

"Heh Samsuri! Siapa suruh kau ambil batu di sini?"
Samsuri baru saja mau mengangkat batu seukuran kepala kambing saat kerah bajunya ditarik kasar dari belakang.
Itu Jarot, ketua preman sungai yang giginya kuning kebanyakan merokok. Napasnya bau tembakau murahan.
"Bang, ampun Bang, aku cuma mau cari makan. Ini buat dijual ke Haji Mamat," kata Samsuri gemetaran. Suaranya pecah, khas anak remaja yang baru akil baligh.
Dia mencoba melepaskan cengkraman Jarot, tapi tenaganya kalah jauh. Lengan kurus Samsuri tidak sebanding dengan otot kawat preman itu.
"Halah! Alasan saja kau!"
Bugh!
Satu pukulan mendarat telak di perut Samsuri hingga dia jatuh berlutut.
Belum sempat dia ambil napas, dua anak buah Jarot langsung menendang punggungnya bertubi-tubi sampai dia tersungkur mencium lumpur.
"Seret ke tengah! Biar sadar sedikit kalau dia berada di wilayah kekuasaanku!" teriak Jarot lagi.
Samsuri lantas diseret paksa. Dia meronta, tapi sia-sia.
Air sungai yang dingin mulai merendam kakinya, lalu pinggangnya, sampai akhirnya kepalanya ditekan masuk ke dalam air yang keruh.
"Tahan di situ! Biar mampus sekalian!" tawa Jarot kejam.
Napas Samsuri habis. Dadanya sesak bukan main, paru-parunya seperti mau meledak. Pandangannya mulai kabur.
‘Ibu... maafin Samsuri…’ batinnya pasrah.
“Udah ayo, kita pergi. Palingan sudah lewat dia,” ajak Jarot kepada teman-temannya setelah merasa cukup menyiksa bocah itu.
Samsuri pun tak sadarkan diri, tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar sungai.
Tapi pas tangannya yang lemas menyentuh dasar sungai, jarinya merasakan sesuatu yang aneh. Ada batu licin yang rasanya hangat. Beda sekali dengan air sungai yang dingin menusuk tulang.
Ting!
Tiba-tiba sebuah suara berdenging di kupingnya.
Rupanya, saat kepalanya ditekan tadi, kening Samsuri sempat tergores batu tajam di dasar sungai.
Darah segar remaja itu merembes keluar dari lukanya, tercampur air, lalu menetes tepat di atas batu hitam yang hangat itu.
Keajaiban terjadi. Batu yang terkena darah Samsuri itu mendadak berpendar terang. Cahaya kehijauan memancar dari intinya, lalu melesat cepat seperti kilat dan masuk menembus kening Samsuri.
Zraas!
“AKH!”
Samsuri merasakan sengatan aneh menjalar dari ujung jari sampai ke ubun-ubun. Matanya mendadak gelap gulita. Dia tidak ingat apa-apa lagi.
*****
Samsuri terbangun sambil memuntahkan air sungai bercampur lumpur.
Napasnya tersengal-sengal. Dia bingung setengah mati melihat langit yang sudah berwarna jingga kemerahan. Sudah sore.
"Syukurlah.. aku masih hidup.." desisnya.
Sedetik lalu rasanya nyawanya sudah melayang, tapi sekarang dia malah tergeletak di pinggiran sungai berbatu yang asing.
Ini bukan tempat dia diseret tadi, melainkan area hutan di hilir sungai yang cukup jauh dari desa.
Samsuri kemudian memeriksa tubuhnya. Meski basah kuyup dan terendam berjam-jam di air, anehnya dia sama sekali tidak merasa kedinginan.
Tubuhnya justru terasa hangat, seolah ada tungku api kecil yang menyala di dalam dadanya.
Rasa sakit bekas pukulan Jarot juga sudah hilang tak berbekas.
Dia meraba wajahnya. Kacamata minusnya yang retak sudah hilang terbawa arus.
"Waduh, kacamataku..." keluhnya panik, karena tanpa kacamata, bagaimana dia bisa melihat dengan jelas?
Namun, saat Samsuri membuka mata lebar-lebar, dia terkejut.
Dedaunan di pohon seberang sungai terlihat sangat jelas. Dia bahkan bisa melihat urat-urat daun dan semut yang merayap di batang pohon yang jaraknya sepuluh meter.
"Kok... malah jadi terang banget?" gumam Samsuri sambil mengucek matanya.
Dia merasa aneh, tapi tidak mau ambil pusing dulu. Yang penting dia harus pulang sebelum ibunya cemas.
"Dasar. Mentang-mentang yatim piatu dan masih kecil, seenaknya saja main keroyok," gumam Samsuri sambil berdiri.
Samsuri mulai berjalan menyusuri tepian sungai untuk kembali ke desa. Hutan di sini sepi dan rimbun.
Namun, saat sedang melangkah di antara bebatuan besar, telinganya menangkap suara tawa.
"Hahaha, aduh Mbak Yu, jangan disiram ke situ toh! Geli!"
Suara tawa perempuan. Ramai, dan sepertinya lebih dari satu orang.
Langkah Samsuri terhenti. Jantung remajanya langsung dag dig dug.
Dia lupa kalau sore hari seperti ini, sungai bagian hilir memang menjadi tempat mandi para wanita desa.
Samsuri buru-buru merangkak dan sembunyi di balik batu besar dan semak-semak liar. Dia berharap mereka segera pergi agar dia bisa lewat.
Namun, saat Samsuri mencoba mengintip sedikit, dia terkejut.
Di area sungai yang arusnya tenang karena tersembunyi itu, ada tiga perempuan sedang mandi.
Mereka memakai jarik batik untuk "basahan".
