

Baru setahun yang lalu aku terbangun di dunia ini.
Cahaya pagi yang dingin menyelinap melalui jendela. Ketika aku membuka kelopak mata yang terasa berat, aku langsung merasa kebingungan.
Saat mencoba bangun dari tempat tidur, aku semakin bingung karena bobot tubuhku terasa asing.
Aku menunduk dan melihat tubuh gemuk yang sama sekali tidak kukenali.
Ketika aku mengambil cermin kecil dan menatap wajahku, aku pun mengerti.
Ini bukan Indonesia.
Aku bukan lagi Surya Santoso.
Kenangan kehidupan sebelumnya kembali mengalir dengan sangat jelas.
Surya Santoso, pria Indonesia berusia lima puluh tahun yang dulu sombong, pernah menjadi karyawan elit di Perdagangan Jaya Abadi, akhirnya menemui ajalnya dalam kesendirian yang menyedihkan.
“Serius? Jadi ini yang disebut reinkarnasi ke dunia lain?”
Suara putus asa itu menggema di ruangan yang gelap.
Bahkan suara itu pun tidak kukenali lagi.
Tinggi, agak melengking—suara seorang pemuda.
Tiba-tiba seorang pelayan bergegas masuk.
“Pangeran, ada apa?”
Pangeran?
Apakah aku benar-benar seorang pangeran?
Aku memandangi bayanganku di cermin dan terdiam.
Tubuh gemuk kelebihan berat badan, kulit kusam, dagu berlipat, dan pipi tembam.
Sedikit demi sedikit, ingatan tubuh ini mulai menyatu denganku.
Pangeran kedua Kerajaan Mawar Putih—dibenci para wanita karena dianggap “menjijikkan”, diejek para pria karena dianggap “tidak becus”.
Bima Putra.
Usia dua puluh satu tahun.
“Aku baik-baik saja… hanya mimpi buruk.”
Aku menjawab pelayan itu, lalu menyuruhnya keluar.
Setelah pintu tertutup dan aku benar-benar sendirian, aku duduk di tepi ranjang sambil memegang kepala dengan kedua tangan.
Kenangan dari dua kehidupan bercampur menjadi satu.
Lima puluh tahun sebagai Surya Santoso dan dua puluh tahun sebagai Pangeran Bima—keduanya hidup bersamaan di dalam kepalaku.
Kehidupan lamaku adalah rangkaian kehancuran tanpa henti.
Hingga usia tiga puluhan, aku meniti karier elit, dikaruniai istri dan anak yang membuat semua orang iri.
Sebagai ahli penjualan, aku pernah menuntaskan banyak proyek berskala besar.
Namun begitu menginjak usia empat puluhan, segalanya runtuh.
Aku diturunkan jabatan setelah melakukan kesalahan fatal pada proyek luar negeri.
Hubungan dengan mitra bisnis memburuk.
Kepercayaan atasan hilang, aku dipindahkan ke bagian yang tak punya prospek.
Utang menumpuk, aku menjadi pecandu alkohol.
Puncaknya adalah pengkhianatan istriku.
Padahal ia selalu berkata mencintaiku, lima tahun lalu ia berselingkuh dengan rekan kerjaku, lalu meninggalkanku sambil membawa anak semata wayang kami.
Entah bagaimana, akulah yang justru diminta membayar ganti rugi. Yang tersisa hanya utang.
Kehidupan setelah itu bagaikan neraka.
Aku diabaikan di kantor, ditinggalkan teman-teman, tak punya keluarga lagi.
Hari-hariku kulalui sendirian di apartemen, tenggelam dalam alkohol.
Lalu, pada suatu malam di musim hujan, aku mengembuskan napas terakhir tanpa seorang pun di sampingku.
Sungguh akhir yang tragis.
“Tapi takdir memang ironis.”
Kini aku seorang pangeran.
Betapa pun buruk penampilanku, betapa pun dibencinya aku oleh orang-orang di sekitar, darah bangsawan tetap mengalir di nadiku.
Pangeran kedua Kerajaan Mawar Putih.
Putra dari ratu ketiga, Helena.
Namun, saat mengingat kehidupan Bima, aku sadar betapa jauhnya itu dari kebahagiaan.
Sejak kecil ia diejek karena tubuhnya. Berbeda dengan kakaknya, Pangeran Lucius, ia selalu dipandang rendah—bahkan di dalam istana sendiri.
Karena muak, ia mulai menutup diri dan hidup bermalas-malasan.
Tidak belajar, tidak berlatih—hanya makan dan tidur.
Di belakang, orang-orang memanggilnya “babi gendut” atau “pangeran bodoh”.
Hanya ibunya, Ratu Helena, yang benar-benar mencintainya.
Meski begitu, sang ratu juga ambisius—kadang-kadang ia memandangku tak lebih dari alat politik.
“Mengapa aku bereinkarnasi ke tubuh se tragis ini?”
Setelah seminggu penuh kebingungan dan kebencian terhadap diri sendiri, aku mengambil keputusan.
“Jika kau terus menjadi pangeran bodoh dan pemalas, kau akan mengulang nasib yang sama seperti kehidupan sebelumnya.”
Kesadaran itu membuatku mulai belajar seperti orang kesetanan.
Namun, jika tiba-tiba aku berubah menjadi rajin setelah bertahun-tahun dikenal malas, semua orang pasti curiga.
Maka, di depan orang lain aku tetap berpura-pura malas, tetapi di malam hari aku belajar tanpa henti.
Aku membaca buku-buku sihir, menghafal sejarah, mempelajari ekonomi, dan memahami intrik politik.
Malam demi malam, hanya ditemani cahaya lilin, aku menyelami buku-buku yang kucuri dari perpustakaan istana.
Ini adalah kerja keras yang bahkan belum pernah kurasakan di kehidupan sebelumnya.
Awalnya sangat sulit.
Aku bahkan belum lancar membaca aksara dunia ini.
Ingatan Bima memang memiliki dasar baca-tulis, tapi jarang digunakan.
Membaca terasa seperti mendaki gunung curam.
“Apa arti kata ini?”
“Gambar ini menunjukkan apa?”
Setiap kali kesulitan, aku memanggil pelayan dan bertanya sambil berpura-pura sekadar penasaran.
Para pelayan terkejut, tapi mereka menganggap itu hanya keisengan sang pangeran.
Setelah sebulan, aku menyadari satu hal lagi.
Di dunia ini ada kekuatan yang tidak pernah ada di Indonesia pada kehidupanku dulu.
Sihir.
“Sihir… ini menarik sekali.”
Dari penelitianku, sihir ternyata adalah kekuatan umum di dunia ini.
Kebanyakan bangsawan memiliki bakat sihir dan dididik sejak kecil untuk mengasahnya.
Sayangnya, Pangeran Bima yang malas hanya menerima sedikit pendidikan sihir.
“Tapi pasti ada bakat di dalam tubuh ini.”
Setelah kutelusuri, ternyata aku mewarisi bakat sihir tanah dari ayahku sang raja, dan bakat sihir gelap dari ibuku.
Sihir tanah termasuk kategori dasar yang mudah dipelajari, sedangkan sihir gelap tergolong tingkat tinggi yang sulit dikuasai.
“Ini dia. Jika aku menguasai sihir, aku akan punya kekuatan sejati di dunia ini.”
Aku sudah mantap.
Dengan sihir, aku akan mengubah nilai diriku dan pandangan orang lain terhadapku.
Di kehidupan sebelumnya aku jatuh dari puncak, tapi kali ini aku akan naik dari posisi paling bawah menuju puncak.
Tiga bulan berlalu, usahaku mulai berbuah.
Aku sudah memahami teori dasar sihir dan mampu menggunakan sihir tanah tingkat rendah—membangun dinding tanah kecil atau mengeraskan tanah. Masih sederhana, tapi itu langkah besar.
Sekaligus, aku mulai memahami peta politik dunia ini.
Kerajaan Mawar Putih adalah negara berukuran sedang di tengah benua.
Di utara terdapat bangsa Scourge yang suka berperang dan selalu bermusuhan dengannya.
Di dalam kerajaan sendiri, banyak bangsawan yang membentuk jaringan kekuasaan rumit.
“Politik di sini mirip dunia korporasi di kehidupanku dulu.”
Perebutan kekuasaan, konflik faksi, pertarungan antara prestasi dan garis keturunan—semua pernah kurasakan di perusahaan.
Bedanya, di sini pertarungan bisa berujung nyawa.
“Aku kalah di kehidupan sebelumnya. Kali ini aku harus menang.”
Itulah sumpahku.
Surya Santoso yang dulu kehilangan segalanya.
Tapi Pangeran Bima berbeda.
Aku akan meraih kekuasaan di dunia ini dan berdiri di puncak.
Untuk itu, aku harus mengatasi kelemahanku terlebih dahulu.
Penampilan tak bisa diubah dalam semalam.
Tapi pengetahuan dan kekuatan sihir bisa ditingkatkan dengan usaha.
“Latihan pedang terlalu mencolok.”
Jika tiba-tiba aku berlatih ilmu pedang, semua orang akan curiga.
Maka aku memilih fokus pada sihir—yang bisa kulatih secara diam-diam.
“Aku mulai dari sihir tanah.”
Sihir tanah memang tergolong mudah.
Faktanya, hanya dalam beberapa bulan aku sudah mampu menggunakannya.
Setiap malam saat bulan bersinar terang, aku berlatih di sudut kamar.
Mengumpulkan partikel tanah di telapak tangan, membentuknya.
Mulai dari bola sederhana, perlahan menuju bentuk yang lebih rumit.
“Berkonsentrasi… berkonsentrasi…”
Keringat menetes dari dahi saat aku mengalirkan kekuatan sihir.
Kekuatan sihir di dunia ini ibarat otot—semakin sering dilatih, semakin kuat.
Tapi jika dipaksa berlebihan, aku akan kelelahan.
“Bagus sekali.”
Sebuah istana tanah mungil mengapung di telapak tanganku—detailnya sangat halus.
Butuh waktu enam bulan untuk mencapai tingkat ini.
“Ini masih awal, tapi kemajuan sudah nyata.”
Aku tersenyum.
Surya Santoso yang dulu lupa bekerja keras setelah naik jabatan.
Ia menjadi sombong, lalai mengasah diri, lalu jatuh.
“Kali ini berbeda. Kali ini aku akan menang.”
Itulah janjiku pada diri sendiri.
Di dunia ini, sihir dan kebijaksanaan akan menjadi senjataku untuk dikenal semua orang.
Dan saat terus mendalami sihir, aku menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Sihir di dunia ini ternyata memiliki kaitan erat dengan ilmu fisika dan matematika dari kehidupan lamaku.
Ada yang disebut “rumus sihir”—sangat mirip rumus matematika atau hukum fisika.
“Ini… aku bisa memanfaatkan pengetahuanku dari dunia sebelumnya!”
Dulu saat kuliah, aku bergabung dengan klub tenis agar disukai gadis-gadis.
Teknik mengalirkan tenaga dan menggeser pusat gravitasi yang kupelajari di sana ternyata sangat efektif untuk mengendalikan aliran kekuatan sihir.
“Kekuatan sihir pada dasarnya adalah energi—seperti persamaan.”
Hukum kekekalan energi dan hukum gerak Newton membantuku memahami sihir dengan cepat.
Aku menyusun rumus-rumus sihir baru dengan logika matematika dan mengendalikan aliran sihir dengan teknik tubuh dari tenis.
“Aku memurnikan kekuatan sihir berbentuk spiral dari pergelangan kaki ke pinggang, lalu dari bahu ke telapak tangan… lepaskan!”
Begitu menemukan cara ini, kekuatan sihirku melonjak drastis.
Ini adalah teknik manipulasi sihir orisinal yang tak ada di buku mana pun.
Namun, pada malam di bulan kelima, aku melakukan kesalahan besar.
Aku kehilangan kendali, lalu sebuah pilar tanah raksasa muncul di kamarku—menembus langit-langit hingga lantai atas.
“Celaka…!”
Istana langsung gempar.
Berbagai spekulasi bermunculan: serangan teroris? Ulah negara musuh?
Tapi tak seorang pun mencurigai pangeran kedua yang terkenal malas dan bodoh itu.
“Mantra mengerikan sekali… siapa yang mampu…?”
Sementara semua orang sibuk berbisik, aku hanya berpura-pura ketakutan.
Semua orang yakin tak mungkin pangeran tak berguna itu yang melakukannya.
Itu menjadi perisai terbaikku.
“Membuat lawan lengah adalah prinsip dasar negosiasi bisnis di kehidupanku dulu.”
Setelah kejadian itu, aku berlatih lebih hati-hati lagi.
Aku pun sadar—topeng “Pangeran Tak Becus” ini adalah senjata terkuatku.
Tak ada yang waspada terhadapku.
Tak ada yang menganggapku ancaman.
Keuntungan strategis yang luar biasa.
“Tak perlu mengubah tubuh pun sudah bagus.”
Tubuh kurus berotot justru akan membuat orang curiga.
Tubuh gendut dan buruk rupa ini adalah kamuflase sempurna.
Beberapa bulan kemudian, latihan sihirku semakin pesat.
Malam demi malam aku mengurung diri di kamar, mencurahkan seluruh waktu untuk sihir.
Di luar, aku tetap memainkan peran pangeran pemalas.
Di dalam, perubahan luar biasa terus terjadi.
“Sempurna.”
Partikel tanah membentuk bangunan rumit di telapak tanganku.
Teori sihir yang kuciptakan sendiri dengan menggabungkan fisika dan matematika dari dunia lama.
Aku sudah menguasai sihir tanah dari tingkat dasar hingga lanjutan.
Kini aku mulai mempelajari sihir gelap yang kuarisi dari ibu.
Sihir gelap dianggap tingkat tinggi dan sangat sulit.
Tapi dengan logika fisika, semua menjadi mungkin.
“Kegelapan adalah ketiadaan cahaya. Jika aku paham sihir cahaya, tinggal membalikkannya…”
Di tengah penelitian itu, aku teringat jadwal besok.
“Besok… ulang tahunku.”
Pangeran Bima genap berusia dua puluh satu tahun.
Pesta ulang tahun kerajaan seharusnya meriah.
Tapi untuk Pangeran Bima, itu hanya acara formalitas belaka.
“Tak apa.”
Pesta tetap diadakan karena protokol.
Namun, para bangsawan yang hadir pasti menyembunyikan ejekan di balik senyum mereka.
Hadiah dan ucapan selamat hanyalah sindiran terselubung.
Tapi aku akan tetap berpura-pura bodoh, tertawa lebar, seolah tak menyadari apa pun.
Itulah posisiku saat ini.
“Aku menikmati ejekan mereka. Karena sebentar lagi…”
Aku tersenyum.
Ulang tahunku tahun depan akan menjadi awal dari rencana sebenarku.
Keesokan paginya, pelayan membangunkanku.
“Selamat ulang tahun, Pangeran.”
Nada sopan, tapi ada nada menghina di matanya.
Aku berpura-pura tak memperhatikan, lalu menguap keras.
“Oh, hari ini ya. Ribet sekali.”
Sambil berkata begitu, aku bangun perlahan sambil menyeret tubuh beratku.
“Baginda Raja dan Para Ratu menunggu untuk sarapan bersama.”
“Hm, jarang sekali.”
Biasanya aku makan sendirian di kamar.
Makan bersama keluarga hanya dilakukan pada acara-acara tertentu demi menjaga citra.
Di lorong menuju ruang makan, aku berpapasan dengannya.
Sari Esheart.
Mata biru jernih bagai es, rambut pirang keperakan, tubuh anggun dan mulia.
Putri sulung Adipati Esheart—wanita tercantik di istana.
“Selamat pagi, Pangeran Bima.”
Suara dingin bagai es.
Di permukaan ia menyapaku dengan sopan, tapi sorot matanya penuh jijik.
“Oh, selamat pagi, Sari.”
Aku menjawab dengan gagap seperti biasa—berperan sebagai lelaki bodoh yang gugup di depan wanita yang disukainya.
Sari mendengus kecil.
“Selamat ulang tahun. Aku akan datang ke pestamu nanti malam.”
Ia berlalu meninggalkanku, hanya menyisakan aroma parfum yang samar.
“Sialan…”
Aku menggeretakkan gigi.
Baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, wanita cantik tak pernah melirikku.
Bahkan saat Surya Santoso berada di puncak karier, wanita benar-benar cantik tak pernah memperhatikannya.
Begitu pula di dunia ini.
Sari adalah tunangan Ardi Biruputra—putra sulung Adipati Biruputra, pria tertampan di kerajaan.
Di mata Sari, lelaki gemuk dan kumal sepertiku mungkin tak lebih dari binatang ternak.
“Suatu hari aku akan membuatmu menyesal…”
Itulah sumpahku.
Bukan sekadar cinta.
Ini obsesi untuk diakui.
Obsesi untuk dihormati oleh wanita-wanita cantik yang selalu memandang rendah diriku—di masa lalu maupun sekarang.
Setelah melewati Pangeran Bima, Sari Esheart menghela napas pelan dalam hati.
Pangeran itu benar-benar menjijikkan.
Di istana, kesempurnaan sikap adalah keharusan.
Walau jijik di dalam hati, kita wajib bersikap sopan di luar.
Itulah tugasnya sebagai putri Adipati Esheart.
Terutama Pangeran Bima—setiap kali melihatnya, rasa muaknya semakin menjadi.
Tubuh gemuk kotor, mata selalu lapar, tawa kasar.
Sungguh tak pantas seorang bangsawan bertingkah seperti itu.
Dan yang paling tak tertahankan adalah tatapannya.
Tatapan penuh hasrat yang tak bisa disembunyikan—seolah memandangnya sebagai benda milik.
“Benar-benar berbeda dengan Ardi.”
Bayangan tunangannya muncul di benaknya.
Rambut hitam legam, mata biru tua, wajah tampan, tubuh tegap.
Sikap hormat, wawasan tajam, dan kebaikan yang tulus.
“Ah, andai upacara pernikahan segera dilaksanakan.”
Pertunangan mereka sudah resmi, tapi pernikahan masih ditunda karena alasan politik.
Sementara itu, Sari tetap bertugas di istana, mengasah diri sebagai calon istri bangsawan.
“Malam ini aku harus menemani Ardi di pesta.”
Ia mengangkat bahu kecil.
Sejujurnya, ia sama sekali tak ingin menghadiri pesta ulang tahun Pangeran Bima.
Tapi demi etika istana, ia wajib menampakkan diri.
“Cepat selesai, cepat pulang.”
Itu tekadnya.
Ia ingin menghabiskan waktu bersama Pangeran Bima sesingkat mungkin.