Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Heart of Deluxe

The Heart of Deluxe

Meylina Puspita | Bersambung
Jumlah kata
75.0K
Popular
100
Subscribe
20
Novel / The Heart of Deluxe
The Heart of Deluxe

The Heart of Deluxe

Meylina Puspita| Bersambung
Jumlah Kata
75.0K
Popular
100
Subscribe
20
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahBadboyCinta Sekolah21+
Dunia mengenalku sebagai raja yang sempurna. Tapi mereka tidak tahu, di dalam sini, aku sedang hancur berkeping-keping."... Di SMA Bina Cendakia Bangsa, Farez adalah sosok tak tersentuh. Tampan, jenius, dan berkuasa sebagai ketua DELUXE GANG—geng motor pelindung warga yang disegani bahkan oleh para petinggi negara. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, Farez hidup dalam sandiwara besar. Ia menderita Bipolar Disorder, sebuah rahasia gelap yang terkunci rapat. Tak ada satu pun orang di dunia ini yang mengetahui traumanya, kecuali para anggota inti Deluxe Gang yang sudah ia anggap sebagai saudara. Siksaan masa kecil dan kepergian kakaknya, Liam, yang meneruskan bisnis keluarga di luar negeri, membuat Farez membangun tembok setinggi langit. Ia bersumpah tidak akan pernah membuka hati demi melindungi orang lain dari sisi gelapnya sendiri. Baginya, menyendiri adalah cara terbaik untuk memastikan tidak ada yang terluka oleh badai di kepalanya. Namun, segalanya berubah saat Aluna, siswi pindahan dari SMA Citra Bangsa, memasuki hidupnya. Aluna adalah anomali yang tak terduga. Secara ajaib, dialah satu-satunya orang yang mampu menenangkan Farez saat penyakitnya kambuh. Aluna dengan lapang dada menerima setiap trauma yang ada di diri Farez, menjadi payung yang melindunginya dari badai meskipun ia harus menerima imbas dari kondisi mental Farez yang sulit. Ketulusan Aluna akhirnya membuat Farez menyerah dan menjadikannya satu-satunya orang luar yang mengetahui rahasia besarnya. Perlahan, benteng pertahanan Farez runtuh. Di balik sikap dinginnya yang membeku, mulai bangkit sebuah sisi hyper yang selama ini terpendam—sisi yang sangat intens, berani, dan blak-blakan yang hanya ia tunjukkan pada Aluna. Farez berjanji dengan segenap kekuasaannya: ia akan menjadi pelindung terkuat bagi Aluna, memastikan bahwa kegelapannya sendiri tidak akan pernah menyentuh apalagi menyakiti gadis itu. Akankah Farez berhasil mempertahankan Aluna di sisinya tanpa membiarkan dunianya yang kelam menghancurkan kebahagiaan mereka?, dan akankah farez bisa menyembuhkan trauma dengan kehadiran aluna??
Bab 1

Suatu sore, hujan rintik-rintik membasahi kota, seperti tangis langit yang membasuh kesedihan. Di taman belakang rumah, Farez Delvin Agatha, berusia 6 tahun, duduk termenung, badannya yang kecil penuh dengan memar dan lebam, seperti ranting yang patah. Air mata mengalir deras di wajahnya, ia menangis tersedu-sedu, memeluk tubuhnya yang rentan, seolah-olah mencoba melindungi diri dari kesakitan yang tak terhingga..

"Maa... kenapa Mama gini ke aku, Ma?" lirih Farez kecil, suaranya seperti tertelan oleh hujan, "Aku salah apa sama Mama?" Ia bergumam lirih, mata yang merah membengkak menatap gerimis yang mulai turun secara deras, seolah-olah air mata langit itu bisa menjawab pertanyaannya. Tubuhnya yang kecil bergetar, diselimuti oleh kesedihan yang tak terhingga, sementara hujan membasahi tubuhnya, mencampur aduk air mata dan kesakitan.

"PERGI KAMU ANAK SIALAN! Aku gak sudi punya anak kayak kamu! Karna sikap egois kamu, Nenekmu... Nenekmu mati, Farez... HARUSNYA KAMU YANG MATI!" Suara itu seperti petir yang menyambar, menghantam hati Farez kecil, membuat tubuhnya yang kecil bergetar hebat, seolah-olah kata-kata itu bisa membunuhnya.

"KAMU ITU SAMPAH, KAMU GAK PANTES HIDUP! KAMU HARUS MATI DI TANGANKU, FAREZ." "MATI KAMU, FAREZ." Suara-suara itu seperti pisau yang terus-menerus mengiris hati Farez, menyayat jiwa yang sudah terluka. Mereka bergaung di kepalanya, tak henti-hentinya, seperti mantra jahat yang tak bisa dihentikan. Farez mencoba melawan, tapi sulit... sangat sulit.. ia merasa dirinya tenggelam dalam lautan kata-kata pedas itu, tak bisa bernafas, tak bisa lari.

"AAAAARRRRGGHHHHHH! STOP... STOPPP... BERHENTII... Aku mohon, berhenti... ARRRRGGGGHHHH... STOPP!" Farez kecil meringkuk, tubuhnya yang kecil menggulung seperti bola, kedua tangan memegangi kepalanya yang terasa seperti akan meledak, seolah-olah belati-belati tajam menusuk-nusuk otaknya, membuat suaranya menjadi jeritan yang tak terkendali.

Farez terus menepuk-nepuk kepalanya, berusaha keras untuk tersadar, "Ini cuma halusinasi... cuma halusinasi..." tapi kata-katanya sendiri tak bisa menenangkan pikirannya yang kacau. Farez semakin kehilangan kendali atas dirinya, tubuhnya yang kecil mulai bergetar hebat, dan tiba-tiba... ia mulai menancapkan kuku-kukunya ke tangannya, menggali dalam-dalam, seolah-olah mencoba mengeluarkan racun dari dalam dirinya. Sambil menggeram, Farez menarik rambutnya sendiri, menggenggam segenggam rambut dan menariknya dengan sangat kuat, nyeri yang tajam tak membuatnya berhenti, malah membuatnya semakin lepas kendali.

"AAAAARRRGGHHHH... NE-NENKKKK... TOLONG FAREZ, NEKK... Farez sendirian... KENAPA NENEK NINGGALIN FAREZ?!" Farez menggulung tubuhnya, sesegukan yang keras mengguncang dadanya, air mata mengalir deras membasahi wajahnya, suaranya yang lirih berubah menjadi jeritan yang memecah kesunyian, "NEKK... KEMBALI... Farez gak kuat...

"FAREZ....!" Teriak Liam Jenandra Agatha, kakak Farez, suaranya memecah kesunyian, penuh dengan kepanikan dan kekhawatiran. Ia berlari tergesa-gesa, langkah-langkah kecilnya berdentum-dentum di tanah, menghampiri sang adik dengan mata yang terbelalak. Dengan napas yang terengah-engah, Liam memeluk tubuh kecil Farez yang masih menggulung, mencoba menghentikan gerakan tangan Farez yang terus-menerus menyakiti dirinya sendiri. "Farez... Farez, berhenti... Kakak ada di sini...

"FAREZ! STOPPP... STOPPP... JANGAN KAYAK GINI DEK... TOLONG DENGERIN KAKAK... KAKAK DISINI DEK..." Liam berteriak, suaranya serak karena berusaha menahan tangis, sambil terus menahan tubuh Farez yang terus bergejolak, mencoba menghentikan gerakan tangan yang menggali luka-luka di kulitnya sendiri. "Dek... Farez... tolong... tolong berhenti... Kakak gak kuat liat kamu kayak gini..." Liam memeluk Farez erat-erat, air mata mengalir deras di wajahnya, "Kakak ada di sini... Kakak gak akan pergi...

"K-KAK?... Farez salah apa kak sama Mama?... Kenapa Mama gak sayang sama Farez?... Apa Farez harus MATI kak?... Agar Mama bisa hidup bahagia tanpa Farez!!" Suara Farez kecil pecah, lirihnya berubah menjadi isakan yang memotong hati, di pelukan sang kakak yang hangat. "Gak... gak... Farez... jangan bilang gitu... Kamu gak salah apa-apa...

"N-NGGAK... N-NGGAKK DEK... Kamu harus hidup... sampai menikah... Nanti gimana Kakak hidup tanpa kamu DEKK??... Kakak sayang sama kamu dek... TOLONG DENGERIN KAKAK... kendaliin diri kamu..." Liam tersedu-sedu, air mata mengalir deras di wajahnya, suaranya bergetar karena menangis, sambil memeluk Farez erat-erat, "Kakak gak kuat... liat kamu kayak gini... Dek... tolong...

