

“Cuma lima puluh ribu?”
Suara Nara, istriku terdengar tinggi, nyaris melengking. Tangannya memegang lembaran uang yang baru saja kuserahkan, seolah benda itu menjijikkan. Matanya menatapku tajam, penuh kekecewaan yang tidak ia sembunyikan sedikit pun.
Aku masih berdiri di dekat pintu kamar kecil kami, kamar yang sebenarnya bukan milik kami, melainkan sudut kosong di rumah orang tuanya. Jaket ojek masih melekat di tubuhku, bau asap dan debu jalanan belum sempat hilang.
“Iya,” jawabku pelan. “Hari ini sepi.”
Nara tertawa kecil, tapi bukan tawa geli. Itu tawa sinis.
“Sepi? Mas selalu bilang sepi.”
Ia mengibaskan uang itu ke udara, lalu menaruhnya di atas meja kecil.
“Mas tahu nggak lima puluh ribu itu cukup buat apa?”
Aku diam.
“Cuma cukup buat beli susu anak kita!” bentaknya. “Itu pun kalau belinya yang paling murah.”
Dadaku mengeras.
Aku melirik ke arah ranjang kecil di sudut kamar, tempat anak kami, Dimas, tertidur siang. Nafasnya teratur, wajahnya polos, sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sedang dihina karena nominal uang.
“Aku sudah berusaha, Ra,” kataku akhirnya. “Dari pagi aku narik. Panas, macet…”
“Berusaha?” potong Nara cepat. “Mas menyebut ini usaha?”
Ia menunjuk jaket yang kupakai.
“Mas masih bangga jadi tukang ojek? Lihat teman-temanku. Suaminya kerja kantoran, pulang bawa uang, bukan alasan!”
Aku menelan ludah.
Kata tukang ojek itu diucapkannya dengan nada merendahkan, seolah pekerjaanku adalah aib yang harus disembunyikan.
“Mas pikir aku nggak capek?” lanjutnya. “Setiap hari dengar ibu menyindir, dengar tetangga ngomong di belakang. Aku malu, Mas!”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada makian.
“Kamu malu… punya suami seperti aku?” tanyaku pelan.
Nara terdiam sesaat. Matanya berpaling. Tapi diamnya justru menjadi jawaban paling jujur.
Belum sempat aku berkata apa-apa lagi, pintu kamar terbuka tanpa permisi.
“Kenapa ribut-ribut?”
Ibu mertuaku, Bu Ratna berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, tapi sorot matanya penuh penilaian. Matanya langsung tertuju pada uang di meja.
“Cuma itu?” tanyanya datar, tapi nadanya menusuk.
Aku mengangguk. “Iya, Bu.”
Bu Ratna mendengus. “Pantas saja.”
Nara langsung berdiri di samping ibunya, seperti menemukan sekutu.
“Bu, Mas Arka cuma kasih lima puluh ribu. Katanya hasil narik seharian.”
“Seharian?” Bu Ratna mengulang, lalu tertawa pendek. “Kalau seharian hasilnya segitu, buat apa kerja?”
Aku menunduk. Tanganku mengepal di sisi tubuh.
“Susu anak saja hampir tidak cukup,” lanjut Bu Ratna. “Belum makan, belum listrik, belum air. Kamu ini suami atau beban?”
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Saya tidak pernah berniat jadi beban, Bu.”
“Niatan tidak bikin perut kenyang,” balasnya cepat. “Dulu ibu sudah bilang sama Nara, jangan menikah dengan pria yang tidak punya apa-apa.”
Nara memalingkan wajah. Aku tidak tahu apakah ia malu, atau setuju.
“Sekarang lihat,” lanjut Bu Ratna. “Tinggal di rumah orang tua, uang segini, kerjaan tidak jelas.”
Kerjaanku tidak jelas.
Padahal aku bangun subuh, pulang malam.
Padahal tanganku kapalan karena stang motor. Padahal punggungku pegal setiap hari. Tapi semua itu tidak pernah dihitung.
“Aku capek, Mas,” kata Nara tiba-tiba. Suaranya lebih rendah, tapi lebih menusuk. “Capek hidup begini. Capek menghitung receh.”
Aku menatapnya lama. “Kamu pikir aku tidak capek?”
“Kamu capek, aku juga capek,” jawabnya ketus. “Bedanya, aku yang harus menanggung malu.”
Kalimat itu memutus sesuatu di dalam dadaku.
Bu Ratna menggeleng pelan.
“Kalau begini terus, Nara dan anakmu mau kamu kasih makan apa? Angin?”
Aku menghirup nafas dalam-dalam.
Aku ingin marah. Ingin membantah. Ingin berteriak bahwa aku juga manusia.
Tapi yang keluar hanya kalimat pendek.
“Saya akan cari cara, Bu.”
“Cara?” Bu Ratna tertawa sinis. “Dari mana? Dari motor rongsokan itu?”
Aku terdiam.
Nara memungut uang lima puluh ribu itu, lalu berkata dingin,
“Besok kalau Mas cuma bawa segini lagi, lebih baik jangan pulang sekalian.”
Aku menatapnya.
“Kamu mengusirku?”
“Aku realistis,” jawabnya. “Aku punya anak yang harus hidup layak.”
Aku mengangguk pelan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik keluar kamar.
Di teras rumah, aku duduk di atas motor. Helm kupasang, tapi aku tidak langsung menyalakan mesin. Dadaku terasa sesak, bukan karena marah, melainkan karena perasaan tak berguna yang dipaksakan kepadaku.
Aku menatap langit sore yang pucat. Lima puluh ribu. Nilai yang menentukan apakah aku pantas disebut suami atau tidak.
Ayah atau bukan. Aku menggenggam stang motor erat-erat.
Suatu hari nanti, aku akan pulang bukan membawa uang receh yang dihina.
Dan ketika hari itu tiba, aku ingin tahu,
apakah mereka masih akan melihatku dengan mata yang sama.
Motor itu akhirnya menyala.
Dan aku pergi, meninggalkan rumah yang selalu membuatku merasa seperti tamu tak diundang.