

Hujan turun rintik di Jakarta malam itu, membasahi jalanan aspal dengan cahaya lampu kota yang memantul samar. Di sebuah gang sempit di daerah Pelabuhan, seorang pria berdiri di depan bangunan tua bercat kusam—sebuah panti asuhan kecil yang nyaris terlupakan oleh dunia.
Namanya Alpon.
Jas hitam yang ia kenakan terlihat sederhana, bahkan sedikit usang jika dibandingkan dengan jas-jas mahal yang biasa ia lihat di rumah keluarga Wiratama. Namun ia tetap mengenakannya dengan rapi. Bukan karena ingin terlihat pantas, melainkan karena ia ingin menghormati seseorang.
Dari dalam bangunan, aroma obat dan desinfektan bercampur dengan bau lembap dinding tua. Mesin-mesin medis sederhana berdengung pelan. Di salah satu ranjang, seorang perempuan tua terbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, dan selang infus menggantung di samping tempat tidur.
Bibi Astuti.
Perempuan yang dulu memberinya makan ketika ia tidak punya apa-apa.
Perempuan yang memungutnya dari jalanan ketika dunia menutup semua pintu.
Perempuan yang berkata padanya, “Selama kamu masih bernapas, kamu masih manusia.”
Alpon mengepalkan tangannya.
Dokter yang berdiri di samping ranjang itu menghela napas panjang. “Pak Alpon… kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi tanpa cuci darah rutin dan transplantasi ginjal… waktunya mungkin tinggal hitungan minggu. Biayanya tidak kecil.”
Alpon mengangguk pelan.
Ia sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
Keluar dari panti, hujan semakin deras. Alpon berdiri di bawah lampu jalan, membiarkan air hujan membasahi wajahnya. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena ia menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari hujan.
Tiga tahun.
Tiga tahun hidup di rumah keluarga terpandang.
Tiga tahun dihina sebagai parasit.
Tiga tahun dipandang sebagai noda di silsilah keluarga besar.
Ia teringat wajah mertuanya yang dulu—Kakek Wiratama—orang satu-satunya yang melihatnya bukan sebagai sampah. Orang yang memaksanya menikahi Rani, bukan karena cinta, melainkan karena satu kalimat aneh yang tak pernah dilupakan Alpon.
“Anak ini… bukan orang biasa.”
Sejak Kakek meninggal, kalimat itu berubah menjadi kutukan. Tidak ada lagi pelindung. Tidak ada lagi alasan bagi keluarga Wiratama untuk bersikap manusiawi padanya.
Ia diusir secara halus.
Ditekan secara halus.
Dihancurkan secara perlahan.
Dan Rani… istrinya… berdiri di tengah badai itu, terlalu lemah untuk melawan keluarganya sendiri, terlalu baik untuk meninggalkannya.
Ponsel Alpon bergetar.
Rani: Kamu sudah siap? Acara ulang tahun nenek sebentar lagi dimulai. Jangan telat…
Alpon menatap layar ponsel itu lama. Jemarinya bergetar sesaat sebelum mengetik balasan singkat.
Alpon: Aku akan datang.
Ia menatap langit gelap Jakarta, lalu menarik napas panjang.
Malam ini bukan tentang harga diri.
Bukan tentang hinaan.
Bukan tentang martabat.
Malam ini tentang nyawa seseorang.
Jika ia harus merendahkan diri di depan orang-orang yang membencinya—
Jika ia harus menjadi bahan tertawaan—
Jika ia harus menelan semua penghinaan—
Maka ia akan melakukannya.
Karena tidak semua orang di dunia ini memiliki kemewahan untuk memilih jalan terhormat.
Lampu-lampu kota mulai berganti dengan cahaya villa-villa mewah di Jakarta Utara. Mobil-mobil mahal berlalu-lalang. Dunia yang sama sekali berbeda dari gang sempit yang baru saja ia tinggalkan.
Alpon meluruskan jasnya.
Matanya menjadi tenang.
Tatapannya kosong, namun dalam.
...
Banyak tamu-tamu penting dari berbagai Keluarga di kota Jakarta datang ke Vila ini. Untuk merayakan ulang tahun Nenek, sekaligus kepala keluarga Wiratama setelah suaminya meninggal.
Sosok yang paling di segani lebih dari Kakek Wiratama saat masih hidup. Seluruh keluarga sudah berkumpul. anak-anak, menantu, cucu-cucu. Semua berlomba-lomba membawa hadiah mewah demi menyenangkan hati sang nenek.
"Nenek, aku dengar Nenek suka minum teh. Ini teh terkenal langka yang sudah disimpan lebih dari seratus tahun. Harga pasarnya hampir delapan ratus juta rupiah. Semoga Nenek suka."
"Nenek, ini Berlian asli dari Russia, harganya hampir 10 miliar…"
Tumpukan hadiah mewah itu membuat Nenek Wiratama tertawa senang. Ruang tamu penuh dengan canda tawa dan pujian. Semua ingin menjadi menantu atau cucu yang paling berkesan malam ini.
Namun di sudut ruangan, Alpon, menantu tertua, berdiri dengan tenang.
Ketika suasana mulai reda, Alpon tiba-tiba melangkah maju.
"Nenek… bolehkah saya… meminjam satu miliar?" katanya pelan namun tegas.
Suasana langsung membeku.
Semua kepala menoleh. Tatapan jijik dan keterkejutan menyapu seluruh ruangan.
Menantu sampah ini... minta pinjaman uang? Di acara ulang tahun seperti ini?
Alpon hanyalah pemuda tanpa pekerjaan tetap, datang entah dari mana, bahkan banyak orang menyebutnya gelandangan yang tiba-tiba jadi menantu keluarga besar.
Sejak kematian Kakek, keluarga Wiratama berulang kali berusaha mengusirnya. Tapi anehnya, Alpon tetap bertahan. Diam saja menghadapi hinaan, cemoohan, bahkan perlakuan tak manusiawi dari keluarga besar ini.
Dan malam ini... dia malah berani meminta satu miliar?
Rani, sang istri, buru-buru menarik lengan Alpon, berbisik panik. "Alpon… kamu… diam saja dulu… ini bukan waktunya…"
Tapi Alpon tetap berdiri tegak.
"Bibi Astuti dari panti asuhan... sedang sekarat. Dia butuh cuci darah dan transplantasi ginjal. Kalau tidak, dia mungkin… meninggal."
Semua orang terdiam sesaat. Lalu, suara tawa sinis mulai terdengar.
"Bibi panti asuhan? Hahaha! Jadi kamu datang ke sini... buat jadi peminta-minta?" seru Wira, sepupu Rani yang terkenal sombong.
Fanny, sepupu perempuan, ikut menyahut dengan nada mengejek. "Astaga... lihatlah pilihan Kak Rani. Kami saja yang baru tunangan, pacarku bisa kasih hadiah Berlian mewah dari Russia, sementara suaminya… malah minta-minta!"
Dean, tunangan Fanny, yang berasal dari keluarga konglomerat lokal, ikut menimpali. "Memalukan sekali! Kalau aku jadi kamu, aku sudah mengubur diri hidup-hidup."
Suasana jadi semakin panas.
"Orang kayak kamu... pantasnya bukan di sini!" bentak Wira lagi.
Wajah Alpon tetap datar. Tangan di kepalan. Kalau saja bukan karena nyawa Bibi Astuti... mungkin dia sudah pergi sejak dulu dari rumah penuh penghinaan ini.
Tapi, prinsip hidupnya sederhana: utang budi… harus dibayar.
Dengan suara rendah, dia menunduk sedikit ke arah Nenek Wiratama. "Menyelamatkan nyawa… lebih penting daripada seribu hadiah ulang tahun…"
Suara tawa mengejek makin keras. Nando, adik laki-lakinya, bergumam tajam, "Pura-pura mulia... padahal jelas-jelas cuma modus minta duit."
Bahkan Hendra, kakak Fanny, ikut bersuara, "Kalau mau nolong orang, cari duit sendiri! Jangan nodai acara keluarga besar kayak gini!"
Rani mencoba lagi membela, dengan suara yang hampir menangis, "Nenek… Alpon memang keras kepala… tapi Bibi Astuti itu orang yang dulu mengurusnya sejak kecil… Dia cuma ingin membalas budi…"
Wajah Nenek Wiratama berubah muram. Dia meletakkan cangkir tehnya dengan kasar.
"Kalau memang kamu mau aku membantunya, ceraikan dia! Kalau kamu mau menikah dengan Tuan Adrian dari keluarga Santoso, saat itu juga… aku kasih uangnya!"
Suasana langsung hening.
Semua orang tahu… Tuan Adrian adalah pewaris keluarga konglomerat Santoso. Sejak lama, Nenek Wiratama berharap Rani mau menikah dengan dia demi memperkuat hubungan keluarga.
Dan seolah ingin mempermalukan Alpon lebih dalam… saat itu juga, pelayan rumah masuk tergopoh-gopoh sambil berseru:
"Tuan Adrian baru saja mengirim hadiah ulang tahun, sebuah kalung berlian langka… senilai tiga miliar rupiah!"
Sorak sorai pun meledak di dalam ruangan.
Dan di tengah semua itu, Alpon hanya berdiri diam.
Matanya perlahan menjadi dingin. Dalam hati… dia tahu, hari balas dendamnya… sudah semakin dekat.
Nyonya Tua Wiratama sangat gembira dan berseru, "Cepat, bawa ke sini! Biar aku lihat sendiri!"
Kepala pelayan keluarga langsung maju, menyerahkan sebuah liontin giok hijau zamrud berbentuk bunga mekar. Begitu melihatnya, semua tamu yang hadir langsung terkejut.
Liontin giok itu berwarna hijau zamrud terang, bening sempurna tanpa noda sedikit pun. Dari kilau dan teksturnya saja, sudah terlihat jelas bahwa ini barang mewah kelas atas.
Dean, yang sebelumnya memberikan Berlian sebagai hadiah ulang tahun, seketika merasa malu. Dia tidak menyangka Tuan Adrian, yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Wiratama, bisa seberani itu mengirim hadiah semewah ini.
Dengan mata penuh rasa puas, Nyonya Tua Wiratama membolak-balik liontin itu di tangannya. Ia tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Tuan Adrian benar-benar perhatian! Kalau dia bisa jadi cucu menantuku… ah, aku pasti bisa tidur sambil tertawa tiap malam!"
Setelah berkata begitu, dia langsung menoleh ke arah Rani. Tatapannya penuh makna.
"Bagaimana? Sudah siap mempertimbangkan tawaranku?" tanyanya.
Rani menggigit bibir dan menggeleng dengan tegas. "Maaf, Nek… aku tidak akan menceraikan Alpon."
Seakan cuaca mendadak mendung, wajah Nyonya Tua Wiratama langsung berubah muram.
Dengan marah, beliau menunjuk ke arah Alpon dan memaki, "Kamu ini memang nggak tahu diri! Sudah cukup! Singkirkan sampah ini dari rumahku! Aku nggak mau lagi lihat dia di pesta ulang tahunku!"
Mendengar hinaan itu, Alpon merasa hatinya benar-benar hancur. Sudah cukup selama ini dia dipandang sebelah mata. Tanpa banyak bicara, dia menoleh ke Rani dan berkata dengan lirih, "Ran… aku pergi dulu ke rumah sakit. Aku mau lihat kondisi Bibi Astuti."
Rani panik, buru-buru maju dan berkata, "Aku ikut sama kamu!"
Namun, Nyonya Tua Wiratama langsung membanting cangkir teh ke lantai, matanya melotot marah. "Kalau kamu ikut pergi… jangan pernah panggil aku nenek lagi! Ambil ayah-ibumu, keluar semua dari keluarga Wiratama! Sekalian saja pergi sama lelaki sampah itu!"
Rani terpaku. Wajahnya pucat pasi. Dia tak menyangka neneknya akan sekejam ini.
Melihat itu, Alpon buru-buru menahan Rani. "Jangan, Ran… kamu tetap di sini. Aku nggak papa. Jangan bikin masalahmu tambah besar."
Tanpa menunggu reaksi lebih jauh, Alpon langsung berbalik pergi.
Dari belakang, suara tawa Nando terdengar lantang.
"Eh, Mas Alpon… perut kosong ya? Jangan sampai nanti kelaparan di jalan, lho! Atau jangan-jangan mau ngemis di pinggir jalan? Nih… ada recehan seribu… buat beli gorengan!"
Sambil berkata begitu, Nando melemparkan koin logam ke kaki Alpon.
Seluruh keluarga Wiratama pun tertawa terbahak-bahak. Suasana pesta berubah jadi ejekan massal.
Alpon mengepalkan tinjunya, menahan amarah, lalu melangkah keluar tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Di Rumah Sakit...
Setibanya di rumah sakit, Alpon langsung menuju bagian administrasi. Ia berharap bisa bicara dengan bagian keuangan, memohon agar pembayaran biaya pengobatan Bibi Astuti bisa ditunda dua-tiga hari lagi.
Namun, saat dia baru bertanya, perawat di meja administrasi memberi kabar mengejutkan.
"Maaf, Pak… pasien atas nama Ibu Astuti tadi malam sudah dipindahkan ke Rumah Sakit Union di Jakarta untuk perawatan lebih lanjut."
Alpon melongo. "Apa? Dipindahkan? Tapi… biayanya pasti mahal sekali..."
Perawat itu mengangguk. "Totalnya tiga miliar rupiah. Satu miliar sudah dibayar. Masih kurang dua miliar lagi, dan sisa tagihan harus dilunasi dalam waktu satu minggu."
Alpon hampir tak bisa bernapas. "Siapa yang bayar sejuta pertama itu… maksud saya, satu miliar itu?"
Perawat itu menggeleng. "Maaf, saya tidak tahu. Itu lewat transfer langsung dari rekening pribadi, bukan dari keluarga pasien."
Hati Alpon semakin gelisah. Saat hendak berbalik untuk mencari tahu, tiba-tiba seorang pria paruh baya muncul di belakangnya.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam rapi. Rambutnya sudah setengah abu-abu. Tatapan matanya dalam, penuh penghormatan.
Begitu mata mereka bertemu, pria itu langsung membungkuk dalam-dalam. "Tuan Muda… Anda sudah terlalu banyak menderita selama bertahun-tahun..."
Alpon terkejut, ekspresi wajahnya langsung berubah. Ada kilatan amarah bercampur dendam dalam sorot matanya. "Gerald…?"
Pria itu mengangguk dengan penuh hormat. "Benar, Tuan… Anda masih ingat saya?"
Wajah Alpon menegang. "Tentu saja aku ingat... Mana mungkin aku lupa? Dulu… kamu yang memaksa orang tuaku meninggalkan Jakarta, menyuruh kami lari seperti pengecut… Dan tidak lama kemudian… mereka… mereka meninggal dalam kecelakaan! Sejak itu aku hidup sendiri di panti asuhan! Sekarang… kenapa kau muncul di hadapanku lagi?!"
Dengan nada sedih dan penuh penyesalan, Gerald berkata pelan, "Tuan Muda… setelah Ayah Anda meninggal, Kakek anda sangat terpukul… Selama bertahun-tahun beliau mencari Anda… Dan sekarang… beliau ingin Anda pulang…"
Alpon mendengus dingin. "Pulang? Mimpi saja! Aku nggak akan pernah mau lihat wajahnya seumur hidupku!"
Gerald menarik napas panjang, seolah sudah menduga jawaban itu. "Tuan Besar sudah memperkirakan… Anda mungkin masih marah… Tapi beliau tetap ingin memberi kompensasi. Kalau Anda tidak mau pulang… beliau memintaku membeli salah satu perusahaan terbesar dan memberikannya kepada Anda. Untuk membujuk anda kembali."
Gerald lalu mengambil sebuah kartu hitam dari dalam sakunya. Kartu emas hitam Citibank, tingkat tertinggi. "Ini… kartu khusus, hanya ada lima di seluruh Indonesia. Pin-nya… adalah tanggal lahir Anda."
Alpon melirik kartu itu dengan ekspresi dingin. "Ambil kembali. Aku nggak butuh uang darinya!"
Gerald menunduk, suaranya lirih namun tetap penuh tekanan. "Tuan… Bibi Astuti… nyawanya masih dalam bahaya… Dua miliar lagi… Kalau Anda tidak terima ini… dia mungkin tidak akan selamat..."