Liam terus menenangkan Farez, membekapnya erat-erat, seolah-olah ingin menyatukan jiwa mereka berdua. Ia tak peduli dengan derasnya hujan yang membasahi tubuhnya, tak peduli dengan dinginnya angin yang menusuk tulang, tak peduli dengan gelapnya malam yang menyelimuti mereka. Karna bagi Liam, Farez adalah segalanya, nyawanya, dan alasan ia masih bernafas. Meskipun Liam disayang oleh ibunya, itu tak membuatnya lupa bahwa Farez adalah adiknya, darah dagingnya. Meskipun ibunya ribuan kali melarangnya memberi perhatian kepada Farez, Liam tak pernah peduli, ia tetap memberikan perhatian, kasih sayang, dan pelindung bagi adiknya. Karna bagi Liam, ia harus menjaga Farez, menjaga adiknya yang lemah dan rentan, selama ayahnya berada di luar negri mengurus perusahaan keluarga yang berada disana.

"KAKK... Lihat... lihat tangan aku... MELEPUH... Tadi di siram Mama pake air mendidih kak..." Farez mengadu kecil, suaranya bergetar, mata yang besar dan basah menatap Liam dengan ekspresi manja dan penderita, "Kak... sakit... Farez sakit kak..." Farez mengangkat tangannya yang merah dan melepuh, seolah-olah meminta Liam untuk mengobati luka yang tak hanya fisik, tapi juga jiwa..

"GAPAPA YA DEK... Kakak obatin, YUUK..." Liam tersenyum lembut, mencoba menutupi kekhawatirannya, sambil mengangkat tangan Farez yang melepuh dan memberinya ciuman lembut, "Kakak jaga kamu, Farez..." Liam mulai menuntun Farez berjalan menuju ruang tamu, langkah-langkah kecil mereka berdua seperti sebuah perjuangan melawan kesakitan dan kesulitan.

"KAMU DUDUK SINI YA... Tungguin Kakak, Kakak ambil salep dulu..." Liam membisikkan kata-kata itu di telinga Farez, sambil memelai rambutnya yang kusut, dan memberinya ciuman lembut di kening, "Kakak gak lama, Farez..." Liam tersenyum, mencoba menenangkan adiknya yang masih terlihat takut dan sakit, lalu dengan perlahan melepaskan pelukannya dan beranjak pergi, meninggalkan Farez yang duduk sendirian di sofa, menantikan kepulangan kakaknya.

Farez kecil tersenyum lembut, mata yang masih basah berkedip-kedip, "OKE KAKK..." Suaranya lirih, tapi penuh kepercayaan pada kakaknya, sambil mengangguk kecil, seolah-olah dia sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Farez menunggu kakaknya di ruang tamu, mengayunkan kaki mungilnya yang tak sampai lantai, matanya terus-menerus menatap pintu, seolah-olah dia bisa membuat Liam kembali lebih cepat. Kesunyian ruang tamu hanya dipecahkan oleh suara ayunan kaki Farez yang lembut, dan detak jantungnya yang semakin kencang, menunggu kedatangan kakaknya.

"Mana tangannya dek?, Kakak olesin salep biar besok sembuh kita bisa main sepak bola bareng". Ujar liam dengan semangat lalu mengambil tangan kanan farez yang memerah dan lebam, lalu mengolesnya salep secara perlahan dan telaten.

"Aarrghhh....sakit kak, Pelan-pelan". Ujar farez kecil sambil menangis pelan.

Liam meniup luka memerah itu. "Dah selesai dek semoga cepet membaik yaa supaya kita bisa main bareng". ucap liam sambil tersenyum dan mencubit pipi farez kecil yang gembul.

Namun tiba-tiba kebahagiaan itu tak berselang lama, ketika ibunya pulang dari kantor.

"LIAM.....KAMU APA-APAAN?, KENAPA KAMU NGOBATIN ANAK SIALAN ITUU?". Teriak vanesha ibu dari liam dan farez. Ia menarik tangan liam agar menjauh dari farez lalu mendorong tubuh farez.

Vanesha berjalan mendekati farez, Lalu mencekik leher farez. "Kamu anak sialan, jangan berani-berani kamu cari perhatian ke liam anak aku". Teriak vanesha dan terus mencekik farez sampai wajahnya membiru

Farez mulai kehabisan nafas "Ma....gapapa asal dengan ini mama bisa bahagia, Aku rela mati di tangan mama..Nek...tunggu aku". Batin farez yang mulai pasrah dengan garis takdir hidupnya

Lalu tiba-tiba suara langkah kaki terdengar. "Maaa..stop... kamu apa-apaan?, Kamu mau bunuh anak kita?" Teriak andreas suami vanesha dan ayah dari liam dan farez

Andreas berlari mendekati vanesha dan farez, lalu menarik tangan vanesha lalu menamparnya. "Kamu gila vanesha.. Apa seperti ini sikap kamu ke farez selama aku pergi?". Teriak andreas dan menatap penuh amarah ke vanesha.

"Kamu lihat kan anak sialan?.. Karna kamu papa kamu nampar aku!, Puas kamu hah?...".berontak vanesha di genggaman andreas.

Andreas menarik tangan vanesha untuk masuk ke kamar dan meminta penjelasan dari vanesha.

Di ruang tamu masih dengan dua anak kecil itu yang kini saling berpelukan dan saling menenangkan. "Dek... ayo kita ke kamar tidur besok kita harus sekolah" Lirih liam sang kakak kepada adeknya farez.

Farez menganggukan kepala dan mengikuti ucapan kakaknya.. Dan pada saat itu Farez tersadar dari lamunannya, bayangan itu seakan membekas di hati dan pikirannya dan jiwanya melemah semenjak kematian neneknya yang slalu melindunginya.

"Nek... maafin aku. Kalau saja waktu itu aku nggak egois, kalau saja aku nggak ngerengek minta es krim itu, nenek pasti masih ada di sini." Suara Farez tercekat, dadanya sesak seolah oksigen di rooftop sekolah itu menghilang. "Satu cup es krim nggak sebanding dengan nyawa Nenek. Aku menukar hidup Nenek demi sesuatu yang cuma manis di lidah sebentar, tapi pahitnya harus aku telan seumur hidup.".

Lamunan pilu itu pecah berkeping-keping saat derap langkah kaki yang berisik menghantam anak tangga beton. Keheningan rooftop yang semula mencekam, mendadak riuh oleh suara-suara familiar.

"Katanya hari ini kita kedatangan murid baru," cetus Lucky, memecah kesunyian sambil melangkah lebar memimpin rombongan.

Tiga anggota deluxe gang lainnya mengekor di belakang, mendaki tangga terakhir menuju puncak gedung SMA Bina Cendikia. Tujuan mereka hanya satu: menghampiri Farez Delvin Agatha. Sebagai ketua Deluxe Gang, rooftop adalah singgasana tak resmi bagi Farez. Tempat itu telah menjadi markas sakral tempat mereka berkumpul sebelum bel masuk sekolah memaksa mereka berpura-pura menjadi murid biasa.

Deluxe Gang bukan sekadar perkumpulan remaja dengan motor hitam menyeramkan. Di tengah stigma negatif tentang geng motor yang gemar membuat onar, mereka hadir sebagai penyelamat. Mereka adalah garda terdepan saat masyarakat merasa terancam—sebuah unit keamanan jalanan yang lebih ditakuti oleh para preman daripada oleh warga. Jika geng lain adalah badai yang merusak, Deluxe gang adalah jangkar yang menenangkan.

"Kan... bener apa kata gue, bos kita ini pasti lagi 'bertapa' di sini," seloroh Lucky dengan cengiran khasnya.

Ia melangkah santai mendekati Farez, diikuti tiga anggota inti lainnya yang berjalan penuh percaya diri. Derap sepatu bot mereka yang beradu dengan lantai semen rooftop seolah menegaskan dominasi mereka di SMA Bina

"Rez! Lo denger nggak? Murid baru, katanya pindahan dari sekolah elite," seru Lucky lagi begitu pintu besi rooftop terbuka dengan deritan nyaring.

Farez masih bergeming, membelakangi teman-temannya. Aura dingin yang dipancarkan sang ketua seolah membekukan udara di sekitar mereka, membuat Lucky dan yang lainnya sadar bahwa mereka baru saja mengusik sang singa yang sedang dalam mode sunyi.

Satu per satu dari mereka menghempaskan tubuh di sofa outdoor berbahan kulit premium yang tertata rapi di sudut rooftop. Suara pemantik api elektrik terdengar halus, disusul kepulan asap yang segera tersapu angin pagi. Di sekolah berkelas seperti SMA Bina Cendikia, bahkan tempat berkumpul mereka pun terasa seperti lounge eksklusif.

"Hari ini katanya ada murid baru pindahan dari SMA Citra Bangsa," ucap ulang Lucky sembari duduk di sebelah Farez. Ia tampak sibuk menggeser layar ponselnya, memantau grup WhatsApp angkatan yang sudah gaduh sejak pagi. "Kira-kira cewek apa cowok, Bos, menurut lo?"

Farez hanya diam, menyesap rokoknya dalam-dalam sebelum mengembuskannya ke langit yang mulai terang. SMA Citra Bangsa adalah sekolah elit—tempatnya para pewaris takhta berkumpul.

Nggak peduli gue," sahut Farez singkat. Suaranya datar, namun penuh penekanan. "Mau siapa pun yang datang, dia harus tahu aturan main di sini. Gue nggak mau ada orang baru yang ngerusak ketenangan".

Lucky terkekeh, matanya masih tertuju pada ponsel. "Ya kali aja cewek cantik, Rez. Lumayan buat pemandangan baru di sekolah kita".

Farez menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara dengan pandangan yang tetap lurus ke depan.

"Gak tertarik," potong Farez ketus, memutus pembicaraan soal murid baru itu sebelum Lucky sempat melanjutkan. "Mending lo semua mikir soal balapan nanti malem gimana?".

Suasana di rooftop yang semula santai mendadak berubah tegang. Vano Anggara William, sang Wakil Ketua yang biasanya tenang, kini memasang raut wajah serius. Sebagai orang kedua di Deluxe Gang, Vano adalah sosok yang paling paham peta kekuatan lawan di jalanan.

Mendengar itu, Vano yang sejak tadi bersandar pada pembatas gedung angkat bicara. "Tadi kata Samuel, pukul 12 malam di Jalan Pemuda, Rez. Kayak biasa," ujar Vano dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Farez dengan tatapan yang sama-sama tajam. "Tapi kali ini lawanmu susah. Dia pemegang rekor yang selalu menang berturut-turut belakangan ini. Kabarnya, dia punya skill balap yang gak semua orang punya. Dia licin di tikungan dan punya nyali yang nggak masuk akal.".

Tinggg... Tinggg... Tinggg...

Suara bel elektrik yang jernih dan berkelas menggema di seluruh sudut gedung SMA Bina Cendakia, memutus pembicaraan serius mereka tentang aspal panas.

"Ehh... bel masuk, Sob. Soal balapan kita bahas aja sepulang sekolah gimana? Di basecamp," seru Vano sambil berdiri dan merapikan seragamnya yang modis. Sebagai Wakil Ketua, Vano selalu bisa menempatkan diri kapan harus menjadi mekanik strategi dan kapan harus menjadi murid sekolah elit.

Lucky dan yang lainnya ikut bangkit, mematikan rokok mereka dengan rapi. Mereka semua menoleh ke arah Farez, menunggu komando terakhir dari sang Ketua sebelum meninggalkan "singgasana" mereka.

Farez mengembuskan asap terakhirnya, lalu berdiri dengan gerakan yang tenang namun penuh wibawa. Tatapannya masih tajam, seolah otaknya sudah mulai mensimulasikan tikungan di Jalan Pemuda.

Oke. Basecamp jam empat sore. Pastikan Samuel nggak telat bawa info soal lawan itu," ujar Farez dingin. Ia melangkah lebih dulu menuju pintu besi rooftop, memimpin barisan ksatria jalanan itu turun ke kelas.

"Gue mau lihat sehebat apa 'nyali' yang dibilang Vano tadi.". Gumam farez dalam hati.

"OKE!" sahut Lucky, Ricky, dan Alfian serentak, suara mereka mantap mengikuti komando sang Ketua.

Mereka berlima mulai melangkah keluar dari rooftop, menuruni tangga dengan derap langkah yang kompak. Farez berjalan paling depan, membelah lorong sekolah dengan tatapan lurus dan langkah yang tenang namun penuh penekanan. Di belakangnya, Vano, Lucky, Ricky, dan Alfian mengekor seperti barisan pengawal ksatria aspal.

Gaya mereka yang berjalan beriringan—dengan Farez sebagai pusatnya—selalu berhasil menyita perhatian. Siswa-siswi yang sedang mengobrol di depan loker spontan terdiam, memberikan jalan bagi sang pemimpin Deluxe Gang. Meskipun mereka dikenal sebagai pelindung warga, aura dingin dan tegas yang terpancar dari wajah Farez tetap saja membuat siapa pun segan untuk sekadar menyapa.

"Lihat tuh, Deluxe Gang udah turun," bisik salah seorang siswi sambil menatap kagum barisan cowok-cowok penguasa jalanan itu.

Farez tidak peduli. Pikirannya masih terbagi antara strategi di Jalan Pemuda dan rasa sesak yang sesekali muncul tiap kali ia melihat bayangan dirinya sendiri di kaca jendela koridor. Namun, saat mereka semakin dekat dengan ruang kelas, langkah Farez sedikit melambat ketika ia melihat sosok asing yang berdiri di depan ruang kepala sekolah.

Langkah mereka yang mantap akhirnya terhenti di depan pintu kelas 12 Bahasa. Begitu Farez melangkah masuk, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi. Kehadiran lima pilar Deluxe Gang ini selalu membawa tekanan udara yang berbeda—seolah-olah ruangan itu kini punya penguasanya kembali.

Lanjut membaca
Lanjut membaca