

"Percepat langkah kakimu Raka! Kau harus segera tiba di rumah!"
Beberapa menit yang lalu, Raka Adiwangsa, yang hendak mengikuti ujian akhir sekolah, telah diusir secara paksa oleh guru berkepala botak yang sangat membencinya.
Ayah Raka yang bernama Burhan telah ditangkap oleh pihak KPK dan juga petugas kepolisian.
Raka baru saja mengetahui kabar itu setelah guru botak yang bernama Pak Budi mengusirnya secara paksa dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah.
Saat hendak keluar dari ruangan ujian, kedua mata Raka langsung disuguhkan dengan senyuman menyeringai yang terukir di bibir empat remaja pria yang menjadi musuh bebuyutannya.
Raka tahu kalau ini semua pasti ulah dari mereka berempat, yang memang tidak pernah menyukainya dan ingin menyingkirkan dia dari sekolah!
"Dasar anak Koruptor! Kau tidak pantas berada di sekolah milik ayahku!" hina salah satu dari keempat remaja yang bernama Jimmy.
Jimmy merupakan anak dari pemilik sekolah, sejak dulu Jimmy memang membenci Raka, karena dia selalu saja kalah melawan Raka yang memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan dirinya.
Sedangkan Raka yang mengingat kembali hinaan dari Jimmy berusaha untuk tidak menghiraukannya, dan dia terus mempercepat langkah kakinya menuju pulang ke rumah yang ada di komplek tengah kota.
Hingga hampir setengah jam lamanya berlari dengan nafas ngos ngosan, akhirnya langkah kaki Raka sudah tiba di depan gerbang komplek. Dari jarak dekat dia bisa melihat banyaknya mobil polisi dan pejabat yang terparkir di depan gerbang tinggi itu.
Raka sangat yakin kalau saat ini mereka semua sedang menyidak ayahnya yang berada di rumah dan akan membawa ayahnya secara paksa untuk ikut mereka menuju ke gedung KPK. Sebab Raka ingat betul kalau tadi pagi ayah Burhan memang tidak bekerja karena sedang tidak enak badan.
Raka yang memikirkan hal itu menjadi sangat panik, wajahnya berubah pias dan dia langsung melangkah kembali menerobos gerbang tinggi itu.
"Ayah! Aku akan berusaha menyelamatkanmu ayah. Aku yakin kalau ayah tidak bersalah!" gumam Raka penuh semangat.
Sambil berlari, Raka teringat kembali akan perkataan ayahnya yang diucapkan dua hari yang lalu, saat itu hujan turun deras, Raka yang sedang belajar dipanggil ayahnya untuk duduk di sofa yang ada ruang kerjanya, lalu pria itu mengatakan kalau dirinya sudah dijadikan target oleh sekelompok pejabat rakus yang akan menjebaknya dan menjadikan dia tersangka.
Raka yang mendengar perkataan ayahnya merasa sangat terkejut, namun ayahnya sempat memberikan peringatan agar dia tidak melakukan perlawanan apapun kepada para pejabat itu.
"Raka. Lawan kita bukan orang biasa. Mereka memiliki kekuasaan penuh di negara ini. Jadi, biarkan ayah berkorban untuk keselamatan kalian, sedangkan kau harus pergi membawa ibu dan juga adikmu dari kota Trojan. Jangan sampai kalian bertiga menjadi target yang selanjutnya." ucap ayah Burhan sambil memegang kedua tangan Raka.
Raka yang mendengar peringatan dari ayahnya tidak menjawab keinginan dari pria paruh baya itu. Hingga tak lama kemudian, ayah Burhan mengeluarkan sebuah Flashdisk yang diletakkan di telapak tangan Raka.
"Raka. Flashdisk ini tolong kamu jaga baik baik. Nanti jika kamu sudah dewasa dan menjadi orang yang sukses, maka kamu bisa membukanya untuk membongkar kebusukan mereka semua. Ayah mohon jangan gegabah, karena kamu tidak akan mampu mengalahkan mereka semua." ucap Ayah Burhan kembali dengan wajah yang begitu menyedihkan.
Air mata yang sejak tadi ditahan Ayah Burhan akhirnya mencolos dengan sangat deras. Sebagai kepala keluarga, sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi anak dan juga istrinya, dari orang orang jahat yang ingin melukai mereka.
Ayah Burhan dulunya hanya orang biasa, dia bahkan merasa sangat menyesal karena sudah terjun ke dunia politik. Awalnya dia mengira kalau dunia politik sangatlah hebat dan juga indah, namun semua itu hanya kamuflase belaka, karena pada kenyataannya dunia politik merupakan sebuah ranjau yang amat sangat mematikan.
"Hiks..hiks..! Maafkan ayah nak, maaf kalau ayah sudah salah mengambil langkah. Andai ayah tidak tergoda dengan kekuasaan yang mereka tawarkan, mungkin saja kita tidak akan berada dalam situasi yang mengerikan ini." ucap Ayah Burhan kembali sambil membungkuk meluapkan kesedihan di dalam hatinya.
Raka hanya bisa menatap ayahnya dengan tatapan iba, air matanya tanpa terasa sudah mencolos dengan sangat deras, jujur saja dia tidak mengerti akan maksud dari perkataan ayahnya. Sebab pria itu tidak mau menjelaskan secara terperinci dengan apa yang menimpanya saat ini.
Tapi satu hal yang Raka tahu, kalau ayahnya tengah menanggung beban yang teramat berat, bahkan kehidupan keluarga mereka berada dalam bahaya,sehingga dengan sangat terpaksa ayahnya menyuruh mereka untuk segera pergi meninggalkan kota yang menjadi tempat kelahirannya.
"Ayah! Ternyata ini maksud dari perkataanmu waktu itu. Kau sudah tahu kalau kau akan dijadikan tersangka oleh para pejabat rakus itu! Tapi kenapa kau tidak melawan ayah!" teriak Raka dengan sangat emosi sambil menyeka air mata yang membanjiri wajahnya.
Langkah kaki Raka terus mengalun menuju ke perumahan yang menjadi tempat tinggal mereka, hingga tak lama kemudian, Raka terpaksa menghentikan langkahnya saat ada garis polisi yang terbentang lebar di hadapannya.
Begitu pula para wartawan dan warga sekitar komplek, mereka semua ikut berkerumun guna melihat ayah Burhan yang sudah di tangkap oleh anggota kepolisian.
"Ayah! Ayah." panggil Raka mengejutkan mereka semua.
Kedua mata Raka menatap nanar ke arah seorang pria yang telah diborgol tangannya. Wajah dari pria itu terlihat sangat pucat, sedangkan tubuhnya begitu lemah dan juga letih. Raka ingin sekali menerobos masuk menyelamatkan ayahnya, tapi niatnya langsung digagalkan oleh seorang petugas yang menarik tangannya dengan paksa.
"Hei anak muda! Kau mau kemana? Jangan ganggu pekerjaan kami!" bentak petugas itu kepada Raka.
"Lepaskan aku! Ayahku tidak bersalah! Lepaskan aku!"
"Diam kau! Dasar anak Koruptor bodoh! Kalau kau tetap melawan, maka kami tidak segan mematahkan kedua kakimu!" ancam petugas itu membuat Raka semakin emosi.
Sekuat tenaga Raka melawan dekapan dari petugas itu. Hingga akhirnya petugas itu merasa kalap dan langsung meninju wajah Raka sampai mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Bukkk….
Brakkkk…
Tubuh Raka langsung jatuh ke atas aspal, bahkan seragam putih yang dia kenakan sampai koyak karena tarikan dari petugas tersebut. Pak Burhan yang melihat kejadian itu langsung menjerit histeris, begitu pula dengan dua orang wanita yang segera berlari guna menyelamatkan Raka dari amukan petugas tersebut.
"Raka.!"
"Raka putraku! Ya Tuhan. Tolong jangan sakiti dia, aku mohon!" teriak wanita itu yang ternyata adalah ibunya Raka.
Ibu Raka yang bernama ibu Irma langsung memeluk tubuh putranya dengan begitu erat. Semua orang yang melihat kejadian tersebut hanya menatap diam, tidak ada satupun dari mereka yang merasa iba terhadap kejadian yang menimpa keluarga mereka.
Bahkan para tetangga dengan tega malah mengucapkan kata mampus, karena mereka merasa kalau koruptor seperti pak Burhan wajib mendapatkan balasan yang setimpal dari petugas negara.
"Lihatlah! Kasihan sekali keluarganya, gara gara ulah satu orang, semuanya menjadi menderita. Itulah akibatnya kalau berani korupsi. Kalian semua tidak pantas untuk tinggal di tempat ini lagi!" hina para tetangga yang ada di komplek perumahan.
Raka yang mendengar hinaan dari mereka merasa tidak terima. Namun pelukan erat yang ibunya berikan membuat Raka mengurungkan niatnya untuk melawan ibu ibu tersebut.
"Sudah nak. Jangan dihiraukan, ibu mohon." pinta ibu Irma kepada putranya sambil meneteskan air mata.
"Benar kak. Saat ini keluarga kita sudah tercemar, mereka semua sangat membenci kita." timpal adik Raka yang bernama Tiara.
Raka hanya bisa mengangguk diam, sedangkan tatapan matanya menatap nanar ke arah pak Burhan. Pria lemah itu telah masuk ke dalam mobil petugas. Sebelum masuk, Pak Burhan sempat memberikan isyarat kepada Raka agar tidak melakukan perlawanan dan segera pergi meninggalkan kota Trojan.
"Pergilah nak, ayah mohon." gumam Ayah Burhan di dalam hatinya sambil menahan rasa sesak di bagian dadanya.
Hingga tak lama kemudian, mobil yang dinaiki oleh pak Burhan sudah melaju pergi meninggalkan komplek perumahan. Begitu pula dengan para pejabat yang ada di sana, dari banyaknya orang yang Raka lihat, tatapan mata Raka tertuju ke arah sang kepala sekolah yang bernama Pak Wijaya.
Pria itu merupakan ayah dari Jimmy musuh bebuyutannya di sekolah, dan pak Wijaya juga yang telah mengusirnya dari dalam ruangan ujian. Melihat pria tersebut tentu saja menimbulkan rasa curiga di dalam benaknya, apa pak Wijaya juga ada sangkut pautnya dengan para pejabat yang telah menjebak ayahnya?
"Tidak mungkin! Kalian semua sungguh sangat mencurigakan!" rutuk Raka di dalam hati sambil menatap lekat ke wajah orang orang yang tengah tertawa senang sambil masuk ke dalam mobil masing-masing.