Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
LEON sang PEMUAS

LEON sang PEMUAS

BENTHOR | Bersambung
Jumlah kata
122.3K
Popular
6.8K
Subscribe
742
Novel / LEON sang PEMUAS
LEON sang PEMUAS

LEON sang PEMUAS

BENTHOR| Bersambung
Jumlah Kata
122.3K
Popular
6.8K
Subscribe
742
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHarem21+
Leon harus menekuni pekerjaan barunya sebagai pemuas para wanita kesepian dan hyper. Dia sebenarnya tidak menyukai pekerjaannya ini, tapi sesosok tubuh di ranjang rumah sakit, membuat dia harus menekuni pekerjaan ini. Demi maksud mulianya, dia harus menjalani pekerjaan kotor dan menjadi yang terbaik dalam pekerjaannya. Sanggupkah dia terus melangkah di jalan yang berdebu?
1 Malam Pertama sebagai Pemuas Wanita

Leon berdiri di depan pintu kamar nomor 7, jantungnya berdegup kencang meskipun ia sudah mempersiapkan diri selama berhari-hari.

Malam ini adalah malam pertamanya di klub malam "Malam Biru", sebuah tempat mewah di pusat kota yang menyediakan layanan eksklusif untuk para wanita kesepian.

Sebagai seorang penghibur pria, tugas Leon bukan hanya menghibur, tapi juga memenuhi keinginan terdalam mereka dengan kelembutan dan keahlian. Ia menghela napas panjang, mengingat briefing singkat dari Tante Lisa, pemilik klub yang tegas namun penuh pengertian.

"Leon, ingat, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini tentang membuat mereka merasa diinginkan, dicintai, meski hanya untuk satu malam," kata Tante Lisa saat ia menjelaskan aturan-aturan. "Tunjukkan kemampuanmu, tapi selalu hormati batas mereka. Dan ingat, setiap sen yang kamu dapatkan adalah untuk alasanmu yang mulia itu." Leon mengangguk saat itu, pikirannya melayang ke sosok yang terbaring lemah di rumah sakit: adik perempuannya, Maya, yang sedang berjuang melawan penyakit langka. Biaya pengobatan yang selangit membuat Leon nekat mengambil pekerjaan ini. Demi Maya, demi keluarga, ia siap melakukan apa saja.

Pintu kamar terbuka pelan setelah Leon mengetuk dua kali, seperti instruksi yang diberikan.

Di dalam, cahaya redup dari lampu kristal memenuhi ruangan yang mewah, dengan tempat tidur king-size berseprai sutra merah, aroma lavender samar-samar menguar dari diffuser di sudut.

Duduk di tepi tempat tidur adalah seorang wanita berusia sekitar empat puluhan, dengan riasan tebal yang berusaha menyamarkan garis-garis waktu di wajahnya.

Rambutnya yang hitam legam ditata rapi, gaun hitam ketat membalut tubuhnya yang masih proporsional, meski usia telah meninggalkan jejak di lekuk pinggul dan bahunya.

Ia adalah Tante Sonya, klien pertama Leon malam ini, seorang janda kaya yang sering memesan layanan dari klub ini untuk melupakan kesunyian malam-malamnya.

"Masuklah, sayang," kata Tante Sonya dengan suara lembut yang berusaha genit, matanya menyipit penuh antisipasi. Ia menepuk tempat di sampingnya, mengundang Leon mendekat. "Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Tante Lisa. Katanya kamu yang terbaru, yang paling... berbakat."

Leon tersenyum tipis, menutup pintu di belakangnya dan melepaskan jas hitamnya, meninggalkan kemeja putih yang menempel sempurna di tubuh atletisnya. Ia berjalan perlahan, setiap langkahnya penuh percaya diri yang telah dilatih. "Terima kasih, Tante. Saya Leon. Malam ini, saya di sini untuk membuat Tante merasa istimewa," jawabnya dengan nada hangat, suaranya rendah dan menenangkan, seperti hembusan angin malam.

