

Kevin berdiri di depan gerbang besi yang sudah berkarat. Cat hitamnya mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan lapisan karat kemerahan yang menjalar seperti luka tua yang tidak pernah sembuh.
Lima tahun lalu, gerbang ini selalu mengkilap, dijaga dua satpam yang bergantian setiap delapan jam. Sekarang, pos jaga itu kosong, rumput liar tumbuh di celah-celah paving block.
Dia mendorong gerbang itu. Engselnya berderit panjang, memecah keheningan sore yang mulai gelap.
Kevin tidak tahu apa yang dia harapkan saat kembali ke tempat ini. Mungkin tidak ada. Dia hanya ingin melihat. Melihat wajah orang-orang yang pernah membuangnya. Wajah orang-orang yang menyerahkannya untuk disiksa selama tiga hari tiga malam, lalu dilempar ke jurang seperti sampah yang tidak berguna.
Taman yang dulu selalu rapi kini terlihat berantakan. Pohon-pohon yang tidak dipangkas tumbuh liar, cabang-cabangnya menjulur ke segala arah. Tapi rumah utama masih berdiri megah di ujung jalan. Tiga lantai dengan arsitektur kolonial, cat putihnya masih terawat berbeda dengan kondisi taman.
Tipikal. Keluarga Tanjaya selalu menjaga penampilan luar.
Kevin berjalan melewati pintu utama yang terbuka. Seorang pelayan tua berdiri di sana dengan wajah terkejut.
"Tu-Tuan Muda Kevin?"
Pak Hendra. Kepala pelayan yang sudah bekerja untuk keluarga Tanjaya selama tiga puluh tahun. Rambutnya kini sudah memutih seluruhnya, punggungnya lebih bungkuk. Tapi matanya masih sama, mata yang dulu menatapnya dengan kasihan ketika dia diseret keluar dari rumah ini.
"Pak Hendra." Kevin mengangguk singkat dan melangkah masuk tanpa menunggu jawaban.
Ruang utama tidak banyak berubah. Sofa-sofa kulit berwarna cokelat tua masih tersusun rapi. Lampu kristal besar masih menggantung di langit-langit. Dan di dinding, di atas perapian yang tidak pernah dinyalakan, tergantung foto-foto keluarga dalam bingkai emas.
Kevin berjalan mendekat. Langkahnya pelan, terkontrol.
Foto pertama adalah Jose Tanjaya. Patriark keluarga. Kakeknya. Pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang, jas hitam yang selalu sempurna. Dalam foto itu, dia tersenyum. Senyum yang sama yang dia tunjukkan ketika menyerahkan Kevin kepada keluarga Wijaya lima tahun lalu.
"Untuk kebaikan keluarga," katanya waktu itu. "Kau harus mengorbankan dirimu untuk kebaikan keluarga."
Foto berikutnya adalah Albert dan Diana. Ayah dan ibunya. Albert berdiri tegap dengan setelan jas abu-abu, tangannya merangkul Diana yang mengenakan gaun merah marun. Keduanya tersenyum dengan senyum yang terlatih. Sempurna. Tanpa jejak penyesalan.
Foto terakhir adalah Vano. Kakaknya. Dalam foto itu, Vano mengenakan toga wisuda, memegang gulungan ijazah dengan bangga. Senyumnya lebar, dan terlihat sombong, matanya berbinar.
Kevin memandangi deretan foto itu. Satu. Dua. Tiga. Empat.
Tidak ada foto kelima.
Dia mengangkat tangannya, menyentuh dinding di samping foto Vano. Di situ, ada bekas persegi yang sedikit lebih gelap dari cat di sekitarnya. Bekas foto yang sudah dilepas.
Fotonya.
Mereka tidak hanya menyerahkannya untuk disiksa. Mereka juga menghapusnya. Menghilangkan setiap jejak keberadaannya dari rumah ini. Seolah Kevin Tanjaya tidak pernah ada.
Kevin menurunkan tangannya. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun. Lima tahun dengan gurunya di jurang tempat dia dibuang, telah mengajarkan banyak hal kepadanya. Termasuk cara menyembunyikan segala yang dia rasakan di balik topeng ketenangan yang sempurna.
"Kevin?"
Suara itu datang dari belakang. Kevin berbalik dengan perlahan.
Albert dan Diana berdiri di kaki tangga. Wajah mereka menampilkan ekspresi yang hampir meyakinkan, seolah orang tua yang tulus yang rindu akan anak mereka yang hilang. Diana bahkan meneteskan air mata, tangannya terulur seperti ingin memeluk.
"Kevin, kau... kau masih hidup," Diana berbisik, suaranya bergetar. "Kami pikir kau sudah..."
Kevin tidak bergerak. Matanya mempelajari kedua orang tuanya dengan tatapan dingin dan menilai.
Ada sesuatu yang salah.
Lima tahun lalu, dia mungkin akan langsung berlari ke pelukan ibunya. Dia mungkin akan percaya air mata itu, percaya suara bergetar itu. Tapi Kevin yang sekarang bukan Kevin yang dulu. Lima tahun mengubah banyak hal. Termasuk kemampuannya untuk membaca wajah orang.
Dan yang dia baca sekarang adalah kepentingan.
