Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
THE ARTIST AND THE ASSASSIN: SIMPONI PECAH.

THE ARTIST AND THE ASSASSIN: SIMPONI PECAH.

Raraa | Bersambung
Jumlah kata
30.3K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / THE ARTIST AND THE ASSASSIN: SIMPONI PECAH.
THE ARTIST AND THE ASSASSIN: SIMPONI PECAH.

THE ARTIST AND THE ASSASSIN: SIMPONI PECAH.

Raraa| Bersambung
Jumlah Kata
30.3K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
PerkotaanAksiMafiaPertualanganBalas Dendam
Arlan mengira hidupnya hanyalah rutinitas membosankan di galeri seni. Namun, ia selalu terbangun dengan memar di buku jari, aroma amis darah yang tertinggal di kemeja mahalnya, dan tumpukan uang tunai yang tidak jelas asalnya. Tanpa ia sadari, tubuhnya adalah wadah bagi Vico, pembunuh bayaran paling ditakuti oleh keluarga mafia Valerius. Konflik memuncak saat keluarga Valerius dikhianati oleh orang dalam, dan Vico dituduh sebagai pelakunya. Kini, Arlan yang tidak tahu apa-apa harus melarikan diri dari kejaran pembunuh bayaran dan polisi, sementara Vico terus berbisik di dalam kepalanya, memintanya untuk menyerahkan kendali tubuh sepenuhnya demi membalas dendam dengan cara yang paling berdarah.
BAB 1: KANVAS YANG TERCEMAR

Pagi di kota Ouroboros selalu dimulai dengan kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung beton, seolah-olah langit pun berusaha menyembunyikan dosa-dosa yang terjadi semalam. Bagi Arlan, pagi adalah ritual suci. Ia akan terbangun tepat pukul 06.00, menyeduh kopi Arabica dengan presisi seorang alkemis, dan membiarkan cahaya matahari menyentuh koleksi lukisan cat minyaknya di apartemen lantai dua belas yang minimalis.

Namun, pagi ini berbeda.

Arlan terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut di belakang tempurung kepalanya, seolah-olah seseorang telah menggunakan otaknya sebagai bantal untuk latihan tinju. Ia mengerang, mencoba membuka mata yang terasa lengket. Bau pertama yang menyengat indra penciumannya bukan aroma kopi, melainkan bau tembaga yang tajam bau darah yang mulai mengering.

"Lagi..." bisiknya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar.

Ia bangkit dari tempat tidur, dan saat kakinya menyentuh lantai parket yang dingin, ia merasakan sesuatu yang basah. Arlan menunduk. Jejak kaki berwarna merah tua memanjang dari arah pintu depan menuju ke kamar mandinya. Jejak itu bukan miliknya setidaknya, bukan milik 'dirinya' yang ia kenal.

Arlan melangkah menuju cermin besar di kamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang, menghantam rusuknya seperti burung yang terperangkap dalam sangkar. Saat ia melihat pantulannya, ia hampir berteriak.

Wajahnya yang biasanya bersih dan terawat kini dihiasi luka gores memanjang di tulang pipi kiri. Di sudut bibirnya, ada noda darah kering yang tampak seperti seringai permanen. Namun yang paling mengerikan adalah matanya. Pupilnya melebar, dan ada kilatan kegelapan yang asing di sana. Di atas cermin yang biasanya bersih, ada pesan yang ditulis menggunakan lipstik merah menyala—atau mungkin darah, Arlan tidak berani memastikan.

"SELAMAT PAGI, PECUNDANG. CEK KULKASMU. KITA PUNYA BAHAN UNTUK STEAK."

Arlan gemetar. Ia tahu siapa yang menulis itu. Sosok yang selama enam bulan terakhir ini mulai mengambil alih potongan-potongan hidupnya. Sosok yang ia sebut sebagai 'Sang Penumpang', namun menyebut dirinya sendiri sebagai Vico.

Dengan tangan yang masih gemetar, Arlan berjalan menuju dapur. Apartemennya yang rapi kini tampak seperti zona perang yang disamarkan. Sebuah kemeja sutra seharga ribuan dolar tergeletak di sudut ruangan, sobek di bagian bahu dan dipenuhi noda hitam yang mencurigakan. Di atas meja makan, terdapat sebuah jam tangan mewah bukan miliknya yang kacanya sudah pecah, namun jarumnya masih berdetak dengan ritme yang menyiksa.

Ia sampai di depan kulkas dua pintu berbahan baja tahan karat miliknya. Arlan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan sarafnya yang nyaris putus. Ia menarik gagang pintu kulkas.

Bau amis langsung menyeruak keluar, mengalahkan bau pengharum ruangan aroma lavender miliknya. Di rak paling atas, di antara botol susu organik dan selai stroberi, terletak sebuah kantong plastik transparan yang berat. Di dalamnya, sebuah tangan manusia lengkap dengan tato kalajengking di pergelangan tangannya tergeletak dengan posisi jari tengah yang teracung.

Arlan jatuh terduduk. Ia muntah tepat di depan kulkas yang terbuka.

"Oh, ayolah, Arlan. Itu hanya tangan. Pemiliknya sudah tidak membutuhkannya lagi setelah dia mencoba menusuk ginjal kita dengan pisau lipat murah," sebuah suara bergema di dalam kepalanya. Suara itu berat, tenang, dan memiliki nada mengejek yang sangat kental.

"Kau membunuhnya..." isak Arlan sambil menyeka mulutnya dengan gemetar. "Vico, kau membunuh seseorang lagi!"

"Koreksi, Sayang," Vico tertawa di dalam kegelapan batin Arlan. "Aku menyelamatkan kita. Pria itu adalah kurir dari keluarga De Luca. Dia tidak datang untuk membeli lukisan bunga matahari yang membosankan itu. Dia datang untuk menagih hutang yang tidak pernah kita buat. Atau lebih tepatnya, hutang yang dibuat oleh ayahmu yang tercinta sebelum dia mati membusuk di selokan."

"Ayahku tidak punya hutang pada Mafia!" teriak Arlan pada dinding yang kosong.

"Kau sangat naif, itu hampir membuatku ingin muntah. Tapi tenang saja, aku sudah mengurusnya. Tangan itu adalah pesan. Sebuah instalasi seni yang akan dikirimkan kembali pada bosnya sore ini. Sekarang, berdirilah. Bersihkan muntahanmu. Kita punya tamu dalam lima menit."

"Tamu? Siapa?"

"Penagih hutang kloter kedua. Dan kali ini, mereka membawa alat berat."

Arlan panik. Ia berlari ke wastafel, mencoba membasuh wajahnya dengan air dingin seolah-olah itu bisa menghapus kenyataan. Ia adalah seorang kurator seni. Ia menghabiskan harinya menganalisis sapuan kuas Van Gogh dan mengatur pencahayaan galeri agar lukisan abstrak terlihat lebih 'berjiwa'. Ia bukan seorang pembunuh. Ia bahkan tidak berani membunuh laba-laba di sudut kamarnya.

Tiba-tiba, bel pintu apartemennya berbunyi. Tiga kali ketukan pendek yang diikuti oleh satu hantaman keras yang membuat engsel pintu bergetar.

"Arlan! Kami tahu kau di dalam! Buka pintunya atau kami akan menjadikannya kayu bakar!" sebuah suara parau berteriak dari luar.

Arlan mematung di tengah dapur. "Vico, apa yang harus kulakukan? Tolong aku!"

"Sekarang kau butuh aku, ya?" Vico mendengus geli. "Baiklah. Tapi ada syaratnya. Setelah ini, kau harus membelikanku wiski paling mahal yang ada di bar pusat kota. Dan berhenti menangis, kau membuat wajah kita terlihat seperti badut yang depresi."

"Lakukan saja! Selamatkan aku!"

Arlan merasakan sensasi aneh itu lagi. Rasanya seperti ada air es yang dituangkan ke dalam sumsum tulangnya. Otot-ototnya yang biasanya kaku karena stres mendadak menjadi rileks namun sangat bertenaga. Pandangannya yang tadi kabur karena air mata kini menjadi sangat tajam, seolah-olah ia bisa melihat debu yang menari di udara.

Ia membiarkan kesadarannya mundur ke kursi belakang, sementara Vico memegang kemudi.

Senyum Arlan berubah. Itu bukan lagi senyum lembut sang kurator. Itu adalah seringai predator yang telah menunggu sepanjang malam untuk menerkam.

Pintu apartemen itu akhirnya jebol. Dua orang pria bertubuh raksasa dengan jaket kulit hitam masuk dengan kasar. Mereka membawa tongkat pemukul bisbol dan satu orang di belakang memegang shotgun yang mengilap.

"Nah, ini dia kurator kecil kita," kata pria yang paling depan, yang memiliki bekas luka melintang di hidungnya. "Di mana bagian tubuh saudara kami, Arlan? Bos ingin—"

Kalimatnya terputus. Arlan atau Vico bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran manusia biasa. Ia tidak lari menjauh ia justru menerjang ke depan.

Vico meraih sebuah botol anggur kosong yang ada di atas meja makan, memecahkannya di pinggiran meja dalam satu gerakan mengalir, dan menancapkan ujung botol yang tajam itu tepat ke paha pria pertama.

"AAARGH!" pria itu terjatuh, namun Vico belum selesai. Ia menggunakan bahu pria yang tumbang itu sebagai pijakan untuk melompat ke arah pria kedua yang sedang berusaha membidikkan shotgun-nya.

"Kau tahu apa masalahnya dengan senjata api di ruang sempit?" bisik Vico tepat di telinga pria itu saat ia mendarat di punggungnya. "Suaranya terlalu bising. Dan aku sedang tidak ingin mendengar keributan pagi ini."