Tante Sonya tertawa pelan, tangannya meraih lengan Leon saat ia duduk di sampingnya. "Istimewa? Sudah lama aku tidak merasa begitu. Suamiku pergi terlalu dini, dan para pria di luar sana... mereka tidak tahu cara memperlakukan wanita seperti aku." Matanya menatap Leon dari atas ke bawah, penuh rasa ingin tahu yang bercampur lapar. "Tunjukkan padaku, Leon. Apa yang bisa kamu lakukan untuk seorang wanita kesepian seperti aku? Aku ingin melihat seluruh kemampuanmu malam ini."

Leon merasakan getaran di udara, campuran antara ketegangan dan hasrat. Ia ingat instruksi Tante Lisa: mulailah dengan kelembutan, bangun kepercayaan, lalu biarkan alur mengalir. Demi pekerjaan ini, demi uang yang akan membayar tagihan rumah sakit Maya, ia harus sempurna.

Dengan gerakan halus, Leon meraih tangan Tante Sonya, mencium punggung tangannya lembut, bibirnya menyentuh kulitnya yang halus. "Saya akan membuat Tante melupakan segalanya kecuali kenikmatan pada malam ini," bisiknya, matanya bertemu dengan mata Tante Sonya, penuh janji yang tak terucap.

Mereka mulai dengan obrolan ringan, Leon mendengarkan cerita Tante Sonya tentang hari-harinya yang sepi, tentang kenangan masa muda yang kini hanya tinggal bayang. Ia menyentuh bahunya pelan, jarinya mengusap kulitnya dengan ritme yang menenangkan, membangun keintiman yang romantis.

Tante Sonya bersandar padanya, tubuhnya rileks, dan segera, udara di kamar terasa lebih hangat. "Kau berbeda, Leon. Kau tidak seperti yang lain yang langsung kasar," gumamnya, tangannya kini merayap ke dada Leon, merasakan detak jantungnya yang stabil.

Leon membalas dengan mencium lehernya, bibirnya menyusuri garis rahangnya yang lembut, meninggalkan jejak panas yang membuat Tante Sonya menggigil. "Saya ingin Tante merasa dicintai," katanya, suaranya seperti belaian. Ia membantunya berdiri, tangannya membuka resleting gaun hitam itu perlahan, membiarkan kain sutra meluncur ke lantai, memperlihatkan lingerie merah yang membalut tubuhnya.

Tubuh Tante Sonya, meski tak lagi muda, penuh pesona dewasa: payudaranya yang montok, pinggang yang lembut, dan kulit yang harum.

Mereka berbaring di tempat tidur, Leon di atas, tapi gerakannya penuh kelembutan. Ia mencium bibirnya, ciuman yang dalam dan lambat, lidahnya menari dengan lidah Tante Sonya, membangkitkan api yang lama padam.

Tangan Leon menjelajah, meremas payudaranya dengan lembut, ibu jarinya mengelus putingnya yang mengeras di balik renda. Tante Sonya mendesah pelan, tangannya mencengkeram bahu Leon, "Lanjutkan... jangan berhenti."

Leon turun lebih rendah, bibirnya menyusuri leher, dada, hingga perutnya yang lembut. Ia melepas lingerie-nya dengan hati-hati, memperlihatkan keintiman Tante Sonya yang sudah basah oleh hasrat. "Biarkan saya memanjakan Tante," bisiknya, suaranya penuh godaan.

Dengan gerakan yang sensual, Leon menunduk, bibirnya menyentuh klitorisnya yang sensitif. Lidahnya mulai menari, lambat dan ritmis, menjilat dengan kelembutan yang membuat Tante Sonya melengkungkan punggungnya. Ia mengisap pelan, lidahnya memutar-mutar, mengeksplorasi setiap lipatan yang lembab, sementara jarinya memasuki dirinya, bergerak masuk-keluar dengan irama yang selaras.

Tante Sonya mendesah keras, suaranya bergema di kamar yang sunyi. "Oh, Leon... itu... luar biasa," jeritnya pelan, tangannya menarik rambut Leon, tubuhnya bergetar dalam gelombang kenikmatan pertama.

Oral seks yang diberikan Leon bukan sekadar teknik; itu adalah seni, penuh perhatian pada setiap respons tubuh Tante Sonya. Ia mempercepat ritme saat mendengar desahannya semakin intens, lidahnya menekan titik-titik sensitif, membuat cairan hangatnya mengalir lebih deras.

Tante Sonya menjerit dalam nikmat, pinggulnya bergoyang mengikuti irama Leon, "Kau... kau yang terbaik! Jangan berhenti, sayang!"

Kenikmatan itu membuncah, tubuh Tante Sonya menegang, dan ia mencapai orgasme pertama dengan erangan panjang yang romantis, seperti lagu cinta yang terpendam. Leon tidak berhenti, melanjutkan dengan kelembutan, membiarkan gelombang itu mereda sebelum membangun yang baru. "Tante begitu indah saat seperti ini," gumamnya, naik kembali untuk mencium bibirnya, membiarkan Tante Sonya merasakan rasa dirinya sendiri di lidah Leon.

Setelah beberapa saat, Tante Sonya yang terengah-engah mendorong Leon telentang. "Sekarang giliranku di atas," katanya dengan suara parau penuh hasrat. Ia melepaskan pakaian Leon, memperlihatkan tubuhnya yang tegap, otot-otot yang terlatih, dan kejantanan yang sudah tegang.

Dengan gerakan lambat yang erotis, ia naik ke atas Leon, posisi woman on top yang memberinya kendali penuh. Tangannya memandu Leon masuk ke dalam dirinya, perlahan, merasakan setiap inci yang memenuhi kekosongan yang lama.

"Aduh... Leon, kau begitu besar, begitu sempurna," desah Tante Sonya, matanya tertutup saat ia mulai bergerak. Pinggulnya bergoyang maju-mundur, ritme yang lambat dan sensual, seperti tarian malam yang romantis.

Leon meraih pinggangnya, membantu gerakannya, jarinya mengusap klitorisnya lagi untuk menambah sensasi. Tubuh mereka bersatu dalam harmoni, kulit bertemu kulit dengan suara pelan yang menggoda, keringat mulai membasahi seprai sutra.

Tante Sonya mempercepat, payudaranya bergoyang mengikuti irama, tangannya bertumpu di dada Leon untuk keseimbangan. "Kau hebat, Leon... kau mengantarku ke surga," jeritnya, suaranya campuran antara erangan dan tawa bahagia.

Leon membalas dengan dorongan dari bawah, sinkron dengan gerakannya, membuat gesekan itu semakin dalam dan intens. Ia mencapai payudaranya, mengisap putingnya sambil mata mereka bertemu, penuh keintiman yang membuat momen ini terasa seperti cinta sesungguhnya, bukan sekadar transaksi.

Orgasme kedua datang lebih cepat, tubuh Tante Sonya menegang di atas Leon, dinding dalamnya berdenyut mengelilingi kejantanannya. "Ya... lagi... lagi!" jeritnya, gelombang kenikmatan berturut-turut menyapu dirinya, membuatnya gemetar tak terkendali.

Leon menahan diri, membiarkan Tante Sonya menikmati puncaknya, tangannya membelai punggungnya dengan lembut, bisikannya penuh pujian, "Tante luar biasa... rasakan semuanya."

Akhirnya, setelah gelombang ketiga yang membuat Tante Sonya ambruk di dada Leon, terengah-engah dan puas, Leon membalikkan posisi.

Ia melanjutkan dengan ritme yang lebih cepat, dorongannya dalam dan penuh gairah, tapi tetap romantis. "Bersama-sama, Tante," katanya, menciumnya dalam-dalam saat ia mencapai klimaksnya sendiri, melepaskan segalanya di dalam dirinya dengan erangan yang selaras. Mereka berbaring saling peluk, napas mereka bercampur, kamar dipenuhi aroma hasrat yang memuaskan.

Tante Sonya mengusap wajah Leon, matanya berkaca-kaca. "Kau telah memberikan yang terbaik, Leon. Aku merasa hidup lagi. Terima kasih." Leon tersenyum, meski pikirannya kembali ke Maya.

Malam ini sukses; uang yang didapat akan membawa harapan baru. Ia tahu, pekerjaan ini berat, tapi demi orang yang dicintai, ia siap melanjutkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca