

”Laras pasti suka dengan hadiah yang aku siapkan untuk merayakan anniversary satu tahun hubungan kami,” gumam Juan dengan senyum mengembang di wajahnya.
Di tangannya, seikat mawar putih ia dekap. Hari ini seharusnya menjadi klimaks kebahagiaan, peringatan setahun bersama Laras.
Namun, aura romantis itu segera memudar.
Langkah kakinya yang semula ringan mendadak berat dan gontai, seolah terbuat ada beban berat yang mengapitnya, saat ia tiba di ambang pintu apartemen Laras.
Dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, sebuah kesalahan fatal yang membuka pintu neraka, suara desahan mulai merayap keluar.
Suara itu, suara Laras, dikenalinya. Tapi nada liarnya, ritme erotisnya, adalah melodi yang seharusnya tidak pernah ia dengar.
Dada Juan mulai sesak, bak di tusuk jutaan jarum tajam. Ia menahan napas, sebuah insting tolol yang berharap kenyataan bisa terhenti.
Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu itu pelan-pelan.
Apa yang menyambut matanya setelah itu adalah pemandangan laknat yang membuat seluruh dunianya ambruk, hancur, tanpa menyisakan suara.
Laras, gadis yang selama ini ia puja kesuciannya, ia jaga sepenuh jiwa, ia percaya seutuhnya, kini melilit di pelukan seorang pria lain.
Bukan hanya pelukan biasa, Laras telanjang bulat tanpa sehelai benangpun, dan tubuh mereka tampak larut dalam permainan panas yang terlalu eksplisit, terlalu panas, dan terlalu menjijikkan untuk Juan tatap lebih lama.
Tubuh Juan membeku. Jantungnya remuk, hancur berkeping-keping. Bunga di tangannya terlepas, jatuh tak berdaya.
Kelopak-kelopak putih mawar berserakan di lantai, seperti puing-puing hati yang baru saja diinjak-injak waktu.
Tepat di depan mata kepalanya, Juan menyaksikan kekasihnya sedang digempur habis-habisan oleh pria lain.
"Lebih kuat, sayang. Aku sudah hampir mencapai puncak..." Racau Laras, suaranya serak dan penuh gairah.
Pria itu menyambut tantangan itu dengan tawa puas yang kejam, lalu menggenjot pinggul Laras lebih cepat, lebih dalam, hingga gadis itu semakin menggila meracau.
Laras bukan korban pasif, ia membalas, tubuhnya bergerak liar, memacu dirinya untuk memberikan kenikmatan luar biasa yang sama kepada pria di atasnya.
"Ahh, punyamu luar biasa, Laras. Legit dan nikmat," bisik pria itu di telinga Laras.
"Punyamu juga tidak kalah nikmat, sampai mentok sayang! Aku bakal ketagihan," jawab Laras tanpa malu.
"Sayang, lebih cepat, aku hampir sampai," pinta Laras, nadanya hampir menjerit.
"Akhh, nikmatnya luar biasa."
Setelah desahan final yang memuaskan, tubuh pria itu jatuh lunglai, menimpa Laras. Senyum penuh kemenangan dan kepuasan terukir di wajahnya.
Pria itu menoleh. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang menghina. Ferdiyan. Anak tunggal Sudarman. Orang yang selama ini merendahkan harga diri Juan.
“Wah, kebetulan sekali,” ucap Ferdiyan santai. “Kau datang di saat yang tepat, Juan. Setidaknya kau bisa lihat sendiri kenapa Laras lebih memilihku.”
Laras menatap Juan. Matanya dingin dan beku.
“Sudahlah, Juan,” katanya dengan nada kesal, menarik selimut menutupi dadanya.
“Aku lelah hidup susah bersamamu. Aku butuh masa depan yang pasti, bukan janji cinta kosong. Ferdiyan bisa memberiku segalanya, dan yang lebih penting, dia bisa memberikanku kepuasan lahir dan batin.”
Juan menatapnya, terkejut bak tersambar petir.
“Jadi semua yang kita lalui selama ini… cuma permainan murahan buat kamu?”
Laras menghela napas. “Aku dulu bodoh. Tapi dunia nyata tidak selembut rayuanmu, Juan. Cinta tidak bisa membayar tagihan listrik.”
Ferdiyan terkekeh pelan, tawanya menampar telinga Juan. “Dengar itu, Juan? Bahkan Laras sadar kamu cuma buang-buang waktunya.”
Ferdiyan menarik Laras ke pelukan dan melumat bibir gadis itu, sengaja di depan mata Juan.
Kata-kata Laras dan ciuman itu menusuk lebih dalam daripada pisau. Juan mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. Hanya air mata yang jatuh, membasahi pipinya yang dingin.
“Aku kira kamu berbeda, Laras…” gumamnya lirih.
Laras tersenyum tipis, senyum wanita yang telah menjual jiwanya. “Aku memang sudah berbeda, Juan. Dunia ini keras, dan aku memilih berpihak pada yang kuat.”
Ia menambahkan kalimat final yang menghancurkan: "Selain itu, Ferdiyan sangat perkasa di atas ranjang, tidak seperti dirimu yang bahkan tidak berani menyentuhku."
Juan berbalik, meninggalkan apartemen itu dengan langkah yang terasa seperti menggotong batu nisan. Di belakangnya, tawa Ferdiyan kembali terdengar, liar dan merendahkan.
Malam itu, hujan turun deras, menenggelamkan kota. Di bawah rintiknya, Juan berjalan tanpa arah. Dunia kini abu-abu dan hampa.
Ia berhenti di taman kecil, duduk di bangku kayu yang basah.
“Kenapa harus aku…” bisiknya pelan, suaranya tenggelam oleh gemuruh hujan. “Apa salahku?”
Tak ada jawaban. Hanya dinginnya angin malam yang menggigit. Pikirannya perlahan dipenuhi bara api, kepada Laras, dan kepada dirinya sendiri yang terlalu lemah.
***
Beberapa jam kemudian, Juan tiba di rumah peninggalan orang tuanya, sepi dan tak terawat. Ia berjalan ke kamar lama ayahnya.
Di sudut, ada kotak kayu tua berdebu. Ia membukanya, dan di dalamnya terbaring liontin berwarna biru langit, berkilau lembut.
Liontin itu warisan keluarga, yang sudah tersimpan dengan rapi tanpa pernah tersentuh selama ini.
Juan memandang benda itu lama, lalu mengusapnya.
“Jadi ini yang tersisa…” gumamnya pahit. “Kata ayah dulu, liontin ini bisa membawa pesona.”
Ia tersenyum miris. “Pesona? Untuk apa pesona kalau aku tetap dianggap rendah? Sampai wanita yang aku cintai, rela menjajakan tubuhnya demi bisa hidup mewah bergelimang harta.”
Pikiran untuk menjualnya terlintas. “Kalau kutukar dengan uang, mungkin cukup untuk melarikan diri dari kota sialan ini.”
Namun tangannya ragu. Kata-kata Ayahnya menggema, ‘Ini adalah kebanggaan keluarga. Jangan pernah menjualnya.’
Juan menarik napas panjang. “Baiklah, Ayah. Aku tidak akan menjualnya.”
Ia mengenakan liontin itu. Permukaannya dingin, tapi saat menyentuh kulit, terasa hangat. Aneh, ada denyut halus. Juan menatap pantulannya di cermin.
Tubuhnya yang hitam dan dekil, karena setiap waktu bekerja di bawah terik matahari, demi menyambung hidup dan uang kuliahnya.
Tapi entah kenapa, malam ini dia mulai nampak berbeda, perbedaan yang sulit untuk di jelaskan.
Tatapan matanya kini tidak lagi kosong. Ada sesuatu yang hidup kembali, harapan dan amarah.
“Mulai hari ini,” katanya pelan, sebuah sumpah yang dingin, “aku tidak akan biarkan siapa pun menginjak-injakku lagi.”
***
Hari-hari berikutnya berjalan seperti siksaan. Juan kembali ke kampus tanpa semangat. Obsesinya hanya satu, yaitu lulus, bekerja, dan membuktikan ia bukan lelaki gagal.
Anehnya, sejak ia mengenakan liontin biru, hal-hal aneh mulai terjadi. Orang-orang yang sebelumnya tidak menganggapnya ada, kini sering menyapanya.
Mahasiswi yang dulu tak pernah menoleh, kini tersenyum, senyum nakal yang mengajaknya pada kenikmatan dan mengandung janji nakal.
Ia juga diterima bekerja paruh waktu di tempat yang dulu menolaknya mentah-mentah.
Di balik keberuntungan itu, hatinya masih diselimuti kerak luka. Setiap mengingat wajah Laras dan tawa Ferdiyan, api dendam menyala. Ia tahu, ia harus berdiri di hadapan mereka lagi—bukan sebagai Juan yang dulu, tapi sebagai seseorang yang tak bisa lagi diremehkan.
Malam itu, bulan bulat menggantung pucat, Juan berdiri di balkon. Angin malam dingin dan memprovokasi. Ia menggenggam liontin biru erat-erat.
“Kalau benar kau membawa pesona,” katanya lirih, mengandung permohonan dan ancaman, “maka bantu aku bangkit. Bantu aku buktikan kalau aku bukan orang miskin tak berguna.”
Liontin itu bergetar halus, mengeluarkan cahaya biru lembut sesaat, lalu redup.