Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rahim Terkutuk

Rahim Terkutuk

Agung Wickz | Bersambung
Jumlah kata
27.4K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Rahim Terkutuk
Rahim Terkutuk

Rahim Terkutuk

Agung Wickz| Bersambung
Jumlah Kata
27.4K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
18+HorrorHorror21+IblisDunia Gaib
Apa jadinya jika utang uang harus dibayar dengan rahim kekasihmu? Raka terjebak dalam kontrak darah keluarga Adiwangsa yang haus kuasa. Di Vila Hitam yang terkutuk, Sekar bukan lagi manusia, melainkan wadah bagi Sang Prabu, iblis yang tumbuh di dalam dagingnya. Setiap desahan adalah penderitaan, dan setiap detak jantung janin itu adalah lonceng kematian. Saat garis merah sewarna darah melingkari perut Sekar, ritual pun dimulai. Sanggupkah Raka menyelamatkan Sekar dari pesta syukuran rahim yang menjijikkan, ataukah mereka berdua akan ditelan kegelapan selamanya?
Bab 1: Bar Darah dan Utang Nyawa

Suara dentum bass dari lantai bawah bar ini terasa seperti detak jantung yang sekarat. Raka mencengkeram gelas wiskinya hingga buku jarinya memutih. Di seberang meja, Bram duduk dengan tenang, mengembuskan asap cerutu yang baunya semanis bangkai ke arah wajah Raka.

"Dua miliar, Raka. Itu angka yang cukup untuk membuat kepalamu tetap menempel di leher, bukan?" Bram tersenyum, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya.

Raka menelan ludah, tenggorokannya terasa kering meski baru saja menenggak alkohol. "Uang itu akan menyelamatkan nyawa adikku dan melunasi utang judi sialan itu. Tapi syaratnya... kau bilang aku harus membawa Sekar?"

"Tepat sekali. Keluarga Adiwangsa tidak butuh uangmu, Raka. Mereka punya gunung emas. Mereka butuh rahim yang murni. Dan kekasihmu, Sekar, adalah spesimen yang sempurna menurut kriteria mereka."

"Kau gila, Bram! Aku tidak menjual pacarku sendiri untuk jadi ibu pengganti bagi entitas entah apa itu!" bentak Raka, mencoba berdiri namun dua pria berbadan besar di belakangnya menekan bahunya kembali ke kursi.

Bram tertawa pelan, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan menggeser layar ke arah Raka. Di sana terlihat video Sekar yang sedang berjalan pulang dari tempat kerja, diikuti oleh dua pria bermotor dari kejauhan.

"Pilihannya simpel, Raka. Kau bawa dia ke Vila Hitam dengan sukarela, atau lintah darat itu akan mengambilnya secara paksa dan memotong-motong tubuhnya di depan matamu. Mana yang lebih heroik?"

Raka memejamkan mata, napasnya memburu. "Apa yang akan mereka lakukan padanya di sana? Hanya inseminasi, kan? Sembilan bulan, lalu kami pergi dengan uang itu?"

"Anggap saja begitu. Prosedur medis tingkat tinggi. Tapi kau harus tahu satu hal, Tuan Baskara Adiwangsa punya cara sendiri untuk memastikan benihnya tumbuh subur. Kau mungkin akan diminta untuk... membantu."

"Membantu apa maksudmu?"

"Menenangkannya. Memastikan dia patuh saat Tuan Baskara melakukan 'penyelarasan'. Kau tahu, hubungan kekuasaan terkadang butuh kehadiran orang terdekat agar tidak ada perlawanan yang merusak ritual."

Raka mengepalkan tinju di bawah meja. "Kau ingin aku menonton kekasihku sendiri dijamah orang lain? Kau benar-benar iblis, Bram!"

Bram mengangkat bahu dengan santai. "Dua miliar, Raka. Pikirkan angkanya. Pikirkan kebebasanmu. Sekarang, tanda tangani kontrak ini."

Bram menyodorkan selembar kertas perkamen yang warnanya kusam seperti kulit manusia yang diawetkan. Baunya amis, membuat perut Raka mual.

"Kenapa kontraknya cuma selembar? Mana poin-poin hukumnya?" tanya Raka sambil menatap tulisan kuno yang tidak ia mengerti.

"Hanya tiga poin utama. Satu, Sekar menjadi milik keluarga Adiwangsa selama kehamilan. Dua, kau tetap di vila sebagai pengawas sekaligus jaminan. Tiga, segala otoritas atas tubuh Sekar berpindah ke tangan Tuan Baskara. Paham?"

"Berikan pulpennya," ujar Raka dengan suara tercekat.

Bram menggeleng, ia mengeluarkan sebuah jarum perak kecil dari saku jasnya. "Keluarga Adiwangsa tidak percaya pada tinta. Mereka percaya pada ikatan darah. Tusuk jarimu, Raka. Biarkan darahmu mengalir di atas nama Sekar."

Raka menatap jarum itu dengan ngeri. Ia merasa seperti sedang menyerahkan jiwanya pada iblis. Namun bayangan para penagih utang yang beringas membuatnya tidak punya pilihan. Ia menusuk ibu jarinya, lalu meneteskan darahnya tepat di atas kertas itu. Darah itu terserap seketika, meninggalkan noda hitam yang berdenyut sejenak sebelum mengering.

"Bagus. Sekarang, bawa Sekar ke mobil di bawah. Dia sudah menunggumu di parkiran, kan? Kau bilang ingin mengajaknya makan malam romantis?" Bram terkekeh sinis.

Raka berdiri dengan kaki lemas. Ia berjalan keluar dari ruangan VIP menuju parkiran belakang. Di sana, di bawah lampu merkuri yang remang, Sekar berdiri dengan gaun terusan sederhana, tersenyum manis saat melihat Raka keluar.

"Raka! Lama sekali? Katanya cuma sebentar bicara urusan kerja?" tanya Sekar sambil merangkul lengan Raka.

Raka memaksakan senyum, meskipun hatinya terasa robek. "Maaf, Sayang. Tadi ada detail yang harus diselesaikan. Kita tidak jadi makan malam di restoran biasa. Atasanku mengundang kita ke vilanya di Puncak. Ada tawaran kerja besar untuk kita berdua."

Mata Sekar berbinar. "Serius? Kerja apa? Gajinya besar?"

"Sangat besar, Sekar. Cukup untuk membuat kita tidak perlu khawatir soal uang selamanya. Tapi kita harus berangkat sekarang. Mobilnya sudah menunggu."

Sebuah sedan hitam mewah mendekat. Sopirnya turun dan membukakan pintu. Bau melati yang tajam dan kemenyan mulai tercium dari kabin mobil. Sekar tampak ragu sejenak, namun Raka menggenggam tangannya erat.

"Ayo, Sekar. Ini kesempatan kita untuk mulai dari awal," bujuk Raka, meskipun ia tahu ia sedang menuntun domba ke rumah jagal.

Mereka masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, suasana menjadi sunyi senyap. Mobil mulai melesat meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta menuju pegunungan yang tertutup kabut. Sepanjang perjalanan, Raka hanya diam, menatap ke luar jendela.

"Raka, kok diam saja? Kamu sakit?" Sekar menyandarkan kepalanya di bahu Raka.

"Hanya capek, Sayang. Tidurlah sebentar. Perjalanannya masih jauh," jawab Raka sambil mengelus rambut Sekar.

Tiba-tiba, ponsel Raka bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Kau baru saja menjual rahim kekasihmu pada mayat yang berjalan. Jangan pernah biarkan dia menyentuh lantai Vila Hitam tanpa alas kaki, atau kau akan melihat dia melahirkan kematian.

Raka tersentak, mencoba membalas pesan itu namun sinyal di ponselnya langsung menghilang. Ia menoleh ke arah sopir di depan melalui spion tengah. Sopir itu tidak berkedip, wajahnya kaku seperti topeng lilin.

"Kita sudah masuk wilayah keluarga Adiwangsa, Tuan Raka," suara sopir itu terdengar berat dan bergema.

Mobil mulai mendaki jalanan berkelok yang sempit. Kabut tebal mengepung mereka, membuat jarak pandang hanya beberapa meter. Di puncak bukit, sebuah bangunan besar bergaya kolonial berdiri megah namun suram. Vila Hitam.

Begitu mobil berhenti di depan teras, pintu vila terbuka lebar. Seorang pria tampan dengan aura yang sangat dingin berdiri di sana. Baskara Adiwangsa. Ia menatap ke arah mobil, atau lebih tepatnya, ia menatap langsung ke arah rahim Sekar melalui kaca jendela.

"Turunlah, Raka. Bawa 'investasiku' masuk ke dalam," suara Baskara terdengar jelas di telinga Raka meskipun kaca mobil tertutup rapat.

Sekar terbangun, ia menatap gedung tua itu dengan perasaan tidak enak. "Raka... tempat apa ini? Kenapa menyeramkan sekali?"

"Tenang, Sekar. Ini hanya vila tua. Ayo, mereka sudah menunggu kita," jawab Raka sambil menuntun Sekar keluar.

Saat kaki Sekar menginjak tanah teras, tanah itu seolah bergetar pelan. Seekor burung gagak jatuh mati tepat di depan kaki mereka dengan tubuh yang tiba-tiba mengering. Sekar menjerit kecil dan memeluk Raka.

"Selamat datang, Raka. Selamat datang, Sekar," ucap Baskara dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Hardi, siapkan ruang pemeriksaan. Aku ingin tahu apakah ladang yang dibawa Raka ini cukup subur untuk benihku malam ini."

Sekar menatap Raka dengan bingung. "Ladang? Benih? Raka, apa maksud pria ini?"

Raka hanya bisa menunduk, tidak berani menatap mata kekasihnya yang penuh kepercayaan itu. Ia tahu, mulai malam ini, ia akan menyaksikan neraka yang ia ciptakan sendiri.

***

Apakah Raka akan sanggup melihat Sekar diperiksa secara brutal oleh dr. Hardi dan Baskara? Dan apa yang akan terjadi saat ritual 'penyelarasan' pertama dimulai?

Simak kelanjutannya di Bab 2: Prosedur Penelanjangan Harga Diri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca