

Marisa, seorang wanita cantik, malam itu tak sanggup lagi menahan keinginannya. Status sosial dan jarak seolah lenyap, tergantikan oleh letupan hasrat yang sejak lama ia pendam. Dengan mata sayu, ia menatap Mang Dewo yang berdiri di depannya.
“Mang…” bisiknya, lirih tapi terdengar seperti desahan. Bibir merahnya nyaris menyentuh wajah Mang Dewo. “Apa nggak pengin tahu rasanya punya majikan secantik aku di pelukanmu?”
Mang Dewo yang sedari tadi diam langsung menelan ludah. Tenggorokannya mendadak kering, dadanya bergemuruh. Ia tak pernah menduga malam ini bisa berdiri di kamar majikannya.
Ia mencoba menunduk, berusaha menenangkan diri, tapi jemari Marisa sudah lebih dulu mengangkat dagunya perlahan.
“Lihat aku mang, liat baik baik, apa kamu nggak kegoda,?”
Mang Dewo mendongak, lalu berkata parau, ingin menolak tapi terasa sulit, “Bu… tolong, jangan goda saya begini. Saya ini cuma sopir,”
Marisa tersenyum miring. Jarinya mengelus pelan dagu itu.
“Cuma sopir?” katanya lembut. “Justru itu yang bikin saya penasaran. Laki-laki sederhana, jujur… tapi lihat deh, badan kamu keras semua. Itu bikin saya ngilu, Mang.”
Ucapan itu menohok langsung ke dada Mang Dewo. Kakinya mendadak lemas. Di kepalanya hanya ada dua pilihan — keluar dan lari, atau langsung menubruk wanita cantik itu. Tapi dua-duanya sama berisikonya.
“Bu… nggak salah ngomong kayak gitu,” gumamnya. Tubuhnya tetap diam di tempat, tak bergerak mundur sedikit pun.
Marisa tertawa kecil. Nadanya nakal dan menantang. Ia mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Mang Dewo.
“Kalau bener kamu butuh uang, berarti kamu harus temenin saya malam ini. Jangan biarin saya sendirian ngerasain hasrat yang menggantung.”
Mang Dewo lagi-lagi menelan ludah. Tubuhnya kaku, tapi kata-kata Marisa menjerat kuat — karena ia memang butuh uang. Namun tawaran itu terasa seperti jebakan yang bisa menyeretnya ke masalah besar kapan saja.
“Bu… saya… saya emang butuh uang, tapi…” suaranya putus, hampir tak terdengar.
Marisa justru mendekat lebih dalam. Bibirnya kini menyentuh pipi kasar Mang Dewo — hangat, basah, membuat darahnya berdesir tak karuan.
“Ini bukan tawaran biasa, Mang. Saya serius. Malam ini saya pengen ditemenin sama kamu. Nggak ada orang lain yang bisa bikin saya senekat ini.”
Tangannya yang halus kembali bergerak pelan, meraba dada bidang Mang Dewo yang menegang. Ia sengaja menekan jemarinya, membuat sopir itu hampir terlonjak.
“Bu…” Mang Dewo mengusap wajahnya, tapi matanya terpaku pada tubuh majikannya. Gaun tipis itu tersibak saat Marisa mendekat, memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
Marisa tersenyum puas melihat tatapan itu.
“Mang, saya tahu kok… dari tadi mata kamu nggak bisa bohong. Kamu pengen nyentuh punyaku, kan?”
Dada Mang Dewo makin naik turun tak beraturan. Setiap kata dari bibir Marisa seperti cambuk sekaligus godaan yang sulit ia tolak.
“Ayo…” bisik Marisa, suaranya lirih tapi penuh desakan. “Coba sentuh saya sekali aja. Rasain sendiri indahnya. Kalau udah, saya yakin kamu nggak bakal nyesel.”
Jarak mereka tinggal sehelai rambut. Hanya butuh satu gerakan kecil untuk melebur batas yang selama ini mereka jaga.