Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Amnesia

Pewaris Amnesia

El Nurmala | Bersambung
Jumlah kata
113.0K
Popular
456
Subscribe
76
Novel / Pewaris Amnesia
Pewaris Amnesia

Pewaris Amnesia

El Nurmala| Bersambung
Jumlah Kata
113.0K
Popular
456
Subscribe
76
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePewarisIdentitas TersembunyiBadboy
Kediaman Dandi Laksana terbakar, bersamaan dengan vonis 9 tahun penjara atas kasus yang menjeratnya. Putra tunggal Dandi–Aksa–terjebak di dalam rumah, dan dinyatakan meninggal dunia. Padahal, Aksa diselamatkan oleh Sari (ART) dan mengalami kecelakaan hingga amnesia. Demi keselamatannya, Sari pun mengakui Aksa sebagai putra. Namun hal itu mendapat penolakan dari putrinya, Aira. Adik-kakak itu tidak akur, sampai kemudian Aksa menyadari kesulitan Aira selama ini demi membiayai keluarga dan pendidikannya. Dengan latar belakang sebagai pewaris keluarga Laksana, diam-diam Aksa membantu Aira, juga menyelidiki masa lalunya.
Bab 1

"Berdasarkan hasil Operasi Tangkap Tangan terhadap Dandi Laksana, KPK menemukan adanya bukti penyuapan terhadap salah seorang staf khusus Kementerian ESDM terkait izin tambang di Kalimantan Timur. Pemilik perusahaan konglomerasi ternama ini divonis hukuman sembilan tahun penjara dan–."

Siaran televisi dimatikan Aksa, putra tunggal Dandi Laksana. Remaja usia 16 tahun itu tertegun menahan air mata. Kesedihan mendalam tampak jelas di raut wajahnya.

Di hari penangkapan Dandi, Mutia–istri Dandi–terkena serangan jantung setelah mendapat kabar OTT terhadap suaminya. Kondisi Mutia kritis, dan kini dalam perawatan di salah satu ruang ICU rumah sakit ternama.

“Mas Aksa, ini Haikal keponakan Pak Mahfud. Haikal kesini biar Mas Aksa ada temennya,” ujar Sari yang kemudian mempersilahkan duduk remaja seusia Aksa tersebut.

Aksa bergeming, tidak mengacuhkan Haikal yang mencoba akrab. Pemuda itu bahkan menolak makan malam.

Aksa menghabiskan waktu dengan melamun di tempat tidur. Ia menatap kosong langit-langit kamar dengan earphone terpasang di telinga.

Di rumah besar itu, tak ada lagi sosok ayah yang lembut namun tegas. Sosok ibu yang penyayang dan sangat memanjakan putra semata wayangnya.

Kini Aksa sendirian. Tidak ada kerabat dekat yang mengulurkan tangan meski hanya sebuah penghiburan.

Air mata pemuda itu berderai. Siapa yang akan menyangka kebahagiaan keluarga kecilnya hilang dalam sekejap mata.

[Mas Aksa, besok pagi Pak Mahfud jemput jam sembilan. Kita jenguk bapak.]

Sebuah pesan diterima Aksa dari Mahfud, aspri Dandi.

[Iya], balasnya.

Malam semakin larut. Aksa mencoba terlelap. Ia tak ingin wajahnya tampak kuyu di depan sang ayah, besok.

Di sisi lain, Sari tampak tidak tenang. Musibah yang dialami majikannya sangat mempengaruhi ketiga rekan sesama ART.

“Bi. Aku mau pulang. Di sini juga siapa yang mau ngegaji? Mending nyari kerjaan baru,” ujar salah seorang rekannya di satu hari.

Sudah seminggu sejak tertangkapnya majikan laki-laki, dan majikan perempuan yang entah bagaimana perkembangan kondisi kesehatannya, satu persatu tiga rekan Sari meninggalkan rumah, menyisakan ia seorang diri.

Sari mendesah kasar. Sejujurnya wanita paruh baya itu bingung membuat keputusan. Di satu sisi merasa kasihan pada Aksa yang sejak kecil sudah dalam pengasuhannya. Tapi di sisi lain, Sari harus menghasilkan uang untuk ibunya yang sakit, dan putrinya yang saat ini duduk di kelas 3 SMK.

"Bu, aku mau kuliah di Bandung. Boleh ya? Nanti di sana kan pasti ngekos. Ibu tenang aja, aku bakalan nyari kerja part time buat bantu-bantu bayar."

Sari teringat optimisme putrinya. Sepertinya ia tidak punya pilihan selain mencari pekerjaan baru, majikan baru. Lalu bagaimana dengan Aksa?

“Kasihan anak itu,” lirihnya.

Sari hendak tidur, tapi kemudian mendengar suara letupan cukup keras yang entah berasal dari mana. Suara yang jelas seakan jarak letupan itu sangat dekat, atau jangan-jangan ….

Sari bergegas keluar kamar, menyusuri setiap ruangan di lantai bawah. Ia merasa lega tak melihat hal mencurigakan.

Wanita itu hendak kembali ke kamar saat tak sengaja melihat kilasan pergerakan dua orang yang melintas di teras belakang rumah. Sari berniat mencari tahu, namun kemudian terhenyak mendengar suara keras dari lantai dua.

“Mas Aksa.”

Sari berlari menuju tangga. Sialnya, listrik di rumah itu tiba-tiba padam. Susah payah ia meniti tangga. Sari terbelalak melihat api berkobar di balkon utama.

Asap mulai menjalar pelan ke sela-sela rumah. Api yang mulanya kecil dengan cepat membesar, menyambar apa saja di sekitarnya. Sari seketika panik, teringat pada Aksa.

Tanpa pikir panjang, ia berlari ke kamar Aksa, menembus kepulan asap yang semakin tebal. Dengan mata yang pedih dan napas mulai tak teratur, Sari masuk ke kamar Aksa. Wanita itu lagi-lagi terbelalak melihat balkon kamar yang dilalap si jago merah.

“Mas Aksa. Bangun, Mas! Kebakaran!”

Dengan pencahayaan dari kobaran Api, Sari menghampiri ranjang, dan terkejut mendapati Aksa tergeletak di lantai. Kepanikan Sari memuncak kala teringat Aksa yang memiliki riwayat sesak.

“Mas Aksa.”

"Bi ...."

"Ayo! Mas Aksa berdiri."

Sari terbatuk-batuk. Begitupun dengan Aksa yang batuk hebat, dan langsung panik.

“Bi, panas ….”

Sari berlari ke kamar mandi, dan keluar membawa handuk basah. Ia menutupi wajah Aksa dengan handuk itu, lalu menggiringnya keluar kamar.

Sari memikirkan jalan keluar di tengah pikirannya yang kalut. Langkah mereka menuju tangga, namun saat menuruni tangga, api sudah menyambar setengah jalur. Tak ada waktu untuk ragu. Sari melihat balkon belakang minim api.

Setibanya di balkon belakang, Sari mengambil selang air, lalu mengikatkannya di tralis. “Mas Aksa, cepat turun! Bibi pegangin biar nggak lepas,” pintanya.

“Bibi, gimana?” Aksa tampak ragu.

“Nanti bibi nyusul. Cepat, Mas!”

Aksa memberanikan diri melewati pagar dengan bantuan Sari. Sari menggenggam kuat ujung selang agar ikatan tak terlepas sambil berpegangan pada teralis yang semakin lama semakin panas.

Wanita itu lega melihat Aksa sudah sampai di bawah. Tanpa pikir panjang, Sari melewati tralis dan hampir terjengkang karena tak kuat lagi menahan panas teralis.

Sari bergelantungan dengan tubuh gemetar. Tiba-tiba ….

Brugh!—ikatan selang terlepas. Sari terhempas sangat kuat.

“Bi. Bibi nggak pa-pa?”

Aksa tampak panik melihat Sari meringis kesakitan. Wanita itu menggeleng cepat, mengabaikan rasa sakit, berjalan tertatih dengan dipapah Aksa.

“Mas Aksa pergi duluan. Takutnya tabung gas di dapur meledak. Cepat, Mas!” pintanya sambil melepaskan pegangan Aksa, dan mendorongnya.

“Nggak mau, Bi.”

Aksa kembali memapah Sari yang tak punya pilihan lain, dan mempercepat langkah melewati taman belakang. Benar saja, terdengar ledakan hebat dari dalam rumah besar itu. Ledakan yang tentunya menarik perhatian tetangga dan warga sekitar.

“Bibi tunggu di sini, aku nyari bantuan.”

Sari tak kuat lagi berjalan. Nyeri hebat menjalar ke sekujur tubuhnya. Wanita itu terisak saat bayangan putri semata wayangnya melintas dalam benak. Perasaan takut tak bisa lagi bertemu membuat dadanya semakin sesak.

Sari menatap getir pada Aksa yang gelisah di tengah jalan, menunggu ada kendaraan melintas. Jalan di belakang rumah memang terbilang sepi. Apalagi saat ini dini hari.

“Bi, ada mobil!” Aksa memekik senang sambil menggerakkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah.

Sari sempat tersenyum, tapi kemudian ….

Brak!!!

Mobil itu menabrak Aksa.

“Aksa!” Sari berteriak dengan tatapan kosong. Kejadiannya begitu cepat. Aksa terpental, dan jatuh membentur kuat pembatas jalan.

Sari menyeret tubuh ringkihnya mendekati Aksa. Air matanya tak terbendung melihat anak yang ia asuh belasan tahun tergeletak bersimbah darah.

Sari tak berdaya. Tubuhnya tak kuat lagi menahan nyeri. Di ambang batas kesadarannya, Sari menoleh pada si pengendara mobil yang mematung, syok dengan kejadian tersebut.

“To-tolong ….” Suara Sari terdengar sangat lirih. Tatapannya tertuju pada mobil yang masih menyala, berharap si pengendara membantu mereka.

Sari terbelalak melihat pengendara yang turun dengan ragu. Sosok yang sangat familiar, tapi entah kenapa seakan sungkan mengulurkan tangan.

“Tolong kami …,” lirihnya, sebelum tak sadarkan diri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca