Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Keperkasaan Mas Budi

Keperkasaan Mas Budi

Gorenganbasah | Bersambung
Jumlah kata
202.4K
Popular
25.0K
Subscribe
2.6K
Novel / Keperkasaan Mas Budi
Keperkasaan Mas Budi

Keperkasaan Mas Budi

Gorenganbasah| Bersambung
Jumlah Kata
202.4K
Popular
25.0K
Subscribe
2.6K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+HaremUrban
Budi (32) sehari-hari dihina sebagai bujang lapuk. Dia juga yatim piatu dan direndahkan wanita, janda, dan para warga. Warga menghinanya sebagai dokter kampung yang bodoh. Namun mereka semua tidak tahu, Budi memiliki warisan ilmu pengobatan dari kakeknya. Dia juga nantinya jadi pahlawan desa, lalu menjebol semua wanita di sana!
Bab 1

"Sampeyan itu lho, Bud. Umur sudah tiga puluh dua, muka juga lumayan kalau dicuci bersih, tapi kok ya betah amat jadi bujang lapuk? Apa jangan-jangan burung kamu itu cuma hiasan doang? Mati suri?"

Menjadi mantri desa yang punya wajah ganteng dan si Gatot di dalam celana ternyata bukan jaminan hidup enak.

Buktinya, Budi masih saja berakhir duduk di kursi kayu reyot kliniknya, mendengarkan ceramah gratis dari pasien yang bukannya bayar malah bikin darah tinggi.

Pak Karyo, pasien pagi ini yang datang cuma buat minta vitamin pegal linu gratisan, bicara seenak udelnya sambil menyemburkan asap rokok klembak menyan di ruang praktik yang sempit itu. Di luar ruangan, terdengar cekikikan ibu-ibu yang sedang antre, jelas sekali mereka menikmati show pagi ini.

Budi menghela napas panjang, berusaha sabar. Kalau saja dia bukan mantri yang disumpah jabatan, mungkin mulut Pak Karyo sudah dia jahit pakai benang operasi biar mingkem selamanya.

"Pak Karyo, ini klinik medis, bukan biro jodoh," sahut Budi santai sambil mencoret kertas resep dengan tulisan cakar ayam.

"Saya bukannya tidak laku, tapi saya ini pilih-pilih. Saya cari istri yang bisa masak lodeh enak, bukan yang cuma pinter habisin duit suami buat beli bedak, kayak istri sampeyan."

Pak Karyo mendelik, tapi sedetik kemudian dia tertawa mengejek, tawa yang suaranya mirip suara kambing keselek biji salak.

"Halah, alasan klasiknya jomblo karatan! Bilang aja kamu itu minder. Siapa juga yang mau sama yatim piatu miskin kayak kamu? Tuh lihat si Aninda, janda kembang pabrik susu yang bodinya aduhai itu. Dia lebih milih digodain sopir truk daripada ngelirik mantri dekil macam kamu!"

Budi hanya diam, meski jempol kakinya sudah kram menahan emosi. Nama Aninda memang sensitif. Membayangkan janda satu itu saja sudah bisa membuat Si Gatot yang sedang tidur siang mendadak bangun dan hormat bendera.

Belum sempat Budi membalas hinaan itu, tiba-tiba pintu ruang praktik didobrak kasar dari luar.

BRAK!

"Minggir kalian, cepat minggir semua! Aku butuh Mas Budi, mana dia, cepat aku udah ga kuat lagi, Mas Budi!"

Semua mata langsung tertuju ke pintu. Di sana, berdiri Aninda dengan kondisi yang bisa bikin iman laki-laki satu kampung runtuh seketika.

Wajah cantiknya pucat pasi, keringat dingin mengalir deras di leher jenjangnya, tapi yang jadi pusat perhatian dunia bukanlah wajahnya, melainkan bagian dadanya.

Hari ini Aninda memakai seragam pabrik ketat berwarna biru muda yang kancing atasnya seakan menjerit minta tolong saking kencangnya menahan beban.

Dua gundukan di sana terlihat bengkak tidak wajar, ukurannya membesar dua kali lipat dari biasanya, naik-turun dengan tempo cepat mengikuti napasnya yang memburu.

"Mas Budi, ini sakit sekali, Mas, sumpah aku nggak tahu lagi harus digimanain!" jerit Aninda histeris sambil menerobos masuk, bahkan saking paniknya dia mendorong Pak Karyo sampai bapak-bapak tua itu terjungkal dari kursi pasien.

"Waduh, ini udah siaga dua!" batin Budi.

Insting medisnya langsung nyala, berbarengan dengan insting lelakinya yang ikut siaga satu.

Budi langsung bangkit, mengusir Pak Karyo yang masih mengaduh di lantai. "Pak, keluar dulu. Ini kasus serius dan harus segera ditangani. Kalau nggak, nyawa Mbak Aninda yang jadi taruhannya!"

Begitu pintu dikunci dan gorden ditutup, suasana di dalam ruangan berubah drastis. Aroma tubuh Aninda yang apek campur wangi susu segar langsung menyerbu hidung Budi. Aromanya nakal, bikin pusing kepala bawah.

Aninda duduk di tepi ranjang periksa sambil meremas dadanya sendiri. "Sakit banget, Mas! Tadi pas lagi packing susu, tiba-tiba dada saya kencang, panas, rasanya kayak disumpal batu kali!"

Budi mendekat, berusaha memasang wajah profesional meski matanya susah diajak kompromi. "Coba saya periksa dulu. Maaf ya, Nin, saya harus pegang. Ini prosedur medis buat aku meriksa kamu, sumpah aku nggak modus."

Dengan tangan sedikit gemetar, Budi membuka dua kancing teratas seragam Aninda.

Gusti Agung!

Pemandangannya benar-benar definisi surga dunia. Kulit putih mulus yang biasanya tersembunyi itu kini memerah tegang. Urat-urat halus berwarna biru terlihat jelas di permukaan kulit yang meregang maksimal.

Begitu jari kasar Budi menyentuh kulit panas itu, Aninda mendesah keras. "Akhh! Jangan ditekan kuat-kuat, Mas! Sakit!"

"Ini bukan mastitis biasa, Aninda. Ini namanya Mastitis Akut Psikosomatis," Budi menjelaskan dengan suara yang dibuat seberat mungkin untuk menutupi fakta kalau celananya sudah makin sempit.

"Produksi air susu kamu naik drastis karena stres, tapi salurannya mampet total karena ototnya kaku. Ini kalau telat sepuluh menit lagi, pembuluh darahnya bisa pecah. Kamu mau dadamu dioperasi dibelek pisau bedah di rumah sakit kota?"

Mata Aninda melotot horor. "Ogah! Saya nggak punya duit buat operasi! Terus gimana dong, Mas? Sedot pakai alat pompa aja, cepetan!"

Budi menggeleng tegas. "Nggak mempan. Otot salurannya lagi kejang parah. Kalau dipaksa disentuh benda mati kayak plastik pompa, dia malah bakal ngunci makin rapet. Sarafnya kaget. Satu-satunya cara buat mancing sarafnya biar rileks dan mau buka kunciannya itu cuma pakai rangsangan alami."

Aninda menatap Budi curiga, alisnya yang rapi itu menukik tajam. "Rangsangan alami apa maksudnya?"

Budi menelan ludah, jakunnya naik-turun. Ini dia momen penentuannya.

"Harus dihisap manual pakai mulut manusia yang hangat, Aninda. Lidah sama bibir manusia itu punya suhu dan tekstur yang bisa nipu saraf kamu, biar dia ngira itu bayi yang lagi nyusu. Jadi otomatis kunciannya bakal kebuka. Kalau mau sembuh, mau nggak mau aku harus lakuin itu sekarang, mumpung belum pecah."

Hening.

Hanya ada suara napas ngos-ngosan Aninda dan suara jam dinding yang berdetak seolah menghitung mundur sisa hidup Budi.

Wajah Aninda yang tadi pucat mendadak merah padam. Bukan merah malu, tapi merah murka.

"Apa?! Dihisap pakai mulut situ?!"

"Ini medis, Aninda. Sumpah. Aku cuma mau nolongin kamu." Budi berusaha membela diri, walau dalam hati kecilnya ada doa tulus semoga Aninda setuju.

PLAK!

Sebuah tamparan panas mendarat telak di pipi kanan Budi. Rasanya pedas, panas, dan bikin telinga berdenging.

"Dasar mantri cabul, Mantri otak mesum!" teriak Aninda lantang, suaranya pasti terdengar sampai ke telinga Pak Karyo yang lagi nguping di luar. "Pantesan kamu jadi bujang lapuk nggak laku-laku! Ternyata isi kepalamu cuma selangkangan doang, ih najis!"

Aninda menyambar tasnya, lalu dengan gerakan penuh emosi dia mengambil botol obat di meja Budi dan membantingnya ke lantai sampai pecah berkeping-keping.

PRANG!

"Tuh makan obatmu! Mending saya mati nahan sakit daripada disentuh bibir mantri kampung kayak kamu!"

Aninda pergi sambil menghentakkan kaki, meninggalkan Budi yang mematung memegangi pipinya yang panas. Pintu dibanting keras sekali lagi. Budi cuma bisa menghela napas panjang, menatap pintu yang tertutup itu sambil meringis.

"Nasib, nasib. Niat hati mau menolong sekaligus nyicip madu, malah dapat tamparan. Untung ganteng."

Budi menunduk, menatap bagian celananya yang menonjol dan tegang maksimal. "Sabar ya, Tot. Belum rezeki kita hari ini. Bobok lagi sana, belum waktunya kita dapat jatah enak-enak."

Lanjut membaca
Lanjut membaca