

Sumanto menggeliat di atas dipan reyotnya. Dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu itu penuh dengan lubang, membuat angin malam leluasa masuk menusuk tulang.
Ia sudah terbiasa dengan dingin. Namun yang paling menyiksanya bukan udara malam, melainkan kenyataan hidupnya tak pernah berubah
Sampai kapan aku begini?
Dua puluh satu tahun dan setiap pagi yang ia lihat selalu sama, gubuk reyot, ladang luas yang bukan miliknya, dan teriakan Juragan yang menganggapnya tak lebih dari kerbau.
Sumanto mengepalkan tangan. Ia muak jadi orang suruhan seumur hidup. Ia tidak ingin mati di ladang. Ia ingin hidup enak, punya tanah sendiri, punya rumah layak, dan yang paling ia dambakan tinggal duduk sambil menunjuk, seperti para Juragan.
"Sumanto! Oi, Sumanto!" Suara berat Juragan Tarno memecah keheningan pagi.
Sumanto bergegas keluar gubuk. Juragan Tarno sudah berdiri di depan gubuknya, berkacak pinggang dengan wajah masam. Tubuhnya gempal dengan perut yang membuncit, kontras dengan tubuh Sumanto yang kurus namun berotot.
"Kerja! Jangan cuma tidur saja! Panen sudah dekat!" bentak Juragan Tarno.
Sumanto menunduk, tapi dadanya panas.
Ia tahu, Juragan Tarno akan pulang siang nanti, tidur di rumah besar berdinding bata, makan nasi putih dengan lauk melimpah.
Sementara dirinya?
"Kalau mati kelelahan pun, paling cuma dibilang cari anak ladang baru"
Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, Sumanto bekerja di ladang. Ia mencabuti rumput liar, memperbaiki saluran irigasi, dan memastikan tanaman padi tumbuh subur.
Teriknya matahari membakar kulitnya, namun Sumanto tidak mengeluh. Ia terus bekerja dengan tekun, membayangkan nasi hangat yang akan disantapnya nanti malam.
Saat matahari mulai condong ke barat, Sumanto berhenti sebentar beristirahat. Ia duduk di bawah pohon rindang, mengamati hamparan sawah yang menguning.
Sebentar lagi panen akan tiba. Ia berharap, panen kali ini akan melimpah, sehingga Juragan Tarno tidak akan terlalu pelit memberinya upah.
Tiba-tiba, matanya terpaku pada sesuatu yang berkilauan di antara padi yang menguning. Ia mendekat dan meraihnya.
Sebuah bulir padi. Namun, bulir padi ini berbeda dari yang lain. Warnanya keemasan, berkilauan seperti emas yang disepuh.
Jantung Sumanto berdegup kencang. Ia belum pernah melihat bulir padi seperti ini sebelumnya. Dengan hati-hati, ia memetik bulir padi keemasan itu.
Begitu bulir padi keemasan itu lepas dari tangkainya, cahaya menyilaukan tiba-tiba terpancar.
Sumanto terkejut dan memejamkan mata. Angin bertiup kencang, menggoyangkan pepohonan di sekitar ladang.
Ketika Sumanto membuka mata kembali, pemandangan di depannya telah berubah.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita cantik jelita. Kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam panjang terurai hingga pinggang.
Ia mengenakan kemben berwarna hijau dengan selendang kuning keemasan yang melingkar di tubuhnya. Di bagian atas, ia mengenakan semacam atasan berwarna kuning keemasan dengan hiasan rumit menyerupai untaian padi.
Di kepalanya, bertengger mahkota yang terbuat dari bulir-bulir padi keemasan yang berkilauan, memancarkan aura keagungan.
Sumanto terpana. Ia belum pernah melihat wanita secantik ini seumur hidupnya. Ia bahkan tidak yakin apakah wanita ini adalah manusia atau bukan.
"Jangan takut, Sumanto," ucap wanita itu dengan suara lembut bagai desiran angin. "Aku adalah Dewi Sri."
Mata Sumanto membulat. Dewi Sri? Dewi padi yang selama ini hanya didengar dari cerita kakeknya? Jadi, legenda itu benar adanya?
"Aku telah terkurung dalam bulir padi ini selama bertahun-tahun," lanjut Dewi Sri. "Sentuhanmu telah membebaskanku. Sebagai balasannya, aku akan memberimu hadiah."
Dewi Sri mengulurkan tangannya. Di telapak tangannya, terdapat seutas gelang yang terbuat dari jerami. Gelang itu tampak sederhana, namun memancarkan aura magis yang kuat.
"Gelang ini akan melindungimu dari segala mara bahaya," kata Dewi Sri. "Selain itu, aku juga akan memberimu beras ajaib. Setiap butir beras ini mengandung kekuatan dan keberuntungan. Siapa pun yang memakannya akan menjadi kuat dan beruntung."
Dewi Sri kemudian mengeluarkan segenggam beras dari balik selendangnya. Beras itu berwarna putih bersih, berkilauan seperti mutiara. Ia menyerahkan beras itu kepada Sumanto.
