Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Di Balik Helm & Tahta

Di Balik Helm & Tahta

Aurvandry Nurvazra Daviantara | Bersambung
Jumlah kata
73.5K
Popular
181
Subscribe
68
Novel / Di Balik Helm & Tahta
Di Balik Helm & Tahta

Di Balik Helm & Tahta

Aurvandry Nurvazra Daviantara| Bersambung
Jumlah Kata
73.5K
Popular
181
Subscribe
68
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifePertualanganPria MiskinZero To Hero
Raynandry Satria Astrajingga adalah seorang driver ojek online yang hidup di titik paling bawah. Sebatang kara, tanpa keluarga, tanpa sandaran, dan nyaris kehilangan segalanya. Hidupnya hanya berputar antara jalanan basah, saldo yang tak pernah cukup, motor cicilan yang hampir ditarik, dan kamar kos sempit yang siap merenggut satu-satunya tempat pulang yang ia miliki. Di saat hidupnya berada di ambang runtuh, Ray tanpa sengaja mengantar seorang wanita yang dunia dan kekuasaannya berada ribuan tingkat di atasnya. Wanita itu adalah Valerine Caelesta Mahaputri—CEO cantik perusahaan properti dan perhotelan internasional. Blasteran Indonesia, Prancis, dan Abu Dhabi. Berwajah sempurna, bermata biru dingin, berwibawa, dan terbiasa memegang kendali atas segalanya. Ia hidup di balik kemewahan, kekuasaan, dan keputusan besar, namun menyimpan kesepian yang tak pernah terlihat oleh dunia. Pertemuan mereka singkat. Hanya sebuah perjalanan dalam hujan. Namun sejak malam itu, hidup Ray tak pernah benar-benar sama. Di tengah jarak status sosial, harga diri yang terluka, intrik bisnis, dan luka batin masing-masing, benih perasaan perlahan tumbuh—bukan sebagai dongeng penyelamat, melainkan sebagai ujian paling berat dalam hidup Ray. Sebab mencintai Valerine berarti berhadapan dengan kenyataan pahit: cinta tidak selalu datang untuk menyelamatkan, terkadang justru menghancurkan. Ray harus memilih—tetap menjadi pria kecil yang pasrah pada nasib, atau bangkit dari titik nol dengan tangannya sendiri. Tanpa bergantung pada siapa pun. Tanpa menjadikan cinta sebagai jalan pintas. Di Balik Helm dan Tahta adalah kisah tentang cinta beda kasta, perjuangan hidup, harga diri seorang pria, dan perjalanan bangkit dari nol menuju setara. Sebuah romansa dewasa yang membuktikan bahwa tidak semua pahlawan lahir dari kemewahan—sebagian tumbuh dari luka, hujan, dan jalanan.
Bab 1 - Seorang Pria Tanpa Siapa-siapa

Malam itu, hujan turun seperti ingin menghapus kota dari peta.

Raynandry Satria Astrajingga berhenti di pinggir jalan, tepat di bawah lampu jalan yang berkedip lemah. Air hujan menetes dari ujung helmnya, jatuh satu per satu ke aspal yang menghitam. Ia tidak segera mematikan mesin motor. Tangannya masih menggenggam setang, seolah jika ia melepasnya, hidupnya akan benar-benar kehilangan pegangan.

Di layar ponselnya, tulisan itu masih terpampang jelas.

Order dibatalkan oleh penumpang.

Yang keempat malam ini.

Ray menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan karena dingin, tapi karena kenyataan yang terlalu sering menginjaknya tanpa permisi. Ia menekan tombol ponsel, membuka aplikasi penghasilannya hari itu.

Saldo bersih: Rp53.800.

Ia tertawa kecil, hambar. Angka itu bahkan tidak cukup untuk membeli bensin penuh, apalagi makan layak. Malam ini, sekali lagi, ia harus memilih antara perut atau motor.

Ray mematikan mesin. Suara hujan langsung mengambil alih, menenggelamkan suara kota dan pikirannya sendiri. Ia menunduk, helm masih menutup wajahnya, seolah ingin bersembunyi dari dunia.

