Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi Anak Haram Bergelang Tali Hitam

Reinkarnasi Anak Haram Bergelang Tali Hitam

Jana Indria | Bersambung
Jumlah kata
142.0K
Popular
7.3K
Subscribe
416
Novel / Reinkarnasi Anak Haram Bergelang Tali Hitam
Reinkarnasi Anak Haram Bergelang Tali Hitam

Reinkarnasi Anak Haram Bergelang Tali Hitam

Jana Indria| Bersambung
Jumlah Kata
142.0K
Popular
7.3K
Subscribe
416
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDunia Masa DepanPria MiskinSistem
Dengan membawa sistim di gelang hitam, Ali, CEO yang bertangan dingin itu lahir kembali ke 40 tahun ke belakang, tepatnya ke tahun 1980. sistim menyuruh Ali untuk membahagiakan keluarga Joko, keluarga di mana jiwa Ali meminjam raga Joko yang terkenal paling miskin di kota itu. banyak kelucuan dan keharuan yang terjadi mengingat Ali sangat benci orang miskin. apakah Ali bisa memenuhi permintaan misi agar bisa kembali lagi ke jamannya di tahun 2025?. baca yuk!
1. Neraka pertama

"Argh ...."

Ali terdiam. Napasnya tercekat saat mendengar suara yang lolos dari tenggorokannya sendiri. Itu bukan suara bariton berat yang biasa ia dengar. Suara itu ... asing. Serak, cempreng, dan lemah.

"Le ...? Kamu sudah sadar?"

Ali tersentak mundur hingga punggungnya menabrak dinding anyaman. Matanya membelalak saat sebuah tangan kasar menyentuh keningnya—kulit tangan yang terasa kering dan kasar seperti amplas.

"Apa ini?!" desisnya.

Pandangannya menyapu sekeliling dengan liar. Di mana langit-langit marmer kamarnya? Di mana lampu gantung Swarovski miliknya? Semuanya lenyap.

Digantikan oleh anyaman bambu bolong di sana-sini dan genting tanah liat berlumut yang meneteskan air sisa hujan.

"Ka ... kamu kenapa, Le?"

"Jauhkan tanganmu!" bentak Ali.

Ia mencoba bangkit, tetapi kepalanya serasa dihantam palu godam. Rasa sakit yang berputar hebat memaksanya kembali terduduk. Tubuhnya terasa seringan kapas, seolah tak bertenaga.

"Alhamdulillah ... ya Allah, matur nuwun, Gusti ...."

Wanita tua di depannya menangis. Mata itu cekung dan hitam karena kurang tidur, menatap Ali dengan kelegaan yang luar biasa.

Ia mengenakan kebaya lusuh yang warnanya telah pudar dimakan waktu, serta kain jarik dengan tambalan kasar di bagian lutut.

"Emak kira kamu bablas, Le. Kamu pingsan dua hari ...."

Ali mengabaikan ocehan itu. Matanya kembali menelanjangi ruangan sempit tersebut.

Hanya ada satu lemari kayu jati tua dengan pintu miring, meja kecil berisi gelas lurik, dan dipan kayu beralas tikar pandan tempatnya berbaring. Bau apek dan lembap menguar tajam, menusuk hidung aristokratnya.

"Di mana ini?" tanya Ali tajam, memotong tangisan pilu wanita itu.

Ingatannya masih merekam jelas momen terakhir sebelum kegelapan datang. Bagaimana sekretarisnya, yang bernama Dilli berkhianat dengan memberikannya minuman saat dirinya sudah bersiap ke kantor polisi dengan pengacaranya, Baskara.

"Sialaaaan, hanya tinggal dikit saja aku bisa memenjarakan kalian yang sudah habiskan uang Perusahaan trilyunan," kesal Ali apalagi saat ingat Dion, Adik tirinya, berdiri di ambang pintu dengan senyum miring, mengejeknya sebagai anak haram.

"Siapa yang menyuruhmu membawaku ke sini? Dion? Atau papa tiriku?" Ali menuduh dengan napas memburu. "Katakan pada bosmu, sia-sia dia menculik Ali Prasbawara. Itu tidak akan membuat saham perusahaanku jatuh!"

Wanita tua itu—Emak—tampak bingung. Keningnya berkerut dalam. "Ngomong apa to, Le? Dion iku sopo? Kamu itu anakku, Joko. Kamu jatuh dari pohon nangka di pekarangan Pak RT."

Emak mencoba mendekat lagi, tangannya terulur ragu. "Masih pusing kepalamu?"

"Jangan sentuh saya!"

Ali menepis tangan itu kasar. Emak terperanjat, tangannya menggantung kaku di udara.

"Kenapa bau sekali di sini?! Di mana ponsel saya?!"

"Pon ... sel?" Emak semakin bingung. Ia menoleh panik ke arah pintu yang hanya tertutup tirai kain perca. "Ti! Siti! Sini cepat! Masmu sudah sadar, tapi ngelantur!"

Tirai tersibak. Seorang gadis kecil muncul. Usianya mungkin sepuluh tahun, tapi tubuhnya kurus kering. Rambutnya dikepang dua, wajahnya dekil. Ia membawa piring seng yang penyok di pinggirannya, menatap Ali dengan sorot takut-takut.

"Mas Joko sudah bangun?" cicitnya.

"Joko, Joko, Joko terus!" Kesabaran Ali habis. Bentakannya membuat gadis kecil itu mundur selangkah. "Namaku itu Ali Prasbawara! Aku CEO Synchro. Corp, bukan Joko!"