Vico mencengkeram rahang pria itu dengan kedua tangan dan memutarnya dengan sentakan yang sangat presisi.

KREK.

Suara leher yang patah itu terdengar begitu renyah di telinga Vico, seperti suara biskuit yang dipatahkan. Pria itu jatuh merosot ke lantai, mati sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.

Pria pertama, yang masih memegangi pahanya yang bersimbah darah, menatap Arlan dengan ketakutan yang murni. "Kau... kau bukan Arlan. Siapa kau?!"

Vico berdiri tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia berjalan perlahan menuju pria yang terluka itu, mengambil tongkat bisbol yang tergeletak di lantai, dan mengayun-ayunkannya dengan santai.

"Aku?" Vico tertawa kecil. "Aku adalah kritikus seni paling jujur di kota ini. Dan menurutku, penampilanmu pagi ini sangat... membosankan. Perlu sedikit warna merah di sana-sini."

Vico mengayunkan tongkat itu dengan kekuatan penuh. Suara hantamannya bergema di seluruh apartemen, bercampur dengan suara Mozart yang tiba-tiba berputar di pemutar piringan hitam di sudut ruangan—entah bagaimana Vico sempat menyalakannya saat kekacauan tadi.

Sepuluh menit kemudian, apartemen itu kembali sunyi, kecuali suara musik klasik yang mengalun lembut. Vico berdiri di tengah ruang tamu yang kini dipenuhi noda darah yang artistik di dinding putih. Ia menatap dua mayat itu dengan ekspresi bosan, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang menjemukan.

"Kau bisa bangun sekarang, Arlan. Pertunjukannya sudah selesai," bisik Vico.

Kesadaran Arlan kembali dengan sentakan yang menyakitkan. Hal pertama yang ia rasakan adalah bau anyir yang luar biasa kuat. Hal kedua adalah rasa berat di tangannya. Saat ia melihat ke bawah, ia sedang memegang tongkat bisbol yang sudah berubah warna menjadi merah pekat.

Arlan melepaskan tongkat itu seolah-olah benda itu adalah bara api. Ia melihat mayat di bawah kakinya pria dengan hidung terluka itu kini wajahnya nyaris tidak bisa dikenali.

"Oh, Tuhan... tidak, tidak, tidak!" Arlan merosot ke dinding, memeluk lututnya dan mulai terisak hebat. "Apa yang telah kau lakukan pada tubuhku, Vico?"

"Aku menyelamatkan nyawamu, kau bodoh!" Vico membentak, suaranya kini terdengar marah. "Jika aku tidak mengambil alih, kepalamu sudah menjadi hiasan meja mereka sekarang. Berhenti menangis seperti anak kecil. Kita harus pergi. Orang-orang ini punya pelacak di mobil mereka. Dalam dua puluh menit, tempat ini akan dipenuhi oleh seluruh tentara keluarga De Luca."

"Aku tidak bisa pergi! Aku punya pameran jam dua siang nanti!" Arlan berteriak histeris, sebuah respons yang sangat tidak logis di tengah situasi hidup dan mati, namun itulah Arlan. Hidupnya adalah seninya.

Vico terdiam sejenak di dalam sana, lalu suara tawa yang menyeramkan kembali terdengar. "Kau benar-benar gila dengan cara yang unik, Arlan. Pameran? Kau ingin memamerkan apa? Seni instalasi mayat di ruang tamumu? Berdiri sekarang, atau aku akan memaksamu berdiri dengan cara yang menyakitkan. Pakai jaketmu, ambil uang di laci meja, dan bawa pistol yang ada di bawah mayat itu."

"Aku tidak mau menyentuh senjata itu!"

"BAWA PISTOLNYA, ARLAN! Atau aku akan memastikan saat aku bangun nanti, aku akan memotong lidahmu sendiri agar kau berhenti mengeluh!"

Ancaman itu bekerja. Dengan air mata yang terus mengalir, Arlan melakukan apa yang diperintahkan. Ia melangkah melewati genangan darah, mengambil pistol Glock-17 milik salah satu mafia, dan memasukkannya ke dalam tas kurirnya yang berisi sketsa-sketsa lukisan.

Ia keluar dari apartemennya, meninggalkan kehidupan normalnya yang hancur berkeping-keping. Saat ia menuruni tangga darurat, ia bisa mendengar sirine mobil polisi di kejauhan, bercampur dengan deru mesin mobil-mobil bertenaga besar yang mendekat.

Dunia seni yang tenang telah mati. Selamat datang di dunia bawah tanah yang penuh dengan pengkhianatan dan darah.

Di dalam kepalanya, Vico mulai bersenandung lagi, sebuah nada riang yang kontras dengan gemetar di sekujur tubuh Arlan.

"Ini akan menjadi hari yang sangat panjang, Arlan. Dan percayalah padaku, warna merah benar-benar cocok untukmu."

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca