

Pondok itu berdiri kokoh di antara kabut tipis yang seringkali turun menyelimuti lembah, dikelilingi oleh pepohonan rimbun dan suara aliran air dari sungai kecil di dekatnya.
Di kejauhan, puncak Gunung Galunggung yang agung tampak mengawasi lembah tersebut seperti penjaga raksasa yang diam.
Tempat ini seolah terputus dari hiruk-pikuk pemerintahan Kerajaan Galunggung.
Suasananya tenang, hanya terdengar kicau burung pegunungan dan desis angin yang melewati celah bambu pondok. Meski terpencil, ada kesan bahwa penghuni pondok ini bukanlah orang sembarangan—mungkin seorang pertapa, tabib sakti, atau ksatria yang memilih menepi dari dunia persilatan.
Pondok itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu bagi sang pendekar yang kini rambutnya mungkin telah memutih, selaras dengan kabut Gunung Galunggung. Di dunia persilatan, namanya mungkin sudah menjadi legenda atau bahkan dianggap telah tiada, namun di lembah ini, ia hanyalah seorang pria yang mencari kedamaian di balik kesunyian hutan pinus.
Dunia luar boleh saja berubah, kerajaan boleh berganti pimpinan, namun bagi sang pertapa, hanya irama alam Galunggung yang kini ia ikuti.
Ki Sastra menjalani hari-harinya dalam keheningan yang absolut. Di usianya yang senja, ia tidak lagi mengejar kejayaan atau pengakuan; baginya, ilmu tinggi yang dimilikinya kini hanyalah beban sejarah yang ia pikul sendiri. Tanpa adanya pewaris atau pendamping, pondok di lembah Gunung Galunggung itu menjadi penjara sekaligus surga yang ia ciptakan sendiri untuk menghabiskan sisa usianya.
Setiap pagi, Ki Sastra sering terlihat duduk bermeditasi di atas batu besar di tepi sungai, membiarkan hawa dingin pegunungan meresap ke dalam tulang-tulangnya yang tua namun tetap kokoh. Meski raganya mulai dimakan usia, pancaran matanya tetap tajam, menyimpan rahasia dari ribuan pertarungan yang pernah ia lalui di masa kejayaan Kerajaan Galunggung.
Pagi itu ia sedang mengumpulkan kayu bakar saat pendengarannya yang mulai pudar menangkap suara asing. Bukan desis angin atau kepak sayap elang, melainkan tangisan halus yang tersendat.
Di bawah naungan pohon saninten tua yang akarnya melilit seperti jemari raksasa, ia menemukan seorang bocah laki-laki yang sepertinya baru lepas susu ibunya. Anak itu duduk beralaskan lumut, mengenakan pakaian yang kotor oleh tanah, namun matanya yang bulat menatap ki Sastra tanpa rasa takut. Anehnya, di sekeliling bocah itu, jejak kaki hewan liar terlihat menjauh, seolah-olah hutan itu sendiri yang baru saja meletakkannya di sana dengan sangat hati-hati.
Ki Sastra Berjongkok, menatap Bocah itu dengan mata melotot.
"Walah! Kamu ini apa? Jamur raksasa atau kiriman dari kerajaan bawah tanah? Kok tiba-tiba nongol di kaki ku?"
Bocah itu berhenti menangis dan menyeringai lembut seakan tau bahwa dia telah menemukan penyelamat nya.
" Kecil-kecil menertawakan ku, memang kau mengerti ucapan ku ?"
Si bocah makin tertawa melihat kelakuan orang tua aneh ini.
"Siapa orang tua gendeng yang meletakan bocah tak tau dosa ini, ditengah hutan begini" Ucap Ki Sastra, dengan lantang, suaranya sengaja dialiri tenaga dalam sehingga keluar suara yang sangat menggelegar dan terdengar seantero hutan. Berharap siapapun yang meletakan bocah ini mendengar teriakan nya.
Ki Sastra berfikir sejenak, mana bisa dirinya yang sudah tua renta harus membesarkan seorang anak, tapi tentu tidak bisa juga ia menutup mata membiarkan bocah ini sendiri dihutan,
Ki sastra mendekat, mengulurkan tangannya yang kasar dan gemetar.
"Cung, ikut si eyang pulang?" bisiknya. Balita itu meraih telunjuk si tua, dan tersenyum—sebuah senyuman yang seolah membawa kehangatan musim kemarau ke tengah hutan yang beku.
Mungkin saja nanti ada jawabanya, gumam Ki sastra. Atau mungkin saja ini adalah jawaban dari keresahan dia selama ini. karna dimasa muda Dirinya hanya disibukan oleh dunia persilatan. tidak berfikir untuk menikah dan mempunyai anak, sehingga diusia tua dia harus hidup seorang diri.
Tanpa ragu, Ki Sastra menggendongnya, memutuskan bahwa di senja hidupnya, hutan baru saja memberinya alasan untuk tetap menyalakan tungku di rumah.
Sastra Amarta bukanlah sekadar nama; ia adalah mitos hidup yang berjalan di atas garis tipis antara cahaya dan kegelapan.
Di seantero jagad persilatan, namanya pernah menggelegar layaknya guntur yang membelah langit, meninggalkan jejak kekaguman sekaligus kengerian yang tak terhapuskan. Jika para pendekar golongan putih bergerak di bawah panji-panji kemuliaan dan matahari, Sastra Amarta memilih jalan yang sunyi—ia adalah badai yang bergerak di dalam bayang-bayang.
Bukan tanpa alasan ia dikenal sebagai momok yang paling ditakuti. Bagi golongan hitam, bertemu dengannya adalah vonis mati yang tak bisa ditawar. Tak ada satu pun penjahat, dari perampok kelas teri hingga gembong hitam yang paling licin, yang mampu meloloskan diri jika Sastra Amarta telah menetapkan mereka sebagai targetnya. Ia adalah eksekutor tanpa ampun yang memburu dalam diam, melampaui batas-batas wilayah dan kekuasaan.
Reputasinya tak hanya mengakar di tanah kelahirannya, lereng Gunung Galunggung. Dari pusat Kerajaan Galunggung yang agung hingga ke kerajaan-kerajaan terpencil di ujung Nusantara, setiap telinga pasti pernah mendengar bisikan tentang kehebatannya.
Ia adalah pemegang keadilan yang tak terlihat, pada masanya tersimpan kekuatan purba yang mampu mengguncang tatanan dunia persilatan. Bagi kawan, ia adalah pelindung yang tak terjangkau; bagi lawan, ia adalah maut yang tak terhindarkan.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam genangan darah dan bayang-bayang kematian, Sastra Amarta akhirnya memilih untuk "mati" bagi dunia. Sang legenda yang pernah menggemparkan jagat persilatan itu melenyapkan jejaknya dengan sangat rapi, memalsukan ajalnya demi memburu satu hal yang tak pernah bisa ia beli dengan ilmu setinggi langit: kedamaian.
Ia berharap sisa usianya akan dihabiskan dengan memandangi kabut yang turun di lereng Galunggung atau mendengarkan kicau burung di rimbunnya hutan Linggajati. Namun, takdir rupanya senang bermain-main dengan mereka yang ingin lari dari garis tangan. Harapan akan ketenangan di penghujung hidupnya hancur berkeping-keping dalam satu pagi yang dingin.
Bukan suara desir angin atau gemericik air sungai yang menyambut masa pengasingannya, melainkan sesosok makhluk kecil yang ringkih. Kini, di setiap malam yang sunyi, bukan lagi bunyi benturan senjata yang memenuhi telinganya, melainkan sesak tangis seorang bayi. Tangis yang menuntut perlindungan, tangis yang seolah menarik kembali sang jagal dari jalan bayang menuju tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada sekadar membelah gunung.
Sastra Amarta, sang eksekutor tanpa ampun, kini harus berhadapan dengan takdir yang tak bisa ia tebas dengan pedang: menjadi pelindung bagi sebuah nyawa baru di tengah badai yang masih mengincarnya.
Apakah bayi ini membawa bahaya dari masa lalu Sastra Amarta, ataukah kemunculannya akan menarik perhatian kekuatan baru yang mengancam kedamaian yang ia cari?