Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi Sang Tabib Sakti

Reinkarnasi Sang Tabib Sakti

OulanJull | Bersambung
Jumlah kata
90.8K
Popular
516
Subscribe
184
Novel / Reinkarnasi Sang Tabib Sakti
Reinkarnasi Sang Tabib Sakti

Reinkarnasi Sang Tabib Sakti

OulanJull| Bersambung
Jumlah Kata
90.8K
Popular
516
Subscribe
184
Sinopsis
18+PerkotaanAksiDokter GeniusReinkarnasiMengubah Nasib
Terjebak di sebuah ruko kumuh dengan penyakit jantung kronis dan dihina sebagai gembel tak berguna, Muza memulai langkah pertamanya untuk kembali ke puncak. Ia tidak hanya datang untuk menyembuhkan yang sakit; tapi untuk mencabut akar kejahatan yang telah mengkhianatinya. Bagi mereka yang tulus, ia adalah malaikat penyelamat. Bagi musuhnya, ia adalah sang malaikat maut yang membawa jarum kematian.
Bab 1

Rasa sakit adalah hal pertama yang menyambutnya kembali ke alam fana.

​Bukan rasa sakit yang tajam seperti tebasan pedang, melainkan rasa sakit yang tumpul, konsisten, dan merayap ke setiap ujung saraf. Muza mencoba menarik napas, tetapi paru-parunya terasa sangat berat, seolah-olah udara yang ia hirup hanya berisi debu dan pecahan kaca. Setiap kali ia mencoba mengembangkan dadanya, sebuah nyeri tajam menusuk tepat di ulu hati, memaksanya untuk kembali terengah-engah dalam napas yang dangkal.

​Perlahan, kelopak matanya yang terasa seberat gunung mulai terbuka.

​Pandangannya kabur. Hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit Istana Tabib yang terbuat dari batu giok putih, melainkan langit-langit kayu yang menghitam karena jamur. Sebuah bohlam lampu yang redup tergantung miring, sesekali berkedip, mengeluarkan suara dengung listrik yang asing bagi telinganya.

​"Di mana... aku?"

​Suaranya sendiri mengejutkannya. Itu bukan suara berwibawa Sang Tabib Abadi yang pernah memberikan perintah di depan ribuan kultivator. Suara itu pecah, serak, dan sangat lemah, seolah-olah berasal dari kerongkongan yang sudah berbulan-bulan tidak tersentuh air.

​Muza mencoba menggerakkan tangannya, tetapi sensasi berat yang luar biasa membuatnya hanya bisa menggerakkan ujung jari. Ia menolehkan kepala ke samping dengan susah payah. Di sana, di atas meja kayu yang sudah lapuk dimakan rayap, terdapat sebuah cermin kecil yang retak.

​Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya, mencoba melihat pantulan dirinya.

​Wajah di cermin itu membuat jantungnya—jantung yang terasa sangat rapuh—berdenyut nyeri. Itu adalah wajah dirinya saat berusia sekitar dua puluh lima tahun. Kulitnya pucat pasi, hampir transparan hingga pembuluh darah kebiruan terlihat jelas di pelipis dan lehernya. Matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam, memberikan kesan seseorang yang sudah lama sekarat.

​"Kenapa wajah mudaku seperti ini..." bisiknya dengan ngeri.

​Tiba-tiba, seperti bendungan yang runtuh, jutaan fragmen memori menghantam kepalanya. Muza mengerang, mencengkeram kepalanya saat dua kehidupan yang berbeda mulai bertabrakan dalam satu kesadaran.

​Di satu sisi, ia adalah Muza, Sang Tabib Abadi dari milenium lalu. Pemimpin Sekte Medis yang dikhianati oleh dua orang kepercayaannya, Xander dan Elina. Ia ingat detik-detik terakhir saat pedang pengunci jiwa menembus jantungnya, dan tawa mereka saat menuduhnya sebagai penyebar wabah "Tangis Darah".

