Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Lysander: The Helix Order

Lysander: The Helix Order

OvioviO | Bersambung
Jumlah kata
54.3K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Lysander: The Helix Order
Lysander: The Helix Order

Lysander: The Helix Order

OvioviO| Bersambung
Jumlah Kata
54.3K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
FantasiSci-FiTeknologiTeka-tekiSains
Lysander. Seorang investigator bebas yang tenang di luar, tapi pecah di dalam. Luka lamanya kembali terbuka saat ia menerima telepon tengah malam dari seorang wanita asing: “Kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan dia.” ​Misi pertamanya, kasus gadis hilang tanpa jejak, tanpa saksi. Namun, di kamar korban, sebuah petunjuk dingin menantangnya. Simbol aneh yang sama persis dengan yang ia lihat di hari traumatis kematian kakaknya. Apakah ini hanya kebetulan, ataukah masa lalu Lysander bukan hanya menghantuinya, tapi telah kembali untuk menjeratnya? ​Mengapa ia merasa selalu diawasi? Ketika seorang jurnalis tangguh bernama Aria mendesak masuk ke dalam kehidupannya yang tertutup, Lysander mulai menyadari bahwa kasus ini terikat pada sebuah organisasi yang begitu gelap hingga polisi sendiri ingin menutupnya. ​Siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik simbol itu? Ketika mobilnya nyaris dibom, dan file misterius menyebut namanya sebagai “target selanjutnya,” Lysander dipaksa untuk bertanya: seberapa dekat musuh itu? Dan mengapa semua korban yang hilang memiliki kemiripan genetik? ​
Ketenangan Lysander.

Lysander duduk di sofa kulit tua di Apartemen 4B, sebuah unit loteng yang tak pernah tersentuh renovasi sejak tahun 80-an, di jantung distrik yang dikenal sebagai New Corvus. Kota ini adalah perpaduan suram antara arsitektur art-deco yang megah dan jaringan kabel serat optik yang saling membelit, mencerminkan era kemajuan teknologi yang dipaksa berbaur dengan estetika yang terlupakan.

Di mata orang lain, Lysander Rhyse (31 tahun) adalah perwujudan ketenangan: jas tweed yang selalu rapi, janggut tipis yang terawat, dan sepasang mata amber yang tampak seperti danau yang permukaannya tak pernah beriak, mencerminkan langit-langit yang kelabu. Ia adalah seorang Investigator Independen, sebuah istilah mewah untuk pekerjaan memecahkan masalah yang terlalu rumit, terlalu kotor, atau terlalu sensitif untuk ditangani oleh Departemen Keamanan Komunal (DSK).

Pekerjaannya saat ini adalah memeriksa ulang data keuangan sebuah perusahaan biotech kecil yang dicurigai melakukan penggelapan. Di layar datapad transparan miliknya, garis-garis kode dan angka-angka 3D melayang, memantulkan cahaya redup dari lampu gantung tunggal di atasnya. Lysander tidak sedang mencari uang; ia mencari ketidaksempurnaan, mencari simetri yang pecah. Itu adalah obsesinya.

Di hadapannya, secangkir keramik berisi kopi hitam kental mengepul. Rasanya seperti arang dan kepahitan. Kepahitan yang sama yang ia rasakan setiap pagi, sebuah lapisan mati rasa yang ia ciptakan sendiri untuk menutupi inti dirinya.

Ketenangan di luar, penuh luka di dalam. 

Luka itu adalah bayangan yang tidak pernah sepenuhnya memudar, sebuah memori 7 tahun lalu yang membakar hidupnya. Sebuah kasus yang diklasifikasikan sebagai kecelakaan, namun ia tahu, jauh di dalam tulang rusuknya, itu adalah sebuah pembunuhan. Kasus itu merenggut satu-satunya keluarga yang ia miliki, dan merobek jiwanya menjadi serpihan. Sejak itu, Lysander hidup di bawah aturan tunggal: tidak ada koneksi, tidak ada emosi, hanya logika murni. Ia telah mengubah dirinya menjadi algoritma berjalan, sebuah mesin pemecah masalah, untuk memastikan tidak ada lagi yang bisa diambil darinya.

Jendela lotengnya menawarkan pemandangan kota di bawahnya. Mobil-mobil hovering melintas sunyi, dan di kejauhan, menara-menara kaca menjulang, jantung The Citadel, tempat para elit dan The Helix Order (meskipun ia belum tahu nama itu) mengatur denyut nadi kota. Lysander tidak tertarik dengan pemandangan itu. Ia hanya tertarik pada apa yang tidak bisa ia lihat, pada celah-celah di antara fakta-fakta yang disajikan.

Pukul 14:13. Tugas selesai. Ia menemukan penyelewengan: $3.4 juta yang dialihkan melalui ledger kuantum, dipoles agar terlihat seperti investasi crypto yg gagal. Sebuah pekerjaan rapi. Terlalu rapi.

Ia mengirim laporan anonim ke kliennya, mematikan datapad, dan menyesap kopi terakhirnya. Rasanya dingin, pahit, dan sempurna. Persis seperti hidupnya.

Malam di New Corvus adalah kanvas yang dilukis dengan neon basah dan bayangan panjang. Lysander sedang duduk di balik meja kerjanya, sebuah meja kayu ek yang kokoh yang ia temukan di gudang barang bekas dan perbaiki sendiri. Ia sedang membersihkan pistol coilgun lamanya, The Ghost, sebuah senjata usang yang menembakkan proyektil dengan kecepatan tinggi. Ia membersihkannya bukan karena ia mengharapkan baku tembak, tetapi karena ritual itu memberinya fokus.

Pukul 02:47. Keheningan apartemennya dipecahkan oleh suara yang nyaring dan mendesak. Dering telepon.

Lysander tidak punya banyak kontak. Klien, agen rahasia, dan beberapa hacker yang ia bayar mahal untuk merahasiakan keberadaannya. Ia melihat layar datapad yang menyala di dinding: Nomor Tak Dikenal. Encryption Level Alpha (Tinggi).

Ia meletakkan Ghost di atas meja, meraih datapad, dan menggeser tombol jawab.

"Ya," katanya, suaranya rendah dan datar, tidak menunjukkan sedikit pun kejutan.

Di ujung lain, ada keheningan sejenak, diikuti oleh napas yang tersengal, seperti seseorang baru saja berlari kencang. Kemudian, suara seorang wanita terdengar. Suara itu serak, tercekik oleh air mata atau rasa takut, dan memiliki aksen yang Lysander kenali dari distrik The Citadel, aksen kelas atas, bukan suara orang yang seharusnya menelepon investigator bayaran.

"Lysander Rhyse?" tanyanya, berbisik.

"Ya," jawabnya, merasakan nalurinya mulai tegang. Keheningan yang tiba-tiba ini bukan hanya ketakutan. Itu adalah keputusasaan yang dalam.

"Kau... Kau satu-satunya yang bisa menolongnya."

Lysander menyalakan analytic mode di datapadnya, mencoba melacak panggilan itu, tetapi enkripsi yang digunakan wanita itu terlalu kuat, atau ia sudah terlalu jauh. "Aku tidak tahu siapa kau. Katakan kau siapa, atau aku akan menutup telepon."

"Namaku tidaklah penting. Identitasku akan membahayakanmu. Tapi putriku..." Suaranya pecah, lalu kembali berbisik, tegar. "Dia hilang. Dan mereka yang mengambilnya. Polisi tidak akan membantuku. Mereka... mereka terlibat."

Lysander menarik napas, memegang telepon lebih erat. "Siapa 'mereka'?"

"Organisasi. Sebuah... sebuah kelompok yang sangat, sangat tua. Mereka mencari sesuatu... mencari orang-orang tertentu. Anak-anak yang..." Ia terdiam lagi, suaranya sekarang terdengar seperti rintihan.

