

Hujan deras mengguyur gerbang Hotel Royal Zenith di Kota Arkadia, tapi Rian tidak bergerak satu inci pun. Matanya terpaku pada pintu mobil sport merah menyala yang baru saja berhenti di depan lobi.
Di sana, wanita yang ia cintai, Siska, sedang tertawa renyah. Tangan Siska melingkar manja di lengan seorang pria yang lebih tua darinya, berperut buncit dan mengenakan setelan jas sutra mengkilap.
"Sayang, pelan-pelan..." suara manja Siska terdengar jelas di telinga Rian, menusuk lebih tajam dari sembilu.
Darah Rian mendesir naik ke kepala. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang basah kuyup, ia menerobos masuk ke area lobi mewah itu.
"Siska!"
Teriakan itu membuat tawa Siska terhenti seketika. Wanita itu menoleh. Saat melihat Rian yang berdiri dengan seragam office boy dan celana bahan lusuh yang basah, wajah cantiknya langsung berubah. Bukan takut, melainkan jijik.
"Rian?" Siska mendengus kasar. Ia bahkan tidak melepaskan rangkulannya dari pria tua itu. "Ngapain kamu ke sini? Nguntit aku?"
"Nguntit?" Suara Rian bergetar menahan amarah. Ia mencengkeram kotak beludru kecil di saku celananya.
Hatinya perih mengingat perjuangannya mendapatkan kotak kecil ini.
Rian ingat betul, seminggu lalu ibunya menangis karena Debt Collector menggedor pintu rumah susun mereka, menagih cicilan utang mendiang ayahnya yang menumpuk. Tapi Rian, dengan bodohnya, justru menyembunyikan uang tabungan terakhirnya. Ia tidak memberikannya pada ibunya. Ia malah nekat pergi ke toko emas untuk membeli cincin ini.
Di benak Rian yang naif, Siska adalah masa depannya. Jika ia bisa melamar Siska, mereka akan berjuang bersama dan utang itu pasti bisa lunas nanti. Siska adalah prioritasnya, bahkan di atas ibunya sendiri.
"Hari ini anniversary kita yang kelima, Siska! Aku datang mau melamar kamu,” kata Rian.
Hening sejenak. Lalu, ledakan tawa terdengar.
Bukan dari Siska, tapi dari pria buncit di sampingnya. Pria itu tertawa sampai lemak di lehernya berguncang.
"Melamar?" Pria itu menatap Rian dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan, seolah melihat kotoran anjing di karpet mahal. "Hei, Nak. Kamu mau kasih makan apa wanita sekelas Siska? Cinta? Cinta nggak bisa buat bayar cicilan apartemen!"
"Diam Anda!" bentak Rian. Ia kemudian menatap Siska tajam, berharap ada sedikit rasa bersalah di mata wanita itu. "Siska, bilang sama aku. Siapa pria tua ini? Kita sudah lima tahun pacaran, Siska!"
PLAAK!
Wajah Rian tertoleh ke samping. Pipi kirinya terasa panas dan perih. Siska baru saja menamparnya di depan puluhan tamu hotel dan staf yang menonton.
"Jaga mulutmu, Rian!" Siska berteriak, matanya melotot tajam. "Namanya Reyhan. Dia pemilik perusahaan tempatku kerja. Dan asal kamu tahu, dia bisa memberiku dalam satu malam apa yang nggak bisa kamu kasih selama lima tahun!"
Siska mengangkat tangan kirinya. Sebuah gelang emas bertahtakan berlian berkilau di sana.
"Dan bukan cuma soal uang, Rian," lanjut Siska dengan nada berbisik namun tajam, sengaja agar Rian makin hancur. "Kamu itu membosankan. Ciumanmu hambar. Sentuhanmu kaku. Selama lima tahun, aku nggak pernah merasa puas sama kamu. Kamu itu... payah. Loyo.”
Reyhan terkekeh, merangkul pinggang Siska makin erat. "Dengar itu, Nak? Siska butuh pria jantan yang bisa bikin dia teriak semalaman. Bukan bocah ingusan yang cuma bisa pegangan tangan kayak kamu."
Wajah Rian memerah padam. Hinaannya bukan lagi soal harta, tapi menyerang kejantanannya sebagai laki-laki.
"Siska... tega kamu..."
"Kenyataan memang pahit," potong Siska.
Rian terdiam, tangannya gemetar hebat. Ia perlahan mengeluarkan kotak cincin yang sudah ia siapkan. Kotak itu basah dan sedikit penyok.
"Aku... mengabaikan tagihan utang Ibu demi beli ini..." Rian membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Sebuah cincin emas sederhana dengan batu giok kecil terlihat di sana. "Aku pikir kamu layak diperjuangkan, Siska."
Siska melirik cincin itu sekilas, lalu tertawa sinis.
"Giok? Emas berapa gram itu? Kecil sekali!” Siska menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa ragu, ia menepis tangan Rian keras-keras.
