

Suatu sore, Haikal duduk di depan layar ponselnya, menatap pesan yang baru saja masuk dari Mona, kekasihnya selama dua tahun terakhir.
“Haikal, setelah kita bertengkar waktu itu, aku sempat mabuk sendirian di taman kampus. Ada teman yang bantuin aku pulang dan jagain aku semalaman. Nggak terjadi apa-apa di antara kami, tapi perhatiannya bikin aku nyaman. Dia terus ngejar aku, dan kemarin… kami resmi pacaran. Jadi, tolong, jangan hubungi aku lagi mulai sekarang.”
Haikal terdiam cukup lama. Pesan itu terasa seperti pisau yang menusuk dalam-dalam. Ia membaca ulang kalimat terakhir berulang kali, berharap ada tanda kalau ini cuma candaan. Tapi tidak ada.
Hanya keheningan dan rasa kehilangan yang berat di dada.
“Heh…” Haikal tertawa hambar. “Jadi ini alasanmu? Ini penjelasan yang kamu anggap masuk akal?”
Ia tak menyangka, hanya karena pertengkaran sepele soal tiket konser, hubungan dua tahun mereka bisa berakhir secepat itu, dan Mona langsung punya pacar baru dalam hitungan hari.
Haikal dan Mona sama-sama mahasiswa semester enam di Universitas Negeri Jakarta. Mereka pertama kali bertemu di acara orientasi kampus.
Mona yang cerewet dan ceria membuat Haikal jatuh hati, dan hubungan mereka pun berkembang jadi pasangan idaman banyak teman.
Beberapa waktu lalu, mereka ribut besar karena gagal mendapatkan tiket konser Dewa 19, band legendaris yang tiketnya selalu habis dalam sepuluh detik.
Mona marah besar, sementara Haikal mencoba menenangkannya seperti biasanya. Tapi kali ini, amarah Mona tidak berhenti, dan Haikal pun memilih menjauh dulu.
Keesokan harinya, Mona mengirim pesan singkat.
“Kita putus.”
Haikal kira itu cuma ledakan emosi sesaat. Tapi seminggu kemudian, pesan panjang tadi datang… dan segalanya berubah.
“Malam ini kita keluar aja, bro. Minum dikit biar kepala enteng,” ujar Raffi, teman lama Haikal sejak SMA, sekaligus sahabat satu jurusannya.
Haikal hanya mengangguk. “Terserah deh. Yang penting jangan di kosan aja.”
Mereka pun pergi ke cafe kecil dekat kampus. Di bawah lampu remang dan gelas-gelas bir yang beradu, tawa pahit menggantikan duka.
“Haikal, sumpah ya, lu tuh magnet aneh buat cewek aneh,” celetuk Raffi, pria bertubuh agak gemuk tapi humoris. “Dari dulu cinta lu tuh kayak drama FTV, nggak pernah normal!”
Haikal tersenyum tipis. Ia tahu itu benar. Sejak SMA, kisah cintanya selalu berakhir dengan alasan yang membuat kepala geleng-geleng. Ada yang bilang “takut ganggu nilai”, ada yang malah balikan sama mantan dua hari setelah jadian dengannya.
Kadang ia berpikir, jangan-jangan ini karma dari kehidupan sebelumnya, mungkin dulu dia pernah jadi bajingan yang nyakitin banyak perempuan, dan sekarang waktunya membayar.
Sampai akhirnya, ia bertemu Mona. Ia benar-benar percaya bahwa gadis itu adalah akhir dari semua luka. Ia menaruh seluruh hatinya padanya, menjadi lelaki yang selalu ada dan penuh perhatian.
Tapi nyatanya, dunia menertawakannya sekali lagi.
Saat malam makin larut, teman sekamarnya, Dimas, yang ikut nongkrong sejak tadi, akhirnya buka suara. “Kal, gue sebenernya udah lama mau ngomong, tapi takut salah paham…”
“Udah, ngomong aja,” jawab Haikal, meneguk lagi minumanya.
“Gue dengar yang deket sama Mona sekarang itu anak jurusan manajemen, Reza. Katanya dia anak pengusaha besar, ayahnya salah satu direktur di jaringan tiket konser InboxTv+. Gue liat mereka makan bareng dua minggu lalu.”
Haikal mematung. Nama itu langsung menancap di kepalanya seperti duri.
Reza, anak orang kaya yang sering pamer mobil sport di parkiran kampus. Tentu saja. Dunia ini memang lucu. Kadang cinta kalah bukan karena kurang cinta, tapi karena saldo rekening dan nama belakang.
“InboxTv+?” Haikal mendadak menegakkan tubuhnya dan tertawa pahit. “Hahaha… sekarang aku paham. Jadi cuma karena itu ya?”
