Bajingan! Ryu! Tega lo jual gue kayak gini, apa artinya pertemanan kita selama ini Ry, kalau ujungnya lo manfaatin gue! Anak setan, titisan genderuwo, warok kurang sajen!" Umpat Alden ingin mencekik Ryu jika bisa.
"Di jual berapa gue sama si anak jadah itu, emang mbak? Gue ganti! Nggak terima gue dijadiin barang dagangan kayak gini!" Omel Alden lagi.
"Di situ jelas tertulis, lo bisa baca kan?" Nadira cuek tak merespon berlebihan semua kicauan Alden.
"Du-dua milyar selama enam bulan? Ajegileeee.. Gue laku semahal itu? Tau gitu gue jual diri gue sendiri di Sopi!" Agak laen emang si Alden ini.
"Uang itu ada di sini. Ini isinya dua miliar. Temen lo nggak ambil untung sama sekali. Dia cuma nawarin lo sama gue."
"Eh." Alden menatap kartu ATM warna hitam legam dengan mata berbinar.
"Ehm... Oke deh. Karena udah kadung kayak gini, ya mau gimana lagi. Lagian.. gue juga udah ternoda kan? Mbak udah ambil keperjakaan gue. Jadi, gue anggep ini kompensasi. Gue nggak akan memperpanjang masalah ini." Alden mesem mesem kayak orang mabok kecubung.
"Jangan senang dulu. Karena jika dalam tempo yang ditentukan lo nggak bisa memenuhi keinginan gue sebagai pihak pertama yang udah beli jasa lo. Lo bakal kena denda dengan mengembalikan dua kali lipat nominal uang yang ada di black card itu."
"Asyyuuu!! Heh!! Cekik aja gue sekarang cekik! Mau lo apa sih mbak? Kalau cuma mau meres gue, lo salah orang mbak! Gue kere nyampe urat nadi, nggak ada tampang gue bisa balikin duit lo yang dua miliar itu, apalagi lo gandain jadi empat miliar! Kira-kira aja lah mbak! Gue jual dua ginjal gue ke Kamboja juga belum tentu laku harga segitu. Gue jual darah gue nyampe kering tinggal tulang sama kulit ini badan juga nggak bakal nutup utang gue ke lo. Udah mbak, nggak deh.. makasih banget udah diiming-imingi black card ini. Gue milih jadi gembel dari pada hidup terbelenggu hutang yang nggak ada ujungnya."
"Tugas lo gampang."
"Nggak peduli mbak, nggak peduli. Kita nggak saling kenal, cari orang lain aja. Sial banget sih gue, mau ngilangin stres malah ketemu orang stres gini."
"Jaga mulut lo."
Alden melengos. Sesaat mereka diam. Alden memakai kaos yang sedari tadi cuma dia sampirkan di bahu. Nafas panjang terdengar, Alden butuh uang. Ibunya sedang sakit, adiknya butuh uang untuk biaya sekolah.
'Sial! Sebenarnya ini berkah atau musibah sih? Atau musibah berselimut keberkahan?' Alden geleng kepala. Dia singkirkan semua hal buruk di kepalanya.
"Tugas gue apa, mbak? Kalau suruh bunuh orang, maaf maaf aja. Gue nggak bisa. Nggak pernah dan nggak mau."
Nadira tersenyum samar. Senyum tipis yang hanya dia sendiri yang tahu artinya apa.
"Bukan bunuh orang, tapi bikin anak."
Seketika mata Alden membulat sempurna. Mau misuh tapi mulutnya terkunci seketika. Dia syok.
"Bikin anak? Nganu-nganuan? Bu-bukannya semalem udah...?" Alden seperti gadis malu-malu, bicara sambil menunduk.
"Semalem lo tepar. Gue udah bilang, lo mabuk."
"Ta-tapi.. Gue bangun udah telan..jang." masih malu-malu mengingat waktu bangun sang burung gagah perkasa lepas dari sangkarnya.
"Office boy yang lepasin semua pakaian lo. Lo maboknya parah, muntah di mana-mana sampai celana sama daleman lo ikut kena juga." Tak ada senyum. Nadira menjelaskan hal itu tanpa malu seperti sudah biasa melihat hal semacam itu.
"Ya lah tuuuuuh." Alden manyun, masih tak terima jika asetnya sudah tak suci lagi karena udah dipertontonkan pada office boy panggilan mbak Nadira. Dia usap wajahnya kasar, kali ini kepalanya kembali pusing tapi bukan efek alkohol.. ada hal yang lebih bahaya dari pada miras ternyata... Nadira Prameswari, apa yang dia inginkan sebenarnya?
Daftar bab
5 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