"Gunakanlah hadiah ini dengan bijak, Sumanto," pesan Dewi Sri. "Jangan sampai kekuatan dan keberuntungan ini membuatmu menjadi sombong dan serakah."
Setelah mengucapkan pesan itu, Dewi Sri tersenyum lembut pada Sumanto. Kemudian, tubuhnya perlahan-lahan menghilang, kembali menjadi cahaya keemasan yang kemudian terbang ke langit.
Sumanto terdiam terpaku. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia memandangi gelang jerami dan beras ajaib yang ada di tangannya. Inikah kenyataan? Atau hanya mimpi belaka?
Namun, sentuhan gelang jerami di pergelangan tangannya dan aroma harum beras ajaib di tangannya, membuatnya yakin semua ini bukanlah mimpi. Ia benar-benar telah bertemu dengan Dewi Sri dan mendapatkan hadiah yang luar biasa.
Sumanto menggenggam erat gelang jerami dan beras ajaib itu. Jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang melihat kejadian aneh tadi. Syukurlah, ladang tampak sepi, hanya ada suara burung gereja yang saling bersahutan.
Dengan langkah cepat, Sumanto buru-buru masuk ke dalam gubuknya. Ia mengambil cangkul butut yang biasa ia gunakan untuk membersihkan saluran irigasi. Di pojok gubuk, di bawah dipan reyotnya, ia mulai menggali tanah. Tanah itu gembur dan mudah dicangkul. Tak lama kemudian, lubang itu sudah sedalam sekitar satu meter.
Dengan hati-hati, Sumanto meletakkan gelang jerami dan beras ajaib itu ke dalam lubang.
Ia menimbunnya kembali dengan tanah, lalu meratakannya hingga tidak tampak seperti bekas galian. Ia menaburinya dengan sedikit jerami agar terlihat alami.
"Aman," gumamnya pelan, merasa sedikit lega.
Namun, belum sempat ia bernapas lega, suara Juragan Tarno kembali memanggilnya. "Sumanto! Oi, Sumanto! Tidur lagi kamu?! Pekerjaan belum selesai sudah leha-leha!"
Sumanto tersentak kaget. Ia lupa waktu! Dengan tergesa-gesa, ia keluar dari gubuknya. Juragan Tarno sudah berdiri di depan, berkacak pinggang dengan wajah merah padam.
Sumanto menunduk, merasa bersalah. "Maafkan aku, Juragan," ucapnya dengan nada menyesal. "Tadi aku kebelet pipis, makanya agak lama. Sekalian buang air besar."
Juragan Tarno mendengus kasar. "Halah, alasan saja kamu, Sumanto! Bilang saja kamu mau lanjut tidur, kan? Awas saja kalau tahun ini gagal panen, kupotong upahmu!"
Sumanto hanya diam, tidak berani membantah. Ia tahu, percuma saja berdebat dengan Juragan Tarno. Lebih baik kembali bekerja dan menyelesaikan tugasnya secepat mungkin.
Sumanto berjalan gontai menuju gubuknya. Tubuhnya terasa remuk redam, otot-ototnya sakit semua. Teriknya matahari seharian ini benar-benar menguras tenaganya.
Ia langsung menuju ke sungai kecil di dekat ladang membersihkan diri. Lumpur dan keringat yang menempel di tubuhnya ia gosok sekuat tenaga. Air sungai yang dingin sedikit menyegarkan tubuhnya yang lelah.
Setelah selesai mandi, Sumanto kembali ke gubuknya. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Ia menyalakan api dengan kayu bakar yang sudah dikumpulkannya. Kemudian, ia membakar beberapa buah ubi dan pisang yang tersisa.
Sambil menunggu ubi dan pisangnya matang, Sumanto merogoh dompetnya yang lusuh. Dompet itu hanya berisi beberapa koin logam yang sudah usang. Koin-koin itu bahkan lebih sering ia gunakan kerokan daripada membeli makanan.
Sumanto menghela napas panjang. Sudah dua hari ini Juragan Tarno tidak memberinya upah. Padahal, biasanya setiap hari selalu mendapatkan upah meskipun tidak seberapa.
"Gara-gara pupuk sialan itu," gumamnya kesal.
Dua hari yang lalu, Sumanto tidak sengaja menumpahkan sekeranjang pupuk kandang yang sudah disiapkan untuk memupuk padi. Juragan Tarno marah besar dan langsung memotong upahnya selama beberapa hari.
"Sudah miskin, makin miskin saja aku ini," keluhnya lirih.
Ubi dan pisang bakarnya sudah matang. Sumanto mengambilnya dari atas api dan meniup-niupnya agar tidak terlalu panas. Dengan lahap, ia memakan ubi dan pisang itu. Meskipun hanya itu yang bisa ia makan, ia tetap bersyukur. Setidaknya, tidak kelaparan.
Sambil makan, pikirannya kembali melayang pada bulir padi emas dan Dewi Sri. Rasa penasarannya semakin membuncah. Ia ingin segera mencoba beras ajaib itu,
Dengan langkah mantap, ia menuju ke pojok gubuknya dan mulai menggali tanah di bawah dipannya.