

Rangga menggenggam erat sandaran kursinya. Jantungnya berdebar kencang, seakan ingin meloncat keluar dari dadanya. Pesawat kembali bergetar ketika melewati gumpalan awan tebal.
Rasanya seperti naik kendaraan di jalan berlubang, tapi ini di udara, dan itu membuatnya jauh lebih menakutkan.
Ia melirik ke sekitar. Penumpang lain tampak tenang, bahkan ada yang tertidur dengan santai.
Seorang pria paruh baya membaca koran dengan kacamata turun di ujung hidungnya. Seorang ibu muda sibuk menenangkan anaknya yang terus menggeliat di pangkuan. Tidak ada satu pun yang terlihat panik seperti dirinya.
Rangga menarik napas panjang. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dari ketakutan dengan memandang ke luar jendela. Pandangannya kosong dalam pikiran yang melayang-layang, menginggat masa lalunya yang tak begitu manis.
Rangga teringat ayahnya, seorang pemijat yang ahli. Dahulu, klinik pijat milik ayahnya sangat ramai dengan antrian pasien, hingga membuat kehidupan Rangga dan ayah ibunya saat itu berkecukupan.
Ayah Rangga pun sempat mewariskan ilmu pijatnya kepada Rangga. Ia diajarkan berbagai teknik pijatan rahasia dan titik-titik pijatan khusus yang sangat disukai oleh para wanita.
Kadangkala Rangga juga meluangkan waktu untuk membantu memijat banyak pasien di klinik pijat milik ayahnya. Namun, saat usia rangga menginjak 20 tahun, ibunya meninggal karena penyakit kanker.
Semenjak kepergian ibunya, kehidupan rangga berubah drastis. Ayah Rangga menjadi suka berjudi dan bermain wanita hingga akhirnya terjebak dalam hutang yang menguras semua harta bendanya dan juga rumah tempat Rangga dan ayahnya tinggal. Kemudian ayahnya sakit parah dan akhirnya meninggal.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang ayah berpesan, "Pergilah ke kota dan temui Om Suryo. Dia bisa membantumu memulai hidup baru."
Rangga pun menuruti wasiat terakhir ayahnya. Setelah ayahnya dimakamkan disamping nisan ibunya, ia pun mencoba menghubungi Om Suryo; yang merupakan adik kandung dari ayahnya.
Kini, Rangga harus rela meninggalkan kampung halaman tempat muara ayah dan ibunya berada.
Ia menyeberangi pulau, dan memulai kehidupan di tempat asing, bersama dengan pamannya.
Tanpa pilihan lain, ia berusaha menguatkan hati, berharap nasibnya tidak berakhir seperti ayahnya.
Mata Rangga masih mengamati langit biru terbentang luas, diselingi awan putih yang menggumpal seperti kapas. Namun, bukan pemandangan itu yang menghilangkan kecemasannya, melainkan sosok seorang pramugari yang duduk di kursi lipat di depan kabin, tepat menghadap ke arah penumpang.
Wanita itu berparas cantik dengan seragam biru tua yang membentuk lekuk tubuhnya dengan anggun. Rambutnya ditata rapi, bibirnya yang berlipstik merah muda tampak sedikit mengerucut saat ia melamun. Dadanya lumayan menonjol dan tersemat sebuah lencana berwarna emas dengan lambang maskapai penerbangan. Ia memakai rok agak pendek, menampilkan kemulusan kulit setengah paha dan kakinya yang ramping. Usianya mungkin sekitar 30an Tahun.
Rangga menatapnya, mencoba mencari kenyamanan di tengah kegelisahan. Namun, tatapannya tanpa sadar tertuju pada roknya yang tingginya diatas lutut. Disela pangkal pahanya yang mulus, terlihat cawatnya yang berwarna merah sedang mengintip. Sebuah detail kecil yang kini menyita perhatian dan membuat Rangga menelan ludah, karena pemandangan indah itu sedikit menggelitik hasratnya. Cahaya lampu kabin membuatnya terlihat menggunduk, di balik kain seragamnya.
Mata Rangga seolah terhipnotis untuk terus menatap bagian itu dan pikirannya mulai melayang nakal. Berimajinasi tentang bentuk dan warna isi di balik cawat merah itu.
Mungkin karena merasa diperhatikan, pramugari itu mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan Rangga. Sadar bahwa ia sedang tertangkap basah, Rangga segera memalingkan wajahnya. Pipinya terasa panas karena malu. Namun, sesekali matanya tetap melirik ke arah pramugari itu. Khususnya, di area pangkal pahanya.
Pramugari itu masih duduk diam, tetapi kini dengan ekspresi berbeda, seolah menyadari sesuatu tentang pemuda yang baru saja mencuri pandang padanya, yaitu Rangga.
Tak lama kemudian, wanita itu berdiri. Pandangannya tetap tertuju ke depan saat ia melangkah perlahan menuju Rangga. Jantung Rangga kembali berdegup lebih kencang. Ia merasa jika telah membuat sebuah kesalahan. Apakah ia akan ditegur? Dimarahi karena telah mengintip cawat merahnya yang sangat menggairahkan itu?
Rangga semakin merasa panik melihat pramugari itu mulai melangkah dekat dengannya.
Jantungnya seakan mau meledak, jika harus menahan malu ketika pramugari itu memarahinya karena mengintipnya. Keringat dingin terasa deras mengalir di keningnya, saat pramugari itu hanya beberpa langkah darinya. Ia hanya dapat pasrah pada apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
Namun, ternyata bukan itu yang terjadi. Pramugari itu berhenti di kursi depan Rangga, lalu menoleh ke arah laci penyimpanan yang terbuka di atas kepala seorang penumpang.
Dengan suara lembut, ia meminta izin untuk menutupnya.
"Permisi pak, pintu laci anda terbuka. Izinkan saya untuk menutupnya." Kata pramugari itu.
Penumpang itu mengangguk, dan wanita itu pun berjinjit untuk meraih pintu laci yang terbuka.
Rangga menghela nafas panjang. Ia merasa lega karena ternyata dugaannya salah.
Tiba-tiba, pesawat kembali terguncang keras, saat melewati gumpalan awan yang cukup pekat.
Akibatnya, pramugari itu kehilangan keseimbangannya. Sepatu hak tinggi yang dikenakannya membuatnya sulit untuk berdiri tegak. Ia pun terhuyung dan dalam hitungan detik, tubuhnya jatuh ke samping.
Refleks, Rangga segera bangkit dan menangkap tubuhnya sebelum benar-benar jatuh ke lantai.
Namun, pramugari itu tetap terjatuh ke sisi kursi dengan meringis kesakitan.
Beberapa penumpang menoleh, tetapi tidak ada yang langsung bertindak. Rangga pun berdiri dari duduknya dan kemudian berjongkok di sampingnya, melihat ekspresi pramugari itu yang tampak kesakitan.
"Apa Mbaknya baik-baik saja?" tanya Rangga dengan suara sedikit bergetar. Masih tersisa rasa paniknya melihat kedatangan pramugari itu tadi.
Pramugari itu tak menjawab pertanyaan Rangga. Ia diam saja dan mencoba berdiri, tetapi begitu menapakkan kaki ke lantai, ia langsung meringis. Ia merasakan nyeri di pergelangan kaki, membuatnya mengurungkan niat untuk berdiri.
"Sepertinya pergelangan kaki saya terkilir," ucapnya dengan suara tertahan.
Melihat itu, Rangga tanpa berpikir panjang mengulurkan tangannya.
"Saya bantu," katanya.
Dengan ragu, pramugari itu menerima bantuannya. Rangga menopang tubuhnya, membantunya berdiri meski dengan susah payah. Tak lama kemudian, beberapa pramugari lain datang membantu, berganti menopang tubuh rekannya itu.
"Terima kasih ya mas," ujar wanita itu dengan senyum tipis sebelum rekan-rekannya membawanya menuju ruang kokpit.
"Sama-sama mbak," balas Rangga sambil tersenyum. Ia merasa prihatin dengan kesialan yang dialami pramugari itu.
Rangga masih berdiri di tempatnya, memandangi mereka yang berlalu. Namun, entah dorongan dari mana, ia melangkah mengikuti mereka dari belakang.
Setibanya di ruang kokpit, pramugari itu sudah duduk di kursi dengan kaki terangkat sedikit.
Salah satu rekannya sedang mencari sesuatu di kotak P3K. Minyak gosok, untuk dioleskan pada pergelangan kaki yang terkilir. Namun rekannya tak menemukan.
"Apa saya boleh membantu?" suara Rangga terdengar menyela di antara mereka.
Semua menoleh. Pramugari yang terluka tampak sedikit terkejut melihatnya di sana.
"Kau mau membantu bagaimana?" tanya salah satu pramugari lain.
"Saya bisa memijat kakinya," kata Rangga agak canggung.
"Ayah saya seorang pemijat. Saya tahu sedikit teknik untuk mengatasi keseleo." Lanjutnya berusaha meyakinkan.
Sebenarnya maksud Rangga murni hanya ingin menolong saja, karena di kampungnya, ia biasa memijat teman-teman atau tetangganya apabila mereka terkilir.
Namun, Pramugari yang terluka itu menatapnya, sejenak ragu. Sepertinya, ia tau jika tadi Rangga mengamatinya. Jadi, ia khawatir jika Rangga berbuat sesuatu yang kurang pantas padanya.