

Gunung Tilu Dewa yang terletak di Kabupaten Kawasen adalah salah satu gunung yang paling terkenal di Sundadwipa. Terutama sekali di dalam dunia persilatan.
Selama ini, gunung tersebut sudah menjadi saksi bisu dari berbagai macam pertempuran ataupun duel maut antar pendekar, dari satu generasi ke generasi lainnya.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik keangkeran gunung itu, tersimpan kisah kelam yang telah mengubur satu keluarga terhormat.
Arya Kamandaka masih berusia lima belas tahun ketika tragedi itu terjadi.
Malam itu, langit di atas kediaman Keluarga Kamandaka tidak berbintang. Angin yang biasanya membawa aroma bunga pinus justru terasa berat, seolah membawa firasat buruk.
Arya yang kala itu sedang berlatih pernapasan dasar di ruang belakang, tiba-tiba mendengar suara dentingan besi dari arah gerbang utama.
Lalu, semuanya terjadi dengan cepat.
Gerbang kayu jati yang tebal itu hancur diterjang. Para penyerang mengenakan jubah dari berbagai aliran atau perguruan dunia persilatan.
Arya berlari kecil ke celah dinding rahasia, tempat biasa ia bersembunyi jika berbuat nakal. Dari sana ia bisa melihat cukup jelas tanpa terlihat.
Ia melihat ayahnya, Pradipa Kamandaka, berdiri di tengah halaman dengan pedang pusaka keluarga. Pedang itu bergetar, seakan ikut merasakan ketakutan pemiliknya.
Ibunya, Raras Sasmita, berada tepat di belakangnya, memegang adiknya yang berusia tujuh tahun, yang menangis tersedu-sedu.
Suara tawa sadis itu mulai memenuhi udara.
"Akhirnya ..., keluarga pengkhianat ini kita temukan juga!"
"Bunuh semuanya! Jangan sisakan satu pun!"
Arya melihat ayahnya mencoba berbicara, namun suaranya tenggelam oleh benturan pedang. Api mulai menjilat atap ruang tamu setelah salah satu penyerang melemparkan botol minyak pembakar.
Lalu ia melihat hal yang akan menghantuinya seumur hidup.
Ayahnya tertusuk dari belakang oleh seseorang yang ia kenal, saudara jauh yang selama ini tinggal bersama mereka. Itu bukan serangan ragu, melainkan tusukan yang dalam, cepat, dan mematikan. Ayahnya terhuyung, matanya melebar, seakan tak percaya.
Darah memercik ke tanah. Aroma besi yang menyengat itu langsung menyerang hidung Arya.
Ibunya menjerit, namun jeritannya segera terdiam ketika dua orang pendekar bertopeng menyergapnya. Mereka mengangkatnya dan melemparkannya ke tanah seperti barang yang tidak berharga.
"Apa salah kami?" bisik ibunya.
Tidak ada yang menjawab selain hunusan pedang.
Lidah api merambat cepat, menghanguskan kertas-kertas silsilah keluarga. Pilar-pilar kayu retak. Suara anak-anak kecil berteriak memanggil orang tua mereka.
Arya bisa melihat sepupu-sepupunya berlarian, hanya untuk dijatuhkan oleh panah yang melesat dari kegelapan.
Namun bagian yang paling menusuk bukanlah kematian ayah atau ibunya.
Melainkan kalimat yang diucapkan salah satu penyerang tepat sebelum meninggalkan bangunan yang sudah terbakar.
"Harta mereka sudah kami dapatkan. Sisanya, biarkan sejarah yang mencatat bahwa Keluarga Kamandaka adalah pengkhianat negeri."
Mereka lalu pergi dengan langkah ringan, meninggalkan mayat-mayat yang masih hangat, api yang terus melahap, serta meninggalkan seorang anak lima belas tahun yang tercekat ketakutan dan kehilangan segalanya.
Di dalam celah dinding yang sempit, tubuh Arya gemetar hebat. Matanya panas oleh air mata, tetapi suara di dalam hatinya lebih panas dari api yang membakar kediaman mereka.
Untung langit masih memberikan kesempatan, sehingga Arya berhasil diselamatkan oleh kakeknya, seorang Tetua yang menyembunyikan kekuatan sejati.
Sepuluh tahun kemudian ...
Di sebuah goa berukuran cukup besar yang masih termasuk dalam wilayah Gunung Tilu Dewa, di sana terlihat ada dua orang yang saling berhadapan satu sama lain.
Yang satu pria tua, usianya mungkin hampir mencapai sembilan puluh tahun. Sedangkan yang satunya lagi adalah seorang pemuda, usianya kini sekitar dua puluh lima tahun.
Si orang tua berdiri sambil membelakangi si pemuda. Ia mengenakan pakaian dan jubah warna hitam.
Di dalam goa yang gelap, kehadiran mereka tampak samar-samar.
"Arya, sudah sepuluh tahun kamu berlatih silat, sejak malam berdarah itu. Sekarang sudah tiba saatnya untuk turun gunung dan membalaskan dendam Keluarga Kamandaka!" orang tua itu mulai bicara. Suaranya serak parau.
Dari setiap patah kata yang keluar dari mulutnya, tersirat kemarahan dan dendam yang luar biasa.
"Semua orang yang terlibat dalam tragedi itu harus tewas untuk menebus dosanya kepada keluarga kita. Kau harus bisa membereskan dendam kesumat ini dan membersihkan nama Keluarga Kamandaka dari fitnah kejam!"
"Kakek, apakah masih ada jalan lain selain pembalasan?" tanya pemuda yang dipanggil Arya.
Mendengar pertanyaan itu, si orang tua yang diduga adalah kakeknya langsung membalikkan tubuh.
"Bodoh!" ia membentak keras. "Setelah semua yang kau saksikan, apa yang kau harapkan? Apakah kau tega melihat semua keluargamu, termasuk kedua orang tuamu, mati penasaran dan nama kita terus dihina? Apakah kau lupa dengan bau darah yang membasahi tanganmu sepuluh tahun lalu?"
Arya Kamandaka langsung diam. Matanya yang abu-abu menatap kosong ke kegelapan, seolah melihat kembali adegan berdarah itu.
Orang tua itu lalu menghentakkan telapak tangannya. Sebuah peti yang terbuat dari kayu jati yang ada di hadapan mereka tiba-tiba terbuka.
Di dalam peti itu terlihat ada sebilah pedang bersarung hitam, selembar daun lontar, dan juga segenggam tanah.
Tanah yang bercampur dengan noda darah Keluarga Kamandaka!
"Pergi sekarang juga! Balaskan dendam ini dan jangan pernah kembali lagi ke sini, kecuali kau sudah berhasil! Kalau kau ingin menemuiku, pergilah ke Pemakaman Keluarga Kamandaka di Gunung Tilu Dewa!"
"Walaupun kemungkinan besar kau hanya bisa hidup selama lima tahun, meskipun kau hanya bisa bertarung selama lima puluh jurus karena penyakit aneh yang mengeram dalam dirimu, tapi aku rasa, dengan kemampuan yang telah kau miliki sekarang, itu semua sudah lebih dari cukup untuk membalaskan dendam kesumat ini!"
Pemuda yang bernama asli Arya Kamandaka itu mengangguk. Dia mendengarkan ucapan kakeknya dengan patuh. Ia lalu mengambil sebilah pedang dan selembar daun lontar yang terdapat di dalam peti.
Tangan si orang tua kembali melakukan gerakan. Segenggam tanah berwarna hitam kemerahan yang tadi berada di dalam peti, tiba-tiba terangkat ke atas dan langsung jatuh menimpa kepala Arya Kamandaka.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pagi. Mentari telah muncul di ufuk sebelah timur.
Di pinggir sebuah tebing, di sana terlihat ada Arya Kamandaka berdiri tegak sambil memandang jauh ke bawah.
Ia mengenakan pakaian ringkas warna hitam. Pedang di punggungnya juga berwarna hitam. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai tertiup angin pegunungan. Wajah pemuda itu terlihat sedikit pucat pasi.
Namun yang paling mengerikan adalah bola matanya. Bola mata pemuda itu berwarna abu-abu. Tatapan matanya tampak sepi, sunyi, menggambarkan kekosongan, tapi sekaligus juga kengerian. Mata itu lebih menyerupai mata orang mati.
Arya mengeluarkan Daftar Hukuman yang terbuat dari daun lontar itu. Ia membaca sekilas nama-nama di dalamnya, nama-nama yang telah menghantuinya selama sepuluh tahun ini.
Nama yang teratas, yang harus ia jadikan tumbal pertama, adalah Ki Jagapati Siwa. Seorang mantan pendekar terhormat yang dikenal licik dan kejam, yang konon bertanggung jawab atas perencanaan serangan ke kediaman Keluarga Kamandaka.
Tidak peduli berapa banyak jumlah pendekar yang terlibat, semuanya harus mati di bawah Pedang Tetesan Darah!
Sring!!!
Pedang yang tadi tersimpan rapat di dalam sarungnya, kini sudah dicabut keluar. Arya Kamandaka mengacungkan pedang itu ke langit.
Hawa kematian langsung menyebar luas. Daun-daun berguguran. Di bawah tempaan sinar mentari pagi, Pedang Tetesan Darah tampak berkilau dengan bekas-bekas noda darah yang telah mengering.
"Aku bersumpah demi langit dan bumi, demi Keluarga Besar Kamandaka yang hancur, siapa pun yang terlibat dalam peristiwa berdarah sepuluh tahun lalu, maka dia akan mati di ujung Pedang Tetesan Darah!"
Duarr!!!
Suara guntur menggelegar di atas langit, seolah alam menanggapi dan mengutuk sumpah pembalasan itu.
Tarr!!! Tarr!!! Tarr!!!
Kilat menyambar-nyambar di seluruh wilayah Gunung Tilu Dewa. Angin berhembus kencang. Gejala alam yang aneh itu baru lenyap setelah Arya Kamandaka kembali menyarungkan Pedang Tetesan Darah.
"Para manusia jahanam! Tunggu aku! Sebentar lagi, aku akan memberitahu kalian tentang apa itu rasa sakit, rasa kehilangan, dan juga rasa putus asa yang tidak berkesudahan!"
"Dengan semua kemampuan yang aku miliki, akan aku buat dunia persilatan banjir darah!"