​Di sisi lain, ia kini juga adalah Muza di masa sekarang, seorang yatim piatu di era modern. Seorang pemuda yang terobsesi dengan pengobatan karena penyakit jantung bawaan yang dideritanya. Ia adalah lulusan akademi medis kelas bawah yang gagal mendapatkan lisensi karena tidak punya uang untuk menyuap pejabat. Dengan sisa warisan dari mendiang gurunya, ia membuka sebuah ruko kumuh bernama "Klinik Rembulan" di Gang Rembulan—sebuah wilayah yang bahkan Tuhan pun tampaknya enggan untuk menoleh.

​Pemuda ini baru saja mati beberapa menit yang lalu. Dia mati sendirian di atas kursi bambunya, dalam keadaan lapar, putus asa, dan gagal jantung total.

​"Seribu lima ratus tahun telah berlalu..." Muza bergumam saat kesadarannya mulai stabil. "Aku tidak mati. Teknik Pemisah Jiwa Sembilan Langit... benar-benar berhasil."

​Mata yang tadinya sayu dan penuh penderitaan itu tiba-tiba berkilat. Sesaat, aura kuno yang sangat kuat memancar dari tubuh yang lemah itu, membuat debu-debu di ruangan tersebut menari-nari dalam getaran energi yang tak terlihat.

​Namun, aura itu hanya bertahan sedetik.

​Uhuk! Uhuk! HOAK!

​Muza membungkuk, batuknya begitu hebat hingga tubuhnya terguncang hebat. Cairan merah kental muncrat dari mulutnya, membasahi lantai semen yang dingin. Darah itu berwarna merah gelap, hampir kehitaman, menandakan bahwa organ-organ di dalam tubuh ini sudah mulai membusuk dari dalam.

​"Sialan!" umpatnya sambil menyeka darah di dagunya. "Tubuh ini... ini bukan sekadar lemah. Ini adalah rongsokan!"

​Muza mencoba memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan denyut jantungnya yang liar. Sebagai seorang tabib yang pernah mencapai puncak tertinggi, ia segera melakukan diagnosa internal menggunakan sisa-sisa indera jiwanya.

​Hasilnya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.

​Nadi tersumbat total oleh kotoran duniawi. Jantung membengkak dan dindingnya menipis. Paru-paru dipenuhi cairan. Dan yang paling parah... Energi vital-nya tidak ada.

​Di dunia modern ini, energi spiritual tampak sangat tipis, hampir tidak terasa. Udara dipenuhi oleh polusi dan sisa-sisa pembakaran mesin yang bagi Muza terasa seperti racun yang dihirup secara sukarela.

​"Bagaimana mungkin aku bisa membalas dendam jika berdiri saja aku harus berpegangan pada meja?" pikirnya getir.

​Ia mencoba memaksa satu tetes esensi jiwanya yang agung untuk mengalir ke meridian lengannya. Ia ingin mencoba teknik Pembersihan Jalur yang paling dasar. Namun, baru saja energi itu menyentuh nadinya, Muza berteriak tertahan.

​Krak!

​Suara retakan kecil terdengar dari dalam lengannya. Pembuluh darahnya tidak mampu menahan tekanan energi jiwanya yang terlalu murni. Kulitnya mulai mengeluarkan bintik-bintik darah kecil.

​"Jangan dipaksa!" ia memperingatkan dirinya sendiri. "Jiwa ini adalah samudra, tapi tubuh ini hanyalah gelas kaca yang retak. Jika aku menuangkan samudra ke dalam gelas ini, ia akan hancur menjadi debu dalam sekejap."

​Muza bersandar pada dinding yang dingin, mencoba mengatur napasnya kembali. Ia melihat ke sekeliling ruko. Rak-rak kayu di sana kosong, hanya ada beberapa botol alkohol murah dan beberapa bungkus ramuan herbal berkualitas rendah yang sudah berjamur. Tidak ada uang, tidak ada makanan, dan yang paling parah—tidak ada obat yang layak.

​Ia melirik kalender kusam yang tergantung di dinding. Tahun 2026.

​Dunia telah berubah total. Kerajaan-kerajaan besar yang ia kenal dulu telah hilang, digantikan oleh struktur yang disebut "Negara". Teknologi telah menggantikan mantra, dan pil kimia telah menggantikan alkimia herbal.

​Namun, Muza tahu bahwa satu hal tidak pernah berubah: sifat manusia. Keserakahan, pengkhianatan, dan penyakit.

​"Xander... Elina... jika kalian benar-benar mencapai keabadian yang kalian impikan dengan mengorbankan nyawaku, maka kalian pasti masih ada di suatu tempat di dunia ini," bisiknya dengan nada yang sangat dingin hingga suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat. "Tunggu aku. Aku akan merangkak dari liang lahat ini, aku akan memperbaiki tubuh sampah ini, dan aku akan meruntuhkan surga yang kalian bangun di atas darahku."

​Muza mencoba bangkit. Ia butuh air. Tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang terbakar. Dengan langkah gontai dan tangan yang terus menempel pada dinding untuk menjaga keseimbangan, ia berjalan menuju wastafel kecil di pojok ruangan.

​Setiap langkah terasa seperti siksaan fisik yang nyata. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Tubuh ini benar-benar berada di titik nadir. Malnutrisi yang parah membuat otot-ototnya menyusut.

​Tepat saat ia berhasil meraih keran air, sebuah suara menghancurkan kesunyian malam di Gang Rembulan.

​BRAK! BRAK! BRAK!

​Pintu ruko yang terbuat dari kayu tua itu digedor dengan kekuatan yang cukup besar hingga engselnya bergetar hebat. Suara teriakan kasar terdengar dari balik pintu, memecah ketenangan malam.

​"Woy! Muza! Dokter gadungan! Keluar lo!"

​Muza terdiam, tangannya masih memegang keran. Dalam memori pemilik tubuh ini, suara itu sangat ia kenali. Itu adalah suara Reno, penagih hutang dari kelompok preman pasar yang menguasai wilayah tersebut. Pemilik tubuh asli berhutang sejumlah uang yang cukup besar untuk biaya pengobatan jantungnya yang sia-sia.

​"Jangan pura-pura mati di dalam! Gue tahu lo belum mampus! Keluar sekarang atau ruko busuk ini gue bakar bareng sama lo sekalian!"

​Gedoran itu makin menjadi-jadi, dibarengi dengan suara tawa beberapa orang lainnya.

​Muza perlahan memutar keran, membiarkan air mengalir dan membasuh wajahnya yang pucat. Ia menatap pantulannya di air yang mengalir, lalu beralih menatap pintu yang hampir jebol itu.

​Sebuah kilatan tajam muncul di matanya. Rasa sakit di tubuhnya masih ada, tetapi kemarahan seorang Dewa Tabib yang dihina mulai membakar rasa sakit itu.

​"Penagih hutang?" Muza bergumam pelan, suaranya kini terdengar berbeda—lebih berat dan penuh otoritas. "Di kehidupanku yang dulu, bahkan Kaisar pun harus mengantre bertahun-tahun hanya untuk bicara denganku."

​Ia meraih sebatang jarum jahit tua yang tergeletak di dekat wastafel. Ia menatap benda kecil itu sejenak, lalu menyembunyikannya di sela jari-jarinya.

​"Baiklah. Mari kita mulai babak baru ini dengan sedikit... pembersihan."

​BRAK!

​Gedoran terakhir membuat pintu ruko itu hampir terlepas dari bingkainya. Muza berdiri tegak, meski kakinya gemetar, ia menatap lurus ke arah pintu dengan tatapan yang bisa membuat nyali orang biasa menciut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca