

Perkenalkan Namaku Rama Andraseno. Usiaku saat ini kira-kira 18 tahun kalau tidak salah ingat. Aku tinggal di salah satu desa terpencil yang bernama Lemah Luhur. Desa yang sangat jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Mungkin karena letak geografis desa tempatku tinggal yang dikelilingi oleh hutan dan pegunungan. Akses menuju desaku juga lumayan sulit, dan hanya kendaraan tertentu yang memiliki kemampuan untuk menerobos akses jalan menuju desa. Para penduduk di desa ini kebanyakan berprofesi sebagai petani dengan keadaan ekonomi yang bisa dibilang dibawah garis kemiskinan. Hanya beberapa dari penduduk desa yang memiliki kehidupan ekonomi yang bisa dibilang layak dan sejahtera. Selain itu, tingkat pendidikan para penduduk juga terbilang rendah. Yah, karena memang sulitnya akses bagi mereka untuk mendapat pendidikan yang layak. Hanya segelintir orang yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan pendidikan yang baik, itupun harus ditebus dengan harga yang terbilang sangat mahal.
Tentu karena hal itulah yang menyebabkan para penduduk hanya bisa menyekolahkan anaknya sebatas pendidikan dasar saja. Yang penting bisa baca tulis. Termasuk diriku sendiri, yang hanya mampu mengenyam pendidikan tingkat dasar saja.
Apalagi, aku hanya anak yatim piatu miskin yang diasuh oleh kakekku yang beberapa bulan lalu juga baru saja meninggalkan diriku. Sebenarnya di desa ini banyak kerabatku, tapi karena kehidupan mereka juga sulit jadi ya harus mengandalkan diriku sendiri untuk bertahan hidup.
Aku hidup dengan bekerja serabutan dengan membantu para penduduk di kebun dan ladang mereka, jika membutuhkan.tenagaku. Walaupun upahnya hanya sedikit hasil dari kebun dan ladang mereka, itu sudah cukup untukku bertahan hidup.
Entah mengapa hanya keluargaku saja yang tidak memiliki kebun dan ladang di desa ini. Kalau berdasarkan penuturan beberapa sesepuh desa, hal itu lantaran kakekku bekerja sebagai tabib desa. Dia menghidupiku dengan keahliannya meracik dan meramu tanaman obat yang dia dapatkan di hutan larangan yang ada di selatan desa.
Sebelum meninggal, kedua orang tuaku juga mengikuti jejak kakek sebagai tabib desa. Tapi nasib berkata lain, Keduanya meninggal di serang binatang buas saat sedang mencari tanaman obat di hutan larangan yang kusebutkan tadi.
Padahal kemampuan dan keahlian kedua orang tuaku sebagai tabib jauh lebih baik dari kakek, terutama bapakku. Banyak yang bilang kalau almarhum bapakku bukan asli dari desa ini. Dia orang luar yang entah bagaimana datang mengabdikan dirinya di desa ini sebagai tabib hingga akhirnya jatuh cinta pada ibuku.
Pemerintah Kabupaten sebenarnya sudah beberapa kali mencoba mendirikan semacam klinik pembantu di desa ini, tapi hal itu tak pernah bertahan lama. Bukan karena para dokter tidak mau mengabdikan diri di desa ini, akan tetapi lebih kepada stok obat-obatan yang sulit didapatkan karena akses jalan yang sulit menuju desa.
Karena hal itulah para dokter yang ditugaskan di klinik itu juga akhirnya lebih menggunakan obat-obatan herbal yang jauh lebih mudah didapatkan. Mungkin karena hal itu, dengan berbagai pertimbangan klinik pemerintah di tutup secara permanen.
Para penduduk di desa ini juga masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan mistis yang di turunkan dari para leluhur. Yah cocok dengan kondisi desa yang dikelilingi hutan lebat serta pegunungan.
Salah satu adat yang masih di pegang teguh oleh masyarakat desa kami salah satunya yaitu menghargai tradisi yang diwariskan oleh leluhur. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga nilai-nilai kebaikan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut cerita para sesepuh desa, tradisi ini berasal dari kearifan lokal yang telah ada turun-temurun. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap anggota masyarakat hidup selaras dengan alam dan saling menghormati satu sama lain.
Salah satu aspek dari tradisi ini adalah upacara adat yang dilakukan di aula punden leluhur. Upacara ini biasanya melibatkan seluruh warga desa sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu dan memohon restu untuk kehidupan yang lebih baik.
Punden para leluhur ini terletak di sudut utara desa, yang letaknya terpisah cukup jauh. Tempat ini dianggap sakral dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat. Setiap upacara adat di sana menjadi momen penting untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga. pada malam hari setelah akad nikah, baru esok harinya melangsungkan resepsi pernikahan.
Para penduduk percaya, persembahan darah suci perawan itu akan mendatangkan keberkahan bagi pasangan tersebut nantinya. Namun, bagi mereka yang menolak akan mendapatkan kesialan dan malapetaka.
