

Suara riuh gemuruh seisi arena menyambut sorotan lampu yang membelah kegelapan, menyapu panggung megah kompetisi “Cita Rasa Nusantara”. Ini bukan sekadar kompetisi memasak; ini adalah medan perang rasa, pertaruhan ambisi, dan panggung para koki terbaik se-Indonesia. Di tengah gemuruh itu, seorang pemuda bernama Arkitama Narendra, yang akrab disapa Tama, berdiri di stasiun masaknya, seputih pualam, seolah seluruh cahaya lampu itu menyerap warna dari wajahnya. Jantungnya berdentum lebih cepat dari irama denting panci yang berdansa di sekitarnya.
“Hadirin sekalian! Para juri terhormat! Dan tentu saja, para koki berbakat kita!” Suara MC, Guntur, menggelegar penuh semangat, memecah kesunyian yang tegang. Ia mencondongkan tubuh ke arah kamera utama, senyumnya berkilau bak bintang iklan. “Malam ini, kita telah sampai di puncak! Babak final yang akan menentukan siapa yang layak menyandang gelar ‘Juru Masak Nusantara’! Atau Dewa Koki. Apakah kalian semua siap?”
Sorak-sorai penonton pecah lagi, menggetarkan lantai arena. Tama hanya bisa menarik napas panjang, paru-parunya terasa penuh, namun entah mengapa, hampa. Ia mencoba fokus pada aroma minyak zaitun yang baru dituang kontestan di sebelah, tapi yang tercium hanyalah kepanikan samar miliknya sendiri.
“Baiklah, para finalis!” Guntur menoleh, tatapannya menyapu lima stasiun masak yang berjejer rapi, dengan lima koki muda yang sama-sama bergetar tegang. “Persiapkan dirimu! Karena tema untuk babak final kita malam ini adalah… Warisan!”
Kata "Warisan" menggema, bergulir di udara, memantul di dinding-dinding arena, dan menusuk tepat ke ulu hati Tama. Tubuhnya menegang, rasa dingin merayapi punggungnya, bukan karena AC, melainkan karena getaran ketakutan yang mendalam. Warisan? Kenapa harus warisan? Sebuah pertanyaan tanpa suara melingkar-lingkar di benaknya, mencabik sisa-sisa fokusnya. Ia mencoba merangkai, mengaitkan, mencari-cari. Warisan apa yang sebenarnya ia perjuangkan?
Di stasiun masak paling ujung, Isvara, lawan bebuyutan Tama yang dikenal angkuh dengan rambutnya yang disisir rapi dan seragam chef yang selalu sempurna, mengamati Tama di dalam balutan seragam chefnya. Sebuah kerutan halus muncul di dahinya.
“Lihat dia,” Isvara berbisik, nadanya merendahkan, namun ada kilatan aneh di matanya. Ia berbicara kepada asistennya, seorang pria muda berambut ikal yang sibuk merapikan pisau-pisau mahal Isvara. “Si Arkitama itu. Pucat sekali, seperti baru melihat hantu.”
“Mungkin dia takut, Chef,” sahut asisten itu, sedikit gemetar. “Chef Isvara memang yang terkuat.”
Isvara mendengus. “Bukan takut padaku. Ada yang lain. Dia terlalu sering terlihat seperti itu belakangan. Seperti... tersesat. Dia bukan jenius, dia aneh.” Tatapannya menajam, menembus keramaian, mencoba mengupas lapisan kepura-puraan Tama. Isvara melihat jemari Tama bergetar sangat halus saat memegang pisau, sebuah detail kecil yang luput dari mata orang lain.
Tidak jauh dari sana, di tribun VIP, Endura Aswara, putra ketua Kelompok Sendok Emas yang terkenal licik tapi populer karena ketampanannya yang mematikan, tersenyum sinis. Kakinya menyilang santai, seolah seluruh arena adalah miliknya.
“Anak itu memang menyedihkan,” Endura bergumam, suaranya pelan dan dingin, penuh ejekan. “Tema warisan? Oh, betapa ironisnya. Apa yang akan dia masak? Memori yang nyaris tidak ada?”
Seorang pria berjas hitam di samping Endura tersenyum patuh. “Rencana kita berjalan mulus, Tuan Muda. Dia sudah di ambang batas.”
Endura menyesap minumannya. “Dia tidak akan pernah bisa menyimpan buku itu selamanya. Itu bukan tempatnya.” Matanya beralih ke panggung, fokus pada Tama dengan tatapan predator. “Warisan itu akan kembali ke pemilik aslinya, cepat atau lambat.”
Sementara itu, di barisan penonton yang sedikit lebih rendah, Zora Bianglala, yang akrab dipanggil Lala, menggenggam erat lengan sahabatnya, Caraka. Matanya tak lepas dari Tama. Ia terlihat begitu cemas, bibirnya pucat karena khawatir.
“Tama kenapa, sih, Caraka?” Lala berbisik, suaranya bergetar. “Dia kelihatan aneh. Sangat pucat. Aku takut.”
Caraka mengelus punggung Lala, mencoba menenangkan, namun ia sendiri juga khawatir. “Aku tidak tahu, La. Sejak seminggu terakhir dia memang begitu. Dia tidak mau bercerita banyak. Katanya hanya kelelahan. Tapi aku merasa ada yang tidak beres.”
“Tema warisan itu pasti membebaninya,” Lala melanjutkan, air matanya mulai menggenang. “Dia sangat menyayangi Eyang Pradipta. Dia tidak mungkin melupakan Eyang, kan?”
Caraka hanya bisa menghela napas. Ia tahu tentang kutukan itu, tentang harga yang harus dibayar Tama setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Tapi ia bersumpah untuk menjaga rahasia Tama. “Tidak, Lala. Dia tidak akan melupakan Eyang. Eyang adalah segalanya baginya.” Namun, di dalam hatinya, Caraka tidak begitu yakin. Ia telah melihat betapa cepat memori Tama memudar.
Di sisi lain tribun, sedikit tersembunyi, Senja Bianglala, kakak Lala, terlihat sedang berbicara serius di ponselnya. Wajahnya tegang, namun matanya memancarkan keserakahan yang samar.
“Sudah kuduga, Isvara,” Senja berbisik di telepon, pandangannya tertuju pada Tama. “Tama akan hancur dengan tema itu. Memorinya pasti sudah di ambang batas.”
Terdengar suara di seberang telepon. “Benarkah? Bagus. Ini kesempatan kita. Dia tidak akan bisa melindunginya lagi.” Itu suara Isvara.
“Aku akan terus memantaunya. Ingat janji kita. Setelah buku resep itu di tanganmu, bagianku akan kau penuhi, kan?” Senja bertanya, nadanya menuntut.
“Tentu saja,” jawab Isvara, seringai tipis muncul di bibirnya. “Kau akan mendapatkan kemewahan dan ketenaran yang kau impikan, Senja. Asalkan kau pastikan buku itu tidak jatuh ke tangan Kelompok Sendok Emas. Kita harus lebih cepat.”
Senja tersenyum tipis, melirik Lala yang terlihat sangat khawatir. “Lala terlalu polos. Dia tidak mengerti betapa berharganya ‘warisan’ itu. Aku akan memastikan dia tidak menghalangi.”
Kembali ke panggung, Guntur memberikan aba-aba. “Waktu kalian… dimulai sekarang!”
Suara mesin penghisap asap mulai meraung, denting pisau beradu dengan talenan, dan aroma rempah-rempah yang memabukkan mulai menyebar di seluruh arena. Para koki mulai bergerak cepat, cekatan, penuh percaya diri. Kecuali Tama. Ia masih berdiri mematung, pandangannya kosong. Warisan. Ia mencoba mencari-cari ingatan, tapi yang muncul hanyalah kabut tebal, seperti foto lama yang sudah memudar, wajah-wajah tanpa nama, tawa tanpa suara. Ia tahu ada sesuatu yang sangat penting, inti dari siapa dia, tersembunyi di balik kabut itu, namun ia tidak bisa meraihnya.
Sebuah suara dingin, seperti bisikan dari koridor yang ia dengar sebelum masuk arena, terngiang lagi di kepalanya: “Buku itu akan kembali ke rumahnya malam ini, Nak. Dengan atau tanpa dirimu.” Ancaman dari pria berjas rapi dengan pin sendok emas kecil di kerahnya. Rasa takut itu kini tidak lagi hanya soal kehilangan dirinya, tetapi juga kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang dipercayakan Eyang kepadanya.
Tama akhirnya bergerak, tangannya yang masih sedikit bergetar meraih tas kanvas lusuh yang selalu ia bawa. Dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit tua, usang, dengan ukiran aksara Jawa kuno yang hampir pudar di sampulnya. Buku Tentrem Jiwo. Warisan Eyang Pradipta yang sesungguhnya.
