Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Misteri Gunung Sago

Misteri Gunung Sago

Bp. Juenk | Bersambung
Jumlah kata
76.3K
Popular
100
Subscribe
40
Novel / Misteri Gunung Sago
Misteri Gunung Sago

Misteri Gunung Sago

Bp. Juenk| Bersambung
Jumlah Kata
76.3K
Popular
100
Subscribe
40
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSilatBela DiriPewaris
Di salah satu Desa dibawah Kaki Gunung Sago, hiduplah seorang Pemuda yang akan menjadi pewaris dari INYIAK-Manusia Harimau yang merupakan penjaga Gunung Sago dari ancaman makhluk kegelapan
1. Pulang Ke-Desa Sikumbang

Kelam mulai merayap dari celah-celah Gunung Sago, menyapu sisa-sisa cahaya jingga di ufuk barat. Bis kota tua yang membawanya dari Padang Panjang akhirnya mengeluarkan desis terakhirnya di halte sederhana yang menjadi gerbang Desa Sikumbang. Zainal Sikumbang mengangkat ransel lusuhnya dari bagasi, perasaan campur aduk mengisi dadanya. Pulang. Kata yang selama ini menghangatkannya di perantauan, kini terasa berbeda.

Dia menghirup dalam-dalam. Udara kampung halamannya masih sama: sejuk, lembab, dan beraroma tanah basah bercampur wangi bunga kamboja yang tumbuh subur di pekarangan. Tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu yang menggantung di udara seperti kabut tipis yang tak kasat mata. Sebuah kesunyian yang tidak wajar.

Desa Sikumbang, tersembunyi di kaki Gunung Sago yang perkasa, tampak seperti lukisan yang pudar. Rumah-rumah panggung tradisional, ada yang masih kokoh berdiri dengan ukiran khas Minang, ada yang sudah reyot dimakan usia. Sawah menghijau membentuk terasering di lereng bukit, namun sepi dari aktivitas petani yang biasanya pulang hingga senja. Jalan setapak yang membelah desa nyaris kosong.

"Lah indak rami sajak dulu,"

(Sudah tidak Ramai seperti dulu) gumamnya sendiri, langkahnya berderap di atas tanah merah.

Beberapa warga yang berpapasan dengannya menyapa dengan singkat.

"Lah pulang, Zal?"

"Dari mano, ?"

Namun, senyum mereka terasa kaku, dan mata mereka cepat-cepat beralih, memindai sekeliling, terutama ke arah gunung yang mulai diselimuti kegelapan.

Ada kewaspadaan yang nyaris paranoid dalam setiap gerak-gerik mereka. Seorang ibu menyuruh anaknya yang masih kecil untuk segera masuk rumah sebelum matahari benar-benar tenggelam, suaranya bergetar ketergesaan.

Zainal teringat masa kecilnya. Senja adalah waktunya bermain, bercanda tawa dengan teman-teman sebayanya di lapangan desa hingga suara orang tua memanggil untuk makan malam. Kini, lapangan itu kosong. Hanya seekor kucing yang melintas cepat, lalu menghilang di balik semak.

Tujuannya adalah rumah pamannya, Datuak Rajo Malano—orang yang telah mengasuhnya sejak kedua orang tuanya meninggal dalam wabah penyakit ketika ia masih sangat kecil. Rumah Gadang itu, warisan keluarga ibunya, masih berdiri tegak di ujung desa, persis di mana batas pemukiman bertemu dengan hutan belantara yang mengarah ke kaki gunung. Pepohonan rimbun mulai terlihat seperti siluet raksasa yang mengancam.

Saat ia berjalan mendekat, kenangan masa kecilnya berkejaran. Kenangan tentang duduk di beranda rumah, mendengar pamannya bercerita tentang legenda-legenda gunung. Tentang hantu-hantu hutan, tentang 'orang bunian' yang tinggal di dalamnya, dan tentang satu sosok yang paling menonjol: Inyiak, manusia harimau penunggu Gunung Sago.

Sosok yang ditakuti, dikisahkan sebagai pemakan manusia yang ganas, yang memburu siapa pun yang berani melanggar wilayahnya setelah matahari terbenam. Dulu, cerita-cerita itu hanya dongeng pengantar tidur. Kini, melihat ketakutan di wajah warga, rasanya itu lebih dari sekadar dongeng.

Rumah Gadang itu terlihat lebih tua dan lebih sunyi dari yang diingatnya. Ukiran-ukiran tradisional di dinding kayunya tampak usang, seolah-olah kehilangan rohnya. Asap mengepul dari dapur, satu-satunya tanda kehidupan.

"Uda? Datuak?" panggil Zainal sambil menaiki tangga kayu.

Pintu utama terbuka, dan sosok tinggi tegak Datuak Rajo Malano muncul. Wajahnya yang biasanya keras dan berwibawa, kini terlihat lesu dan penuh beban. Namun, matanya berkedip lembut melihat keponakannya.

"Lah sampai juo kau, Nal," katanya, suaranya parau. Dia merangkul Zainal cepat.

"Masuak, masuak. Jangan berdiri diluar saja, sebentar lagi malam."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada yang membuat Zainal bergidik. 'Tidak perlu berlama-lama di luar nanti malam.' Sebuah peringatan, bukan sekadar saran.

Mereka masuk ke dalam. Rumah itu terasa besar dan hampa. Hanya mereka berdua.

Zainal dulu memutuskan merantau ke Pekanbaru mencari pekerjaan setelah merasa menjadi beban, setelah merasa dirinya hanya "pemuda biasa" yang tak punya masa depan di desa. Pamannya, seorang 'mamak panghulu' yang dihormati, selalu berusaha memberinya yang terbaik, tetapi Zainal merasa perlu mencari jati dirinya sendiri. Kini, dia kembali, membawa sedikit tabungan dan banyak kegagalan. Dan desa yang ditinggalkannya ternyata telah berubah.

"Baa kok sepi Bana kampuang Wak ko, Datuak?"

(Kenapa desa kita sepi sekali Datuak?)

tanya Zainal setelah mereka duduk di ruang tamu, ditemani secangkir kopi panas yang dibuat pamannya.

Datuk Rajo Malano menghela napas panjang. Matanya menatap keluar jendela, ke arah Gunung Sago yang kini hanya berupa bayangan hitam raksasa di bawah taburan bintang.

"Banyak nan barubah, Zainal. Gunuang Sago... indak baraso aman lai," ujarnya pelan.

("Banyak yang sudah berubah Zainal, Gunung Sago rasanya sudah tidak aman lagi")

"Belakangan ko, banyak urang nan hilang. Pandaki nan indak tau baliak. Warga nan nekat ka kebun malama-man, indak pulang-pulang."

(Akhir-akhir ini banyak orang yang hilang, beberapa pendaki, warga yang nekat pergi kekebun dimalam hari, semua nya tidak ada yang pernah kembali lagi)

"Panyakit? Kecelakaan? Atau... binatang buas?" tanya Zainal, mencoba mencari penjelasan yang logis.

"Binatang buas biasa, indak sakancang iko," jawab pamannya, menggeleng. "Mereka hilang tanpa jejak. Kadang-kadang, hanya tersisa pakaian yangnl tercecer, atau... jejak yang aneh."

"Jejak aneh?"

"Jejak kaki. Tapi indak seperti jejak harimau biasa. Lebih gadang. Lebih dalam. Mirip... jejak manusia, tapi ada cakarnya." Datuak Rajo Malano menurunkan suaranya hingga hampir berbisik. "Warga mengatakan, Inyiak lah bangkik dari tidurnyo. Dan ia Merasa Lapar."

Suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi dingin. Nama "Inyiak" diucapkan dengan rasa takut dan hormat yang mendalam. Zainal merasa bulu kuduknya berdiri. Dia ingat bagaimana dulu, ketika kecil, dia dan teman-temannya berani menantang malam, berteriak "Inyiak, muncul lagi!" ke arah gunung, hanya untuk kemudian lari ketakutan setengah mati karena suara dedaunan bergesekan. Itu adalah ketakutan yang menyenangkan, ketakutan dalam permainan. Kini, ketakutan itu terasa nyata, menusuk, dan mematikan.

"Paman pacayo jo Inyiak?" tanya Zainal.

("Paman percaya dengan keberadaan Inyiak?)

"Percayo indak parcayo, Nal, tapi kito indak buliah sombong. Alam punyo banyak rahasio nan indak tasingkek akal manusia. Kito hanyo tamu di kaki gunuang ko. Dan kini, gunuang ko baraso marah."

(Antara Percaya dan tidak, Nal, tapi kita tidak boleh sombong, Alam memiliki banyak rahasia yang tidak dapat di pahami akal manusia. Kita hanya lah tamu Alam di kaki gunung ini, dan sekarang gunung ini serti sedang marah")

Mereka terdiam. Hanya suara jangkrik dan kodok yang bersahutan, namun bahkan suara alam itu terdengar seperti nyanyian kematian.

Setelah makan malam sederhana, Zainal membawa ranselnya ke kamarnya yang lama. Tidak banyak yang berubah. Tempat tidur kayu, lemari tua, dan jendela yang menghadap langsung ke hutan dan gunung. Dia membuka jendela, menghirup udara malam. Kegelapan di luar terasa pekat, hampir seperti dinding padat. Dia bisa membayangkan apa saja yang bersembunyi di baliknya.

Dari kejauhan, terdengar suara lolongan. Bukan lolongan anjing, tapi suara yang lebih dalam, lebih menyayat, seolah-olah berasal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih primitif. Suara itu bergema di lembah, membuat seluruh desa seakan membeku. Bahkan jangkrik dan kodok tiba-tiba berhenti berkicau, menciptakan kesunyian yang lebih menakutkan.

Zainal melihat ke arah desa. Satu per satu lampu di rumah-rumah padam. Warga mengunci diri mereka dengan rapat-rapat, bersembunyi dari sesuatu yang mereka takuti, sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan Gunung Sago.

Dia berdiri di sana untuk waktu yang lama, menatap kegelapan yang tak tertembus. Perasaan aneh menggelitik di hatinya. Bukan hanya ketakutan, tapi juga sebuah rasa penasaran yang dalam. Ada sesuatu di luar sana. Sesuatu yang memanggilnya, sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, dari desanya, dari segala yang pernah dia ketahui.

Dia akhirnya menutup jendela, mengunci rapat-rapat. Tapi dia tahu, di dalam hatinya, sebuah pintu telah terbuka. Pintu menuju misteri yang akan mengubah hidupnya selamanya. Malam pertamanya kembali ke Desa Sikumbang terasa panjang, sunyi, dan penuh dengan bayang-bayang, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam imajinasinya. Dan di suatu tempat, jauh di dalam hutan gelap Gunung Sago, sepasang mata kuning menyala terbuka, memandang ke arah desa, seolah sudah menunggu kedatangannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca