Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PENGAWALKU SINGA BETINA YANG CANTIK

PENGAWALKU SINGA BETINA YANG CANTIK

A.Rifay Nindar | Bersambung
Jumlah kata
32.2K
Popular
211
Subscribe
74
Novel / PENGAWALKU SINGA BETINA YANG CANTIK
PENGAWALKU SINGA BETINA YANG CANTIK

PENGAWALKU SINGA BETINA YANG CANTIK

A.Rifay Nindar| Bersambung
Jumlah Kata
32.2K
Popular
211
Subscribe
74
Sinopsis
18+PerkotaanAksiPengawal21+Mafia
WARNING !! Bacaan khusus +21 Lingga Dwikarna, seorang pengusaha muda tampan dan sukses berusia 25 tahun, mewarisi kerajaan bisnis ayahnya. Sejak kecil, ia dimanja oleh kedua orang tuanya, namun kini Lingga menghadapi ancaman serius dari pesaing bisnis yang ingin menghancurkannya. Ayah Lingga, Tuan Dwikarna, seorang pebisnis kawakan, menyadari bahaya yang mengintai putranya. Ia teringat pada Ajeng Larasati, seorang mahasiswi semester akhir yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa. Tuan Dwikarna pernah diselamatkan Ajeng dari sabotase berbahaya. Merasa berhutang budi dan percaya pada kemampuan Ajeng, Tuan Dwikarna menugaskannya untuk menjadi pengawal Lingga. Ajeng, dengan sikap dingin dan profesional, selalu menjaga jarak dari Lingga. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia menyimpan kekaguman pada pemuda itu. Begitu pula Lingga, yang diam-diam terpikat oleh keberanian dan kecantikan Ajeng. Cinta yang terpendam itu akhirnya terungkap ketika Lingga dan Ajeng tertawan oleh Tuan Broto dan putranya, Alvian – pesaing bisnis Lingga yang juga merupakan seorang mafia kejam. Di sebuah pulau terpencil, mereka harus berjuang bersama untuk bertahan hidup, mengungkap konspirasi, dan mengakui perasaan masing-masing di tengah bahaya yang mengancam.
Tahta Bisnis untuk Lingga

Ruang ballroom Hotel Emerald Imperial malam itu tampak berkilau seperti istana megah. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke dinding-dinding yang dihiasi bunga anggrek putih dan biru—warna khas perusahaan Dwikarna Group.

Di panggung utama, terpajang backdrop besar bertuliskan:

“Serah Terima Jabatan CEO – Dwikarna Group

Lingga Dwikarna, The New Era Begins.”

Musik jazz lembut mengalun, mengiringi gelas-gelas sampanye yang beradu pelan dalam tawa hangat para undangan. Para tamu datang dari berbagai negara—pengusaha tekstil Korea, produsen energi hijau dari Belanda, hingga investor teknologi dari Jepang. Semua berkumpul, bersulang untuk malam yang disebut “Awal Babak Baru”.

Di barisan depan, keluarga besar Dwikarna duduk anggun. Nyonya Lestari, ibu Lingga, tak henti-hentinya tersenyum, menyeka air mata bahagianya dengan tisu elegan. Sementara adik perempuannya, Laras, sibuk mengambil foto, bangga sekaligus terharu.

Tak lama, sorotan lampu panggung mengarah pada seorang pria paruh baya yang berdiri tegap dengan setelan hitam yang tampak sempurna—Tuan Dwikarna, sosok legenda di dunia bisnis manufaktur dan teknologi Indonesia.

Ia mengangkat mikrofon, suaranya kokoh namun penuh kehangatan.

“Hadirin sekalian,” ujarnya, “Selama lebih dari 30 tahun saya memimpin Dwikarna Group, dan hari ini saya menyerahkan tongkat estafet kepada seseorang yang bukan hanya pewaris nama, tapi pewaris visi dan tanggung jawab. Putra saya, Lingga Dwikarna.”

Tepuk tangan bergemuruh. Kamera-kamera berkilat. Semua mata tertuju pada Lingga, yang melangkah maju dengan setelan biru malam, senyum tenang namun berisi.

Tuan Dwikarna lalu membuka sebuah kotak kaca kecil di podium. Di dalamnya, terdapat pin berlambang burung elang dan gelombang emas—simbol resmi Dwikarna Group sejak berdiri.

“Lingga,” ujar sang ayah sambil menyematkan pin di dada putranya, “Mulai malam ini, kaulah pemimpin Dwikarna Group. Teruskan apa yang kita bangun. Jadikan lebih besar dari apa yang bisa ayah bayangkan.”

Ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan, seruan selamat, dan kilatan kamera yang tak henti-henti. Beberapa investor luar negeri bahkan berdiri untuk memberi penghormatan. Pada layar besar di belakang muncul foto masa kecil Lingga, remaja Lingga saat magang di pabrik ayahnya, hingga prestasinya menempuh pendidikan di London.

Lingga menghela napas pelan. Rasanya seperti baru saja membuka pintu menuju dunia penuh harapan. Ia menatap ayahnya, membungkuk hormat, dan berkata.

“Terima kasih, Ayah… mulai malam ini, saya berjanji akan memimpin bukan sebagai pewaris, tapi sebagai pelayan visi perusahaan ini.”

Seisi ruangan kembali bertepuk tangan. Nyonya Lestari kembali meneteskan air mata haru. Para undangan berdiri memberi selamat, satu per satu, sambil menyebut nama Lingga sebagai “Era Baru”.

Suasana malam itu benar-benar menjadi pesta penuh sukacita. Tidak ada yang menyangka… di balik kebahagiaan itu, tersimpan badai yang akan datang.

Pagi bahagia setelah pesta, matahari menembus tirai jendela rumah besar keluarga Dwikarna. Suara burung-burung di taman mengiringi pagi yang tampak sangat berbeda bagi Lingga. Ia bangun dengan perasaan campuran: bangga, berani, dan sedikit gugup.

Di ruang makan bergaya klasik modern, aroma kopi premium memenuhi udara. Tuan Dwikarna duduk membaca jurnal finansial sambil menyeruput kopi hitam. Nyonya Lestari sibuk menyusun buah di piring, sementara Laras sudah sibuk memotret makanan—kebiasaan khasnya.

“Lingga, makan dulu yang banyak. Hari ini kau resmi datang ke kantor sebagai CEO, harus terlihat segar dan berwibawa.” ajak Nyonya Lestari.

Lingga tersenyum. “Tenang, Bu. Saya sudah siap kok. Rasanya seperti mulai hidup baru.”

“Tolong tampil keren ya, Kak. Aku mau bikin konten tentang ‘CEO termuda yang ganteng dan humble’.” ucap Laras tertawa kecil sambil mengedip.

“Jangan lebay, Ras. Nanti orang-orang malah kirim lamaran kerja gara-gara wajah, bukan kemampuan.” ucap Lingga.

Mereka semua tertawa. Suasana terasa sangat hangat, jauh dari kesan keluarga pebisnis yang kaku.

Tuan Dwikarna menutup jurnalnya dan menatap Lingga penuh rasa bangga.

“Ingat, Ling. Kepemimpinan itu bukan tentang dihormati… tapi membuat dirimu layak dihormati.” ujar Tuan Dwikarna.

“Saya ingat pesan Ayah semalam. Saya tidak akan jadi boneka perusahaan. Saya akan jadi pelindungnya.” jawab Lingga.

Tuan Dwikarna tersenyum tipis, tampak puas mendengar itu.

Saat mereka menikmati sarapan, duara bel berbunyi. Tak lama, seorang pria berpenampilan santai namun rapi masuk ke ruang makan sambil mengibas-ngibaskan jaket kulitnya.

“Selamat pagi keluarga calon penguasa dunia. Eh, maaf, maksud saya… keluarga CEO baru!”

Semua tertawa. Lingga berdiri dan menyalami sahabatnya.

“Pagi juga, puting beliung. Kau datang terlalu semangat, ya?” kata Lingga tersenyum.

"Puting Beliung?" tanya Laras pelan memicingkan matanya.

“Tentu dong! Hari ini sahabatku diangkat jadi bos besar. Minimal aku harus tampil sebagai pengawal pribadi tidak resmi, kan?” ucap Topan.

“Lebih kayak supir pribadi yang tukang nyinyir.” bisik Laras lagi pada Lingga tapi di dengar oleh Topan.

“Hei! Aku ini lulusan manajemen bisnis, bukan sopir. Tapi kalau jadi sopir buat Lingga, harus pakai mobil sport yang mahal, ya?” kata Topan.

“Santai saja, Pan. Kita masih butuh karyawan biasa yang rendah hati.” ucap Lingga.

“Ya ampun, langsung disindir. Baik, saya siap jadi rakyat jelata sementara, Yang Mulia CEO!” kata Topan.

Mereka semua tertawa lagi. Nuansa kebahagiaan begitu kental, seolah tak ada masalah yang bisa menyentuh keluarga itu.

Saat bersiap keluar, Tuan Dwikarna menepuk pundak putranya.

“Lingga… dunia bisnis tidak selalu bersih. Ada yang berjuang dengan kerja keras, ada juga yang bermain kotor. Hati-hatilah.”

“Ayah bilang begitu seolah ada musuh yang sudah menunggu.” ucap Lingga, mengerjap.

Tuan Dwikarna terdiam sejenak, lalu menatapnya lebih tajam.

“Bukan ‘seolah’. Mereka memang ada.” ujar Tuan Dwikarna.