Kotak cincin itu terlempar, jatuh menggelinding di lantai marmer dan berhenti tepat di dekat kaki seorang pelayan yang menunduk takut.
"Sampah!" caci Siska. "Sadar diri dong, Rian! Kamu itu miskin! Tinggal di rumah susun, motor butut, makan aja senin-kamis. Mau ngajak aku hidup susah? Maaf ya, aku bukan wanita bodoh yang mau diajak makan nasi kecap demi cinta!"
"Siska..." dada Rian sesak, seolah dihimpit beton. "Uang bisa dicari..."
"Kapan?!" potong Siska cepat. "Kapan kamu kayanya? Keburu aku tua! Sudahlah. Mulai detik ini, kita putus. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku jijik lihat tampang melas kamu."
Reyhan tersenyum puas. Ia merogoh dompet kulit tebalnya, menarik beberapa lembar uang berwarna merah, lalu meremasnya menjadi bola kertas.
"Nih," Reyhan melempar uang itu tepat ke wajah Rian. "Buat ongkos balik ke kampungmu. Jangan ganggu mainan baruku lagi."
Mereka berdua berbalik, berjalan masuk ke lift VIP sambil tertawa-tawa, meninggalkan Rian yang berdiri kaku dengan harga diri yang hancur lebur.
Rian tidak memungut uang itu. Ia berjalan tertatih memungut cincinnya yang tergeletak di lantai, lalu berbalik keluar menembus hujan badai.
Dalam hati yang hancur, sebuah dendam tertanam dalam.
“Tunggu saja. Suatu hari nanti, kalian yang akan mengemis di kakiku.” Pria tampan namun sedikit kucel itu berkata dalam hati.
Dua jam kemudian.
Rian memacu motornya dalam keadaan setengah sadar menuju pinggiran Kota Arkadia. Pikirannya kosong. Hatinya masih terluka hebat.
Ia tidak akan sudi pergi ke tempat ini jika bukan karena perintah ibunya. Ibunya menyuruh Rian pergi ke rumah mendiang kakeknya di Sector Zero, sebuah area terlarang di kaki gunung yang sudah ditinggalkan penduduk, untuk mengambil dua buah guci yang tersisa untuk dijual.
Motornya berhenti di depan sebuah rumah kayu tua yang hampir roboh tertutup tanaman liar. Suasana di sini sunyi mencekam, jauh dari hingar-bingar lampu neon kota.
Rian mendobrak pintu depan yang lapuk. Bau apek dan debu tebal langsung menyergap.
Dengan penerangan senter ponsel yang baterainya tinggal 5%, Rian mencari guci itu. Dan ternyata guci itu tersimpan di area dapur.
Bentuknya sungguh sudah tidak menarik lagi. Debu tebal menyelimuti guci itu.
“Ini beneran bisa dijual?” tanya Rian sambil berkacak pinggang.
Saat Rian mengangkat salah satu guci itu untuk dibawa keluar, terdengar bunyi dari dalam guci.
Rian pun membalikkan guci dan jatuhlah benda seperti batu.
"Apa ini?" gumam Rian serak sambil mengambil batu itu.
Setelah diperhatikan, ternyata itu sebuah batu giok yang berwarna hitam pekat seukuran telur burung puyuh. Permukaannya kasar, tapi ada urat-urat merah yang seolah menyala redup di dalamnya.
"Sial, tajam sekali!"
Rian meringis. Bagian bawah batu itu ternyata bergerigi tajam, menggores telapak tangannya hingga robek. Darah segar mengucur deras, membasahi permukaan batu giok hitam itu.
Tiba-tiba, dengungan keras terdengar.
WUUUNG!
Rian terbelalak. Darahnya tidak menetes ke lantai, melainkan tersedot masuk ke dalam batu itu. Batu giok hitam itu mendadak bersinar merah menyala, berdenyut seperti jantung yang hidup.
"A-apa?!"
Rian mencoba melepaskan batu itu, tapi benda itu menempel erat di kulitnya seperti lintah yang kelaparan.
"ARGHHH!" Jeritan Rian memecah kesunyian malam.
Rasa panas yang luar biasa meledak dari telapak tangannya. Rasanya seperti ada timah cair yang disuntikkan paksa ke dalam pembuluh darahnya. Panas itu menjalar cepat, membakar lengan, bahu, hingga menghantam jantungnya dengan kekuatan brutal.
Rian jatuh berlutut, tubuhnya kejang-kejang hebat. Keringat dingin bercampur air hujan membasahi lantai kayu.
Samar-samar, di tengah rasa sakit yang merenggut kesadarannya, ia mendengar suara bisikan purba yang bergema langsung di dalam tengkorak kepalanya:
"Segel darah terbuka... Pewaris Dewa Pengobatan dan Penakluk Yin telah bangkit."
Pandangan Rian gelap total. Tubuhnya ambruk tak berdaya di lantai berdebu, sementara batu giok itu perlahan meleleh, meresap masuk, dan menyatu sepenuhnya dengan daging dan tulangnya.