Ia membuka buku itu di stasiun masaknya, di bawah sorotan lampu yang menyilaukan. Halaman-halamannya yang kekuningan memancarkan aura magis. Ia membalik lembar demi lembar, mencari resep yang tepat, resep yang bisa mencerminkan warisan Eyang, warisan yang kini ia perjuangkan dengan seluruh sisa ingatannya.
Pandangannya berhenti pada sebuah resep. Resep “Nasi Goreng Kebahagiaan”—resep pertama yang Eyang ajarkan kepadanya. Rasa hangat sejenak menyelimuti hatinya, namun kemudian diikuti oleh kepanikan. Ia hanya ingat garis besarnya. Detail-detail kecil, tawa Eyang, bau bawang merah yang digoreng, sentuhan tangan Eyang saat membimbingnya… semua itu samar, seperti asap. Ia tahu itu penting, sangat penting.
Saat jari-jarinya menyentuh halaman itu, tulisan di buku tiba-tiba bersinar redup. Aksara-aksara kuno itu bergerak, membentuk barisan kata-kata baru, seolah buku itu hidup dan memiliki kehendak. Tama menahan napas, matanya membesar saat membaca setiap kata yang baru muncul, tulisan magis yang menuntut bayaran untuk setiap resep yang akan ia gunakan.
“Demi kebahagiaan yang akan kau ciptakan,” ia membaca dalam hati, suaranya nyaris tak terdengar di antara bisingnya arena, “akan kuharap darimu, seluruh kenangan utuh tentang hari pertama kau memasak Nasi Goreng Kebahagiaan bersama Eyang Pradipta.”
Udara di sekeliling Tama terasa membeku. Ia tidak bisa bernapas. Seluruh kenangan utuh tentang hari pertama… itu adalah satu dari sedikit kenangan yang masih sangat jelas di benaknya, salah satu fondasi yang membangun dirinya, yang menghubungkannya dengan Eyang, dengan tujuan hidupnya. Kehilangan itu berarti kehilangan esensi Eyang dalam dirinya. Itu berarti kehilangan salah satu bagian terakhir dari jiwanya.
Di sisi lain panggung, Isvara mengangkat kepalanya. Ia merasakan getaran aneh, energi yang berbeda dari stasiun masak Tama. Ia melihat Tama membeku, dengan buku tua di tangannya, wajahnya kini bukan lagi pucat, melainkan nyaris tanpa darah. Sebuah kebingungan bercampur rasa ingin tahu melintas di wajah Isvara.
Sementara itu, di antara keramaian, Endura tersenyum lebih lebar. Ia telah melihat perubahan di wajah Tama. “Lihatlah dia,” gumamnya kepada pria berjas di sampingnya. “Kutukan itu sudah mencengkeramnya. Permainan segera berakhir.”
Tama memejamkan mata, memegang erat Buku Tentrem Jiwo. Kenangan itu berkelebat di benaknya: Eyang tertawa, mengaduk nasi dengan wajan besar, aroma rempah yang memenuhi dapur, tangannya yang hangat membimbing jari-jarinya menggenggam spatula. Itu adalah memori yang paling ia hargai, memori yang paling ia perjuangkan untuk tetap ada.
Jika ia memasak resep itu, memori ini akan hilang. Selamanya. Namun, jika ia tidak memasak, ia akan kalah. Buku itu mungkin akan direbut Kelompok Sendok Emas. Dan ia… ia akan kehilangan alasan mengapa ia berdiri di sini.
Detak jantungnya bergemuruh, memori masa lalu Eyang dan dirinya melintas sekilas bak kilatan petir yang menyambar. Tama membuka mata. Di depannya, resep itu menuntut bayaran, sebuah janji mengerikan yang harus ia penuhi. Apakah ia sanggup? Apakah ia harus mengorbankan bagian terakhir dari Eyang dalam dirinya demi ‘warisan’ yang kini terancam? Ia menatap tulisan magis itu, tangan kanannya terangkat, perlahan-lahan menyentuh sebuah pisau di mejanya, dengan jari-jari yang gemetar. sementara matanya, menatap lurus ke arah Isvara yang balas menatapnya.
“Apakah ini semua sepadan?” bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya tercekat. Waktu terus berjalan, dan pilihan yang mustahil kini ada di hadapannya.