Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ARJUNA, OJOL PENAKLUK WANITA

ARJUNA, OJOL PENAKLUK WANITA

Gorenganbasah | Bersambung
Jumlah kata
75.0K
Popular
11.2K
Subscribe
1.3K
Novel / ARJUNA, OJOL PENAKLUK WANITA
ARJUNA, OJOL PENAKLUK WANITA

ARJUNA, OJOL PENAKLUK WANITA

Gorenganbasah| Bersambung
Jumlah Kata
75.0K
Popular
11.2K
Subscribe
1.3K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+Karya Kompetisi
Arjuna hanyalah driver ojol biasa yang bekerja demi melunasi hutang keluarga. Masalahnya, wajahnya terlalu tampan untuk disembunyikan di balik helm. Setiap wanita yang dia bonceng, mulai dari mahasiswi, karyawati SCBD, hingga janda kaya, selalu baper dan memberinya rating bintang lima plus tip tak terduga, salah satunya adalah tip dengan memberi Arjuna kehangatan dan jatah. Namun, petualangannya berubah rumit saat ia terjebak kontrak eksklusif dengan seorang CEO wanita dingin yang terpikat dengan Arjuna, sehingga mereka pacaran, dan Arjuna akhirnya menunjukkan kalau dia sebenarnya tidak layak untuk direndahkan.
Bab 1

"DOK! DOK! DOK!"

Itu adalah suara pintu kamar kos yang dihantam kepalan tangan manusia yang sedang emosi tingkat dewa.

Arjuna, pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu, terlonjak kaget dari kasur lipatnya yang sudah kempes di bagian tengah. Nyawanya belum terkumpul sempurna, tapi insting bertahan hidupnya sudah menyala merah.

"Juna! Keluar kamu! Jangan pura-pura mati!"

Suara berat Pak Haji Rohim, bapak kos yang punya ruko tiga pintu di depan gang, terdengar menggelegar. Arjuna mengusap wajahnya kasar. dia melirik layar ponselnya yang retak seribu. Jam sembilan pagi.

"Mati aku. Telat bangun, telat bayar, telat segalanya," gumam Arjuna sambil menyugar rambutnya yang berantakan mirip sarang tawon.

"Juna! Buka atau saya kunci dari luar selamanya!" teriak Pak Haji lagi.

Dengan langkah gontai, Arjuna menyeret kakinya menuju pintu. dia menarik napas panjang, mengatur ekspresi wajah agar terlihat semiskin dan semelas mungkin. Ini adalah skill khusus yang dia pelajari selama empat tahun menjadi mahasiswa sekaligus driver ojol.

Ceklek.

Pintu terbuka.

Wajah Pak Haji Rohim yang merah padam langsung menyambutnya.

"Eh, Pak Haji. Assalamualaikum, Pak. Seger banget mukanya pagi ini, abis jogging ya, Pak?" sapa Arjuna dengan cengiran kuda, berusaha mengalihkan isu.

"Waalaikumsalam! Nggak usah basa-basi busuk kamu, Jun! Jogging, jogging, dengkulmu itu jogging! Mana uang sewa? Udah dua bulan nunggak! Kamu mau tinggal gratis? Emangnya ini panti sosial?" semprot Pak Haji tanpa rem.

Arjuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bau minyak angin dari tubuh Pak Haji menusuk hidung, bercampur dengan aroma kopi hitam.

"Aduh, Pak Haji. Sabar dikit kenapa sih, Pak? Saya ini mahasiswa tingkat akhir, lagi pusing skripsi, ditambah orderan ojol lagi anyep banget kayak kuburan. Pahala orang sabar itu lebar kuburannya loh, Pak," jawab Arjuna dengan nada memelas yang dibuat-buat.

"Alasan terus! Skripsi, skripsi! Dari tahun lalu skripsi mulu, kapan wisudanya? Keburu kiamat!" Pak Haji berkacak pinggang. "Pokoknya saya nggak mau tahu. Hari ini harus ada cicilan masuk. Minimal lima ratus ribu! Kalau nggak, barang-barang kamu saya karungin, terus kamu tidur di pos ronda!"

Arjuna membelalakkan matanya, "Ya Allah, Pak Haji. Tega bener sama anak perantauan. Lima ratus ribu dapet dari mana, Pak? Ginjal saya kalau dijual eceran juga belum tentu laku segitu."

"Itu urusan kamu! Jual tuh motor bututmu!"

"Jangan dong, Pak! Itu motor sumber nafkah. Kalau dijual, saya makan apa? Makan janji manis pejabat? Nggak kenyang, Pak," sahut Arjuna cepat. dia harus memutar otak.

Ponsel di saku celana pendeknya kembali bergetar. Rentetan pesan ancaman masuk lagi. Arjuna meringis.

"Begini aja deh, Pak Haji yang ganteng, yang budiman. Kasih saya waktu tiga hari. Tiga hari aja, Pak. Saya janji, saya bakal narik ojol lembur bagai kuda. Siang, malam, pagi, sore, saya hajar jalanan. Nanti begitu cair, langsung saya transfer ke rekening Pak Haji. Gimana?" tawar Arjuna dengan mata berbinar-binar, meniru gaya kucing di film kartun.

