Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tentang Megan

Tentang Megan

Christ Mar | Bersambung
Jumlah kata
49.8K
Popular
136
Subscribe
37
Novel / Tentang Megan
Tentang Megan

Tentang Megan

Christ Mar| Bersambung
Jumlah Kata
49.8K
Popular
136
Subscribe
37
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahDokterTeknologiMiliarder
Mengisahkan tentang Megan yang dipaksa ayahnya untuk memilih jurusan farmasi. Naasnya dia menjadi siswa laki-laki sendirian diantara puluhan siswi. Setiap hari dia harus belajar dan berurusan dengan para siswi. Dia dihadapkan dengan 5 siswi yang memiliki karakter berbeda dari yang lain. Megan pun harus memahami mereka sembari berusaha agar lulus meski terjebak di jurusan yang bukan impiannya.
Bukan Sembarang Jurusan

X Farmasi 1~

Kelas terdengar lebih riuh dari biasanya. Bukan karena suara diskusi, tapi bisik-bisik kecil yang saling bersahutan, seperti desis yang belum menemukan sumbernya. Meja-meja tersusun rapi, bau alkohol praktikum masih samar tertinggal di udara.

Bu Ratri berdiri di depan kelas dengan daftar hadir di tangan. Kacamata tipisnya bertengger di ujung hidung, suaranya datar namun cukup terdengar jelas.

“Anggis Andriani.”

“Hadir, Bu.”

Suara Anggis terdengar keras. Beberapa kepala otomatis menoleh ke arahnya. Gadis itu duduk dengan posisi tegak, tangan terlipat di atas meja, sorot matanya sinis seolah kelas ini medan debat yang selalu siap ia menangkan.

“Rebecca Roberta.”

"Hadir, Bu.”

Gadis yang akrab disapa Becca itu mengangkat tangan kanannya, suaranya nyaris tenggelam oleh derit kursi. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah saat ia menunduk lagi, seakan kehadirannya tak perlu diketahui siapa pun.

“Willy Agnesia.”

“Hadir.”

Jawaban Willy cepat. Pulpen di tangannya berhenti sejenak, lalu kembali menari di buku catatan. Dahi Willy berkerut tipis, fokusnya tak terganggu sedikit pun oleh suasana kelas yang mulai terasa bising.

Bu Ratri menurunkan pandangan ke daftar hadir. Ujung jarinya berhenti di satu nama. Alisnya terangkat sedikit, cukup untuk disadari barisan depan.

“Megan Elmi Danuarta.”

Tidak ada jawaban.

20 detik berlalu.

Kelas yang tadinya hanya berbisik kini benar-benar hening. Beberapa siswi saling pandang. Ada yang mengernyit, ada yang membuka daftar nama di buku, memastikan apakah mereka salah kelas.

Bu Ratri mendongak. “Megan Elmi Danuarta?” ulangnya, kali ini lebih jelas.

"Hah sejak kapan disini ada cowok," ujar salah satu murid.

Tok..tokk...

Bu Ratri dan ketiga puluh siswinya menoleh ke pintu.

"Masuk," pinta bu Ratri.

Setelah pintu sosok pria tinggi gagah itu memasuki ruangan. Ya, usianya memang baru menginjak 19 tahun. Namun karena hobynya nge-gym akhirnya berhasil memnetuk otot lengannya hingga kekar.

"Selamat pagi bu, maaf saya terlambat," ujar Morgan sungkan.

"It's okay boy. Please come in!" Pinta bu Ratri dengan ramah.

Megan melangkahkan kakinya tanpa menoleh kesana kemari. Dia berdiri disamping bu Ratri.

"Oke anak-anak. Ini teman baru kalian. Namanya Megan. Mulai sekarang dia akan belajar disini bersama kalian," ujar bu Ratri.

Tak disangka begitu Megan mengangkat kepalanya, dia terkejut melihat pemandangan di depannya. Seluruh siswa di kelas ini perempuan semua. Ya benar, perempuan semua. Dia menjadi satu-satunya lelaki disini. "Mampuuuuuussss," batinnya dalam hati. Matanya masih melotot melihat keadaan yang ia hadapi sekarang.

"Megan silahkan duduk," pinta bu Ratri.

Megan menganggukkan kepala.

Dia melangkah ke depan menuju tempat duduk yang kosong. Dia menelan salivanya dengan berat. Belum apa-apa energinya sudah habis membayangkan bersama para wanita ini setiap hari.

"Hi Megan," sapa mereka.

"Hi," sahut Megan sambil tersenyum miring.

"Ganteng banget sih,"

"Husss,"

"Mirip aktor hihi,"

Hari pertama sekolah menjadi momen yang sama sekali tidak ramah bagi Megan. Begitu ia melangkah masuk ke kelas farmasi, suasana yang semula biasa langsung berubah menjadi riuh dalam versi paling halus apalagi bising karena bisikan. Megan belum sempat duduk ketika telinganya menangkap potongan suara dari berbagai arah. Ada yang berbisik pelan sambil menutup mulut, ada yang pura-pura menunduk menatap buku, tetapi matanya justru terus melirik ke arahnya.

Megan menutup matanya sejenak sambil duduk. Ini belum apa-apa. Dia masih punya waktu 365+ hari bersama para cegil itu. Sembari menunggu setiap siswa di panggil untuk memenuhi titik kehadiran, tiba-tiba terngiang ucapan papanya tadi pagi.

"Pokoknya papa nggak mau tau! Kamu harus menyelesaikan pendidikanmu. Papa nggak peduli salah jurusan kek, pelajarannya susah, nggak minat atau apalah. Ingat, dua kakakmu sukses di dunia farmasi. Lagipula masa anak dari konsultan farmasi nggak nerusin karir keluarganya. Kan ya malu Gan, apa kata orang nanti,"

Megan menggaruk kepalanya begitu mengingat ucapan papanya. Satu hal yang pasti, dia adalah lulusan smp 2 tahun yang lalu. Dia terpaksa memilih jurusan ini karena desakan papannya. "Shibaaalll," ujar Megan dalam hati.

"Hi,"

Suara gadis disampingnya berhasil membuatnya menoleh.

Dengan ekspresi datarnya dia menatap wajah lembut dan kalem itu.

"Kenalin, aku Willy," ujar gadis itu sambil mengulurkan tangan untuk salaman.

Dari raut wajahnya tidak ada keraguan. Megan pun leluasa menanggapi jabat tangan itu. Tapi tetap saja ekspresi datarnya tak bisa ditutupi. Muak sih.

"Megan," ujarnya.

"Btw kamu pindahan sekolah mana," tanya Willy.

Megan tertegun. Mustahil dia mengatakan bahwa dia gapyar 2 tahun yang lalu. Teman-temannya sudah hampir lulus sedangkan dia baru memulai pendidikan SMK bersama angkatan dibawahnya. Sungguh miris.

"Eee, SMK Ganesha," sahut Megan. Untung otaknya cepat mengingat tadi pagi pernah melewati sekolah itu. Gerbangnya megah hingga tak butuh waktu lama untuk mengingat sekolah itu.

"Whaaatt, kenapa pindah? Itu sekolah favorit loh. Aku aja gak keterima di sekolah itu," sahut Willy tak hentinya kagum.

Deg!

Megan mana tau perihal ini. Dia saja bukan masyarakat asli ini.

"Masa iya sih," sahut Megan ragu.

"Iya loh, kamu sendiri kenapa pindah. Padahal sekolah itu siswanya pintar-pintar loh. Jarang nerima siswa yang kurang pintar," tanya Willy.

Mampuuusss!!

Gadis itu tak henti bertanya. Melebihi pertanyaan wartawan saat Megan menghadiri pelantikan papanya yang naik jabatan di sebuah rumah sakit. "Ah elahhh aku harus jawab apa," batinnya.

"Eee.. anu... enakan disini. Denger-denger kualitasnya bagus disini," sahut Megan sambil memikirkan kata-kata yang tepat.

"Ihhh bagusan sanalah! Kamu tau nggak--"

"Nggak!"

"Hah?"

"Maksutku nggak bagus kalau kita ngobrol sekarang. Mending dengerin bu guru," elak Megan.

Willy mengangguk.

Megan kembali menatap ke depan.

Dari iringan dia merasa gadis disampingnya memperhatikannya. Begitu Megan menoleh yang benar saja, firasatnya benar. Gadis itu segera mengalihkan pandangan.

"Duh kacau nih. Banyak cegilnya," keluhnya dalam hati.

“Eh… mirip Yesaya Abraham nggak sih?” bisik seorang siswi di barisan depan.

“Serius, sumpah mirip. Tapi vibes-nya kayak aktor Korea,” sahut yang lain, menahan tawa kecil.

“Anak farmasi apa nyasar sih? Kok kayak artis?”

Megan berpura-pura tidak mendengar apa pun. Ia melangkah menuju bangkunya dengan ekspresi datar, meskipun dadanya terasa sedikit sesak. Saat ia meletakkan tas dan duduk, ia refleks menoleh ke sekeliling. Kesalahannya ada di sana. Beberapa siswi yang matanya bertemu dengan tatapannya langsung senyam-senyum, ada yang buru-buru mengalihkan pandangan, ada pula yang sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa penasaran.

Megan menghela napas pelan. Ia merasa seperti objek pameran, bukan murid baru. Padahal ia datang dengan niat sekadar menjalani hari pertama sekolah, bukan menjadi pusat perhatian.

"Pliisss langsung lulus bisa nggak sih," batinnya geli.

Lanjut membaca
Lanjut membaca