Di balik air mata Diana, ada perhitungan. Di balik ekspresi terkejut Albert, ada kelegaan yang aneh. Mereka tidak melihat anak yang hilang. Mereka melihat kesempatan.
"Apa yang kalian inginkan?" Kevin bertanya langsung, nadanya datar seperti es.
Diana terhenti. Air matanya berhenti mengalir seketika. Albert berdehem, berusaha mempertahankan ekspresi hangat di wajahnya tapi gagal.
"Kevin, nak, kenapa kau—"
"Jangan buang waktuku." Kevin memotong. "Aku tahu kalian tidak senang melihatku. Aku tahu kalian berharap aku mati lima tahun lalu. Jadi katakan saja apa yang kalian inginkan, dan aku akan pergi."
Hening sejenak. Albert dan Diana bertukar pandang. Sesuatu yang tidak terucap lewat di antara mereka. Akhirnya, Albert menghela napas dan melepaskan topengnya.
"Baiklah." Albert melangkah maju, suaranya kembali ke nada bisnisnya yang familiar. "Kau mendapatkan anugerah, Kevin. Anugerah yang sangat besar."
"Anugerah?"
Albert mengangguk dengan antusias yang dibuat-buat. "Kau akan dijodohkan dengan putri keluarga Wibisono. Vivian Wibisono."
Kevin diam. Nama itu tidak asing. Keluarga Wibisono adalah salah satu dari empat keluarga paling berkuasa di Kota Aranca, kota ini. Kekayaan mereka mencapai triliunan rupiah.
"Sebenarnya," Albert melanjutkan, "perjodohan ini awalnya untuk Vano. Tapi karena kau pulang, kami pikir... kenapa tidak memberikan kesempatan ini padamu? Bukankah ini kabar baik?"
Kevin menatap ayahnya lama. Sangat lama.
Lima tahun lalu, orang-orang ini menyerahkannya kepada keluarga Wijaya untuk menanggung dosa yang dilakukan Vano. Mereka memanfaatkan kemiripan wajahnya dengan kakaknya untuk menjadikannya kambing hitam. Dan sekarang, nampaknya mereka akan melakukannya lagi.
Pola yang sama. Trik yang sama.
Vano tidak mau menikahi putri Wibisono. Entah karena alasan apa. Dan solusi mereka adalah, seperti biasa, Kevin. Selalu Kevin. Pengganti yang sempurna.
"Kenapa Vano tidak mau?" Kevin bertanya.
Albert berkedip. "Apa?"
"Jangan perlakukan aku seperti orang bodoh." Suara Kevin mengeras. "Perjodohan dengan keluarga Wibisono adalah kesempatan emas. Tidak ada alasan Vano menolaknya kecuali ada sesuatu yang salah dengan calon pengantinnya. Jadi katakan padaku, apa yang salah dengan Vivian Wibisono?"
Diana memalingkan wajah. Albert menelan ludah.
"Vivian... mengalami kecelakaan setahun lalu," Albert akhirnya mengaku. "Dia lumpuh. Tidak bisa berjalan. Dan menurut rumor, kondisinya... tidak baik."
Kevin hampir tertawa. Hampir.
Jadi begitu. Vivian Wibisono cacat, mungkin sekarat, dan Vano yang dimanja tidak mau mengotori tangannya dengan menikahi gadis seperti itu. Solusinya? Lempar ke Kevin. Biarkan Kevin yang menanggung beban itu.
Beberapa hal memang tidak pernah berubah.
"Baiklah." Kevin berkata.
Albert dan Diana sama-sama terkejut.
"Apa?"
"Aku bilang baiklah. Aku akan menikahi Vivian Wibisono."
Diana mengerjap. "Kau... kau mau?"
"Dengan satu syarat."
Albert langsung waspada. "Syarat apa?"
Kevin menatap ayahnya langsung di mata. Tatapannya dingin seperti es di puncak gunung.
"Aku ingin memukul Vano. Satu pukulan. Itu saja."
Hening yang mengikuti pernyataan itu terasa berat. Diana langsung menggeleng keras.
"Tidak. Tidak mungkin. Kevin, kau tidak bisa—"
"Kenapa tidak?" Kevin memotong dengan tenang. "Kalian menyuruhku menikahi gadis yang bahkan kakakku sendiri tolak. Kalian memintaku mengorbankan hidupku lagi untuk keluarga ini. Satu pukulan sepertinya harga yang murah."
"Tapi Vano—"
"Vano adalah alasan aku hampir mati." Suara Kevin mengeras untuk pertama kalinya. Ada api di matanya, api yang selama ini dia tekan jauh ke dalam. "Lima tahun lalu, Vano yang memperkosa Alicia. Vano yang melakukan kejahatan itu. Tapi siapa yang dihukum? Siapa yang disiksa selama tiga hari tiga malam? Siapa yang dilempar ke jurang?"
Diana memucat. Albert menegang.
"Aku." Kevin melanjutkan, suaranya kembali tenang tapi berbahaya. "Aku yang menanggung semuanya. Karena kalian lebih memilih melindungi Vano. Karena Vano adalah anak kesayangan kalian. Dan sekarang, kalian ingin aku mengorbankan diriku lagi untuknya?"
Dia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Satu pukulan. Itu syaratku. Ambil atau tinggalkan."