Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Membagi Jatah untuk Ibu Tiri, Kakaknya dan Ponakannya

Membagi Jatah untuk Ibu Tiri, Kakaknya dan Ponakannya

Nathan Diamond | Bersambung
Jumlah kata
189.7K
Popular
93.0K
Subscribe
7.1K
Novel / Membagi Jatah untuk Ibu Tiri, Kakaknya dan Ponakannya
Membagi Jatah untuk Ibu Tiri, Kakaknya dan Ponakannya

Membagi Jatah untuk Ibu Tiri, Kakaknya dan Ponakannya

Nathan Diamond| Bersambung
Jumlah Kata
189.7K
Popular
93.0K
Subscribe
7.1K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHarem21+Badboy
(AREA 21+++) Leon sangat marah saat ayahnya menikah lagi dan membawa ibu tiri ke rumahnya, yang dulunya penuh dengan kenangan mendiang ibunya. Leon terus menunjukkan kemarahan dan penolakannya pada sang ibu tiri. Atas nasehat ayahnya, sang ibu tiri pun harus berusaha membujuk anak tirinya yang macho itu. Bujukan itu kemudian berlanjut menjadi panas. Leon tahu kalau dia sekarang berada dalam masalah karena selingkuh dengan ibu tirinya. Masalah bertambah ketika kakak dan ponakan dari ibu tirinya, datang numpang hidup di rumah Leon.
1 Menolak Kehadiran Ibu Tiri

Rumah besar itu berdiri megah di pinggiran kota, dengan taman yang rimbun dan dinding batu bata yang menyimpan rahasia bertahun-tahun.

Bagi Leon, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal—itu adalah museum kenangan. Setiap sudut, setiap furnitur, mengingatkannya pada Melinda, ibunya yang telah pergi lima tahun lalu karena kanker yang ganas. Melinda yang selalu tertawa riang saat memasak di dapur, yang membacakan cerita sebelum tidur di kamar Leon, yang menanam bunga mawar di taman belakang. Sekarang, semua itu terancam oleh kehadiran orang asing: Sonya.

Leon, pria muda berusia 20 tahun, duduk di kamarnya dengan mata memerah. Rambut hitamnya acak-acakan, dan tubuhnya yang atletis—hasil dari latihan basket di kampus—terlihat kaku karena amarah yang tak kunjung reda.

Ayahnya, Gito, 49 tahun, baru saja pulang dari bulan madu di Bali bersama Sonya, wanita berusia 27 tahun yang kini menjadi ibu tirinya. Pernikahan mereka? Leon bahkan tidak mau hadir. Baginya, itu seperti pengkhianatan terhadap ibunya.

"Rumah ini memang milik ayahku," gumam Leon pada dirinya sendiri, menatap foto keluarga di meja samping tempat tidur. "Tapi kenangan di sini adalah milikku. Milikku dan Ibu."

***

Gito, seorang pengusaha sukses yang selalu sibuk dengan bisnis properti, mencoba menjembatani jurang itu. Setiap malam, dia akan duduk di ruang keluarga dan berbicara pada Leon dengan suara yang lembut tapi tegas. "Leon, Sonya bukan pengganti ibumu. Dia bagian dari keluarga kita sekarang. Cobalah untuk terima dia."

Leon hanya menggelengkan kepala, matanya penuh kebencian. "Aku nggak butuh anggota keluarga baru, Pak. Ibu sudah cukup."

Sonya, dengan rambut panjang bergelombang dan senyum yang hangat, berusaha sebaik mungkin. Meski rumah itu dilayani oleh tiga pembantu rumah tangga yang setia, Sonya memilih memasak sendiri.

Dia tahu dari Gito bahwa makanan favorit Leon adalah nasi goreng spesial dengan telur mata sapi dan kerupuk. Setiap pagi, dia bangun pagi-pagi buta, mengenakan celemek, dan memasak dengan hati-hati. "Ini untukmu, Leon," katanya suatu pagi, menyajikan piring hangat di meja makan.

Tapi Leon? Dia bahkan tidak menyentuhnya. Dengan dingin, dia mengambil piring itu dan membuang isinya ke tempat sampah, tepat di depan mata Sonya. "Aku nggak lapar," katanya singkat, lalu pergi begitu saja.

Gito melihat semua itu dengan hati yang berat.

Suatu malam, setelah makan malam yang canggung, dia menarik Sonya ke kamar mereka. "Sayang, aku tahu ini sulit. Tapi cobalah bujuk Leon dengan selembut mungkin. Dia anak baik, hanya saja... dia masih terluka karena kehilangan ibunya."

Sonya mengangguk, matanya penuh tekad. "Aku akan coba, Mas. Aku nggak mau rumah ini jadi tempat perang."

***

Pagi berikutnya, Sonya menunggu momen yang tepat. Leon baru saja pulang dari kampus, membanting pintu depan dengan keras. Dia berjalan ke dapur, mencari camilan, ketika Sonya muncul dari balik pintu. Dia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda, yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya—seperti kakak perempuan daripada ibu tiri.

"Leon," panggilnya dengan suara yang lembut, hampir seperti bisikan angin. "Bisa kita ngobrol sebentar? Hanya sebentar saja."

Leon berhenti, tangannya masih memegang gelas air. Dia menoleh, ekspresinya dingin. "Ngobrol apa? Aku capek."

Sonya mendekat perlahan, tidak memaksa. "Aku tahu kamu nggak suka aku di sini. Aku paham itu. Tapi... aku nggak mau jadi musuhmu. Aku cuma ingin kita bisa hidup damai di rumah ini. Ayahmu sayang banget sama kamu, dan aku... aku pengen kenal kamu lebih baik."

Leon tertawa sinis, meletakkan gelasnya dengan kasar. "Kenal lebih baik? Kamu pikir masak nasi goreng bisa gantiin ibuku? Kamu cuma... cuma pengganti sementara bagi ayahku. Jangan sok deket!"

Sonya menelan ludah, tapi dia tidak mundur. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tetap tenang. "Aku nggak pernah bilang aku pengganti ibumu, Leon. Melinda... dari cerita ayahmu, dia wanita luar biasa. Aku hormati itu. Tapi rumah ini besar, dan hati manusia juga bisa luas. Coba kasih aku kesempatan. Mungkin mulai dari makan malam bareng? Aku bisa masak sesuatu yang baru, atau kita pesan dari luar."

"Aku gak sudi!" Leon segera beranjak pergi.

Leon melangkah ke kamarnya dengan langkah berat, pintu ditutup pelan tapi tegas. Cahaya lampu meja yang redup menerangi ruangan itu, yang masih penuh dengan barang-barang kenangan: poster basket di dinding, foto lama bersama ibunya di pantai, dan tumpukan buku kuliah yang belum disentuh.

Dadanya terasa sesak, campuran amarah dan kebingungan setelah pertemuan singkat dengan Sonya di dapur. "Kenapa dia nggak nyerah aja?" gumamnya, melempar tubuhnya ke tempat tidur. Ponselnya bergetar di saku celana—pesan dari Andra, teman kuliahnya yang selalu punya ide-ide gila.

Leon membuka aplikasi chat, matanya menyipit membaca pesan masuk: "Bro, gimana hari ini? Masih perang dingin sama 'ibu tiri' baru lu?"

Dengan jari-jari yang gemetar karena emosi, Leon membalas: "Parah banget, Dra. Dia makin gigih. Masak buat gue, nyoba ngajak ngobrol. Ayah gue suruh dia bujuk gue, katanya. Gue nggak bisa singkirin dia dari rumah ini. Rumah ini penuh kenangan Ibu, tau nggak? Kalau dia terus di sini, gue bakal gila."

Andra, yang dikenal sebagai pemuda usil di kampus, membalas cepat: "Haha, bro, lu butuh strategi. Lu harus bikin dia nggak betah sendiri. Ide gue: lecehin aja dia. Maksud gue, bukan yang kelewatan, tapi cukup buat dia marah dan kabur. Cewek usia segitu pasti nggak tahan kalau dilecehkin anak tiri. Dia bakal lapor ke ayah lu, tapi kalau lu pintar, dia malah yang keliatan buruk. Pasti dia pindah rumah deh."

Leon menatap layar ponselnya, jantungnya berdegup kencang. Ide itu terdengar gila, tapi juga... menggoda. "Lecehin? Lu serius? Gue nggak gitu orangnya, Dra. Kalau ketauan gimana?"

Andra membalas dengan emoji tertawa: "Serius bro. Lu anak rumahan, ayah lu pasti percaya lu daripada cewek baru. Cuma godain dikit, buat dia marah. Kalau dia marah besar, dia bakal pergi sendiri. Iya kan? Coba pikir, ini rumah lu, kenangan lu. Jangan biarin dia rusak semuanya."

Leon meletakkan ponselnya, menatap langit-langit kamar. Ragunya besar—dia bukan orang jahat, hanya anak yang terluka. Tapi bayangan Sonya yang terus muncul mondar-mandir di rumah ini, menggantikan ruang yang dulu milik ibunya, membuat amarahnya membara.

"Mungkin... Aku coba aja," bisiknya pada diri sendiri. "Kalau nggak berhasil, gue berhenti." Dia membalas Andra: "Oke, gue pikirkan. Makasih ide-nya, bro." Lalu, dia mematikan ponsel, mencoba tidur. Tapi malam itu, pikirannya tak henti berputar.

Waktu berlalu hingga tengah malam. Rumah besar itu sunyi senyap, hanya suara angin malam yang menyusup lewat jendela terbuka.

Gito, ayah Leon, sudah tidur pulas di kamar utama di lantai satu. Hari itu dia sibuk seharian di kantor, rapat demi rapat tentang proyek properti baru, hingga tubuhnya lelah dan langsung terlelap begitu kepala menyentuh bantal.

Sonya, di sisi lain, terbangun karena haus. Dia melirik jam dinding—pukul 01.00 dini hari. Dengan hati-hati, dia bangun dari tempat tidur, mengenakan kimono tipis berwarna putih yang menutupi piyama sutranya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, dan kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin saat dia keluar dari kamar.

Sonya berjalan pelan ke dapur, melewati ruang keluarga yang gelap. Cahaya bulan menyusup lewat jendela besar, menerangi perabotan mewah yang dibeli Gito bertahun-tahun lalu.

Dia membuka lemari es, mengambil botol air mineral, dan menuangkannya ke gelas. Saat itulah, matanya menangkap sesosok bayangan di lantai dua.

Dari bawah tangga, dia melihat Leon berdiri dekat pintu kamarnya, tubuhnya bersandar di dinding, seolah sedang menunggu sesuatu.

Leon, yang sebenarnya belum tidur karena gelisah, melihat Sonya di bawah. Matanya menyipit, ide Andra terngiang lagi. Dia ingin melakukan ide gila itu. Dia memberi isyarat pelan dengan tangan—seolah menunjuk ke mulutnya, seperti orang yang haus dan meminta minum.

Sonya mengerutkan kening, tapi hatinya yang lembut langsung bereaksi. "Leon? Kamu belum tidur?" gumamnya pelan, karena tak ingin membangunkan Gito.

Dia menuang air ke gelas lain, berpikir ini kesempatan baik untuk mendekatkan diri. "Mungkin dia haus," pikirnya. Dengan gelas di tangan, dia naik tangga pelan-pelan, langkahnya hati-hati agar tidak berderit.

Lanjut membaca
Lanjut membaca