"Kenapa harus aku?" Lysander menyudutkannya. "Kau bisa menyewa siapa saja. Apa yang membuatku 'satu-satunya'?"

Keheningan yang dingin, dan kemudian wanita itu mengucapkan kata-kata yang merobek ketenangan buatan Lysander:

"Kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan dia, karena kau salah satu dari mereka. Kau adalah keretakan yang mereka ciptakan. Kau… adalah kegagalan pertama mereka."

Tubuh Lysander membeku. Tangan kanannya gemetar di atas pistol, untuk pertama kalinya sejak ia memegang The Ghost. Kata-kata itu, meskipun absurd, memicu gema yang dalam dan tidak menyenangkan di dalam jiwanya. Rasa kosong yang ia rasakan selama bertahun-tahun seolah-olah baru saja diisi dengan kengerian yang dingin.

"Beri aku nama dan lokasinya Sekarang." Perintah Lysander.

"Namanya Elara Voss. Dia hilang dari kamar tidurnya dua hari lalu. Apartemen Sektor Delta, Blok 12. Dan Lysander… mereka akan tahu kau mencarinya. Cepatlah."

Sebelum Lysander sempat mengajukan pertanyaan lebih lanjut, sambungan telepon terputus, meninggalkan keheningan yang lebih berat daripada sebelumnya. Panggilan itu lenyap, tanpa jejak, seperti hantu.

Lysander menatap layar datapad. Kata-kata wanita itu berputar di benaknya: "kau adalah keretakan yang mereka ciptakan," dan "kegagalan pertama mereka." Ia berusaha menyangkalnya, untuk mengklasifikasikan panggilan itu sebagai delirium seorang ibu yang kehilangan. Tapi naluri yang sudah lama mati, naluri seorang investigator sejati, terbangun, memberinya peringatan.

Ia berdiri, mengenakan sarung pistol kedalam holster, dan mengambil datapadnya. Laporan biotech yang baru saja ia kirim kini terasa begitu jauh, begitu tidak penting.

Ada kasus baru di New Corvus. Kasus yang terasa seperti ia bukan memilihnya, melainkan kasus itu yang memilihnya.

Lysander tiba di Sektor Delta, Blok 12, saat fajar pecah, hanya beberapa jam setelah panggilan telepon. Sektor Delta adalah sebuah kompleks hunian mewah, sebuah benteng kaca dan baja yang dikelola oleh kecerdasan buatan, dilindungi oleh gerbang berpelindung energi yang tampak mustahil untuk ditembus.

Ia menggunakan beberapa identitas digital palsu dan hacking sistem keamanan minimal, sebuah kemahiran yang ia pelajari dari jalanan, untuk menyelinap masuk. Ia tidak ingin DSK tahu keberadaannya.

Apartemen Voss terletak di lantai 30. Saat Lysander masuk, ia tidak bertemu dengan siapapun. Pintu terkunci dengan sistem kunci kuantum, tetapi sistem itu jelas tidak dipecah paksa, ini adalah hilangnya seseorang yang terjadi secara misterius.

Di dalam, apartemen itu luas, steril, dan mahal. Tapi keheningan di sana terasa aneh. Ini bukan keheningan rumah yang ditinggalkan, melainkan keheningan sebelum badai.

Lysander menemukan kamar Elara Voss, gadis yang hilang. Kamar itu adalah surga seorang remaja: poster-poster musisi cyberpunk, tumpukan buku, dan beberapa mainan robot yang teronggok di sudut.

Tak Ada Jejak, Tak Ada Saksi. 

Investigasi Lysander segera mengonfirmasi pernyataan ibunya, bahkan membuatnya merinding. Elara Voss telah lenyap sepenuhnya.

• Sistem Keamanan: Log keamanan internal apartemen menunjukkan Elara masuk ke kamarnya pukul 22:10 dan mematikan lampu. Tidak ada sinyal alarm yang terpicu setelah itu.