Kain itu melilit ketat dari atas dada sampai ke paha, menutupi tubuh mereka yang basah kuyup.
Samsuri sebenarnya mau langsung kabur. Dia tahu mengintip itu dosa, apalagi dia baru saja selamat dari maut.
Tapi entah kenapa, matanya susah dialihkan. Ada dorongan aneh dari dalam dirinya, seolah matanya punya kehendak sendiri.
Dia fokus menatap salah satu wanita yang posisinya paling dekat. Wanita itu sedang keramas, membelakangi Samsuri.
Lama-kelamaan, pandangan Samsuri jadi aneh.
Kain jarik basah yang bermotif coklat tua itu perlahan terlihat samar. Makin lama makin tipis, seolah-olah transparan seperti kaca.
Samsuri mengucek matanya berkali-kali, mengira dia salah lihat atau berhalusinasi karena efek mau tenggelam tadi. Tapi saat dia melihat lagi, pemandangan itu makin jelas.
Kain jarik itu hilang dan dia bisa melihat dengan jelas punggung putih mulus milik wanita itu.
Pinggang yang melengkung indah bak gitar spanyol, sampai ke bagian bawah tubuhnya, tanpa terhalang sehelai benang pun.
Wanita itu polos sepenuhnya di mata Samsuri.
Napas Samsuri tercekat, tanpa sadar napasnya memberat.
"Waduh... mataku kenapa ini? Kok bisa nembus begini?" batinnya panik dan bingung setengah mati.
Sebagai remaja ingusan yang belum pernah pacaran, pemandangan seperti itu membuatnya syok.
Baru kali ini dia melihat anatomi tubuh wanita sedetail dan senyata ini.
Sosok yang sedang keramas itu tiba-tiba memutar badan, menghadap ke arah tepian sungai tempat Samsuri sembunyi.
Itu Rasti. Janda muda kembang desa yang ditinggal mati suaminya setahun lalu.
Rasti terkenal angkuh dan jarang keluar rumah, tapi sekarang dia ada di sana, berjarak cuma lima meter dari hidung Samsuri.
Dan berkat mata aneh ini, Samsuri tidak melihat kain jarit basah yang Rasti pakai. Di mata Samsuri, Rasti berdiri tanpa sehelai benang.
Air sungai menetes dari rambut Rasti yang basah, turun melewati leher jenjangnya. Samsuri menelan ludah kasar.
Dia melihat tubuh Rasti yang membusung padat dan indah. Ukurannya jauh lebih berisi daripada yang sering dibayangkan bapak-bapak saat berjaga di pos ronda..
"Rasti, sabunnya dong! Jangan melamun saja," tegur salah satu wanita di sebelahnya.
"Eh! Iya, Yu!" Rasti tersentak kaget.
Gerakan kaget itu membuat dadanya yang berpucuk kecoklatan berguncang pelan. Samsuri yang melihatnya ikut kaget sampai menahan napas.
"Sabar sedikit, Yu!" jawab Rasti lagi, suaranya terdengar manja.
Rasti mulai menyabuni tubuhnya. Tangan halusnya yang penuh busa putih bergerak perlahan mengusap leher, lalu turun memijat dadanya dengan gerakan memutar.
Imajinasi liar remaja Samsuri langsung tersulut tak terkendali. Darah mudanya mendidih. Panas yang tadi cuma ada di dada, sekarang merambat turun dan berkumpul di selangkangannya.
Samsuri kepayang. Matanya tak lepas dari gerakan tangan Rasti.
Tiba-tiba.. KREK!!
Saking tegangnya menahan hasrat dan posisi jongkok yang lama, kaki Samsuri kesemutan dan tidak sengaja menginjak ranting kering. Suaranya cukup keras di antara gemercik air.
Rasti langsung berdiri tegak. Dia menoleh tajam ke arah semak-semak tempat Samsuri bersembunyi.
"Suara apa itu?" tanya Rasti curiga.
"Alah, paling biawak lewat. Atau tikus air," sahut temannya santai.
"Bukan, Yu" bantah Rasti. Matanya menyipit, menatap lurus ke tempat persembunyian Samsuri. "Tadi suaranya kayak ranting patah. Jangan-jangan ada yang mengintip."
Samsuri membeku. Keringat dingin bercampur air sungai mengucur di pelipisnya.
Kalau dia ketahuan sekarang, habis sudah riwayatnya. Bisa-bisa dia mati beneran dihajar warga satu kampung. Ibunya pasti akan menangis malu punya anak pengintip.
Tapi bukannya mundur, Rasti malah melangkah mendekat ke tepian. Dia berjalan membelah air sungai, makin dekat ke arah Samsuri.
Di mata Samsuri, ini seperti mimpi buruk. Rasti yang seperti telanjang itu, berjalan mendekatinya dengan ekspresi galak.
Samsuri ingin lari, tapi kakinya lemas seperti jeli.
"Siapa di sana?!" Rasti membentak pelan. Tangan halusnya terulur, langsung menyibak daun-daun semak penutup tubuh Samsuri.
Sret!
Penghalang di antara mereka terbuka. Mata mereka bertemu.
Samsuri terpojok. Dia melihat Rasti terbelalak kaget melihat ada laki-laki muda meringkuk di sana dengan wajah babak belur.
Anehnya, Rasti tidak langsung berteriak "maling" atau "mesum". Lidah wanita itu seolah kelu. Matanya terpaku lurus pada manik mata Samsuri yang saat itu sedang bersinar samar karena pantulan cahaya matahari sore.
Suasana hening mencekam selama dua detik. Hanya terdengar suara napas mereka yang memburu.
"Kamu...?!" desis Rasti tertahan.
Samsuri membeku, napasnya berhenti di tenggorokan.