

Pagi hari di Sekte Pancasona selalu dimulai dengan bunyi lonceng kuningan yang bergema di antara puncak-puncak gunung.
Namun bagi Linggua, suara itu tidak lagi menjadi penanda waktu latihan, melainkan pengingat akan kehebatan yang telah lama ia miliki. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, Linggua telah menjadi legenda hidup di kalangan murid-murid Sekte Pancasona.
Tubuh tinggi tegapnya berdiri kokoh di tengah lapangan latihan, mata hijau keemasan dengan pupil ganda berkilauan menangkap setiap gerakan di sekitarnya.
Ketika ia mengangkat tangan, otot-otot yang diperkuat oleh Tulang Dewa bergerak dengan kekuatan yang dapat menghancurkan batu granit sekalipun.
Darah Naga yang mengalir dalam nadinya membuat setiap luka sembuh dalam hitungan menit, memberikannya daya tahan yang hampir tidak terbatas.
"Kakak Senior Linggua benar-benar luar biasa," bisik salah seorang murid junior sambil mengamati latihan rutin Linggua. "Bahkan Guru Besar mengatakan bahwa kemampuannya sudah melampaui generasi sebelumnya."
Linggua tersenyum sambil mengelap keringat dari dahinya. Ia memang terlahir istimewa, dikaruniai tiga warisan langit yang membuatnya menjadi Putra Suci termuda dalam sejarah Sekte Pancasona.
Namun di balik semua kehebatan itu, ada satu hal yang membuat hidupnya terasa lengkap - itulah Sekar Sari, tunangannya yang cantik jelita.
Sekar Sari mendekatinya dengan langkah anggun, rambut hitam legamnya tergerai lembut tertiup angin gunung. Mata hitam kelamnya menatap Linggua dengan senyum manis yang selalu berhasil membuat jantung pemuda itu berdetak lebih cepat.
"Linggua," kata Sekar Sari dengan suara merdu, "ayah ingin berbicara denganmu tentang persiapan pernikahan kita minggu depan."
Linggua mengangguk dengan wajah berbinar. Setelah bertunangan selama dua tahun, akhirnya mereka akan melangsungkan pernikahan.
Ia sangat bahagia. Ia tak pernah menyangka bahwa kebahagiaan ini akan menjadi awal dari malapetaka terbesar dalam hidupnya.
***
Malam itu, di ruang tamu kediaman Keluarga Sekar, Linggua duduk berhadapan dengan ayah tunangannya, Tuan Agung, dan kakak laki-laki Sekar Sari yang bernama Bayu. Mereka menyambut Linggua dengan ramah, menyajikan teh terbaik dan berbagai hidangan lezat.
"Linggua, kau tahu betapa bangga kami akan menjadi keluargamu," kata Tuan Agung dengan senyum yang tampak tulus. "Kami telah menyiapkan upacara yang megah untuk menyambut pernikahanmu dengan Sari."
Bayu menambahkan, "Sebagai calon adik ipar, aku sangat mengagumi kemampuanmu. Bahkan Pupil Ganda dan Tulang Dewa yang kau miliki adalah impian setiap praktisi bela diri."
Linggua tersenyum bangga, tidak menyadari kilatan serakah di mata kedua pria di hadapannya ini.
Malam berlanjut dengan obrolan hangat tentang masa depan, hingga Sekar Sari menyajikan segelas anggur merah dengan aroma yang harum.
"Ini anggur khusus keluarga kami," kata Sekar Sari sambil menyodorkan gelas itu. "Tradisi untuk calon pengantin pria meminum ini sebagai simbolis penyatuan keluarga."
Tanpa curiga, Linggua meneguk anggur itu hingga habis. Rasanya manis dengan sedikit rasa pahit di ujungnya, namun ia mengira itu adalah ciri khas anggur tersebut. Tidak lama kemudian, pandangannya mulai kabur dan tubuhnya terasa lemas.
"Sari... apa yang..." Linggua mencoba berdiri namun kakinya tidak mampu menopang tubuhnya.
Senyum manis Sekar Sari berubah menjadi seringai kejam. "Maafkan aku, Linggua. Tapi kami membutuhkan kekuatanmu lebih dari cintamu."
Itulah saat-saat terakhir yang Linggua ingat sebelum kegelapan melingkupinya.
***
Linggua terbangun dalam kondisi yang mengerikan. Tubuhnya terikat kuat di sebuah ruang bawah tanah yang dingin dan lembap. Cahaya lilin redup menerangi wajah-wajah yang dulu ia percaya - Sekar Sari, Tuan Agung, dan Bayu berdiri di hadapannya dengan ekspresi dingin.
"Akhirnya kau bangun," kata Tuan Agung sambil memainkan sebuah belati berkilauan. "Kami sudah tidak sabar untuk memulai ritual pemindahan kekuatan."
"Apa maksudmu?" Linggua berusaha meronta, namun ikatan di tubuhnya terlalu kuat.
Bayu Sekar tertawa keras. "Jangan pura-pura bodoh, Linggua. Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Huh! Keluarga kami telah merencanakan ini sejak lama. Tulang Dewa, Pupil Ganda, dan Darah Naga milikmu adalah kunci untuk menguasai Sekte Pancasona."
Sekar Sari melangkah maju dengan tatapan kosong. "Tiga tahun aku berpura-pura mencintaimu, menunggu saat yang tepat. Sekarang, semua kekuatan itu akan menjadi milik keluargaku."
Linggua merasakan dunianya runtuh. Wanita yang ia cintai, yang akan ia nikahi, ternyata hanya menginginkan kekuatannya. Namun yang lebih menakutkan adalah apa yang mereka rencanakan selanjutnya.
Ritual dimulai dengan penyiksaan yang tidak manusiawi. Menggunakan teknik kuno yang terlarang, mereka mulai mengekstrak Tulang Dewa dari tubuh Linggua.
Rasa sakitnya melampaui batas toleransi manusia normal, namun berkat Darah Naga, ia tetap hidup meskipun tulang-tulangnya diganti satu per satu.
"Luar biasa," gumam Tuan Agung sambil mengamati tulang yang berkilauan seperti emas murni. "Dengan kekuatan ini, tidak ada yang bisa menghalangi ambisi kita."
Prosedur selanjutnya adalah pengambilan Pupil Ganda. Dengan alat khusus yang telah mereka siapkan, mata Linggua dibedah dengan hati-hati untuk mengambil kemampuan penglihatan mistis tersebut.
Linggua menjerit kesakitan, namun suaranya teredam oleh formasi kedap suara yang dipasang di ruangan itu.
Tahap terakhir adalah yang paling brutal - pengurasan Darah Naga.
Mereka memasukkan jarum-jarum panjang ke seluruh tubuh Linggua, menyedot darah istimewa itu perlahan-lahan. Proses ini berlangsung berjam-jam, dan Linggua merasakan kekuatan hidupnya perlahan menghilang.
"Sempurna," kata Sekar Sari sambil memandangi tiga botol berisi darah berwarna keemasan. "Sekarang tinggal membuang 'sampah' ini."
***
Dengan kondisi tubuh yang hampir mati, Linggua diseret keluar rumah menuju tebing yang menghadap ke Jurang Tanpa Batas - sebuah jurang legendaris yang konon tidak memiliki dasar dan tidak pernah ada yang selamat setelah terjatuh ke dalamnya.
"Selamat tinggal, Putra Suci Linggua," ejek Bayu sambil menendang tubuh Linggua ke arah tebing.
Namun sebelum terjatuh, Sekar Sari menghunuskan belati dan menusukkannya ke punggung Linggua. "Ini hadiah perpisahan dariku," bisiknya dengan senyum kejam.
Linggua terjatuh ke dalam kegelapan jurang, tubuhnya membentur dinding batu berkali-kali sebelum akhirnya menghilang ditelan kegelapan di kedalaman jurang.