• Jendela & Pintu: Kunci pintu kamar berfungsi normal. Jendela tertutup rapat dan terkunci dari dalam.

• Sensor: Sensor gerak di koridor tidak mencatat pergerakan apa pun selama periode kritis.

• DNA/Fingerprint: Tidak ada sidik jari asing, tidak ada jejak DNA atau serat pakaian yang bukan milik Elara atau keluarganya. Pintu kamar mandi, lemari, dan laci semuanya tertutup rapi.

"Ini seperti... dia menguap," gumam Lysander pada dirinya sendiri, menyentuh bantal yang masih memiliki lekukan bekas kepala Elara.

Sebuah datapad pribadi Elara tergeletak di meja samping tempat tidur, terbuka di aplikasi chat dengan teman-temannya. Pesan terakhirnya, dikirim pukul 22:05: "Sampai jumpa besok, guys. Mau cepatan tidur, ada ujian Genetika."

Ujian Genetika. Sebuah detail kecil yang Lysander tandai. Kebetulan yang aneh.

Lysander beralih ke analisis infra-red di dinding, di lantai, dan di plafon. Ia mencari radiasi sisa dari proyektil plasma, jejak medan gaya, atau anomali termal, apa pun yang mengindikasikan penggunaan teknologi canggih. Tidak ada. Kamar itu secara fisik utuh dan normal.

Tapi Lysander sudah berinvestigasi cukup lama untuk mengetahui bahwa tidak adanya bukti adalah bukti itu sendiri. Ini mengindikasikan keterampilan yang luar biasa, atau teknologi yang sangat, sangat maju. Orang yang menculik Elara Voss tidak ingin meninggalkan petunjuk.

Petunjuk Pertama: Simbol Aneh. 

Saat itulah matanya menangkap sesuatu.

Ia sedang memeriksa bingkai jendela kamar Elara, mencari goresan kecil yang mengindikasikan alat pemotong kaca, ketika ia melihatnya. Terukir di ambang jendela kayu lapis, persis di bawah lapisan pernis, ada sebuah simbol.

Simbol itu tidak diukir dengan pisau, melainkan tampak seperti dibakar atau digravir dengan laser kecil. Itu sangat kecil, hampir tidak terlihat, dan hanya bisa ditemukan jika seseorang secara spesifik mencarinya.

Lysander mengeluarkan perangkat pemindaian miniaturnya dan mengambil scan 3D dari simbol tersebut.

Simbol itu adalah formasi yang aneh. Bukan huruf, bukan angka, bukan hieroglif kuno yang ia kenal.

Itu tampak seperti perpaduan kuno dan futuristik, seperti simbol alkimia yang ditenun ulang dengan kecanggihan teknologi. 

Lysander memasukkan scan itu ke dalam basis datanya yang terisolasi dan meluncurkan pencarian. Hasil: Nol. Tidak ditemukan kecocokan.

Ia mencoba variasi: Simbol Okultisme. Simbol Alkimia. Logo Perusahaan. Simbol Hacker. Organisasi Teroris. Nol.

Lysander kembali menatap simbol aneh itu. Dingin. Mengerikan. Itu adalah stempel penculik, sebuah kartu nama yang ditinggalkan dengan sengaja, atau mungkin... sebuah tanda peringatan.

Saat Lysander memotret simbol itu dengan kamera retina-nya, ia merasakan sensasi dingin di punggungnya. Sensasi itu familiar. Sensasi dari masa lalu.

Jantung Lysander, yang biasanya berdetak stabil dan mekanis, kini mulai memukul di dadanya, sebuah gong yang keras. Ia menyentuh ambang jendela itu dengan ujung jarinya. Permukaannya terasa dingin.

Tiba-tiba, ingatannya meledak. Bukan memori kasus, tapi memori yang jauh lebih pribadi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca