

Arga selalu percaya bahwa garis lurus adalah satu-satunya bentuk yang pantas disembah.
Garis-garis lurus itu membentang di mana-mana: pada etalase gedung-gedung pencakar langit yang ia desain; pada lipatan kemeja oxford biru muda yang selalu rapi—tanpa satu pun kerutan tersisa; dan terutama, pada tabel Excel di laptopnya, tempat hidupnya diukur dalam kolom presisi dan deadline ketat.
Pukul 07:00. Arga sudah duduk di kursi kulit ergonomisnya, lantai ke-35 di jantung Jakarta. Matahari pagi adalah satu-satunya entitas yang berani membelokkan cahayanya, namun ia gagal menembus tirai vertikal yang Arga atur setengah tertutup. Semuanya harus terkontrol, termasuk cahaya.
Di hadapannya, terbentang blueprint megah dari proyek terbarunya: 'The Aegis Tower'. Proyek bernilai triliunan rupiah itu akan menjadi mahakarya terbesarnya, simbol sempurna dari karir tanpa cacat yang ia bangun sejak kelulusan.
"Pukul 07:05, Pak Arga sudah siap. Seperti biasa," suara asistennya, Bima, terdengar dari interkom, nadanya penuh hormat sekaligus menyerah pada kebiasaan bosnya.
Arga tidak menanggapi. Ia menyesap kopi hitam tanpa gula, yang pahitnya adalah pengingat konstan bahwa hidup tidak butuh pemanis. Ia membenci pemanis, benci kejutan, dan paling benci janji yang tidak bisa diukur.
Sejenak, pandangannya teralih pada bingkai foto kecil di sudut meja. Itu adalah foto lama, buram, menampilkan dirinya yang jauh lebih muda, tertawa lebar di samping seorang gadis kecil. Arga segera menutupinya dengan tumpukan laporan keuangan yang sudah ia siapkan semalam.
Garis lurus. Hanya itu yang aman.
Arga menarik napas. Ia telah mengukur dan merencanakan segalanya: karirnya, keuangannya, bahkan hubungan sosialnya yang minim—semuanya berada di jalurnya. Ia memiliki segalanya, kecuali satu hal, dan ia tidak tahu nama dari kekosongan yang terasa dingin dan tajam di dalam tulang dadanya, kekosongan yang bahkan tidak bisa diisi oleh kesempurnaan garis-garis rancangannya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, menampilkan nama yang paling ia hindari.
Ayah.
Arga menghela napas panjang. Panggilan ini, seperti ribuan panggilan sebelumnya, pasti tentang Karina, dan tentang sebuah rencana pernikahan yang merupakan garis lurus terbaru yang Ayahnya paksakan padanya. Rencana yang sangat logis, sangat menguntungkan bisnis, dan sangat tidak berjiwa.
Arga menekan tombol ignore. Kekosongan itu mungkin tak bernama, tapi ia yakin, Karina bukanlah arsitek untuk mengisi ruang hampa tersebut.