Pak Haji Rohim mendengus kasar, kumis tebalnya bergerak-gerak. dia menatap Arjuna dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kaos oblong bolong di ketiak, celana pendek kolor gambar Spongebob yang sudah pudar, dan wajah kusut kurang gizi.

"Tiga hari! Awas kalau meleset lagi! Saya gembok kamar ini!" ancam Pak Haji sambil menunjuk hidung Arjuna.

"Siap, Pak Haji! Tiga hari! Bapak emang terbaik, calon penghuni surga VVIP!" seru Arjuna girang.

"Udah, sana cari duit! Jangan molor terus! Rejeki dipatok ayam tetangga baru tahu rasa!"

Pak Haji Rohim berbalik badan, melangkah pergi sambil menggerutu soal 'anak muda jaman now yang bisanya cuma ngutang'.

Arjuna menutup pintu pelan-pelan lalu bersandar di sana. Kakinya lemas.

"Hah... Selamat untuk sementara. Tapi tiga hari lagi kiamat kubro," desahnya.

Perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Krucuk... krucuk...

"Sabar, Dul. Tuanmu lagi krisis moneter," ucap Arjuna sambil menepuk perut ratanya.

Ia berjalan ke arah lemari plastik kecil di pojok kamar. Dibukanya pintu lemari tempat dia biasa menyimpan stok logistik. Kosong. Bungkus mie instan goreng yang biasa jadi penyelamat hidup sudah tidak ada, bahkan remah-remahnya pun sudah dia jilat kemarin malam.

"Apes. Mie abis, duit abis, harga diri abis," rutuknya.

Arjuna mengambil jaket hijau kebanggaannya yang tergantung di paku tembok. Jaket itu sudah agak bau apek karena kehujanan dua hari lalu dan belum sempat dicuci—karena deterjen pun habis. dia memakainya, lalu menyambar helm yang kacanya sudah baret-baret.

"Wahai aspal jalanan, Arjuna datang membawa harapan. Semoga hari ini gacor, kalau nggak gacor, minimal dapet tips, atau dapet jodoh kaya raya lah sekalian," doanya sembarangan sambil bercermin di kaca spion motor bebek bututnya yang terparkir di depan kamar.

Motor itu, si “Supra Supri” keluaran tahun 2010, sudah batuk-batuk saat distarter.

Greng... prepet... prepet...

Akhirnya mesin menyala stabil. Arjuna tancap gas meninggalkan area kos-kosan yang sumpek itu.

Satu jam berlalu. Arjuna hanya berputar-putar menghabiskan bensin.

Dua jam berlalu. Masih nol orderan.

Tiba-tiba, langit yang tadinya terik mendadak gelap gulita. Angin kencang berhembus, menerbangkan debu dan sampah plastik di jalanan.

Tes... tes... BRRRESSS!

Hujan turun tanpa permisi, langsung deras seolah langit sedang tumpah. Arjuna panik. dia tidak bawa jas hujan karena jas hujannya hilang dicuri orang saat dia sholat Jumat minggu lalu. Nasib, oh nasib.

"Waduh! Basah kuyup nih underwear Spongebob gue!" teriaknya.

Motornya mulai goyang. Ban depan dan belakang yang sudah botak alias gundul, sangat tidak bersahabat dengan aspal basah. Licinnya minta ampun, seperti berselancar di atas minyak goreng.

Arjuna melihat sebuah ruko kosong di pinggir jalan. Rolling door-nya tertutup rapat, tapi ada emperan yang cukup lebar untuk berteduh. Tanpa pikir panjang, Arjuna membelokkan motornya ke sana.

Arjuna mengeluarkan ponselnya lagi.

Masih nol.

Akunnya benar-benar kurang gacor hari ini. Mungkin karena performanya turun gara-gara sering nolak orderan fiktif minggu lalu. Saat mendongak, Arjuna melihat Grand Royal Apartment. Tempat tinggal manusia-manusia yang tidak perlu mikirin harga token listrik bunyi tit-tit-tit.

"Enak banget ya jadi orang kaya," gumam Arjuna, matanya menerawang.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah melaju kencang dari arah tikungan, menerjang genangan air di depan ruko tempat Arjuna berteduh.

BYUURRR!

Cipratan air comberan berwarna coklat pekat sukses mendarat di wajah dan jaket Arjuna.

"Woy! Mata lo dipake woy! Mentang-mentang mobil mahal, main nyiprat aja!" teriak Arjuna emosi, berdiri sambil mengacungkan kepalan tangan.

Tapi mobil itu sudah berlalu masuk ke gerbang apartemen mewah itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Arjuna mengusap wajahnya yang kotor dengan lengan jaket.

"Asem! Bener-bener hari sial nasional! Udah laper, basah, sekarang bau got. Apa salah hamba-Mu ini, Tuhan? Apa hamba kurang sedekah? Sedekah apaan, duit aja minus!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca