

Di dasar lubang reruntuhan sedalam tiga meter itu, Bramantya Sena terbatuk keras. Setiap guncangan di dadanya mengirimkan rasa sakit yang menusuk hingga ke ubun-ubun. Dia mencoba merangkak, jemarinya mencakar lumpur pekat, berusaha mencari pegangan.
"Masih gerak dia?" suara berat terdengar dari atas, menembus deru hujan.
Sena mendongak dengan pandangan kabur. Di bibir lubang, diterangi kilatan petir, berdiri dua sosok. Baron dan Tigor, anak buah Gantara.
"Ulet juga nyawanya buat ukuran tikus got," sahut Tigor sambil menghisap rokok yang nyaris mati karena air. "Lemparin batu aja, Ron. Beres."
Baron meludahi lubang itu. "Tanggung. Bang Gantara bilang pastikan dia mampus. Kalau cuma dilempar batu, bisa jadi dia cuma pingsan. Gua turun."
Jantung Sena berdegup kencang. Baron akan turun.
Baron melompat turun, mendarat dengan dentuman berat di atas gundukan tanah lunak, dua meter dari tempat Sena terkapar. Kaki tangan Gantar itu menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. Dia meremas kepalan tangannya hingga terdengar bunyi tulang beradu.
"Ayo, Sen," geram Baron, melangkah mendekat. "Jangan bikin gua susah. Langsung aja, lu otewe ketemu Malaikat Maut.”
Sena gemetar.
Dia gemetar karena amarah yang tiba-tiba membakar rasa takutnya.
Kenapa? Kenapa aku harus mati cuma karena kurang setoran lima belas ribu?
Sena meraba lumpur di sampingnya. Tangannya menggenggam sebatang besi beton bekas yang berkarat.
"Jangan mendekat!" teriak Sena, suaranya parau.
Baron tertawa. "Oho? Mau hidup ternyata."
Saat Baron menerjang, Sena mengayunkan besi itu sekuat tenaga. Dia membidik kepala. Tapi Sena hanyalah kuli yang kelaparan, sementara Baron adalah petarung jalanan yang kenyang makan daging.
Baron menangkap pergelangan tangan Sena dengan mudah, seolah menahan tangan anak kecil.
"Lemah," desis Baron.
BUAGH!
Sebuah pukulan telak mendarat di ulu hati Sena. Dia tersedak. Besi di tangannya terlepas. Napasnya hilang seketika. Tubuhnya terlipat karena sakit, jatuh berlutut di depan Baron.
"Ampun ..." bisik Sena, air mata keluar dari sudut matanya. "Saya janji ... besok saya bayar, Bang ..."
"Besok?" Baron menjambak rambut Sena, memaksa wajah pemuda itu mendongak menatap hujan. "Nggak ada besok buat orang miskin pembangkang."
Dugh!
Lutut Baron menghantam wajah Sena. Hidung Sena patah seketika. Darah segar menyembur, hangat dan asin di mulutnya. Sena terlempar ke belakang, punggungnya menabrak dinding tanah yang keras. Pandangannya menggelap.
Baron tidak berhenti. Dia maju lagi, menendang perut Sena berkali-kali. Setiap tendangan meremukkan sesuatu di dalam sana. Menghancurkan rusuk, ginjal dan harga diri.
Sena meringkuk seperti udang, melindungi kepalanya dengan tangan yang kian lemah.
Dia tidak bisa melawan.
Dia sudah kalah.
"Udah, Ron! Dia udah mati kayaknya!" teriak Tigor dari atas.
Baron berhenti, napasnya sedikit memburu. Dia menatap tubuh Sena yang kini diam tak bergerak di kubangan lumpur. Wajahnya hancur, bengkak, dan penuh darah.
"Sial. Ngotorin sepatu gua aja," gerutu Baron. Dia berbalik badan, bersiap memanjat keluar. "Selamat tidur, Tikus."
Sena ditinggalkan sendirian dalam sekarat.
Maaf, Bu. Sena menyusul.
Kepala Sena terkulai miring di atas lumpur. Darah deras mengalir dari hidung dan mulutnya yang sobek, menetes ke tanah.
Tes ... tes ... tes ...
Tepat di bawah wajahnya, tersembunyi setengah terkubur di dalam lumpur, ada sebuah benda keras. Sebuah batu hitam legam seukuran kepalan tangan bayi, dengan ukiran spiral kuno yang samar. Darah Sena menetes tepat ke pusat ukiran spiral itu.
Ssshh ...
Terdengar suara mendesis pelan.
Batu itu bereaksi. Ukiran spiral yang tadinya mati mendadak menyala dengan cahaya merah gelap. Darah Sena diserap, diminum dengan rakus oleh pori-pori batu tersebut.
Sena, yang nyaris pingsan, merasakan tanah di bawah pipinya menjadi panas. Dia membuka matanya yang bengkak sedikit dan melihat batu itu berdenyut, seperti jantung.
Dan kemudian, batu itu meleleh.
Benda padat itu mencair menjadi cairan hitam pekat yang kental seperti aspal hidup. Cairan itu bergerak melawan gravitasi, merayap naik ke pipi Sena, masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya yang terbuka.
Sena ingin batuk, ingin memuntahkannya, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melakukannya. Cairan itu memaksa masuk ke tenggorokan, membakar kerongkongannya, melesat turun menembus daging, langsung menuju jantungnya.
Sena mengejang.
Sebuah suara meledak di dalam kepalanya. Bukan suara pikirannya sendiri. Suara itu berat, purba, dan penuh ejekan.
"Lemah sekali. Apakah ini inang yang kau berikan padaku, Takdir? Seorang pecundang yang mati dipukuli di lubang?"
Sena membelalak. Matanya yang tadinya redup kini bergetar hebat. Jantungnya yang nyaris berhenti mendadak dipacu paksa.
"Siapa ..." batin Sena menjerit ketakutan.
"Namaku Adigana," jawab suara itu, menggema di setiap saraf Sena. "Dan kau baru saja membangunkanku dengan darahmu yang menyedihkan itu. Bangun atau aku akan memakan jiwamu sekalian."
Tiba-tiba Sena merasakan sakit yang luar biasa. Tulang hidungnya yang patah bergeser kembali.. Rusuknya yang remuk menyambung sendiri. Otot-ototnya memadat, dipompa oleh energi hitam dari Ragapatha, jimat terkutuk yang kini bersarang di jantungnya.
Di belakang Sena, Baron yang baru melangkah tiga meter mendadak berhenti. Dia mendengar suara gemeretak tulang.
"Hah?" Baron menoleh.
Apa yang dilihatnya membuatnya membeku. Mayat itu bangkit.
Sena berdiri perlahan. Gerakannya walau kaku, tapi stabil. Dia menunduk, bahunya naik turun. Hujan membasuh lumpur dari wajahnya, memperlihatkan luka-lukanya yang menutup dengan kecepatan mata telanjang.
"Masih hidup?" Baron mendengus, meski ada getar keraguan di suaranya. Dia mencabut Belati dari sakunya. "Dasar kepala batu. Perlu gua potong urat nadi lu kayaknya."
Sena mengangkat wajahnya.
Baron tersentak mundur selangkah. Mata pemuda itu tidak ada putihnya. Hitam pekat, dengan titik merah kecil di tengah pupil yang menatap Baron dengan rasa lapar.
"Dia mau menusukmu, Tuan," bisik Adigana di kepala Sena. "Tadi kau kalah karena bertarung seperti manusia. Sekarang, tunjukkan padanya cara bertarung iblis."
Sena menyeringai. Gigi-giginya yang tadi rontok kini tumbuh kembali, terasa tajam di lidahnya.
"Mati kau!" Baron menerjang dengan Belati terhunus, mengincar perut.
Sena tidak menghindar. Dia menangkap Belati yang sudah menyentuh kulitnya itu. Bukan pergelangan tangannya, tapi bilah Belatinya langsung dengan telapak tangan telanjang.
"Hah?!" mata Baron melotot.
Bilah tajam itu tidak melukai kulit Sena. Kulitnya sekeras baja. Sena meremas pisau itu hingga bengkok dan patah.
"Hancurkan," perintah Adigana.
Sena melepaskan patahan Belati, lalu dengan gerakan yang tak terlihat oleh mata Baron, dia mencengkeram wajah preman itu. Jari-jari Sena menutupi muka Baron, menekan tengkoraknya.
"Tadi ... Lu pukul gua di sini?" tanya Sena pelan.
"Le-Lepas … ARGH!"
Sena membenturkan kepala Baron ke dinding tanah.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tanah bergetar. Darah Baron muncrat ke wajah Sena, tapi dia tidak berkedip. Dia justru menjilat cipratan darah di bibirnya.
Baron jatuh terduduk, lemas, matanya terbalik ke atas.
"Jangan berhenti. Ambil hakmu, Tuan," hasut Adigana.
Sena menatap leher Baron yang terbuka. Insting barunya mengambil alih. Dia tidak memukul lagi. Dia mencengkeram leher itu, dan dengan satu sentakan dingin...
KRETEK.
Leher Baron patah. Napasnya berhenti seketika.
Sena melepaskan mayat itu. Baron jatuh ke lumpur, mati dengan ekspresi horor abadi.
Sena berdiri terengah-engah. Dia menatap tangannya yang berlumuran darah. "Aku ... membunuhnya?"
"Bukan membunuh. Itu namanya memanen," koreksi Adigana.
Sring!
Suara berdenting halus memecah suara hujan.
Mata Sena membelalak tak percaya. Mayat Baron mulai bersinar. Cahaya keemasan keluar dari saku celana mayat itu, dari jari manisnya, dan dari saku jaketnya.
Dompet kulit tebal, cincin kawin emas dan belati cadangan.
Benda-benda itu terurai menjadi partikel cahaya, melayang naik, lalu menyusup masuk ke dalam dada Sena. Rasanya hangat, nikmat, dan memabukkan.
Bersamaan dengan itu, tubuh Baron mengering. Kulitnya menyusut, dagingnya menguap. Dalam hitungan detik, preman gempal itu berubah menjadi mumi kering kerontang.
Sebuah layar merah transparan muncul di pandangan Sena.
[JARAHAN BERHASIL]
• Target: Baron (Manusia - Level 2)
• Status: Mati
• Diperoleh:
-[Uang Tunai: Rp 350.000]
-[Cincin Emas 2 Gram]
-Energi Kehidupan: Diserap
Sena tertawa. Tawa yang awalnya bingung, lalu berubah menjadi tawa lepas yang mengerikan di tengah hujan badai. Dia baru saja dihajar hampir sampai mati karena uang lima belas ribu, dan sekarang ... dia mendapatkan ratusan ribu hanya dengan satu sentuhan.
Dia mendongak ke atas lubang. Di sana, Tigor masih berdiri mematung, wajahnya pucat pasi melihat temannya berubah jadi mumi.
Sena menyeringai pada Tigor.