

“Minggir! Kau tak pantas menyentuh mobil ini!”
Suara Rafael memecah riuh hujan deras sore itu, tajam bagai cambuk yang mengenai telinga. Tangannya yang kekar menepis kasar jemari Bayu yang hanya sekadar hendak meraih gagang pintu mobil. Entakkan itu membuat tubuh Bayu sedikit oleng, hampir kehilangan keseimbangan. Hujan yang turun sejak setengah jam lalu kini berubah menjadi badai kecil, angin kencang mendorong butir-butir air hujan menampar wajahnya.
Rafael, dengan wajah datar penuh keangkuhan, membuka pintu mobil mewah yang berkilau meski basah. Dia melangkah masuk seakan tak peduli dunia di sekelilingnya. Bayu berdiri terpaku, pakaiannya sudah menempel di kulit, meneteskan air yang membuat tubuhnya menggigil. Mesin mobil menderu pelan, lalu roda berputar menyibak genangan air di tepi jalan. Seketika semburan air kotor terciprat tinggi, menghantam wajah Bayu dengan keras.
Bayu terhuyung ke belakang. Air hujan bercampur lumpur menetes dari rambutnya, dari pelipis hingga ke dagu. Tatapannya kosong, hanya menembus jalanan basah yang mulai gelap. Mobil Rafael melaju tanpa rasa bersalah, meninggalkan Bayu sendirian di bawah guyuran langit.
Bayu mengangkat tangannya, menyeka wajah dengan gerakan lemah. Namun setiap kali air diusap, tetes hujan baru turun, menutupi kembali wajah pucatnya. Napasnya berat, sesekali menggigil, dada terasa sesak oleh udara dingin. Dia tahu tubuhnya mulai tak sanggup melawan hawa menusuk sore itu.
Dengan langkah berat, Bayu menyeret kakinya ke arah halte bis di depan kampus Bima Sakti. Di sana, lampu kuning temaram berpendar samar di balik kabut hujan. Beberapa mahasiswa masih berteduh, sebagian tertawa, sebagian sibuk dengan gawai mereka. Namun tatapan mata yang sekilas menyambar Bayu seolah belati yang menusuk.
“Dasar anak pembantu tidak tahu diri, masa mau naik bareng anak majikannya?”
Kata-kata itu terdengar jelas meski dilontarkan lirih dengan nada meremehkan. Bayu menoleh sekilas. Ada dua mahasiswa, wajahnya asing, tapi jelas mereka bicara tentang dirinya. Mulut mereka meringis mengejek, tangan menunjuk-nunjuk ke arahnya lalu kembali menutup dengan tawa pendek yang menusuk telinga.
Bayu menarik napas panjang. Bukan sekali atau dua kali kata-kata itu sampai ke telinganya. Sudah terlalu sering. Lidah orang-orang lebih tajam dari pisau, dan anehnya, tak ada seorang pun yang berusaha menghentikan. Dia menunduk, menolak memberi reaksi. Biarlah hujan menutupi wajahnya, biarlah orang-orang itu puas dengan cibiran mereka.
Namun jauh di dalam hatinya, luka itu tetap merembes. Luka yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak dia tahu siapa dirinya.
Suradinata. Nama yang tak pernah asing bagi siapa pun yang pernah membaca majalah bisnis atau menonton berita ekonomi di televisi. Pengusaha dengan puluhan cabang perusahaan yang tersebar hingga mancanegara. Ia adalah simbol kesuksesan, nama yang disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar lain, disegani oleh kawan dan lawan.
Namun di balik nama besar itu, ada kisah getir yang jarang diketahui orang.
Pritha, wanita lembut dengan senyum hangat adalah cinta pertama Suradinata. Hidup mereka semula begitu bahagia. Foto-foto pernikahan mereka dulu masih tersimpan di album tua: Suradinata mengenakan jas putih sederhana, Pritha mengenakan kebaya anggun, mata keduanya bersinar oleh cinta yang tak tergantikan.