Tidak ada siapa-siapa yang akan mencarinya jika ia menghilang malam ini.

Ray sebatang kara.

Ia tidak ingat kapan terakhir kali punya keluarga. Ayahnya meninggal saat ia masih terlalu muda untuk mengerti arti kehilangan. Ibunya menyusul beberapa tahun kemudian, meninggalkan Ray dengan dunia yang tidak pernah ramah sejak awal. Tidak ada saudara. Tidak ada kerabat yang peduli. Tidak ada rumah untuk pulang.

Yang ia miliki hanya kamar kos sempit berukuran tiga kali tiga meter, dengan tembok lembap dan bau apek yang tak pernah benar-benar hilang. Pemilik kos sudah mengingatkannya dua kali soal tunggakan. Ketiga kalinya, ia tahu, ia akan diminta angkat kaki.

Motor yang ia tunggangi pun bukan sepenuhnya miliknya. Cicilan tertunggak satu bulan. Satu bulan lagi, dan kendaraan itu bisa ditarik. Satu bulan lagi, dan ia tidak punya apa-apa untuk dijual selain tenaganya sendiri.

Ray menekan layar ponsel, membuka pesan yang belum ia baca seharian.

“Segera selesaikan kewajiban Anda.”

Ia tidak membalas. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata tidak akan mengubah saldo.

Ray mengangkat kepala, menatap gedung-gedung tinggi yang menjulang di kejauhan. Lampu-lampunya menyala terang, seperti dunia lain yang tidak pernah ia sentuh. Di sanalah orang-orang dengan jas rapi dan sepatu mahal membuat keputusan bernilai miliaran. Sementara dirinya di sini, bertarung dengan hujan demi puluhan ribu.

Ia pernah bermimpi.

Pernah ingin kuliah. Pernah ingin punya usaha. Pernah ingin hidup yang tidak sekadar bertahan. Tapi mimpi itu satu per satu runtuh, terkikis oleh kebutuhan, oleh kenyataan, oleh hari-hari yang hanya memberinya dua pilihan: jalan atau menyerah.

Ray menyalakan motor lagi. Ia tidak tahu ke mana akan pergi. Ia hanya tahu bahwa diam terlalu lama membuat kepalanya dipenuhi pikiran yang tidak ingin ia dengar.

Motor melaju pelan, membelah hujan dan lampu kota. Jalanan basah memantulkan cahaya merah dan kuning dari lampu lalu lintas. Ray mengendarai motornya dengan hati-hati, karena satu kecelakaan saja bisa mengakhiri segalanya.

Saat itulah ponselnya bergetar.

Ray refleks melirik layar.

ORDER MASUK.

Jarinya berhenti di udara. Ia hampir tidak percaya. Sudah hampir satu jam tidak ada order yang bertahan lebih dari beberapa menit. Ia menepi lagi, membaca detailnya.

Lokasi penjemputan:

Hotel Mahaputri Grand Tower.

Ray terdiam.

Hotel itu bukan tempat orang seperti dirinya biasa singgah. Bangunan menjulang dengan fasad kaca mengilap, simbol kemewahan yang sering hanya ia lihat dari kejauhan. Satu malam di sana mungkin setara dengan penghasilannya sebulan.

Tangannya ragu menekan layar.

Namun ia tidak punya pilihan.

Ray menekan TERIMA.

Motor tua itu kembali melaju, kali ini dengan tujuan. Semakin dekat ke hotel, semakin kuat perasaan asing yang menekan dadanya. Satpam berdiri tegap di pintu masuk, jas mereka kering dan rapi, berbanding terbalik dengan jaket Ray yang basah dan lusuh.

Ray berhenti di titik penjemputan. Ia mematikan mesin, turun dari motor, dan berdiri canggung. Air hujan menetes dari rambutnya yang sedikit keluar dari helm. Ia merapikan jaketnya, meski tahu tidak akan banyak membantu.

Ia merasa kecil.

Pintu kaca hotel terbuka perlahan.

Seorang wanita melangkah keluar.

