

Dewa mencengkeram gagang pintu kamar hotel mewah itu hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Di dalam sana terdengar suara tawa wanita yang sangat ia kenali sedang bercengkerama mesra dengan seorang pria lain. Aroma alkohol yang menyengat menyeruak dari balik celah pintu yang sengaja tidak tertutup rapat tersebut.
Ia mendorong pintu itu dengan satu tendangan keras hingga menghantam dinding dengan dentuman yang memekakkan telinga. Sepasang manusia di atas tempat tidur itu terlonjak kaget dan langsung berusaha menutupi tubuh mereka menggunakan selimut sutra. Dewa berdiri tegak di ambang pintu dengan tatapan mata yang sedingin es kutub utara.
"Dewa? Ini tidak seperti yang kau bayangkan, aku bisa menjelaskan semuanya padamu!" teriak Siska dengan wajah yang pucat pasi.
Dewa berjalan mendekat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya yang terkatup sangat rapat. Ia mengambil sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya lalu melemparkannya tepat ke arah wajah pria selingkuhan itu. Kotak itu terbuka dan memperlihatkan sebuah cincin berlian seharga satu unit rumah mewah yang kini tampak tidak berharga.
"Simpan saja cincin itu untuk biaya pemakaman harga dirimu yang sudah mati, Siska," ucap Dewa dengan suara rendah.
Siska mencoba mengejar sambil menangis tersedu-sedu namun Dewa sudah berbalik pergi dengan langkah yang sangat mantap. Ia melewati lorong hotel yang mewah itu dengan perasaan hampa yang seolah-olah sedang menghimpit dadanya. Setiap pasang mata yang menatapnya terasa seperti sedang menertawakan kebodohan yang ia pelihara selama ini.
Ia tiba di area lobi bawah dan langsung disambut oleh sekretaris pribadinya yang bernama Bambang. Bambang melihat raut wajah tuannya yang sangat gelap dan langsung menyadari bahwa sebuah badai besar baru saja terjadi.
"Siapkan mobil sekarang juga, kita pergi dari tempat terkutuk ini tanpa menoleh lagi," perintah Dewa dengan tegas.
"Ke mana kita akan pergi, Tuan Muda? Semua tamu undangan sudah menunggu Anda di aula utama," tanya Bambang dengan penuh kekhawatiran.
Dewa berhenti tepat di depan mobil hitam mewahnya lalu menatap gedung pencakar langit itu untuk terakhir kali. "Batalkan semua rencana pernikahan, blokir semua rekening atas nama Siska, dan siapkan identitas baru untukku."
Bambang tertegun mendengar perintah yang sangat tidak masuk akal dari sang penguasa bisnis tersebut. "Identitas baru? Apa maksud Anda melakukan hal yang sangat jauh itu, Tuan?"
Dewa membuka pintu mobilnya sendiri kemudian masuk ke kursi kemudi tanpa menunggu bantuan dari sopir pribadinya. "Aku ingin menjadi orang biasa yang tidak memiliki sepeser pun uang di dalam saku celananya."
Mobil itu melesat membelah jalanan kota yang masih sangat ramai oleh cahaya lampu neon berwarna-warni. Dewa memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi seolah-olah ia sedang berusaha berlari dari sebuah kenyataan yang pahit. Ia menepi di sebuah jembatan tua yang sepi lalu turun untuk menghirup udara malam yang menusuk tulang.
Ia mengambil dompet kulitnya kemudian mengeluarkan semua kartu kredit serta kartu identitas asli yang ia miliki. Satu per satu benda berharga itu ia lemparkan ke dalam aliran sungai yang sangat deras di bawah jembatan.
"Dewa Bratadikara sudah mati malam ini, yang tersisa hanyalah Dewa si orang miskin," bisiknya pada kegelapan malam.
Keesokan paginya seorang pria dengan pakaian kumal berdiri di depan sebuah gerbang pabrik yang sudah mulai berkarat. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak sangat berantakan dan wajahnya terlihat sangat lelah. Ia melihat sebuah pengumuman lowongan kerja yang ditempel menggunakan isolasi plastik pada sebuah tiang listrik.
Seorang wanita dengan kemeja kantor yang tampak ketat berjalan mendekat sambil membawa sebuah papan jalan. Ia menatap Dewa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan kerutan dahi yang sangat kentara sekali.
"Apa kau sedang mencari kerja atau hanya ingin merusak pemandangan di depan kantorku?" tanya wanita itu dengan ketus.
Dewa menoleh lalu terpaku melihat wajah wanita di hadapannya yang terlihat sangat cantik meski tanpa riasan tebal. "Saya sedang mencari kerja, apakah lowongan staf administrasi ini masih tersedia untuk saya gunakan?"
Arini mendengus kasar sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi yang sangat tidak bersahabat. "Kantor ini hampir bangkrut, apa kau yakin ingin bekerja di tempat yang mungkin tidak bisa menggajimu tepat waktu?"
Dewa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah sangat lama tidak pernah muncul di wajahnya yang kaku. "Aku tidak butuh gaji yang besar, aku hanya butuh sebuah tempat untuk memulai hidup yang baru."
Arini menatap mata Dewa dengan sangat tajam seolah-olah ia sedang mencari sebuah kebohongan di dalam sana. "Masuklah ke dalam, kerjakan tes ini dalam waktu lima belas menit atau kau silakan pergi dari sini selamanya."
Dewa mengambil kertas tes itu lalu duduk di sebuah bangku kayu panjang yang salah satu kakinya sudah goyang. Ia mulai mengisi semua jawaban dengan sangat cepat karena soal itu terasa sangat mudah bagi otak jeniusnya. Arini yang sedang memperhatikan dari kejauhan merasa bahwa ada sesuatu yang sangat aneh pada pria kumal tersebut.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang pabrik dan beberapa pria berjas hitam turun dengan sangar. Arini tampak gemetar hebat saat melihat pemimpin dari gerombolan pria itu mulai berjalan mendekat ke arah dirinya.
Pria itu mencengkeram kerah kemeja Arini lalu mendorong tubuh wanita itu hingga terbentur keras ke tembok pembatas jalan.
"Mana uang perlindungan untuk minggu ini? Jangan sampai aku membakar tempat sampah ini sekarang juga bersama kalian!" teriak pria itu dengan penuh ancaman.