Tapi kebahagiaan itu terhenti di ruang bersalin, saat Pritha harus memilih antara hidupnya atau hidup anak yang dikandungnya. Dengan senyum getir, Pritha rela menyerahkan nyawa demi Bayu. Sejak hari itu, Suradinata memeluk anak lelakinya sambil menangis. Bayu, bayi mungil dengan wajah polos, menjadi satu-satunya peninggalan dari wanita yang paling dicintainya.
Waktu berjalan, dan kesepian perlahan menggerogoti Suradinata. Kesibukan bisnis membuatnya jarang berada di rumah, tapi rasa hampa itu tetap ada. Pada akhirnya ia memilih menikah lagi. Erin, wanita berparas cantik namun berhati dingin mengisi posisi itu. Dari pernikahan itu lahirlah Rafael.
Namun Erin bukanlah seorang ibu, apalagi untuk Bayu. Ia memandang Bayu seolah noda, penghalang bagi putranya untuk menjadi pewaris tunggal kekayaan Suradinata. Setiap hari, setiap waktu, ia menekankan bahwa Bayu hanyalah beban. Sejak kecil, Bayu didorong ke sudut rumah, dilabeli sebagai anak yang tidak seharusnya ada.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman, justru menjadi neraka sunyi baginya. Erin memperlakukan Bayu tak lebih dari seorang pembantu. Piring-piring kotor, lantai yang harus disapu, halaman yang harus dipangkas, semua itu menjadi rutinitas Bayu, bahkan ketika usianya belum cukup untuk menyandang tanggung jawab sebesar itu.
Suradinata? Ia terlalu sibuk. Lebih sering berada di luar negeri dari pada di rumah. Dan ketika ia pulang, Erin sudah pandai menutupi semua kebusukan itu dengan wajah manis dan kata-kata palsu.
Bertahun-tahun Bayu hidup dengan satu pesan yang dipaksakan ke telinganya: jangan pernah mengaku sebagai saudara Rafael di depan orang lain. Larangan itu mencekik. Bahkan saat mereka akhirnya bersekolah di tempat yang sama, Rafael diperlakukan bagai pangeran, sementara Bayu ... hanyalah “anak pembantu” yang kebetulan bersekolah di tempat sama.
Dan sore ini, di bawah hujan deras, di depan halte kampus, luka itu kembali diingatkannya. Luka yang tak pernah sembuh, luka yang selalu terbuka setiap kali kata “anak pembantu” dilontarkan.
Tubuh Bayu semakin menggigil. Rasa dingin menyelusup dari kulit ke tulang, membuat persendiannya kaku. Hujan deras di kampus Bima Sakti belum juga reda, petir menyambar di kejauhan, menggetarkan udara dengan dentuman mengerikan. Bayu memejamkan mata, berusaha menahan pening yang makin menjadi. Kepalanya berkunang-kunang, pandangan kabur, dan napasnya tersengal.
Seandainya tubuhnya sehat, ia tak akan nekat menyentuh pintu mobil Rafael. Ia tak akan menundukkan harga dirinya demi tumpangan pulang. Tapi kondisi yang rapuh membuatnya hanya ingin segera beristirahat. Sayangnya, yang didapat hanyalah penolakan mentah, bahkan hinaan terang-terangan dari saudara tirinya sendiri.
Bayu duduk di bangku halte, membungkukkan tubuhnya sambil memeluk lengan. Matanya setengah terpejam, mencoba mengusir rasa sakit yang menekan pelipis. Sesekali ia terbatuk, suara seraknya tenggelam oleh riuh hujan. Orang-orang di sekeliling masih memandang dengan bisik-bisik, seakan Bayu pemandangan yang menggelikan.
Tiba-tiba suara lembut terdengar, menembus derasnya hujan.
“Kamu belum pulang? Mau ikut bersama mobilku?”
Bayu mengangkat kepala. Di depannya, kaca mobil sedan mewah menurunkan jendela. Dari balik kaca itu, wajah Claudia muncul, putih bersih, rambut hitam panjangnya tergerai rapi meski cahaya sore yang muram berusaha menutupinya. Gadis itu tersenyum, senyum yang membawa seberkas kehangatan di tengah badai.
Claudia. Gadis yang dulu pernah satu sekolah dengannya. Gadis yang menjadi perhatian banyak orang di kampus, bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sikapnya yang ramah dan cerdas.
Bayu tercekat. Ragu dan takut bercampur dalam dirinya. Ingatan tentang bagaimana Rafael menghinanya saat mencoba masuk mobil masih begitu segar. Ia tidak ingin merasakan aib yang sama di depan Claudia.
“Tidak usah. Aku tunggu ojek saja,” jawabnya akhirnya, suara parau namun tegas.
Claudia mengernyitkan kening. Raut khawatir jelas tergambar di wajahnya. Tanpa banyak bicara, pintu mobil terbuka. Dengan payung di tangan, ia keluar dan melangkah ke arah Bayu.
“Wajahmu sudah sangat pucat, Bayu. Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu. Sedangkan langit masih sangat gelap, sepertinya hujan masih akan lama redanya,” ujarnya ketika sudah berdiri tepat di hadapan Bayu.
Bayu menunduk. Ia bisa merasakan tulusnya perhatian itu. Namun ada ketakutan lain yang mencekik. Bila Claudia tahu kenyataan bahwa dia tinggal serumah dengan Rafael, apa yang akan terjadi? Rafael selama ini berusaha mendekati Claudia, bahkan menyebar kebohongan bahwa Bayu hanyalah anak pembantu di rumahnya.
“Ayolah, Bayu. Naiklah ke dalam mobilku!” bujuk Claudia lagi, suaranya lirih tapi mendesak. Mata jernihnya menatap penuh kejujuran.
Bayu terdiam. Hatinya berperang antara keinginan untuk menerima uluran tangan itu dan ketakutan akan penghinaan yang mungkin terjadi lagi.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara raungan mesin keras memotong keheningan. Sebuah jip hitam berhenti mendadak tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan empat pemuda keluar dengan sikap angkuh.
“Halo Claudia. Apakah kau akan ikut bersamaku?” suara pemuda paling depan terdengar lantang, menindih suara hujan. Tubuhnya tegap, rambut tertata rapi, pakaian yang ia kenakan jelas bermerek mahal. Jam tangan berkilau di pergelangan, sepatu kulitnya terlihat lebih mahal dari motor kebanyakan mahasiswa.
Dia adalah Tommy. Mahasiswa kaya, anak pejabat yang namanya sering terdengar di kampus bukan karena prestasi, melainkan karena pengaruh dan arogansinya. Tak ada yang berani menentangnya, karena siapa pun tahu, melawan Tommy sama saja bunuh diri sosial.
Claudia mendengus pelan, tidak menutupi rasa muaknya.
“Apa kau tak melihat aku membawa mobil sendiri, Tom?” jawabnya dengan datar. Ia lalu dengan tenang melingkarkan lengannya ke lengan Bayu. “Ayo, Bayu. Kita harus segera pulang.”
Mata Tommy menyipit. Amarah merayap di wajahnya ketika melihat wanita yang ia kagumi begitu dekat dengan Bayu. Dengan gerakan kasar, ia segera menarik Bayu dari sisi Claudia.
“Hei kau mau ke mana, anak pembantu? Bukankah kau bilang akan belajar bersama kita?”
Bayu menatapnya dengan kaget. Ia tahu betul itu kebohongan. Tommy hanya ingin menjatuhkannya di depan Claudia.
“Apa?” Claudia melotot. “Kalian ada janji untuk belajar bersama?”
Bayu menelan ludah. Ia tahu jika ia menyangkal, situasi bisa lebih buruk. Dan ia tak ingin Claudia ikut terseret.
