

Sekilas, Rafa Ardiansyah tampak seperti siswa SMP kelas tiga biasa. Ia selalu meraih nilai tertinggi di kelasnya, dan para guru sangat berharap padanya sebagai siswa berprestasi. Ia berasal dari keluarga kecil yang sangat sederhana. Ayahnya seorang pegawai kantor biasa, ibunya ibu rumah tangga, dan ia anak tunggal. Penampilannya tidak mencolok, kepribadiannya lembut, dan ia menjalani hari-harinya dengan tenang tanpa pernah mengganggu siapa pun. Itulah tipe anak laki-laki seperti dia.
Namun, kehidupan sekolah Rafa sama sekali tidak “normal”.
Dia sedang diintimidasi.
Dia duduk diam di sudut kelas, dan tak seorang pun mengajaknya bicara, bahkan saat istirahat makan siang. Teman-teman sekelasnya memandangnya dingin, dan kadang-kadang bahkan mengejeknya. Para guru tahu, tapi memilih berpura-pura tidak melihat.
Alasan Rafa diintimidasi sangat sederhana: dia terlalu berprestasi.
Dia selalu mendapat nilai sempurna di semua ulangan dan sering dipuji guru, tapi hal itu membuat para anak nakal merasa kesal. Bagi mereka, Rafa adalah “pengganggu pemandangan”.
“Jangan sok pintar, bro.”
“Gue kesel liat orang yang pura-pura jadi anak baik.”
Kata-kata seperti itu biasanya dilontarkan dari belakang.
Teman-teman sekelasnya enggan mendekati Rafa karena kalau sampai bergaul dengannya, mereka juga akan jadi sasaran.
Bagi Rafa, pergi ke sekolah adalah siksaan setiap hari.
Pagi-pagi begitu bangun, dadanya sudah terasa berat. Ia terbaring sebentar menatap langit-langit kamar, baru kemudian dengan berat hati bangun. Ia diam-diam menyantap sarapan yang sudah disiapkan ibunya.
“Aku berangkat dulu.”
Dia bergumam pelan sambil membuka pintu depan.
Pemandangan sepanjang jalan menuju sekolah sama seperti biasa.
Sampah berserakan di pinggir jalan tanpa ada yang membersihkan, bangunan-bangunan tua dan kosong berdiri di lahan-lahan tak terurus.
Krisis moneter yang melanda setelah tahun 1998 masih terasa kuat di kota ini, menciptakan suasana muram dan sepi.
Sampai di sekolah, Rafa takut membuka pintu kelas.
“Selamat pagi.”
Dia menyapa dengan suara kecil. Tapi tak seorang pun menoleh. Teman-teman sekelasnya sibuk dengan dunia mereka sendiri, seolah keberadaan Rafa tak pernah ada.
Saat pelajaran dimulai, Rafa berkonsentrasi mencatat. Belajar adalah satu-satunya pelarian baginya. Tapi seberapa pun nilai sempurnanya, tak ada yang memujinya. Guru-guru hanya menulis “bagus sekali” di rapornya dan tak pernah peduli pada penderitaannya.
Mungkin seorang guru bisa membantu.
Dulu ia pernah berpikir begitu.
“Pak, ada yang ingin saya bicarakan…”
Rafa mengetuk pintu ruang guru dan memanggil wali kelasnya.
Guru itu sedang memeriksa lembar jawaban, lalu menjawab singkat, “Ada apa?”
“Sebenarnya… saya sedang diintimidasi di kelas…”
Suaranya gemetar saat berusaha mencari kata-kata yang tepat.
Namun—
“Rafa, kamu terlalu khawatir kali ya?”
Guru itu bahkan tak sekali pun menatapnya, hanya terus membolak-balik kertas dengan jarinya.
Rafa kehilangan kata-kata.
Hatiku tiba-tiba terasa dingin.
Saat meninggalkan ruang guru, Rafa mendengar para guru sedang mengobrol.
“Di kelasku nggak ada perundungan kok.”
“Rafa memang pintar, tapi kayaknya agak sensitif ya.”
“Anak-anak jaman sekarang cepet banget bilang ‘di-bully’.”
—Tawa riuh terdengar.
Mereka memang tak pernah berniat membantu sejak awal.
Meski begitu, Rafa masih mencoba beberapa kali melapor, tapi jawabannya selalu sama.
“Kamu kuat kok, pasti baik-baik saja.”
“Kamu terlalu memikirkan hal-hal kecil.”
Para guru tak pernah menanggapi keluhan Rafa dengan serius.
Bagi mereka, Rafa adalah “siswa berprestasi tanpa masalah” yang seharusnya tak mungkin diintimidasi.
Saat bel pulang berbunyi, Rafa menghela napas lega. Akhirnya terbebas dari tempat yang menyesakkan ini.
Tapi tepat saat itu, suara rendah terdengar dari belakang.
“Hei, Rafa, pinjem muka lo bentar.”
Begitu menoleh, Dika berdiri di sana. Dia salah satu anak nakal di kelas yang terus mengincar Rafa.
Rafa menghela napas dalam hati, lalu berdiri tanpa berkata apa-apa. Kalau menolak, entah apa lagi yang akan dilakukan Dika nanti. Tak ada pilihan lain, ia mengikuti Dika ke kamar mandi.
Kamar mandi itu remang-remang, lembap, dan berbau tidak sedap. Dika memojokkan Rafa ke dinding sambil menyeringai.
“Datang ke tempat biasa abis pulang sekolah. Bang Reyhan lagi nunggu.”
Begitu mendengar nama itu, tulang punggung Rafa membeku.
Reyhan—preman terkenal di kawasan ini, orang berbahaya yang sering bergaul dengan anak-anak luar sekolah.
“Tempat biasa” yang dimaksud adalah gang sempit agak jauh dari sekolah.
Saat matahari mulai tenggelam, tempat itu jadi markas berkumpulnya para preman dan sumber berbagai masalah.
“Lo tahu kan akibatnya kalau kabur?”
Suara Dika dingin dan mengancam. Rafa mengepalkan tangan, tapi tak bisa berkata apa-apa, hanya menunduk.
Matahari mulai tenggelam, bayangan panjang membentang di seluruh kota.
Rafa berjalan pelan menuju “tempat biasa”.
Gang itu sempit, diapit bangunan kosong dan kontrakan tua, dinding penuh coretan, pecahan kaca berserakan di tanah. Di belakangnya ada rel kereta, sesekali kereta lewat dengan suara gemuruh yang memecah kesunyian.
Semakin dalam masuk gang, Reyhan, Dika, dan satu orang lain yang tak dikenal sedang menunggu.
Reyhan, yang masih memegang rokok di mulutnya, menatap Rafa sambil menyeringai.
“Nah, datang juga.”
Rafa menunduk dan menjawab pelan.
“…Ada apa?”
Reyhan pelan-pelan mendekat dan menepuk bahu Rafa ringan.
“Hei, lo punya duit kan? Kasih gue sedikit.”
Rafa menggigit bibir.
“…Ini sudah ketiga kalinya bulan ini. Sudah cukup.”
Mendengar itu, wajah Reyhan langsung berubah.
“…Hah?”
Nada suaranya tiba-tiba dingin.
Sesaat kemudian, Reyhan mencengkeram kerah baju Rafa dan mendorongnya kasar ke dinding.
“Lo bercanda ya?”
Bau asap rokok menyengat hidung.
“…Beneran nggak ada.”
Begitu Rafa mengucapkannya lantang…
Buk!
Benturan keras mengenai perutnya.
“Guuh…!”
Napasnya tersengal, tenggorokannya mendesis. Rasa sakit tumpul menyebar di tempat tinju Reyhan mendarat, lututnya gemetar. Tapi ia tak boleh jatuh. Dika menahannya dan memaksa Rafa berdiri.
“Hei, lo nggak bohong kan?”
Reyhan mendekatkan wajahnya sambil menepuk pipi Rafa ringan sambil tertawa kecil.
“…Beneran nggak ada…”
Rafa mengulangi, dan sesaat kemudian…
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi. Benturan itu membuat pandangannya bergetar, panas menyengat di kulit. Ia mendengar Dika dan yang lain terkikik.
“Ck… bosenin.”
Reyhan meludah kesal, lalu mendorong Rafa kasar ke belakang hingga punggungnya membentur dinding.
“Besok tiga puluh ribu, ngerti?”
“…Aku nggak punya uang segitu.”
Mata Reyhan langsung menyipit tajam.
“Brengsek, lo mau gue bikin lebih parah?”
Rafa tersentak.
Tiga puluh ribu rupiah—jumlah yang sama sekali tak mungkin ia punya sekarang. Kalau minta ke orang tua, pasti ditanya alasannya, sementara dompetnya hanya berisi beberapa ratus rupiah.
“…Aku harus gimana…”
Reyhan menatapnya dengan wajah kesal.
“Hah? Cari sendiri dong.”
Setelah itu, Reyhan dan yang lain menghilang ke dalam gang sambil tertawa.
Rafa bersandar ke dinding, menekan pipi yang masih perih. Suara kereta bergema di kejauhan.
Rafa berjalan tertatih menyusuri kota malam hari.
Rasa sakit di pipi masih terasa, kata-kata Reyhan terus bergaung di kepala.
“Tiga puluh ribu besok. Ngerti?”
Harus gimana?
Dengan pikiran itu, ia sampai di rumah.
Begitu membuka pintu depan, suasana hening yang tak biasa menyambutnya.
Lampu ruang tamu menyala.
—Jam segini?
Ayahnya biasanya pulang larut, ibunya biasanya santai nonton TV.
Tapi hari ini berbeda.
Ayahnya, masih pakai jas kerja, menyandarkan siku di meja dengan wajah serius. Ibunya juga mengerutkan kening, ekspresinya tegang.
“…Aku pulang.”
Begitu Rafa menyapa pelan, ibunya mendongak.
“Selamat datang, Rafa…”
Suaranya agak lemah.
“Ada apa?”
Rafa bertanya dengan perasaan tak enak. Ayahnya menghela napas panjang, lalu berbicara berat.
“Ayah kena PHK dari kantor.”
Dada Rafa terasa sesak.
“…PHK?”
“Iya, restrukturisasi. Perusahaan lagi susah, banyak yang diputus kontraknya… termasuk Ayah.”
Ayahnya menjentikkan selembar surat di atas meja, logo perusahaan terpampang jelas.
Rafa menelan ludah.
Setelah krisis moneter 1998, resesi melanda seluruh negeri. Setiap hari berita penuh cerita PHK dan kebangkrutan. Tapi Rafa merasa itu semua terjadi di dunia lain.
Tak pernah terpikir ini akan menimpa keluarganya sendiri.
“Kok bisa…”
Ibunya berkata pelan.
“Ayah masih bisa pakai pesangon dan tabungan untuk sementara, tapi harus segera cari kerja baru.”
Meski begitu, nada suaranya tetap cemas.
Hening menyelimuti ruangan.
“…Susah ya sekarang.”
Rafa memaksakan senyum setelah mengucapkan itu.
“Rafa?”
Ibunya menatap wajahnya lama.
“Eh, pipimu… kenapa?”
Sekilas rasa dingin menjalari punggung Rafa.
“Eh, iya… tadi jatuh.”
Ia buru-buru memegang pipi sambil tersenyum kecut.
“Beneran? Bengkaknya lumayan…”
Begitu ibunya mendekat dengan wajah khawatir, Rafa melambaikan tangan pelan.
“Nggak apa-apa, nggak sakit kok, cuma kecelakaan kecil.”
Ibunya masih memandang curiga.
“…Beneran jatuh?”
“Iya, bener. Cuma ceroboh aja.”
Rafa memaksakan senyum lagi. Ibunya tampak belum yakin, tapi tak bertanya lebih lanjut.
Rafa menghela napas pelan.
Aku nggak boleh bikin kalian tambah khawatir.
Dengan pikiran itu, ia masuk ke kamar.
Rafa ambruk di kasur, menatap kosong ke langit-langit.
—Kenapa?
Ia bertanya pada dirinya sendiri berulang kali, puluhan, ratusan kali.
Kenapa aku harus mengalami ini semua?
Apakah karena aku hidup serius?
Apakah karena nilaiku selalu bagus?
Apakah karena aku anak yang patuh?
Kalau ini film, pasti ada pahlawan yang datang menyelamatkan.
Kalau ini komik atau serial, tokohnya pasti dapat kekuatan ajaib dan hidup bahagia di dunia lain.
—Tapi ini kenyataan.
Tak ada yang datang membantu.
Rafa terperosok semakin dalam ke jurang keputusasaan.
Bahkan rasa waktu menjadi kabur; ia tak tahu sudah berapa menit atau jam berlalu. Kesadarannya tenggelam, seperti ditelan kegelapan.
Ia mendengar suara ibunya dari jauh.
“Rafa, makan malam sudah siap…”
Tapi suara itu tak sampai ke telinganya.
Ibunya mencoba memanggil lagi, tapi berhenti di tengah jalan.
Kamar kembali hening.
Tak peduli lagi berapa lama waktu berlalu.
—Lagipula, itu tak penting.
Di ujung keputusasaan, Rafa tertawa.
Bukan tawa mengejek diri sendiri atau sinis—melainkan tawa yang penuh kegilaan.
“Buat apa hidup jujur…?”
Ia bergumam pelan, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Kalau begitu, aku akan jadi apa saja, bahkan penjahat.”
Pada saat itu, sesuatu di dalam diri Rafa benar-benar hancur.