

Braaak!
Pintu kamar Agus yang reot didobrak dengan keras sampai engselnya berderit nyaris copot. Mata Agus langsung melotot. Jantungnya serasa mau copot ketika suara menggelegar itu memecah keheningan. Ia dan Ningrum sama-sama terlonjak kaget, panik bukan main saat tertangkap basah sedang melakukan hubungan badan.
Baru saja mereka berniat meraih pakaiannya ketika suara Ibunya Ningrum terdengar kasar dan penuh amarah. Agus hanya sempat menarik celana dan memakainya tergesa-gesa. Tangannya gemetar. Sementara Ningrum buru-buru bersembunyi di balik selimut, wajahnya pucat pasi, napasnya memburu.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada anakku?!” Ibunya Ningrum berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, mata nyalang menatap Agus penuh amarah dan rasa jijik yang sulit disembunyikan.
“Dasar lelaki miskin nggak tahu diri!”
Bugh! Bugh!
Teriakan ibunya Ningrum mengundang perhatian orang-orang. Pak RT muncul, disusul beberapa warga yang berdiri berkerumun, untuk melihat kegaduhan di rumah Agus.
Agus diseret keluar kamar. Dia diadili di teras rumahnya yang sempit dan lusuh.
“Dasar laki-laki nggak tahu diri!” teriak ibunya Ningrum lagi. “Kamu itu hanya laki-laki miskin! Mau kamu kasih makan apa anakku kalau nikah sama kamu, huh?! Batu? Rumput?!” Tangan wanita itu kembali mendarat di tubuh Agus. Berkali-kali. Tanpa henti. Tapi Agus tak melawan.
“Miskin saja berani pacarin anak orang,” ujar salah satu warga yang ikut mengerumuni.
Pak RT menggeleng kesal dan ikut bersuara. “Kamu ini benar-benar keterlaluan, Gus. Perbuatanmu ini sangat memalukan. Kalian melakukan hal yang nggak pantas untuk dilakukan.”
“Saya dan Ningrum saling mencintai, Bu. Saya janji akan bekerja lebih keras lagi agar bisa memberikan kehidupan yang layak buat Ningrum.” Ucapan itu justru membuat Ibunya Ningrum tertawa sinis.
“Menghidupi diri sendiri aja kamu nggak becus! Sekarang dengan lantangnya kamu bilang mau menghidupi anakku?” Ia menunjuk rumah Agus dengan jijik. “Lihat rumahmu ini! Lebih mirip kandang sapi! Dan kamu masih berani mendekati anakku yang sebentar lagi bakal nikah sama laki-laki kaya!” Ibunya Ningrum sudah berulang kali memperingati Agus untuk tidak mendekati anaknya lagi. Bahkan satu minggu yang lalu dia secara terang-terangan sudah memberitahu Agus kalau Ningrum sudah dilamar pria kaya. Tapi ternyata Agus menganggap itu hanya ancaman biasa.
Agus menggeleng pelan, “Ningrum nggak akan menikah dengan siapa pun selain saya,” jawab Agus nekat. “Kami saling mencintai.”
Ibunya Ningrum mendengus mendengar ucapan Agus.
“Cinta?” wanita paruh baya itu kembali mencibir. “Kamu pikir cinta bisa dipakai buat beli beras? Bahkan Ningrum sudah setuju untuk menikah dengan laki-laki lain. Dan dengar baik-baik, kalau kamu berani mendekati anakku lagi, maka, aku akan menyuruh warga mematahkan tulang-tulangmu!” Warga yang berdiri di sekitar ikut mencibir. Ada yang menggeleng, ada yang tersenyum sinis. Ada yang menghujatnya.
“Nggak, Bu,” Agus menggeleng keras. “Ningrum hanya akan menikah dengan saya.”
Ibunya Ningrum semakin dibuat kesal oleh Agus. “Keluar kamu, Ningruuuuum!”
Ningrum akhirnya keluar dari kamar. Wajahnya pucat, matanya tak berani menatap Agus.
“Bilang sama laki-laki miskin ini kalau minggu depan kamu akan menikah dengan laki-laki kaya yang kerja di kapal pesiar. Jangan sampai dia berani ganggu hidupmu lagi!” bentak sang Ibu.
Agus menatap Ningrum penuh harap. “Katakan itu nggak benar, Ningrum. Katakan kamu hanya mau menikah denganku.” mereka berdua saling mencintai dan Agus yakin dia bisa membahagiakan Ningrum.
Ningrum terdiam untuk beberapa detik sampai akhirnya dia pun menjawab, “Maaf, Gus. Aku sudah menerima lamaran pria lain. Aku… aku nggak mau hidup miskin,” jawabnya pelan.
Kalimat itu membuat Agus terkejut. Dadanya sesak. Harga dirinya hancur berkeping-keping. Wanita yang baru saja ia peluk dalam desahan kini mengeluarkan kalimat yang membuat hatinya terluka.
“Kamu ini bikin rusuh aja, Gus!” seru salah satu warga.
“Kalau miskin ya miskin aja, jangan berkhayal ada wanita yang mau sama kamu. Dasar gak tahu diri! Bikin gaduh kampung saja kamu ini!” Yang lain ikut mencibir.
Ia ingin marah. Sangat marah. Tapi Agus tak bisa berbuat apa-apa.
Sejak kejadian itu, rasa perih dan hinaan dari warga dan Ibunya Ningrum masih menancap dalam di hati Agus. Bahkan hingga kini, warga masih banyak yang menghujat dan merendahkannya.
Agus Darmawan namanya. Warga di sekitar memanggilnya dengan sebutan Agus. Usianya baru 21 tahun. Wajahnya sangat tampan dan tubuhnya kekar. Namun, sayangnya, ia terlahir sebagai pemuda miskin yang hidup sebatang kara, sehingga membuatnya selalu direndahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kedua orang tuanya meninggalkan Agus saat ia masih bayi. Ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Malang, kakeknya meninggal dua tahun lalu, disusul oleh neneknya enam bulan setelahnya.
Agus merupakan lulusan SMA, tetapi hingga kini ia belum memegang ijazah. Ijazahnya masih tertahan di sekolah sebab Agus tak memiliki biaya untuk menebusnya. Sehari-hari, Agus hanya bekerja sebagai buruh di toko bangunan dengan upah yang tak seberapa. Setiap hari dia bekerja hanya untuk bertahan hidup.
“Agus, tolong naikkan semennya ke mobil. Mau dikirim sekarang,” ucap Bu Yuni, istri kedua dari pemilik toko bangunan tempatnya bekerja.
“Baik, Bu,” jawab Agus. Agus langsung menaikkan semen sesuai dengan permintaan bosnya.
“Sudah, Bu,” jawab Agus.
“Ya sudah, kamu boleh pulang sekarang, gerbangnya biar saya yang kunci.”
“Baik, Bu. Saya pulang dulu,” pamit Agus.
“Hm,” jawab Bu Yuni dengan deheman.
Agus pun segera pulang. Ia memilih mampir ke sungai untuk membersihkan diri. Di sungai, ia bertemu dengan beberapa anak muda seusianya. Mereka sempat mengobrol sebentar, dan Agus memilih pulang lebih dulu. Saat perjalanan menuju rumahnya, langit mulai gelap, pertanda kalau hujan sebentar lagi akan turun. Agus memilih berlari agar lantai rumahnya tidak basah lagi oleh air hujan.
Dan benar saja, hujan langsung turun dengan deras.
Agus buru-buru mengambil ember dan meletakkannya di titik-titik atap rumahnya yang bocor. Kegiatan yang menyita waktu setiap kali hujan tiba. Agus masuk ke dalam kamar peninggalan kakek dan neneknya untuk memeriksa bagian atap yang bocor. Bau kayu lapuk dan debu tua memenuhi ruangan sempit itu. Saat pandangannya menyapu sekeliling, matanya tertumbuk pada lemari tua milik sang kakek yang pintunya sedikit terbuka. Agus mendekat. Ia berniat merapikan isi lemari itu agar bisa ditutup kembali. Namun, ketika tangannya bergerak menyingkirkan tumpukan kain lusuh, pandangannya tiba-tiba terpaku pada benda yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada kilauan samar dari balik celah lemari reot itu.
“Apa ini?” gumam Agus lirih.
Kilauan berwarna biru itu berdenyut pelan, seakan hidup. Jantung Agus berdetak lebih cepat. Dengan ragu, ia menarik benda tersebut keluar. Ternyata sebuah kalung perak dengan liontin berukuran sedang berwarna biru tua. Permukaannya memantulkan cahaya.
“Apa mungkin ini punya kakek?” gumamnya heran. “Kenapa selama ini kakek tidak pernah memakainya, padahal bagus…”
Debu tebal menempel di liontin itu. Agus mengusapnya perlahan.
Tiba-tiba— Cahaya biru menyala terang. Kilatan itu memancar dan menyilaukan mata. Agus terkejut setengah mati. Tanpa sadar liontin itu terlempar ke lantai.
Klaaaaaaaaang!
Begitu menyentuh lantai, cahaya itu padam seketika. Ruangan kembali sunyi, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Dengan jantung masih berdebar kencang, Agus mendekat. Ia mengambil kembali kalung itu. Tidak ada cahaya atau kilauan aneh lagi yang terlihat. Kalung berliontin biru itu kini tampak seperti kalung biasa.
Namun, entah mengapa, ada dorongan kuat yang tak bisa dijelaskan merambat dalam dirinya untuk memakai kalung itu. Dan Agus pun memakainya.
“Aguuuus!” teriak suara dari luar mengalihkan fokusnya. Agus segera keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.
“Pak RT, ada apa, Pak, malam-malam begini datang? Hujan lagi,” ucap Agus saat melihat Pak RT sudah berdiri di depan teras rumahnya.
“Ini, Gus. Ada makanan sedikit dari saya dan Bu RT. Dimakan, ya,” ucapnya.
“Terima kasih banyak, Pak RT. Sudah repot-repot membawakan makanan untuk saya,” jawab Agus tak enak hati.
“Nggak repot kok, Gus. Kebetulan tadi ada acara di rumah,” jawab Pak RT.
Agus pun menerima plastik yang diberikan oleh Pak RT. “Sekali lagi, terima kasih ya, Pak,” ucapnya lagi.
“Sama-sama, Gus. Itu rumahmu bocor?” tanya Pak RT setelah melihat ada ember di dekat teras rumah Agus.
“Iya, Pak RT. Semuanya sudah bocor, tapi saya belum bisa memperbaikinya,” jawab Agus.
“Coba saya lihat ke dalam,” ucap Pak RT. Mereka pun masuk ke dalam rumah Agus. Setelah melihat beberapa titik bocor yang sangat banyak, Pak RT kembali berkata, “Saya akan coba ajukan bantuan untuk perbaikan rumah kamu, Gus. Kalau dibiarkan terus seperti ini, bisa roboh. Sangat bahaya untuk kamu.”
“Ya mau gimana lagi, Pak. Saya kerja hanya cukup untuk makan, belum bisa memperbaiki rumah,” jawab Agus jujur.
“Ya sudah, kamu tenang saja. Saya akan ajukan bantuan perbaikan rumah untuk tempat tinggalmu. Kalau begitu saya pulang dulu, ya.”
Agus kebingungan dengan sikap baik Pak RT. Biasanya Pak RT tak pernah peduli padanya, tapi tiba-tiba saja menjadi baik dan perhatian pada rumahnya bahkan membawakan makanan yang banyak. Namun, Agus mengangguk, “Baik, Pak RT. Tolong sampaikan terima kasih saya untuk makanannya kepada Bu RT,” balas Agus saat mengantarkan Pak RT sampai di teras rumahnya.
“Ok, Gus. Oh ya, besok pulang kerja tolong bantu saya bersihkan taman depan rumah ya, rumputnya sudah panjang semua. Nanti saya kasih uang rokok,” ucap Pak RT lagi.
“Baik, Pak, tapi setelah saya pulang kerja ya, Pak,” jawab Agus.
“Ok, Gus. Kita bisa kerjakan malam hari,” sahut Pak RT.
Agus pun mengangguk. Setelah Pak RT pulang, Agus membuka plastik yang berisi makanan dari Pak RT. Cacingnya sudah ribut di dalam.
“Wah, banyak sekali makanannya. Jarang-jarang aku makan enak kayak gini,” ucapnya pada diri sendiri. Setelah menyisihkan makanan untuk ia santap besok pagi, Agus segera mengisi perutnya yang sudah keroncongan itu.
Ting!
Ponsel jadulnya berdering pendek, menandakan ada pesan yang masuk. Agus buru-buru melihatnya.
“Gus, tolong ke rumah saya sebentar. Saya takut sendirian hujan-hujan begini. Suami saya sedang di luar kota. Sekalian kamu pijetin saya, ya.”
Mata Agus membesar membaca pesan dari Bu Yuni, bosnya di tempat kerja.
Note Author: Buku ini hanya untuk pembaca DEWASA ya.