“I ... Iya, Claudia. Sebaiknya kau pulang dulu saja,” jawab Bayu dengan nada berat, meski hatinya perih menelan kebohongan itu.
Claudia memandangnya tak percaya. Namun nalarnya berkata lain. Ia tahu Tommy berbahaya, ia tahu situasi ini tidak aman. Dengan enggan, ia mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu.” Claudia berbalik, hendak menuju mobilnya.
Namun tangan Tommy segera meraih lengannya.
“Kenapa buru-buru, Manis? Kenapa kau tak ikut bersama kami?” ucapnya sambil tersenyum sinis.
Claudia mendorong tangannya dengan kasar.
“Lepaskan tanganmu, Tommy!”
Wajah Tommy memerah menahan amarah. Aura berbahaya memancar dari sorot matanya. Bayu segera melangkah maju, berdiri di antara mereka.
“Biarkan Claudia pulang, Tommy. Bukankah kita masih harus mengerjakan tugas bersama?” ujarnya cepat, menyelamatkan keadaan sambil melanjutkan sandiwara yang sudah dimulai. Ia menoleh ke Claudia dengan tegas. “Cepat masuk ke dalam mobilmu, Claudia. Sopirmu sudah menunggu.”
Claudia menatapnya sejenak. Matanya menyiratkan kecemasan. Namun akhirnya ia memilih pergi, melangkah cepat kembali ke mobilnya. Pintu tertutup rapat, mobil itu pun melaju menjauh, meninggalkan Bayu sendirian dengan Tommy dan gengnya.
“BUG!”
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di perut Bayu. Tubuhnya membungkuk spontan, udara di dadanya seolah dirampas keluar.
“Jangan sekali-sekali mencoba mendekati Claudia! Atau ... aku akan menghabisimu,” gertak Tommy, wajahnya mendekat, napasnya panas bercampur dengan bau parfum menyengat.
Bayu jatuh terduduk, tangannya memegangi perut yang perih. Pandangannya semakin berputar, sakit kepala yang sejak tadi terasa makin mengganas. Namun ia masih sempat berbisik, bibirnya bergetar, suaranya hampir hilang ditelan hujan.
“Claudia gadis baik-baik, Tom. Jangan sekali-kali mempermainkannya ....”
“Memangnya kenapa kalau dia wanita baik-baik? Kau mau sok jadi pahlawan, menghalangiku untuk mendapatkannya?” cibir Tommy, tawanya singkat dan penuh ejekan.
Ia memberi isyarat pada tiga temannya. Tanpa ragu, mereka segera maju. Tinju dan tendangan menghantam tubuh Bayu bertubi-tubi. Suara benturan daging dan tulang berpadu dengan deru hujan dan gelegar petir. Bayu terhuyung, terjatuh, mencoba melindungi wajahnya dengan tangan, namun pukulan demi pukulan terus menghantam.
Akhirnya tubuh Bayu terjerembap di lantai halte. Napasnya pendek-pendek, tubuhnya lunglai, nyaris tak bergerak.
Setelah puas, Tommy menendang sekali lagi ke arah perut Bayu, lalu memberi tanda untuk berhenti. “Ayo, kita pergi,” ucapnya dingin. Tanpa menoleh lagi, mereka semua naik ke jip, mesin meraung, dan kendaraan itu melaju pergi meninggalkan jejak air yang terpercik di jalanan.
Bayu terbaring di sana. Langit semakin gelap, hujan semakin lebat, petir saling bersahutan di angkasa. Angin bertiup kencang, mengguncang pepohonan seolah meratapi nasib seorang pemuda yang terbaring tak berdaya. Tubuhnya menggigil, bibirnya membiru, matanya setengah terpejam.
Namun di dalam hatinya, meski rasa sakit menusuk, ada seberkas kecil cahaya: keinginannya untuk bertahan hidup. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan karena ada janji diam-diam pada dirinya, bahwa suatu hari nanti, ia akan membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan sore itu, di tengah badai, hidup Bayu mulai memasuki persimpangan baru.