Ray tidak langsung menyadari kecantikannya. Yang pertama kali ia rasakan adalah kehadirannya—sesuatu yang membuat udara di sekitarnya terasa berbeda. Wanita itu tinggi dan anggun, langkahnya mantap meski hujan masih turun. Mantel gelap membungkus tubuhnya yang langsing dengan sempurna.

Ketika ia mendongak, Ray membeku sejenak.

Mata wanita itu berwarna biru—bukan biru biasa, tapi biru yang jernih dan dingin, seperti laut di pagi hari. Wajahnya sempurna: hidung mancung, bibir tipis yang tegas, dagu lancip, kulit putih mulus tanpa cela. Rambut pirang keemasan terurai rapi, kontras dengan malam gelap di sekitarnya.

Cantik.

Terlalu cantik.

Bukan cantik yang ramah, tapi cantik yang membuat orang tahu batas.

“Raynandry Satria Astrajingga?” suaranya tenang, rendah, dan penuh kendali.

“Iya, Mbak,” jawab Ray cepat, sedikit menunduk tanpa sadar.

Ia meraih helm cadangan dari motor. Helm itu penuh bekas pakai—ada goresan kecil di sisi kiri, cat yang mulai pudar. Ray sempat ragu menyerahkannya, merasa tidak pantas.

Namun wanita itu menerimanya tanpa komentar.

Gerakannya anggun, terlatih, seolah ia terbiasa menghadapi apa pun tanpa perlu ragu. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan merendahkan. Hanya ekspresi netral yang membuat jarak di antara mereka terasa semakin jelas.

Ray melihat layar ponselnya.

Tujuan: Caelesta Residence.

Nama itu membuat tenggorokannya mengering. Caelesta Residence bukan sekadar apartemen. Itu simbol dunia elite, hunian para pemilik perusahaan dan orang-orang dengan kekuasaan nyata.

Ray menyalakan motor. Wanita itu naik dan duduk di belakangnya dengan posisi tegak. Jarak di antara mereka tetap terjaga, nyaris formal.

Motor melaju perlahan, membelah hujan. Tidak ada percakapan. Ray fokus pada jalan, pada aspal licin, pada lampu merah yang menyala satu per satu. Ia tidak berani berbicara lebih dulu.

Di lampu merah, ia melirik kaca spion.

Wanita itu menatap lurus ke depan, wajahnya tenang, seolah dunia selalu berada dalam kendalinya. Ray bertanya-tanya, seperti apa hidup perempuan seperti itu. Dunia apa yang ia huni, masalah apa yang ia anggap berat.

Jelas bukan soal saldo lima puluh ribu.

Ray kembali menatap jalan.

Di dalam dadanya, ada perasaan yang tidak nyaman. Bukan kagum. Bukan tertarik. Tapi kesadaran pahit tentang betapa jauhnya jarak di antara mereka.

Dia bukan duniamu, suara itu berbisik.

Kamu cuma driver.

Dan kamu sendirian.

Motor berhenti di depan gerbang Caelesta Residence. Pagar besi terbuka otomatis, penjaga keamanan mengangguk sopan pada wanita di belakangnya. Ray berhenti, mematikan mesin.

Wanita itu turun, melepas helm, lalu menyerahkannya kembali.

“Terima kasih,” katanya singkat.

Ray mengangguk. “Sama-sama, Mbak.”

Wanita itu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Ray berdiri beberapa detik, menatap punggungnya yang menjauh, sebelum akhirnya kembali naik ke motor.

Ponselnya berbunyi, menandakan perjalanan selesai dan saldo bertambah.

Ray melihat angka itu.

Tidak besar. Tidak mengubah apa pun.

Namun malam itu, tanpa Ray sadari, hidupnya baru saja bersentuhan dengan sesuatu yang akan menguji segalanya—harga diri, kesabaran, dan batas antara mimpi dan kenyataan.

Raynandry Satria Astrajingga kembali melaju ke dalam hujan.

Masih sebatang kara.

Masih di titik nol.

Dan belum tahu bahwa jalan pulang malam itu bukan menuju kos sempitnya—

melainkan menuju awal dari perjalanan yang akan menghancurkan sekaligus membangkitkannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca