

"Ahh Sial kena copet aku. Mana uang ku sisa sedikit lagi!" umpat Jono alias Jonathan Novandra. Ia baru saja turun dari bus, yang membawanya.
"Apes banget aku hari ini, ck!" gerutunya seraya melangkah ke arah pintu keluar terminal.
Jono hendak pergi ke rumah tantenya, setelah kejadian nahas yang menimpanya. Rumahnya mengalami kebakaran hebat yang merenggut nyawa ibunya. Yang lebih pahit lagi, ia justru di usir oleh ayah tirinya.
Dengan sisa tenaga dan perasaan yang sudah campur aduk. Jono melangkah keluar dari terminal, dan berusaha menghubungi tantenya. "Untung aja, ponselku nggak sampe hilang juga," gumam Jono lirih. "Cuman duit, Jon. Nggak usah di pikirin."
Panggilan pun akhirnya tersambung, setelah beberapa kali mencoba.
"Jo, akhirnya. Maaf, tadi tante lagi di air, kamu udah sampe mana?" tanya tante Gisel.
"Iyaa tan, aku udah sampe terminal. Tadi Jo, sempat kecopetan, untung aja ponsel sama berkas2 penting ada di tas, cuman uang aja sih," jelasnya.
"Ya ampun... yaa udah, kamu tunggu aja cari tempat teduh, tante jemput sekarang ya," jawab sang tante dengan nada yang terdengar khawatir.
Jono mengembuskan napas lega. Ia menghampiri sebuah warung kecil di pinggir jalan dan membeli sebotol air mineral dan menyalakan sebatang rokok. Ia duduk di sana sambil menunggu, menatap kosong ke depan. Bayangan wajah mendiang ibunya kembali hadir, bersamaan dengan kebingungan tentang keberadaan ayah kandungnya yang kini entah di mana.
Satu jam telah berlalu, sebuah mobil putih mengilap berhenti di depan warung itu dan membunyikan klakson. Jono yang sedang menunggu segera berdiri. Jendela mobil turun perlahan, menampilkan wajah yang tak asing baginya.
Tante Gisel.
"Ayo cepat, masuk," ucapnya singkat.
Jono segera masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi sebelah.
"Jo, apa kabar? Maaf yaa, tante nggak bisa kesana waktu itu, tante benar-benar turut prihatin," ucap sang tante sambil memacu mobilnya perlahan. Terlihat jelas rasa iba di wajahnya itu.
Jono menoleh sambil tersenyum tipis. "Nggak apa-apa tante, lagian. Tante juga sibuk dengan banyak urusan," jawabnya.
Ia memperhatikan penampilan tantenya itu. Meski berusia tiga puluh dua tahun dan telah memiliki seorang anak, Tante Gisel masih terlihat sangat rapi dan terawat. Sejak lama, ia memang dikenal sebagai wanita mandiri, terlebih setelah menjadi janda, dress yang di gunakan tantennya membuat Jono nyaris kehilangan fokus.
Jono memperhatikan tantenya, yang hanya memakai mini dress berwarna merah ketat. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna. Dan dadanya yang menyembul terhalang dress membentuk garis sempurna, yang membuat siapa saja yang melihatnya akan tergoda.
"Kenapa harus kayak gitu sih penampilannya," batin Jono.
Sepanjang perjalanan, Jono dan Tante Gisel berbincang ringan. Jono menceritakan apa yang terjadi padanya, tentang kebakaran beberapa hari yang lalu, dan banyak lagi. Tapi ia tak menceritakan, jika dia di usir oleh ayah tirinya dan akan menutup cerita itu untuk dirinya sendiri.
Singkat waktu, mereka sudah sampai di tujuan, sebuah rumah besar dan megah milik Tante Gisel.
"Rumah tante pindah? Kukira masih yang lama," ujar Jono sambil memperhatikan rumah tiga lantai itu.
"iya, rumah yang lama, tante jual," jawabnya sambil turun dari mobil.
Jono mengangguk dan mengikuti kemana tantenya melangkah. Ia sedikit terkejut begitu melihat empat pembantu yang masih terlihat muda, dengan penampilan yang cukup seksi dan seragam biru serta celemek putih mereka menyambut Jono dengan sopan.
"Perkenalkan, ini kepokanan saya nama nya Jonathan biasa saya panggil, Jo. Dan mulai hari ini, perlakukan Jo dengan baik," jelas tante Gisel.
"Baik, nyonya," jawab mereka serempak.
Setelah Jono dan tantenya pergi, keempat pembantu itu masih memperhatikan Jono, ketampanan yang Jono miliki membuat ke empat wanita itu terpesona.
"Ganteng banget keponakan nyonya, ya," ujar salah satu dari mereka.
"Iya, bener. Mana badannya tinggi, atletis pula, brondong lagi, hahaha," sahut yang lainnya dengan nada yang terdengar sedikit centil.
Sementara yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya saja saat mendengar celotehan teman mereka itu.
Saat di dalam rumah Jono terpukau melihat interior rumah bergaya modern khas Italia dengan perabotan mewah yang menghiasi.
"Tante makin mapan saja," batinnya, meski dulu ia juga terbiasa hidup dalam kemewahan.
Tante Gisel menoleh lalu tersenyum.
“Hanya berusaha lebih baik, Jo.”
Begitu tante Gisel kembali melangkah, Jono melihat dua benda yang bergerak di hadapannya, paha mulus tante Gisel nyaris tanpa cacat, membuat Jono hanya bisa menelan ludah.
"Tan, Kayla kemana?" tanya Jono mengingat ia memiliki seorang adik sepupu bernama Kayla.
Tante nya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya. "Masih sekolah," jawabnya.
Tak lama kemudian, Jono diantar ke kamar yang telah disiapkan. Kamar itu luas dan nyaman. Salah satu pembantu masih membersihkan kamar mandi di dalamnya.
Jono memperhatikan ke arahnya yang sedang berjongkok, memperlihatkan bagian pahanya yang terlihat putih dan mulus.
"Sial! Kenapa semua orang disini bajunya kagak ada yang bener," umpat Jono di dalam hati.
Ia mencoba memalingkan wajahnya, namun tetap saja hal itu mengganggu pikirannya.
Setelah menunggu beberapa saat, si pembantu itu keluar karena sudah menyelesaikan tugasnya.
"Silahkan, tuan muda. Kamar mandinya sudah bersih," ucap pembantu itu ramah.
Jono tersenyum ramah dan mengangguk. "Terimakasih."
Setelah pembantu itu pergi, Jono masuk ke kamar mandi dan mandi dengan air dingin, berusaha menenangkan pikirannya yang kacau.
"Lihat saja, suatu hari akan kubalas semua perlakuan kalian," batinnya saat mengingat ayah dan saudara tirinya.
Singkatnya Jono selesai, ia melilitkan handuk dan hendak berpakaian. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Kak...!"
Teriakan itu begitu keras sehingga membuat Jono menutup telinganya.
Jono refleks menutup dirinya dan berseru, "Hei! Keluar dulu!"
Pintu kembali tertutup.
"Sial, aku lupa mengunci pintu," gerutu Jono. "Jangan-jangan itu Kayla."
Jono pun lekas membuka tasnya, dan mengeluarkan pakaiannya. Ia segera memakainya, dengan perasaan sedikit malu. Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. "Kak Jo! Sudah pake baju belum?"
"Iya, sudah," jawabnya. “Ternyata itu benar dia, suaranya masih terdengar sama.”
Pintu terbuka, menampilkan Kayla yang kini sudah berada di rumah.
"Kak Jo! Apa kabar!" serunya ceria.
"Baik, Kay," jawabnya singkat sambil merapihkan rambutnya.
Lagi dan lagi, Jono melihat tontonan gratis. Karena penampilan Kayla yang hanya memakai hotpant yang nyaris seperti celana dalam dan baju crop top yang cukup ketat.
Jono hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Yaa ampun, apakah pakaian semua orang disini seperti itu?" batin Jono.
Sebelum Kayla menjawab ia terlebih dulu memeluk Jono dengan erat. Jono merasakan ada sesuatu yang menonjol di perutnya, sesuatu yang lembut. Dan membuat Keperkasaan Jono sedikit menegang.
"Aku baik, Kak. Turut berduka cita ya. Maaf aku dan Mama tidak bisa datang waktu itu," ucapnya tulus.
"Tidak apa-apa," jawab Jono pelan. "Aku mengerti."
Jono tersenyum walau itu sangat ia paksakan. Jono tak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada siapapun.
Mereka pun mengobrol cukup lama, mengenang masa kecil dan bercerita tentang banyak hal. Meski pikirannya masih diliputi berbagai perasaan, kehadiran Kayla sedikit membuat hatinya lebih ringan.
Namun Jono di buat tidak fokus dengan penampilan Kayla yang berbaring sambil menahan dagunya dengan kedua tangan, membuat belahan dada nya terlihat sangat jelas, dari balik kaosnya itu benda kecil sedikit menonjol, membuat Jono gelisah.
"Yaa ampun, mana keliatan banget lagi," batin Jono sambil berusaha fokus mendengarkan keluh kesah Kayla. Dirinya dibuat tak fokus oleh sosok gadis di hadapannya itu.