Reza, cowok tajir baru di kampus memang anak dari eksekutif besar InboxTv+, platform streaming dan jaringan tiket hiburan terbesar di Indonesia. Hampir semua konser besar, dari Dewa 19 sampai Sheila on 7, tiketnya dijual lewat sistem mereka. Jadi, kalau dia mau, dapet tiket konser tinggal ngomong ke ayahnya.
Haikal menatap kosong ke arah gelasnya.
Entah Mona mendekati Reza karena tiket konser itu, atau karena cowoknya tinggi, tajir, dan pamer mobil sport tiap hari. Tapi sekarang, Haikal udah nggak peduli lagi.
“Udah lah, Kal,” ucap Raffi, sambil menepuk bahunya. “Nggak usah galauin cewek kayak gitu. Lu tuh punya modal. Ganteng, main gitar, bisa masak, dan bukan cowok nyusahin. Banyak cewek di kampus kita yang naksir lu, tau.”
Teman lainnya, Dimas, ikut nyelutuk sambil tertawa, “Iya, bro. Nih, gue punya daftar Top 10 cewek tercantik kampus versi anak broadcasting. Mau gue kasih bocoran? Ada yang masih jomblo tuh, sumpah!”
Haikal cuma tersenyum hambar. Malam itu mereka minum sampai larut. Tawa yang terdengar keras di bar kecil kawasan Blok M itu cuma topeng dari hati yang hancur.
Begitu pulang ke kosannya di Tebet, Haikal tumbang begitu saja di kasur. Ia berharap, mungkin, setelah bangun nanti semuanya terasa seperti mimpi buruk yang sudah selesai.
...
Keesokan paginya, dering ponsel membangunkannya dari tidur berat. Dengan mata masih setengah terbuka, ia mengangkat panggilan itu.
“Halo… siapa ya?”
“Ini Mama kamu, nak!” suara tegas tapi lembut terdengar dari seberang. “Kamu itu gimana sih, udah libur tapi belum pulang juga? Anak tetangga aja yang kuliah di Bandung udah pulang semua. Masa kamu di Jakarta aja nggak mau nengok orang tua?”
Haikal mengusap wajahnya, separuh kesal separuh geli. “Iya, Ma, iya… nanti sore Haikal pulang deh.”
Suara itu milik Mama Haikal, wanita cantik bernama Cahaya Lestari, meski usianya sudah lewat empat puluh. Tidak ada yang akan menyangka kalau ia sudah punya anak dewasa.
Wajahnya masih segar dan elegan seperti artis sinetron tahun 2000-an. Tapi sifatnya… bisa berubah jadi meledak-ledak dalam hitungan detik.
Ayahnya, Farhan Otomo, juga sama awet muda, berwajah tenang, dan tampan seperti eksekutif muda.
Kadang Haikal bercanda ke teman-temannya, “Gue curiga nyokap bokap gue itu vampire atau semacamnya. Dari dulu muka mereka nggak pernah berubah.”
Satu hal yang aneh, Haikal tak pernah tahu apa pekerjaan orang tuanya.
Mereka tidak pernah terlihat pergi bekerja, tapi keuangan keluarga selalu stabil. Tidak mewah, tapi juga tidak pernah kekurangan. Semua kebutuhan selalu terpenuhi. Kadang, ada transferan besar masuk tanpa penjelasan.
Dan pagi ini, kata-kata ibunya terasa aneh.
“Bapakmu dan Mama ada yang mau dibicarakan hari ini. Penting.”
Nada suaranya berbeda dari biasanya. Serius.
Sore itu, Haikal pulang ke rumah mereka di kawasan Bintaro. Ia hampir tidak mengenali mobil Alphard yang terparkir di depan rumah.
“Pak? Itu mobil Bapak?!” serunya kaget.
Farhan tertawa ringan. “Iya. Kenapa? Mobil begini kan biasa aja. Ini cuma mobil kecil buat jemput kamu.”
“Mobil kecil katanya…” gumam Haikal. “Bapak, harga mobil ini bisa buat beli rumah di BSD, tau gak.”
Farhan tidak menjawab, hanya mengangkat koper Haikal dengan satu tangan seperti mengangkat tas plastik. Haikal terpaku. Bapaknya tampak santai, tapi tenaga dan posturnya tidak seperti pria berumur empat puluh lebih, malah seperti usia dua puluh lima.
Begitu masuk ke rumah, aroma masakan ibunya langsung memenuhi ruangan.
“Makan dulu. Ini Mama masakin rendang dan sop buntut kesukaan kamu,” kata Lestari ibunya sambil tersenyum.
Farhan menghampirinya dan mencium pipinya tanpa malu. “Masakan istri emang paling wenak di dunia.”
Haikal memutar mata. “Astaga, kalian nih romantis mulu kayak di sinetron. Udah kayak pasangan baru nikah.”
Tapi, tak bisa dipungkiri, masakan ibunya memang luar biasa. Ia makan dengan lahap, seakan segala rasa pahit di minggu-minggu terakhir terhapus sementara.