Ali memaksakan diri turun dari dipan. Namun, begitu telapak kakinya menyentuh permukaan di bawahnya, sensasi dingin dan lembap menyengat kulit.

Ia menunduk.

"Tanah ...?" Suaranya bergetar. Lantainya benar-benar tanah yang dipadatkan.

Ali mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

Tangan itu kurus kering. Tulang pergelangannya menonjol, kulitnya sawo matang terbakar matahari, dan kuku-kukunya ... hitam dan kotor.

"Apa-apaan ini?!" teriaknya histeris. "Kaca! Bawakan saya kaca! Sekarang!"

"Mas ...." Siti mendekat gemetar, menyodorkan piring seng di tangannya. Aroma nasi basi dan ikan asin menyeruak. "Makan dulu ya. Tadi Emak masak nasi aking sama ikan asin. Mas sudah dua hari belum makan."

PRANG!!

"Aduhh!"

Siti menjerit tertahan saat Ali menampar piring itu. Nasi kering dan ikan asin itu terlempar, berserakan di atas tanah yang kotor.

Suasana hening seketika. Emak menutup mulut dengan tangan, air mata menderas di pipinya yang keriput. Siti gemetar, menatap makanan berharga itu berhamburan sia-sia.

"Saya minta kaca, bukan sampah!" raung Ali. Suaranya pecah, seirama dengan dadanya yang serasa mau meledak.

Siti berlari ke sudut ruangan, mengambil pecahan cermin retak, lalu menyodorkannya pada Ali dengan tangan gemetar hebat.

Ali menyambar cermin itu. Detik berikutnya, matanya membelalak horor.

Pantulan di cermin itu bukan dirinya. Wajah itu ... wajah pemuda 20-an yang asing. Tulang pipi menonjol tajam, rambut hitam kusam acak-acakan, dan mata cekung yang liar.

"Sial!!"

PRAK!

Cermin itu melayang, menghantam dinding papan hingga hancur berkeping-keping.

"Mas Joko jahat!" Siti tak lagi bisa menahan tangisnya. Ia berjongkok, memunguti butiran nasi aking yang kotor terkena tanah dengan tangan kecilnya. "Ini nasi Emak yang terakhir, Mas! Eman ... jangan buang-buang makanan!"

"Diam!" Ali memegangi kepalanya yang kembali berdenyut menyakitkan. "Keluar! Keluar kalian semua! Tinggalkan saya sendiri!"

"Le, istighfar, Le ...." Emak kembali mencoba mendekat, menyentuh bahu Ali yang berdiri goyah. "Emak tahu kamu sakit, tapi pamali buang nasi, Le ...."

"Lepas!"

Ali mendorong wanita tua itu. Tenaganya tidak besar, tetapi cukup untuk membuat tubuh ringkih itu terhuyung dan jatuh terduduk di atas tikar.

"Emak!" Siti menjerit, berlari memeluk ibunya.

Gadis kecil itu menoleh pada Ali. Tatapannya berubah. Bukan lagi takut, melainkan tatapan penuh kebencian.

"Mas Joko gila! Mas Joko durhaka!"

Ali menulikan telinga. Ia berjalan sempoyongan menabrak tirai kain perca, menyeret kakinya keluar dari gubuk pengap itu. Ia butuh udara. Ia butuh waras.

Namun, begitu kakinya memijak beranda bambu yang reyot, cahaya matahari sore yang jingga menusuk matanya tanpa ampun. Ali menyipitkan mata, dan detik berikutnya, rasa mual yang hebat menghantam perutnya.

Bukan karena sakit, melainkan karena pemandangan di hadapannya.

Deretan gubuk liar yang nyaris roboh berjejer di bantaran sungai. Air sungainya hitam pekat, kental seperti oli bekas, mengalir lambat membawa sampah-sampah plastik dan kotoran. Sekelompok anak kecil telanjang bulat berlarian, tertawa riang mengejar ban bekas di tengah lumpur.

"Gila ...." gumamnya.

Di sisi lain sungai, beberapa ibu-ibu mencuci baju dengan air keruh itu, sementara tak jauh dari sana, seseorang jongkok di bilik kakus terbuka, membuang hajat langsung ke aliran yang sama.

Ali ingin muntah. Bagaimana mungkin anak sulung keluarga Bhaganta, yang dengan kekuatannya, kecerdasannya, ketenangannya, dan dengan tangan besi berhasil memimpin perusahaan hingga mempunyai perusahan dengan anak cabang di luar negeri, kini berada di tempat yang menjijikkan.

Namun, matanya terpaku pada sebuah spanduk kain blacu usang di seberang sungai. Spanduk itu robek separuh, tetapi tulisannya masih terbaca jelas dengan cat merah yang mulai luntur:

"DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-35. AGUSTUS 1980."

Darah di wajah Ali surut seketika. Lututnya kehilangan tenaga. Ia ambruk, jari-jarinya mencengkeram tiang bambu hingga buku-bukunya memutih.

Empat puluh lima tahun. Dia terlempar mundur empat puluh lima tahun. Dan yang lebih buruk dari neraka mana pun, dia terjebak di tubuh gembel bernama Joko.

"Sialan ...." desisnya, napasnya memburu. "Sialan, sialan, sialan!"

Tiba-tiba, rasa panas menyengat pergelangan tangan kirinya. Seperti disulut rokok.

"Argh!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca