

Tinju pertama datang dari samping, menghantam rahangnya sebelum Alex sempat mengangkat tangan. Bunyi tulang beradu terdengar tumpul, lebih seperti kayu basah dipukul palu. Kepalanya terlempar ke kanan, pandangannya bergetar, tapi kakinya tetap menapak.
Alex membalas tanpa aba-aba.
Sikunya menghantam leher pria itu, cukup keras untuk membuat napasnya terpotong dan tubuhnya terlipat. Pria itu jatuh ke lantai beton, terbatuk, tapi belum pingsan. Belum cukup.
“Berempat,” gumam Alex pelan, hampir seperti menghitung cuaca.
Dua lainnya datang bersamaan. Satu dari depan, satu dari belakang. Ruangan itu sempit—bekas gudang dengan lampu gantung yang berkedip, bau oli tua dan darah lama menempel di udara. Tidak ada tempat untuk lari, tidak ada niat untuk itu juga.
Pukulan dari depan mengenai dada Alex, tepat di antara tulang rusuk. Udara keluar dari paru-parunya dalam satu embusan kasar. Sementara itu, yang dari belakang mengaitkan lengan ke lehernya, mencoba mencekik.
Alex membiarkan dirinya terdorong ke depan, lalu menghentakkan tumit ke belakang. Tumitnya mengenai tulang kering lawan di belakangnya. Ada teriakan tertahan, pegangan mengendur sesaat—cukup.
Alex menyikut ke belakang, mengenai hidung. Ia mendengar bunyi retak yang basah, lalu cipratan hangat di tengkuknya.
Yang keempat belum bergerak. Pria itu berdiri dekat pintu, memegang sesuatu di balik jaketnya. Alex tahu bentuknya tanpa perlu melihat.
Pisau. Atau pistol.
Alex lebih berharap pistol. Lebih cepat.
Pukulan berikutnya datang dari kanan, kali ini membawa besi. Sebuah batang logam menghantam rusuknya. Ada bunyi patah yang jelas, seperti ranting kering diinjak. Rasa sakitnya tajam, putih, menjalar sampai ke punggung.
Alex terhuyung, satu lutut menyentuh lantai.
Darah menetes dari sudut bibirnya, jatuh ke beton yang dingin. Satu tetes. Dua. Tiga.
“Harusnya kau mati minggu lalu,” suara seseorang berkata, napasnya berat.
Alex mengangkat kepala. Matanya merah, bukan karena marah—karena darah. Ia meludah ke samping.
“Banyak yang berharap begitu,” jawabnya.
Ia bangkit sebelum mereka siap. Tangan kanannya mencengkeram kerah pria terdekat dan membanting kepalanya ke dinding. Sekali. Dua kali. Sampai tubuh itu melorot, tak bergerak lagi.
Tapi jumlah selalu punya caranya sendiri.
Pisau akhirnya muncul. Kilatan pendek, lalu panas menyambar di perut Alex. Ujung logam masuk, ditarik, lalu masuk lagi. Setiap tusukan seperti membakar dari dalam. Darah mengalir deras, membasahi bajunya, menetes ke lantai dalam irama cepat.
Alex mundur beberapa langkah. Pandangannya mulai menyempit. Suara-suara jadi jauh, seperti tenggelam di air keruh.
“Sekarang,” kata pria di dekat pintu. Tangannya sudah mengeluarkan pistol.
Alex melihat moncongnya terangkat.
Ia tidak menghindar.
Dentuman itu menggema di ruangan sempit. Panas menghantam perutnya, lebih dalam dari pisau. Tubuh Alex terhempas ke belakang, membentur lantai dengan keras. Udara keluar dari paru-parunya, matanya menatap langit-langit yang berdebu.
Seseorang tertawa pendek. “Akhirnya.”
Langkah kaki menjauh. Pintu terbuka, lalu tertutup lagi. Keheningan turun seperti selimut basah.
Alex terbaring tanpa bergerak.
Darah menyebar di bawah tubuhnya, membentuk genangan gelap. Bau besi memenuhi hidungnya. Setiap tarikan napas terasa berat, menyakitkan, lalu semakin jarang.
Jika ada orang lain di ruangan itu, mereka akan mengira ini akhir.
Alex menutup mata.
Rasa sakit tidak hilang. Ia tetap ada, berdenyut, menolak dilupakan. Tapi di baliknya, sesuatu bergerak—pelan, keras kepala.
Daging di sekitar luka tembaknya bergetar.
Alex menarik napas dalam-dalam, tersedak darah. Lalu ia batuk, tubuhnya melengkung ke depan. Sesuatu yang panas dan keras terdorong keluar dari perutnya, jatuh ke lantai dengan bunyi logam kecil.
Peluru.
Darah masih mengalir, tapi tidak lagi liar. Luka itu mengecil, tepinya merapat seolah ditarik tangan tak terlihat. Rasa sakit berubah bentuk—dari pisau menjadi tekanan tumpul, lalu menjadi nyeri yang bisa ditahan.
Alex berbaring diam, menunggu.
Beberapa menit kemudian, napasnya kembali stabil. Detak jantungnya melambat. Luka di perutnya tinggal garis merah tipis, lalu menghilang sepenuhnya, menyisakan kulit yang utuh, hangat, seperti tidak pernah ditembus apa pun.
Ia duduk perlahan.
Tubuhnya masih lelah. Tulang rusuknya berdenyut, tapi sudah tidak patah. Kepalanya berat, tapi utuh. Alex menyentuh perutnya, memastikan—kulit rata, tanpa bekas.
“Seperti biasa,” gumamnya.
Ia berdiri, berjalan tertatih ke sudut ruangan, mengambil jaketnya yang tergeletak di lantai. Jaket itu penuh darah, bukan miliknya saja. Alex mengenakannya tetap.
Di luar, malam masih berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Alex melangkah keluar, meninggalkan ruangan itu dalam sunyi dan bau besi. Ia tahu satu hal dengan sangat jelas, lebih jelas dari rasa sakit apa pun:
Selama ia tidak mencintai siapa pun,
darahlah yang akan selalu kembali—
dan kematian akan terus menolaknya.
Alex tidak langsung pergi jauh. Ia berhenti di lorong belakang, bersandar pada dinding bata yang lembap. Tangannya gemetar sebentar saat merogoh saku jaket, bukan karena sakit—karena sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun. Ia menghembuskan napas panjang, membiarkannya keluar pelan.
Malam menelan bau darah dengan cepat.
Beberapa blok dari sana, ada tempat yang lampunya selalu redup dan musiknya selalu terlalu pelan untuk disebut hiburan. Alex melangkah ke arah itu tanpa tergesa. Langkahnya kembali stabil, seolah perkelahian barusan hanya gangguan kecil.
Pintu besi bar itu terbuka dengan bunyi engsel tua. Asap rokok menyambutnya lebih dulu, lalu suara gelas beradu. Beberapa kepala menoleh. Ada yang mengenalinya, ada yang pura-pura tidak. Alex menyukai yang kedua.
Ia duduk di bangku ujung, punggung menghadap ruangan. Posisi aman. Selalu.
“Air,” katanya pada bartender. “Bukan yang keras.”
Bartender itu melirik jaket Alex yang basah. Tidak bertanya. Tidak pernah bertanya. Gelas diletakkan di depannya, dingin, bening. Alex meneguk setengahnya sekaligus. Air terasa seperti kehidupan kecil yang dipinjamkan kembali.
Di sudut ruangan, dua pria berbisik. Nama disebut setengah, lalu ditelan musik. Alex menangkap potongannya saja. Cukup untuk tahu: perkelahian tadi bukan kebetulan. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Ia menekan ibu jari ke perutnya, tempat peluru tadi bersarang. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada bekas. Hanya ingatan—dan ingatan sering kali lebih tajam dari luka.
Alex menatap pantulan dirinya di cermin belakang bar. Wajah yang sama. Mata yang sama. Orang yang sama yang selalu berdiri setelah seharusnya jatuh.
“Berhenti,” gumamnya pada bayangan itu, entah kepada siapa.
Ia menghabiskan airnya, lalu berdiri. Bar ini hanya tempat singgah, bukan tujuan. Ada satu tempat lagi yang harus ia datangi malam ini—tempat yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Alex keluar dari bar dan menyusuri jalan sempit menuju apartemen tua di sisi kota. Tangga besinya berdecit saat ia naik. Di lantai atas, ia membuka pintu yang catnya mengelupas. Ruangan itu sederhana: kasur tipis, meja kecil, wastafel, dan kotak P3K yang jarang disentuh.
Ia melepas jaket berdarah, melemparkannya ke sudut. Alex duduk di tepi kasur, menunduk, membiarkan keheningan menekan pundaknya. Untuk sesaat, ia terlihat seperti pria lain—lelah, sendirian, hidup dari satu malam ke malam berikutnya.
Di sanalah pikirannya melayang, tanpa izin, pada satu hal yang selalu ia tolak.
Bagaimana jika suatu hari nanti, luka itu tidak menutup.
Alex mengangkat kepala, rahangnya mengeras. Ia menyingkirkan pikiran itu seperti ia menyingkirkan orang-orang dari hidupnya—cepat, dingin, tanpa penjelasan.
Ia berbaring telentang, menatap langit-langit yang retak. Malam masih panjang. Masalah belum selesai. Dan ia masih hidup—untuk saat ini.
Bab ini berakhir di sana, dengan satu kebenaran yang terus ia pegang erat:
Selama jarak dijaga, tubuhnya akan patuh.
Begitu jarak runtuh, tubuh itu akan belajar mati.