

Desa Tepian Sungai, sebuah permukiman yang bersandar pada aliran Sungai Serayu dan berhadapan dengan selimut hijau hutan belantara Nusantara, biasanya tenggelam dalam damainya senja. Kicau jalak Bali saling bersahutan, dan wewangian cengkeh serta bunga melati menari di udara sepoi-sepoi.
Namun, malam itu, alam seakan menelan segala kedamaian. Langit yang jernih tiba-tiba dirajut oleh awan hitam pekat yang bergulung-gulung dari segala penjuru, memuntahkan sambaran petir yang menyilaukan namun nyaris tanpa suara gemuruh, menciptakan keheningan yang mencekam.
Tanah bergetar halus namun terus-menerus, seperti jantung raksasa yang berdebar cemas. Dari dalam hutan, terdengar lolongan serigala yang penuh kengerian dan kera-kera yang bersahutan ketakutan
Di sebuah rumah besar dengan atap ijuk yang kokoh, bagian dari kompleks Padepokan Sangga Buana, teriakan kesakitan seorang wanita memecah kepanikan yang melanda desa. Sri, istri dari Harjo, putra sulung Pendekar Agung Ki Ageng Sangga Buana, sedang berjuang antara hidup dan mati.
“Bertahanlah, Sri! Kau pasti bisa!” teriak Harjo, wajahnya yang biasa tampak tegar kini pucat pasi. Tangannya mencengkeram erat tangan istrinya yang basah oleh keringat. Telapak tangan itu, yang biasanya begitu lemah membelainya, kini menggenggam dengan kekuatan orang yang hendak tenggelam.
Cahaya lentera minyak kelapa di ruangan itu berkedip-kedip tak menentu, menari-narikan bayangan ketakutan di dinding kayu yang terbuat dari jati tua.
Di luar, Ki Ageng Sangga Buana berdiri tegak bagai tiang penyangga langit di tengah pelataran. Tubuhnya yang kekar, meski rambutnya telah memutih seperti kapas, tak goyah sedikit pun oleh getaran bumi. Matanya yang tajam bagai elang menatap langit yang bergolak, seolah mencoba membaca bahasa alam yang kacau. “Alam sedang tidak harmonis,” gumamnya lirih, suaranya yang parau penuh keyakinan.
Di dalam kamar, dukun beranak, Mbah Siti, berkeringat dingin. Pengalamannya puluhan tahun seolah tak berarti. “Dia… dia terlalu besar, Harjo! Dan… dan ada cahaya…!” ujarnya gagap, matanya membelalak melihat semburat keemasan samar memancar dari perut Sri yang mengembang, menerangi kulit dari dalam seakan bayi itu sendiri adalah sumber cahaya.
Sri, dengan sisa tenaga yang menyusut cepat, menatap suaminya. Di balik selubung kesakitan, ada kilatan kasih sayang dan sesuatu yang lain—sebuah pengertian yang mendalam. “Anak… kita… istimewa, Harjo… Jagalah dia…” desisnya sebelum sebuah erangan panjang dan menyayat hati keluar dari bibirnya yang pecah-pecah.
Pada detik itu, seluruh energi di ruangan itu seperti tersedot ke arahnya, kemudian meledak dalam sebuah cahaya keemasan yang membutakan, disusul tangisan bayi yang lantang, dahsyat, dan penuh daya hidup, bagai sangkakala yang membelah riuh rendahnya badai.
Tangisan itu memecah langit. Awan hitam tiba-tiba berhenti bergulung. Petir terakhir menyambar, lalu senyap. Getaran bumi berhenti total. Hutan menjadi sunyi, hening yang terasa bermakna. Seolah seluruh alam menahan napas, menghormati sebuah kelahiran yang tak biasa, sebuah permulaan yang penuh pengorbanan.
Di dalam kamar yang masih dipenuhi bau darah dan cahaya keemasan yang berangsur memudar, Harjo tak langsung memandang anaknya. Matanya tertuju pada Sri yang terbaring lemas, senyum terakhir membeku di bibirnya yang pucat, nyawanya telah pergi bersama dengan cahaya tadi.
Air mata Harjo mengalir deras, membasahi janggutnya yang pendek. Rasa duka yang mendalam itu lalu berubah menjadi gumpalan panas amarah dan penolakan yang tak terbendung di dadanya.
“Ambil dia,” lirihnya pada Mbah Siti, suaranya serak dan hampa bagai angin yang melintasi gua kosong, sambil menunjuk bayi yang masih menangis di pelukan almarhum istrinya.
Bayi itu laki-laki, kulitnya bersih kemerahan, dan—jika dilihat dengan mata waskita—di balik kulitnya yang halus, terlihat rangkaian tulang yang memancarkan aura keemasan samar, kokoh, agung, dan tak terbantahkan.
Ki Ageng Sangga Buana memasuki ruangan. Wajahnya yang berkerut seperti peta kebijaksanaan mendadak berkerut lebih dalam melihat tragedi di hadapannya. Dia lalu mendekati bayi yang kini digendong gemetar oleh Mbah Siti.
Tangannya yang besar dan kasar, penuh bekas latihan dan pertarungan, dengan lembut sekali menyentuh pipi bayi itu. Saat jari telunjuknya yang berkapalan menyentuh kulit bayi, sebuah getaran energi halus namun kuat mengalir, membuat bulu kuduknya berdiri. Mata tua itu terbuka lebar, memancarkan kekaguman dan ketakjuban.
“Tulang…nya berwarna emas…” gumamnya tak percaya, menatap cucunya yang baru lahir itu. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”
Ia tidak mengetahui bahwa tulang cucunya itu merupakan Tulang Emas Abadi, sebuah fenomena yang hanya ada satu dalam satu zaman, bahkan dalam legenda kuno masa para dewa sekalipun.
