

Bab 01. Keluarga Bagaskara.
Malam merangkak pelan di atas Kota Ardapura, membawa kesunyian yang menyelimuti setiap sudut jalanan, setiap atap rumah, setiap hembusan angin yang merambat di antara pepohonan tua. Seharusnya malam ini menjadi pengantar tidur yang damai, namun tidak bagi sebuah vila megah yang berdiri di ujung kota, tempat di mana suara desahan rendah merobek kesunyian seperti pisau membelah sutra.
Mendengar suara itu, membuat Argana Bagaskara terbangun. Bocah lima tahun itu mengerjapkan matanya di dalam gelap, mengusap wajahnya yang masih basah oleh sisa-sisa mimpi.
Suara desahan itu datang lagi keras.
Sesuatu di dalam diri Argana Bagaskara yang belum ia pahami membisikkan kegelisahan. Rasa ingin tahu yang belum terbentuk oleh logika, hanya oleh naluri kekanak-kanakan yang murni.
Ia beranjak dari ranjangnya, kaki mungilnya menyentuh lantai dingin. Pintu kamarnya terbuka tanpa suara, dan ia melangkah mengikuti arah suara erangan yang semakin jelas terdengar, seperti anak yang tertarik pada cahaya lilin di kegelapan, tanpa tahu bahwa api bisa membakar.
Suara itu berasal dari kamar kakeknya. Danu Bagaskara. Seorang lelaki tua yang menolak menua oleh waktu. Tujuh puluh lima tahun usianya, namun tubuhnya masih menyimpan kekuatan seorang pria di puncak kejayaan. Vitalitasnya bukan sekadar legenda keluarga, ia adalah bukti hidup dari obsesi terhadap kekuatan, terhadap kontrol, terhadap segala hal yang bisa dikuasai oleh kehendak manusia.
Di bawahnya, terbaring Dwita Hartono, istri keduanya, seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun, yang wajahnya selalu menyimpan senyuman patuh dan mata yang tidak pernah berani menatap terlalu lama. Namun kini penuh dengan gairah seksual, kedua kakinya yang ramping memeluk pinggang suaminya yang sedang bergoyang dengan kasar, namun kekasaran itu membuatnya semakin nikmat.
Tubuh ramping Dwita Hartono melengkung ketika akan mencapai puncak kenikmatan duniawi. Namun, tiba-tiba Danu Bagaskara menghentikan goyangannya, karena tidak ingin istri terburu terpuaskan.
Ekspresi wajah wanita menggairahkan itu berubah menjadi kesal. "Kenapa berhenti? Ayolah Sayang... aku mau keluar nih," protesnya manja.
Danu Bagaskara tertawa puas melihat rengekan istrinya. Ia langsung menuruti kemauannya dengan kembali bergoyang lebih keras.
Sementara itu, Argana berdiri di depan pintu itu. Tangannya yang kecil mendorong pelan. Pintu tidak terkunci. Ia tidak tahu bahwa beberapa pintu memang sengaja dibiarkan terbuka, bukan karena kelalaian, tetapi karena arogansi, atau sebuah pernyataan bahwa tidak ada yang berani mengganggu.
Celah pintu melebar. Cahaya temaram dari dalam kamar menyusup keluar, dan Argana melihat. Ia melihat kakeknya di atas tubuh neneknya, tubuh-tubuh yang bergerak dalam irama yang aneh, suara-suara erangan neneknya yang terdengar seperti kesakitan namun bukan jeritan, ekspresi wajah yang terdistorsi namun bukan penderitaan... wajah yang kenikmatan.
Argana tidak mengerti. Otaknya yang masih polos mencoba menyusun gambaran-gambaran itu, namun gagal. Yang ia tahu hanya satu: neneknya terlihat kesakitan, tetapi ia malah meminta lebih.
Namun, sebelum wanita itu mencapai puncak kenikmatan duniawi, tiba-tiba suara anak kecil datang mengganggu.
"Kakek."
Suara itu keluar dari mulut Argana tanpa ia sadari, sebuah panggilan polos, tanpa dosa, tanpa niat jahat.
Namun dunia seolah-olah berhenti bagi Danu dan Dwita:
Danu Bagaskara membeku. Dwita Hartono tersentak, matanya membulat dalam kepanikan. Keduanya terpisah dengan tergesa, seperti dua orang yang tertangkap basah melakukan kejahatan.
Dwita meraih selimut dan membungkus tubuhnya yang telanjang, wajahnya pucat, napasnya tersengal. Danu bangkit dari ranjang, menarik celananya dengan gerakan kasar, lalu melangkah menuju cucunya dengan wajah yang berubah menjadi topeng kemarahan.
"Arga," ucapnya, dengan suaranya rendah namun tajam seperti ujung tombak. "Kenapa belum tidur?"
Argana mundur selangkah. Ia merasakan sesuatu yang asing, sesuatu yang ia kenali sebagai ketakutan, namun belum bisa ia namai. Ia menggelengkan kepalanya, bibir kecilnya bergetar, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Dwita bangkit dari ranjang, selimut melilit tubuhnya seperti jubah darurat. Ia mendekati suaminya dengan langkah cemas, tangannya menyentuh lengan Danu dengan lembut. "Sabar, Sayang," bisiknya. "Dia masih kecil. Dia tidak tahu apa-apa."
Namun kemarahan bukan sesuatu yang mudah dipadamkan, terutama ketika ia lahir bukan dari rasa sakit, tetapi dari harga diri yang terluka, emosi yang lahir ketika kenikmatannya terhenti.
Danu Bagaskara menarik napas panjang, matanya menyipit menatap cucunya. Kemudian, ia berbicara pelan, dingin, seperti putusan hakim. "Mulai besok," katanya, "kau ikut Kakek ke Gunung Pancasona."
Keheningan yang muncul setelahnya lebih mencekam daripada suara apapun.
Dwita tersentak. "Sayang, jangan! Dia masih terlalu kecil. Gunung itu berbahaya. Dia bisa—"
"Diam!" Suara Danu memotong seperti pisau. "Keputusanku sudah bulat."
Keributan itu tidak bisa dibendung lagi.
Suara-suara keras membangunkan Jaka Bagaskara dan Elena Ivanova, orang tua Argana yang kamarnya berada di sayap villa sebelah. Mereka datang dengan wajah bingung, masih setengah tertidur, namun kebingungan itu segera berubah menjadi kengerian ketika mendengar keputusan Danu.
"Papa, apa maksudnya ini?" Jaka bersuara ketika baru masuk ke kamar Danu Bagaskara, matanya menatap ayahnya dengan campuran tidak percaya dan kekhawatiran. "Argana masih lima tahun. Pelatihan di Gunung Pancasona itu untuk orang dewasa di atas tujuh belas tahun. Apa salahnya sampai harus dihukum seberat ini?"
Danu menatap putranya dengan tatapan yang tidak memberi ruang untuk debat. "Dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat. Dia melanggar privasi. Karena itu, dia harus belajar untuk menerima konsekuensinya."
Elena melangkah maju, wajahnya memerah menahan amarah. "Privasi?" ucapnya, suaranya bergetar namun tegas. "Dia anak kecil, Papa. Dia tidak tahu apa-apa! Dan Anda menyebutnya pelanggaran privasi? Ini tidak bijaksana. Ini tidak adil!"
Untuk sesaat, Danu tidak bergerak. Kemudian, tangannya terangkat, sebuah tindakan yang dilontarkan dengan kecepatan mengejutkan menuju pipi menantunya.
Namun tamparan itu tidak pernah sampai.
Jaka menangkap pergelangan tangan ayahnya di udara, genggamannya kuat namun penuh rasa hormat. "Papa," katanya pelan. "Jangan! Tidak di depan Argana!"
Danu menarik tangannya, matanya menyala. "Kau berani menentangku, Jaka?"
"Saya tidak menentang. Saya hanya meminta Papa berpikir ulang."
"Berpikir ulang?" Danu tertawa pendek yang terasa pahit, dan kemudian yang terlontar adalah ancaman. "Baik. Kalau begitu, dengar baik-baik. Kalau kau terus menentangku, aku hapus namamu dari warisan. Semua perusahaan yang kau kelola, semua fasilitas yang kau nikmati, semua rekening yang ada atas namamu,... aku tarik semuanya. Kau akan kembali menjadi tidak ada."
Hening di antara mereka.
Jaka Bagaskara merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya. Ia tahu ayahnya bukan orang yang main-main. Semua kekayaan yang ia miliki, semua kemewahan yang menyelimuti hidupnya, semuanya bukan miliknya. Ia hanya pengelola, bukan pemilik. Ia tidak pernah membangun, hanya menjaga apa yang sudah dibangun oleh Danu Bagaskara.
Napasnya keluar perlahan, berat, seperti napas terakhir sebelum menyerah. "Ya sudah," ucapnya akhirnya, suaranya hampa. "Argana boleh ikut Papa."
Elena menatap suaminya dengan mata yang penuh kekecewaan, kemarahan, dan kesedihan sekaligus. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena menahan teriakan yang ingin meledak. Ia ingin berteriak, ingin mengguncang suaminya, ingin bertanya mengapa ia begitu lemah, mengapa ia tidak bisa melindungi anaknya sendiri.
Namun ia tidak bisa melakukannya di sini. Tidak di depan Argana.
Ia berbalik, berlutut di depan putranya yang berdiri dengan wajah pucat, mata berkaca-kaca. Elena memeluk Argana erat, seolah pelukannya bisa melindunginya dari dunia yang kejam ini. "Dengar, sayang," bisiknya, suaranya bergetar. "Sebagai laki-laki, kau tidak boleh menangis. Kalau kau menangis, nanti digigit vampir."
Argana mengangguk patuh, meskipun air matanya masih mengalir. Ia tidak benar-benar mengerti tentang vampir, tapi katanya ibunya saat menemaninya tidur "vampir itu suka memakan anak-anak yang nakal". Cerita vampir itu membuatnya takut, membuatnya patuh.
"Kau harus patuh pada Kakek selama di gunung, ya?" lanjut Elena. "Jangan membantah. Jangan nakal. Jadilah anak yang baik!"
Argana mengangguk lagi, dengan ekspresi wajah yang polos, tanpa tahu bahwa janji itu akan membawanya pada jalan yang penuh penderitaan.
Elena tidak bisa menahan air matanya lebih lama. Ia bangkit, menggenggam tangan putranya, lalu membawanya kembali ke kamar. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Danu, Dwita, dan Jaka di koridor yang sunyi.
Danu Bagaskara tersenyum tipis, puas, namun tidak ada kehangatan di dalamnya. Ia mengangkat tangan agar putranya keluar.
Jaka Bagaskara menghela napas berat karena merasa tidak becus sebagai seorang pria, sebagai suami, dan tidak bisa membela putranya. Ia menutup pintu perlahan, dan mengikuti istrinya dengan wajahnya tertunduk, bahu bergetar menahan tangis yang tidak boleh keluar.
Di dalam kamarnya, Danu duduk di tepi ranjang. Dwita duduk di pangkuannya dengan maksud meredam emosinya, ia membelai dada suaminya yang berbulu.
"Sayang," bisik Dwita. "Apa yakin dengan keputusanmu ini?"
Danu tidak menjawab langsung. Ia menatap jendela, di mana malam masih membentang luas, tanpa bintang, tanpa bulan. "Aku tidak sedang menghukumnya," katanya, suaranya pelan namun tegas. "Aku sedang membangun masa depan cucuku."
Danu mengambil dokumen rahasia di atas nakas. Di dalam dokumen elektronik yang canggih itu terdapat sebuah layar holografik yang menyala redup, menampilkan deretan kode dan diagram yang rumit.
"Aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya," lanjut Danu. "Sebuah sistem kecerdasan buatan khusus. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapa pun di dunia ini."
Dwita menatapnya dengan bingung. "Sistem kecerdasan buatan?"
"Ya." Danu tersenyum, kali ini ada sedikit kehangatan, namun tetap terselip ambisi yang membara. "Aku akan menjadikan Argana pria yang lebih hebat dariku. Lebih kuat. Lebih cerdas. Lebih berkuasa. Dia akan mengalahkan semua rival bisnisku. Dia akan menjadi pewaris sejati Keluarga Bagaskara."
Ia menatap dokumen elektronik itu sebentar lagi, kemudian menutup dokumen. "Dan untuk itu," bisiknya pada kegelapan, "dia harus diajari tentang kekuatan. Tentang ketahanan. Tentang bagaimana dunia ini bekerja."
Dwita tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap suaminya dengan tatapan yang sulit dibaca, antara kagum dan takut.
Di kamar seberang, Argana terbaring di ranjangnya, menatap langit-langit yang gelap. Ibunya sudah pergi setelah memastikan ia berbaring, namun tidur tidak langsung datang.
Ia tidak mengerti apa yang terjadi malam ini. Tidak mengerti mengapa kakeknya marah. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya menyerah. Tidak mengerti mengapa ibunya menangis... hingga akhirnya ia terlelap tidur.
Dan ia belum tahu bahwa penderitaan bertahun-tahun akan dimulai keesokan harinya. Penderitaan yang menjadi bocah itu impulsif, posesif, dan tidak kenal dengan kata takut atau mundur...