Kebetulan, aku mendapat pekerjaan dari para sesepuh desa sebagai juru kunci punden leluhur. Tugasku membersihkan tempat ritual persembahan, selain itu aku lah yang akan menjaga dan memastikan ritual itu berjalan lancar.
Dari tugas itu aku mendapat sedikit upah, walaupun tak banyak. Lumayan buat sekedar beli rokok dan kopi, kalu untuk makan aku dapatkan dari tugasku membantu penduduk di ladang.
Selain membersihkan punden leluhur setiap pagi, jika ada pasangan yang menikah aku harus mempersiapkan segala hal yang Menyangkut ritual persembahan itu. Dan yang memberatkanku adalah, aku harus berada di samping mereka saat melakukan hubungan, sampai benar - benar di pastikan darah suci perawan tercurahkan dari hubungan mereka.
Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jadi diriku yang harus menahan jiwa lelakiku selama pertunjukan live didepan mataku. Dari semua tugas yang harus aku emban itulah yang terberat. Hari ini aku tak memiliki pekerjaan, jadi aku habiskan waktu berlama - lama di punden leluhur setelah sejak pagi aku membersihkannya. Salah satu sesepuh desa datang menghampiriku , sepertinya dia baru pulang dari ladang.
"Wah, Jadi tambah bersih tempat ini setelah kamu yang jadi kuncen ya Ram." Ucapnya saat dia tiba-tiba ikut duduk di kursi bambu panjang tempatku duduk saat ini.
"Sudah jadi tugas saya Bah, Oh iya abah.
mau kopi?" Aku menawarinya segelas kopi yang memang sengaja aku bawa dari rumah.
"Waduh, boleh Ram boleh." Jawabnya ramah.
Aku langsung menyeduhkan segelas kopi untuknya. Tak lupa aku keluarkan sebungkus rokok untuk menemani kami menikmati kopi tersebut.
"Gimana Bah hasil kebunnya?" Tanyaku basa-basi.
"Lumayan bagus Ram, mungkin beberapa hari lagi sudah bisa di panen, nanti pas panen kamu bantu-bantu ya." Jawabnya.
"Pasti Bah, nanti saya pasti bantuin."
"Oh iya, gini Ram sekalian mumpung ketemu, dua hari lagi kan Juragan Majid kan nikahin anaknya, nanti kamu siapin semuanya untuk ritual di sini, sudah tahu kan apa saja yang dibutuhkan?"
"Sudah semua sudah saya siapkan kok, Abah tenang saja." Jawabku.
"Seharusnya si Karto itu yang ngajarin dan bimbing kamu jadi kuncen, tapi ya tahu sendiri, tiba-tiba saja dia meninggal begitu." Ucapnya lirih.
Karto adalah juru kunci Punden Leluhur sebelum diriku. Entah kenapa dia tiba-tiba meninggal tanpa sebab, jadi tugasnya kini menjadi tanggung jawabku. Para sesepuh memilihku menggantikannya karena melihat diriku yang tidak memiliki pekerjaan tetap di desa ini. Yah, aku anggap itu sebagai sebuah kebaikan, karena telah memberiku pekerjaan walaupun Cuma jadi juru kunci tempat ini.
"Ya sudah, saya pamit dulu sudah siang, terima kasih kopinya ya." Setelah ngobrol panjang lebar, sesepuh itu pun berpamitan.
"Huh, beruntung banget tuh si Rahmad." Aku menggerutu sendiri sepeninggal sesepuh desa.
Rahmad adalah nama dari anak pertama Juragan Majid yang rencananya akan menikah seperti yang dibicarakan oleh
sesepuh desa tadi. Dia akan menikahi salah satu gadis cantik di desa, namanya Astri Kemala.
Usia Astri mungkin terpaut dua tahun di atasku. Berbanding terbalik dengan calon suaminya, yang jika ku taksir usianya di atas 25 tahunan. Kalau mereka di sandingkan ibarat beauty and the beast, yang satu cantik sedangkan satunya acak-acakan.
Tentu saja mereka bisa menikah karena paksaan keluarga. Juragan Majid termasuk golongan para juragan di desa. Memang seburuk apapun tampang seorang laki-laki kalau punya duit mah, mau wanita model bagaimana juga pasti dapet.
Dibandingkan diriku, walaupun wajahku bisa di bilang yang tertampan di desa ini kalau ga punya duit ya sama aja. Memang kebanyakan penduduk disini lebih memandang status ekonomi seseorang dari pada tampilan fisik. Wajar sih, karena perut ga bakal bisa kenyang kalau hanya mengandalkan ketampanan.
Sebenarnya aku sangat enggan berurusan dengan Astri. Walaupun cantik, tapi dia sangat galak. Apalagi terhadapku, aku pun sampai saat ini belum mengerti kenapa dia seolah membenciku.
Waktu kecil aku pernah dipukuli beberapa kali oleh cewek barbar ini. Yang lebih parah, Dia pernah memasukan sebuah timun kedalam lubang anusku karena ketahuan mencuri di kebun timun milik orang tuanya. Sedikit banyak, perlakuan Astri kepadaku waktu kecil masih membekas dalam ingatanku sampai saat ini.