Kitab-kitab kuno yang pernah ia pelajari sekilas menyebutnya: hanya akan ada satu manusia yang terpilih, yang terlahir dengan fondasi tubuh abadi, tak tersentuh usia, tak terluka oleh senjata biasa. Tulang Emas Abadi, sebuah istilah dari legenda yang bahkan tak pernah ia anggap nyata. Tubuh yang tak akan pernah mati, fondasi yang hanya dimiliki para dewa dalam dongeng pengantar tidur, kini terbaring lemah dalam gendongan.
Harjo berdiri, tubuhnya menegang bagai busur yang akan melepaskan anak panah. “Dia membunuh Sri,” geramnya, suaranya penuh racun dan kepahitan.
“Dia membawa malapetaka sejak dalam kandungan! Lihatlah sekeliling! Badai, gempa, dan kini… ibunya tewas! Dia bukan anakku! Dia adalah anak setan!”
“Harjo!” hardik Ki Ageng Sangga Buana, suaranya menggelegar berwibawa, memenuhi seluruh ruangan dan meredam amarah putranya sejenak.
“Jangan kau ucapkan kata-kata itu pada darah dagingmu sendiri! Ini adalah takdir yang tak kita pahami. Sri telah memilih untuk memberinya nyawa, dengan mengorbankan miliknya. Hormatilah pengorbanan itu!”
“Takdir?!” Harjo tertawa getir, penuh amarah dan kesedihan yang meledak. “Takdir mana yang meminta nyawa istri tercinta sebagai bayarannya?!” Dia menatap langsung pada anaknya dengan pandangan yang membakar.
Bayi itu telah berhenti menangis, matanya yang jernih seperti batu giok membuka, memandang sekeliling dengan sebuah kesadaran yang terlalu tenang dan terlalu dalam untuk bayi baru lahir. “Lihat matanya! Dia seperti… mengetahui. Dia tahu apa yang telah diperbuatnya!”
Ki Ageng Sangga Buana mengambil bayi itu dari pelukan Mbah Siti dengan gerakan penuh hati-hati, seolah sedang mengangkat pusaka yang paling berharga. Dia menggendongnya dekat ke dada. “Aku yang akan mengasuhnya. Kau belum siap, Harjo. Duka dan amarahmu saat ini membuatmu buta.
“Pergilah! Bawa dia jauh dari sini!” teriak Harjo, memunggungi mereka, bahunya gemetar menahan isak. “Aku tak ingin melihatnya lagi! Mulai malam ini, aku tak punya anak. Anakku telah mati bersama ibunya!”
Ki Ageng Sangga Buana menghela napas panjang, suaranya berat menahan beban ganda: duka kehilangan menantu dan kepedihan melihat putranya hancur.
Dia membawa bayi itu keluar, menuju beranda rumah. Langit telah cerah sepenuhnya, bintang-bintang bertaburan gemerlap, seolah baru saja dibersihkan oleh badai tadi. Bulan purnama bersinar terang dan bulat, menyinari wajah bayi yang tenang dengan cahaya perak.
“Siapa dirimu sebenarnya, cucuku?” bisik Ki Ageng Sangga Buana, menatap ke dalam mata bayi yang polos itu. “Mengapa alam raya begitu heboh menyambutmu, lalu meminta ibumu sebagai tumbal penyambutan?” Angin malam yang sejuk berembus, membelai kedua penghuni beranda itu.
“Kau akan kuberi nama Jati Waskita,” katanya dengan suara tegas, penuh doa dan harapan. “Jati, yang berarti asli, sejati. Waskita, yang berarti waskita, bijaksana, dan mampu melihat hakikat. Semoga kau menjadi manusia sejati yang mampu melihat kebenaran sejati.”
Bayi itu, Jati Waskita, hanya menatap bulan purnama, seolah terpikat. Kemudian, mata kecilnya beralih menatap wajah kakeknya. Seberkas cahaya keemasan sangat halus, tak terlihat oleh mata biasa, mengalir dari udara sekitar, dari bumi, dan dari cahaya bintang, menuju tubuh mungilnya, diserap dengan lembut. Dia tak menangis lagi. Hanya diam, tenang, seakan memahami seluruh beban, misteri, dan kutukan kehidupan yang telah ia bawa sejak tarikan napas pertama: kehidupan yang abadi, dimulai dengan kematian yang paling personal dan menyakitkan.
Ki Ageng Sangga Buana menatap arah hutan belantara di kejauhan, yang kini kembali sunyi namun menyimpan misteri baru. “Padepokan Sangga Buana akan menjadi rumah dan sekolahmu. Aku akan menjagamu, melatihmu, dan mengajarimu. Dan kau…” dia menatap cucunya dengan pandangan mendalam, “…kau memiliki takdir yang berbeda. Sangat berbeda. Aku bisa merasakannya dalam getaran tulang-tulang tuaku ini.”
Dia melangkah mantap meninggalkan rumah duka itu, menuju kompleks utama padepokan. Bayi Jati Waskita dalam dekapan eratnya.
Di dalam kamar, Harjo berlutut di samping tubuh Sri yang semakin dingin, tangisnya pecah menjadi isak yang menyedihkan. Sumpah serapah dan janji kebencian terhadap anak yang tak pernah ia sentuh itu berpadu dengan isak kesedihan yang mendalam, menciptakan luka pertama yang dalam pada jiwa seorang ayah.
Di luar, di bawah langit Nusantara yang telah tenang dan bertahta bintang, seorang kakek yang adalah salah satu pilar terkuat negeri itu dan seorang cucu yang adalah misteri terbesar, melangkah menuju Padepokan Sangga Buana. Tangisan yang Memecah Langit telah reda, meninggalkan kesunyian yang bermakna.