Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sekte Harem Sang Dewa Abadi: Sekte Khusus Bidadari

Sekte Harem Sang Dewa Abadi: Sekte Khusus Bidadari

Ghafil | Bersambung
Jumlah kata
63.7K
Popular
556
Subscribe
158
Novel / Sekte Harem Sang Dewa Abadi: Sekte Khusus Bidadari
Sekte Harem Sang Dewa Abadi: Sekte Khusus Bidadari

Sekte Harem Sang Dewa Abadi: Sekte Khusus Bidadari

Ghafil| Bersambung
Jumlah Kata
63.7K
Popular
556
Subscribe
158
Sinopsis
18+FantasiFantasi Timur21+Karya KompetisiHarem
Dewa Abadi dan Sekte Ribuan Bidadari Setelah menantang takdir dan mengguncang langit, seorang pemuda jenius akhirnya berhasil mencapai ranah Immortality. Ia bukan sekadar abadi; ia adalah entitas terkuat yang mampu membuat jutaan jiwa berlutut hanya dengan satu jentikan jari. Dengan keberuntungan yang menantang surga, ia menobatkan dirinya sebagai Immortal termuda sepanjang sejarah. Namun, apa gunanya kekuatan tanpa kenikmatan? Bosan dengan pertarungan, ia memiliki ambisi baru yang jauh lebih liar: mendirikan sekte terhebat miliknya sendiri. Tapi ini bukan sekte biasa. Syarat mutlak untuk bergabung? Harus wanita jelita! Dari putri kerajaan suci hingga penyihir penggoda, ia bertekad mengisi hidup abadinya dikelilingi lautan murid perempuan yang mempesona. Inilah kisah sang penguasa muda dan surga duniawinya!
Bab 1: Sang Dewa Naga Biru Turun ke Bumi

Seorang pemuda, terbungkus dalam kobaran energi spiritual berwarna biru safir, melayang di angkasa luas. Di bawah kakinya terbentang hamparan tanah subur: sawah hijau yang berjejer rapi, desa-desa makmur, dan kota-kota kecil yang hidup di sepanjang bantaran sungai.

Angin kencang mengibarkan jubahnya, namun tubuhnya tegak tak tergoyahkan. Orang-orang di bawah sana belum menyadari bahwa takdir mereka telah berubah; mereka baru saja mendapatkan seorang penguasa baru.

Namanya adalah **Arya Wisesa**, sang Dewa Naga Biru.

Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, Arya baru saja menembus **Ranah Raja Roh**. Ia mungkin manusia termuda dalam sejarah yang mencapai tingkatan itu. Kini, ia bukan lagi manusia biasa, melainkan salah satu dari sedikit eksistensi transenden: Dewa Abadi.

Provinsi tanpa nama di bawahnya adalah hadiah dari **Serikat Dewata** atas pencapaiannya. Kini, ia adalah pemilik sah atas tanah ini. Sebagai imbalan atas kekuasaan mutlak ini, Serikat menetapkan dua mandat utama: melindungi rakyat dari iblis dan mendirikan sekte perguruan abadinya sendiri.

Arya memperlambat laju terbangnya. Semburan api biru yang menyelimutinya memecah awan, menciptakan celah cahaya dramatis saat ia menukik turun menuju sebuah kota pertanian yang tampak paling hidup. Untuk mendirikan sekte yang agung, ia membutuhkan murid.

"Demi Langit, benda apa itu?!"

"Ah! Lihat ke atas! Ada meteor biru!"

Penduduk kota berteriak kaget. Kedatangannya bagaikan lidah api suci dari kayangan. Arya Wisesa menghentikan gerakannya secara mendadak dan melayang diam tepat di atas alun-alun kota. Aura spiritualnya menekan udara, menciptakan keheningan yang mencekam.

Dengan tenang, ia menghadap ke bangunan terbesar di alun-alun sebuah pendopo kabupaten beratap joglo dan menunggu.

Sesaat kemudian, pintu pendopo terbanting terbuka. Seorang pria paruh baya bertubuh gempal tersandung-sandung keluar. Wajahnya pucat pasi, dan ia langsung menjatuhkan dirinya bersujud, mencium tanah berdebu.

"Selamat datang di **Kota Jati**, Tuan Dewa yang Agung. Hamba **Ki Lurah Jatmiko**, pemimpin tempat ini. Hamba siap menerima titah Tuan," ucapnya dengan suara bergetar.

Arya mengangguk pelan, ekspresinya datar namun berwibawa. "Sangat bagus. Aku adalah Dewa Naga Biru, Arya Wisesa. Mulai hari ini, wilayah ini berada di bawah perlindunganku. Aku akan mendirikan sekte baru dan mencari murid. Adakan ujian seleksi di Kota Jati sekarang juga. Ki Lurah, atur segalanya untukku."

Ekspresi Ki Lurah Jatmiko berubah dari ketakutan menjadi ekstasi murni. Wilayah mereka memiliki Dewa pelindung! "Dewa Arya, suatu kehormatan luar biasa! Mohon istirahatlah sejenak. Hamba akan segera menyebarkan pengumuman ini!"

"Hmm." Arya mendarat perlahan. Gelombang energinya menyapu debu di sekitarnya hingga bersih. "Tunjukkan jalannya."

Kabar tentang Dewa Abadi yang mencari murid menyebar secepat kilat. Dalam waktu singkat, halaman depan kediaman Ki Lurah dipadati lautan manusia. Ki Lurah mengerahkan penjaga untuk menertibkan antrean, mendorong para kultivator terkuat di kota itu ke barisan depan agar sang Dewa tidak menunggu lama.

Arya Wisesa duduk di kursi besar berlapis kulit harimau, memindai ribuan kandidat dengan indra spiritualnya tanpa perlu menyentuh mereka.

"Usia tiga puluh tiga, Tingkat 7 Ranah Penempaan Raga... gagal!"

"Usia tiga puluh tujuh, Tingkat 9... gagal!"

"Usia empat puluh satu, Tingkat 10... gagal!"

Arya merosot di kursinya. Ia menyadari betapa naif idenya.

Domain Fana terdiri dari tiga ranah besar: **Ranah Penempaan Raga** (fisik), **Ranah Pemusatan Batin** (mental), dan **Ranah Inisiasi Roh** (energi alam). Arya berharap menemukan bakat di Ranah Pemusatan Batin, tapi nihil. Yang ada hanya orang tua yang mentok atau pemuda tanpa potensi.

Tiba-tiba, ia teringat para tetua Serikat Dewata kumpulan kakek nenek tua yang mendominasi populasi abadi karena butuh waktu seumur hidup untuk mencapai keabadian. Meskipun keriput, vitalitas dan libido mereka mengerikan. Arya bergidik ngeri mengingat upacara kenaikannya kemarin, di mana gerombolan nenek abadi mencoba merayunya. Salah satu penyihir tua bahkan mencubit pantatnya di depan umum!

*Tidak. Sekteku tidak boleh jadi panti jompo,* batinnya tegas.

"Usia tiga puluh... gagal!"

"Gagal!"

Arya merenung frustrasi sementara antrean tak kunjung habis.

Di pinggiran kumuh Kota Jati, suasana jauh lebih suram. Bau selokan mampet menyeruak di udara. Di sebuah lorong sempit, seorang gadis muda mengenakan pakaian berwarna kuning pucat berdiri tegak di hadapan dua preman. Kebersihan pakaiannya kontras dengan lingkungan sekitarnya.

"Apakah kalian anggota **Gerombolan Satu Lengan**?" tanyanya galak, matanya berkilat marah. "Kalian yang memeras orang miskin ini?"

Ia menunjuk gubuk-gubuk reot di sekelilingnya. Seorang nenek tua terlihat mengintip ketakutan dari balik jendela.

Salah satu preman menyeringai, memamerkan gigi kuningnya yang jarang. "Nona Kecil, jangan bicara tentang hal-hal yang tidak kau mengerti. Pulanglah dan minum susumu sebelum Ibumu mencarimu."

"Hehe, ikut Paman saja, nanti diajarkan hal 'enak' tentang dunia orang dewasa," tambah temannya dengan tatapan menjijikkan.

Gadis itu mundur selangkah karena jijik, tapi segera menegakkan diri. "Penjaga! Tangkap bajingan ini!"

Atas perintahnya, empat bayangan muncul entah dari mana. Dengan gerakan kilat, mereka menghajar kedua preman itu hingga babak belur dan mengikatnya.

Tepat saat gadis itu hendak tersenyum bangga, teriakan histeris menginterupsi.

"**Laras**! Laras! Apa yang kau lakukan di tempat kotor ini?"

Seorang wanita paruh baya berdandan menor menyerbu datang dan menjewer telinga gadis itu. "Gadis bodoh! Berapa umurmu? Masih saja main-main seharian! Ayo pulang, ada acara besar di pendopo!"

"Aku tidak main! Aku menegakkan keadilan!" bantah Laras sambil diseret paksa. "Mereka diperas, Bu!"

"Keadilan tidak memberimu suami kaya! Diam dan ikut!"

Laras diseret paksa meninggalkan tempat itu, menyisakan debu dan dua preman yang mengerang kesakitan.

Kembali di pendopo, matahari mulai terbenam. Arya belum menemukan satu pun murid. Orang-orang dewasa yang lebih kuat sudah ditolak semua, menyisakan remaja ingusan.

"Tunggu!" Arya berseru saat melihat kandidat berikutnya.

Ki Lurah Jatmiko berseri-seri. "Dewa Arya, ini **Raden Panji**, tuan muda dari keluarga saudagar terkaya. Bakatnya terbaik di Kota Jati. Dia bahkan pernah belajar di ibu kota provinsi."

Arya meneliti pemuda itu.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda tampan dengan pakaian sutra mahal. Kipas gading di tangannya dikibas-kibaskan pelan, dan senyum di wajahnya memancarkan arogansi yang menyebalkan. Tipe orang yang terlahir dengan sendok emas: kaya, tampan, dan berbakat.

Sosok ini mengingatkan Arya pada masa lalunya yang pahit. Dulu, Arya adalah pemuda biasa berwajah pas-pasan yang sering dihina tuan muda semacam ini. Setiap wanita yang ia taksir selalu jatuh ke pelukan pria-pria kaya yang kemudian mencampakkan mereka.

Pria-pria ini biasanya hanya buaya darat yang mempermainkan wanita lalu membuangnya seperti sampah. Mereka hina, namun wanita tetap mengerumuni mereka.

"Uh... Dewa Arya?" tanya Ki Lurah cemas melihat diamnya sang dewa. "Bagaimana menurut Tuan?"

Raden Panji tersenyum percaya diri, yakin akan terpilih. Ia mengangkat dagunya, siap menerima pujian.

Arya menatapnya dingin, matanya setajam pedang.

"Gagal!"

"Ah?!" Raden Panji ternganga, wajah tampannya memucat. "Tidak mungkin!"

Seluruh ruangan gempar. Raden Panji didorong keluar dengan wajah hancur dan harga diri tercabik. Jika tuan muda terbaik di kota ini saja gagal, siapa yang punya harapan?

Arya menyeringai dalam hati.

Akhirnya tiba waktunya untuk serangan balik. Karena ia harus mendirikan sebuah sekte, ia akan menggunakannya untuk menghapus semua kegagalan masa lalunya. Dunia ini penuh wanita cantik dan berbakat yang menunggu bimbingan. Ia ingin dikelilingi keindahan dan murid yang penurut, bukan arogansi pria. Ia akan melindungi wanita berbakat agar tidak jatuh ke tangan pria brengsek seperti Raden Panji.

Sebagai imbalannya, mereka akan membantunya melawan gerombolan nenek-nenek abadi dan mengisi setiap momen hidupnya dengan sukacita.

Ia sudah membulatkan tekad.

Tidak ada pria kotor yang diizinkan masuk ke dalam sektenya.

Sang Dewa Abadi ini hanya menerima murid perempuan!

Lanjut membaca
Lanjut membaca