Lingga menelan napas. Saat itu pula Topan berbisik pelan. “Bro… ini bukan film, kan?”

Lingga tersenyum miring. “Mulai sekarang, mungkin kita hidup di filmnya sendiri.”

Semua memandang Lingga dengan perasaan campuran: bangga dan sedikit khawatir.

Mobil mewah keluarga Dwikarna meluncur keluar gerbang. Hari baru dimulai. Masa depan tampak cerah… namun bayangan masalah berdiri menunggu di ujung jalan.

Setelah Lingga dan Topan pergi menuju kantor, suasana rumah kembali tenang. Tuan Dwikarna berjalan pelan menuju taman belakang—tempat ia biasa menenangkan pikiran. Taman itu luas, dipenuhi pohon kamboja jepang dan kolam dengan ikan koi berwarna cerah, namun kali ini keindahan itu tak mampu menenangkan hatinya.

Ia mengambil tempat duduk di bangku batu dekat kolam, menatap air yang bergoyang pelan diterpa angin. Ia menarik napas panjang… lalu memejamkan mata.

Tak lama, langkah pelan terdengar mendekat.

“Kau jarang duduk di sini setelah sarapan. Ada sesuatu yang mengganggumu, Mas?” tanya Nyonya Lestari dengan senyum terbias.

Tuan Dwikarna terdiam dulu, seakan mencari rangkaian kata yang tepat. Ia membuka mata perlahan, menatap kolam tanpa menoleh ke istrinya. “Aku tadi ingin menyimpan semuanya sendiri… tapi tampaknya aku tak bisa.”

Nyonya Lestari duduk di sampingnya. “Aku istrimu. Bahkan diamnya wajahmu sudah cukup untuk membuatku tahu ada yang kau sembunyikan.”

Tuan Dwikarna tersenyum tipis—senyum yang terasa pahit. “Saat mengunjungi proyek bulan lalu, nyawaku hampir melayang.”

Nyonya Lestari langsung menegang. “Apa maksudmu? Bukankah hanya pengecekan rutin?”

“Seharusnya begitu. Tapi salah satu batang baja penyangga crane jatuh tepat di tempatku berdiri. Jika seorang mahasiswi tidak mendahului naluriku… aku sudah tiada hari ini.” ucap Tuan Dwikarna.

Mata Nyonya Lestari melebar, soraknya tak sempat tersampaikan. “Mahasiswi? Siapa? Bagaimana bisa—”

Tuan Dwikarna menimpali, suaranya pelan namun serius. “Gadis itu sedang kuliah praktek di proyek kami. Namanya Ajeng Larasati. Ia berlari cepat… lebih seperti melesat. Ia bersalto di udara, menahan tubuhku, lalu menarikku menjauh sebelum batang baja itu jatuh.”

Nyonya Lestari ternganga—antara tercengang dan takut. “Seorang mahasiswi… menyelamatkanmu dengan cara seperti atlet beladiri? Itu… tidak biasa.”

“Sangat tidak biasa.” gumam Tuan Dwikarna.

Ia mengusap wajahnya perlahan. “Awalnya kupikir itu kecelakaan kerja biasa. Tapi aku mengamati struktur crane, bautnya, sudut jatuhnya. Itu bukan kelalaian… itu seperti sesuatu yang sengaja dilepas.”

Nyonya Lestari merasakan tubuhnya kian dingin.“Mas… kau maksudkan ada yang mencoba membunuhmu?”

“Jika bukan itu, lalu apa? Mereka tahu jadwal kunjunganku. Mereka tahu titik mana yang paling sering ku kewati.” ucap Tuan Dwikarna pelan sambil mengusap kepalanya.

Suasana taman seketika menjadi mencekam. Angin yang tadinya sejuk kini terasa dingin menusuk.

Nyonya Lestari memegang tangan suaminya.“Kenapa tidak memberitahu Lingga? Dia perlu tahu bahaya ini.”

Tuan Dwikarna menggeleng pelan. “Tidak. Hari ini adalah hari pertama dia sebagai pemimpin. Dia butuh fokus. Kita tidak boleh menimpakan ketakutan ini padanya.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Nyonya Lestari.

“Kita menunggu. Ada seseorang yang perlu aku temui lagi… gadis bernama Ajeng itu.” ucap tuan Dwikarna.

Ia menatap jauh—bukan ke taman lagi, tapi seolah ke masa depan yang penuh bahaya.

Tuan Dwikarna berbisik dalam hati. “Jika bukan karena dia… Lingga harusnya menerima jabatan CEO di pemakamanku.”

Nyonya Lestari menggenggam tangan suaminya semakin erat, ketakutan mulai mengambil alih kegembiraan pagi tadi.

Sementara itu… Lingga tidak tahu bahwa hidupnya baru saja masuk dalam perang yang belum terlihat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca