Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Juragan Tanah Si Penikmat Wanita

Juragan Tanah Si Penikmat Wanita

Alam_Baka | Bersambung
Jumlah kata
36.9K
Popular
847
Subscribe
183
Novel / Juragan Tanah Si Penikmat Wanita
Juragan Tanah Si Penikmat Wanita

Juragan Tanah Si Penikmat Wanita

Alam_Baka| Bersambung
Jumlah Kata
36.9K
Popular
847
Subscribe
183
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifePria DominanMiliarderUrban
Dion, juragan tanah paling ditakuti se-kota, dikenal sebagai pria matang yang dingin, kaya, dan tidak pernah puas pada satu wanita. Usianya mendekati empat puluh, hartanya melimpah, dan tubuhnya masih lebih bugar daripada pria muda mana pun. Semua wanita mengejarnya… dan Dion tidak pernah menolak. Hingga suatu hari, ia bertemu Raina—gadis dua puluh satu tahun, polos, keras kepala, dan sama sekali tidak tertarik pada pesona Dion. Kekesalan berubah menjadi obsesi. Godaan berubah menjadi kebutuhan. Dan untuk pertama kalinya, juragan tanah itu merasakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada nafsu. Saat Dion mulai mengejar Raina, rahasia keluarga, persaingan bisnis, dan masa lalu gelapnya muncul satu per satu. Namun semakin banyak masalah datang, semakin kuat keinginannya untuk memiliki gadis itu… apa pun risikonya. Karena bagi Dion, Raina bukan lagi target godaan. Dia adalah satu-satunya perempuan yang tidak bisa dia lepaskan—sekaligus perempuan yang paling mungkin menghancurkannya.
BAB 1.Pertemuan Pertama yang Tidak Seharusnya

Dion Ardanata tidak pernah menunggu siapa pun. Namun pagi itu, pria matang berusia hampir empat puluh itu berdiri di depan tanah lapang miliknya, menatap papan proyek yang belum selesai dipasang.

“Mana anak magang dari kantor survei itu?” gerutunya pada asistennya.

“Asal Bapak tahu… dia masih mahasiswa. Namanya Raina.”

Hanya itu yang assistennya katakan, tapi Dion tidak benar-benar mendengar.

Ia hanya ingin proyeknya cepat selesai.

Dan ketika sebuah motor matic berhenti di depan gerbang, Dion langsung tahu, itu orangnya.

Helm dilepas. Rambut hitam panjang turun berantakan. Gadis itu menunduk canggung sambil merapikan map lusuhnya.

Wajahnya masih sangat muda. Terlalu muda untuk ada di sini. Terlalu polos untuk dunia yang Dion kuasai.

“Maaf, Pak… saya terlambat sedikit,” ucapnya gugup.

Dion menatapnya dari ujung kaki sampai kepala.

*Gadis ini? Yang dikirim kantor survei?*

“Nama kamu?” tanya Dion datar.

“Raina. Raina Arsita.”

Dion mengangkat alis. “Kamu bahkan tidak bisa datang tepat waktu. Lalu saya harus percaya pengukuran kamu akurat?”

Raina menggigit bibir—kesal, tapi takut. “Saya… bisa bekerja dengan benar, Pak. Tolong beri waktu.”

Dion mendekat satu langkah. Raina reflek mundur.

Matanya menatap langsung ke mata Dion, dan di momen itu… sesuatu terjadi.

Bukan nafsu. Bukan kagum.

Lebih mirip rasa ingin tahu yang berbahaya.

Gadis ini tidak tersenyum manis. Tidak mencoba mengambil hati. Tidak genit seperti wanita-wanita yang sering datang ke rumah Dion malam-malam.

Dia malah terlihat seperti ingin cepat pulang.

“Kenapa kamu gelisah sekali?” tanya Dion pelan.

“Saya cuma ingin bekerja cepat. Saya… tidak nyaman ditatap seperti itu.”

Dion tersenyum tipis. Sebuah senyum yang jarang muncul, dan kalau muncul, biasanya ada alasannya.

“Sudah lama sekali,” gumamnya, “ada perempuan yang berani bilang saya membuatnya tidak nyaman.”

Raina menatapnya bingung. “Maksud Bapak?”

Dion mencondongkan tubuh, suaranya rendah.

“Maksud saya… kamu menarik perhatian saya. Dan itu hal yang jarang terjadi.”

Raina terkejut, memegang mapnya lebih erat, dan langkahnya mundur otomatis.

Bukan karena godaan itu murahan.

Tapi karena tonenya sangat berbeda—lebih berbahaya daripada laki-laki lain yang pernah ia temui.

Dion melihat reaksi itu… dan justru makin tertarik.

“Kerja dulu. Biar saya lihat sejago apa kamu,” katanya, kembali berdiri tegak. “Kalau kamu gagal… kamu pulang.”

Raina mengangguk cepat, mencoba fokus pada pekerjaannya.

Tapi Dion tidak berhenti memperhatikan.

Tidak sekali pun.

Ia menyadari satu hal,

Ini bukan sekadar pekerja magang.

Ini adalah gadis yang—entah kenapa—membuatnya ingin menantang dirinya sendiri.

Dan Dion Ardanata bukan tipe pria yang berhenti saat sudah tertarik.

*Body biasa aja, cuma wajahnya itu—*

Raina sibuk mengukur batas tanah sambil mencatat angka. Matahari siang bikin wajahnya berkeringat, tapi dia tetap bekerja cepat. Sesekali ia mengusap dahi, berusaha tidak memikirkan tatapan pria yang berdiri beberapa meter di belakangnya.

Dion tidak pergi.

Padahal pekerjaannya sebenarnya tidak butuh dia di sini.

“Pak… Bapak tidak perlu menunggu,” kata Raina pelan saat melewati Dion untuk memindahkan alat.

“Siapa bilang saya menunggu kamu?” jawab Dion santai, tapi matanya jelas mengikuti gerak Raina.

Raina diam. Ia tidak mau terlihat tersinggung.

“Cepatkan saja,” lanjut Dion. “Saya tidak suka orang lambat.”

Raina mengangguk dan kembali bekerja.

Namun setiap ia menunduk, ia merasa ada tatapan yang membuatnya tidak bisa tenang.

Setelah hampir satu jam, Raina memeriksa ulang datanya. Tangannya gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena merasa diperhatikan terus.

Dion berjalan mendekat. “Sudah selesai?”

“Masih dicek ulang, Pak.”

“Perlu saya tunggu lagi?” Nada Dion datar, tapi jelas ada sindiran di sana.

Raina menarik napas. “Tidak perlu. Saya bisa kirim hasilnya ke kantor nanti sore.”

Dion terdiam sebentar. Lalu ia menatap Raina lebih dekat—cukup dekat sampai gadis itu memundurkan badan.

“Kamu takut sama saya?” tanya Dion tiba-tiba.

Raina cepat-cepat menggeleng. “Tidak.”

“Lalu kenapa kamu mundur?”

“Saya… cuma butuh jarak.”

Dion tersenyum tipis, senyum yang tidak tahu maksudnya apa.

“Saya mengerti. Tapi saya orang yang susah diberi jarak.”

Raina menelan ludah. “Pak, saya cuma bekerja—”

“Dan saya cuma melihat.” Dion memotong. “Itu masalah buat kamu?”

Raina menggeleng walau wajahnya memerah sedikit.

Dion menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mundur.

“Kalau sudah selesai, pulanglah. Tempat ini tidak aman untuk gadis seusiamu sendirian.”

Raina mengangguk cepat.

Dion berjalan ke mobil hitamnya. Ia membuka pintu, tapi sebelum masuk, ia memanggil,

“Raina.”

Gadis itu menoleh pelan.

“Saya akan ingat nama kamu.”

Mobil itu pergi, meninggalkan debu di belakang.

Raina berdiri diam, bingung kenapa dadanya terasa tidak stabil.

Sedangkan di dalam mobil, Dion menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya masih terbayang wajah gadis muda tadi.

“Sial,” gumamnya. “Kenapa menarik sekali?”

Dia tidak punya jawabannya.

Tapi satu hal jelas—Dion tidak akan berhenti di pertemuan pertama.

Lanjut membaca
Lanjut membaca