

Tobby tidak pernah menganggap dirinya istimewa. Sejak kecil ia menjalani hari seperti anak lain, hanya saja ia lebih banyak diam. Ia tidak suka keramaian dan tidak suka menjelaskan perasaannya. Banyak orang melihat Tobby sebagai anak yang tenang. Padahal ia hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika banyak hal terasa salah di dalam dirinya.
Di rumah, Tobby tumbuh dengan orang tua yang penuh perhatian tetapi tidak terlalu menunjukkan kasih sayang dengan kata kata. Mereka lebih sering menegur dengan lembut dan mengingatkan tanpa memaksa. Namun justru karena itu, diam mereka terasa lebih berat ketika Tobby melakukan kesalahan. Setiap kali ia melawan atau menjawab dengan nada tinggi, ibunya hanya menunduk. Ayahnya hanya menghela napas. Tidak ada bentakan, tidak ada pukulan. Tapi justru itulah yang paling membuat Tobby menyesal.
Penyesalan itu hanya bertahan beberapa jam atau satu malam. Setelah itu, emosinya kembali mengambil alih. Seakan ada dua sisi dalam dirinya yang terus bertentangan. Satu sisi ingin menjadi anak baik. Sisi lain membuatnya cepat marah, mudah tersinggung, dan sulit menerima nasihat. Di sekolah ia bisa bersikap sopan. Di rumah justru sebaliknya.
Ketika masuk SMP dan SMA, kebiasaan itu semakin kuat. Jika orang tuanya melarang sesuatu, Tobby langsung merasa ditekan. Ia sering bilang bahwa mereka tidak percaya padanya. Namun jauh di dalam hati, ia sendiri tahu ia belum pantas dipercaya. Tapi ia tidak pernah jujur pada dirinya sendiri.
Saat SMA, Tobby bukan anak yang malas. Ia pintar, cepat menangkap pelajaran, dan jarang tertinggal. Namun yang membuat hidupnya sulit adalah ketidakmampuannya mengatur fokus dan emosinya. Ia bisa belajar berjam jam, tapi tiba tiba kehilangan semangat karena hal kecil. Ia bisa serius di kelas, namun nilai ulangan sering tidak sesuai kemampuan karena ia kurang teliti atau panik tanpa alasan.
Karena itu, nilainya naik turun. Guru memuji, namun Tobby tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa harus menjadi yang terbaik. Jika tidak, ia merasa gagal secara total. Beban yang ia ciptakan sendiri itu membuatnya semakin sulit mengendalikan perasaan.
Ketika tamat SMA, ia memutuskan kuliah teknik di sebuah kampus kecil. Ia tidak punya ambisi besar, hanya ingin cepat lulus dan bekerja seperti orang lain. Kuliah tiga tahun itu berjalan aneh. Di awal, ia semangat. Ia merasa ada harapan baru. Tapi perlahan, kebiasaan lamanya kembali. Ia sering melewatkan tugas, sering menunda, dan tidak bisa konsisten. Ia mengerti pelajaran, tetapi tidak pernah mengerjakannya dengan rapi.
Teman-teman sekelasnya banyak yang menyerah. Ada yang mengulang semester. Ada yang keluar. Tobby tidak keluar, tapi ia menjalani kuliah dengan cara yang membuatnya semakin tertekan. IPK semester pertama masih lumayan. Semester kedua menurun. Semester ketiga lebih buruk lagi. Dosen mulai mengenal Tobby sebagai mahasiswa yang mengerti teori tapi jarang menunjukkan hasil maksimal di praktik.
Saat menjelang kelulusan, Tobby sadar nilainya sangat rendah. Bukan sekadar rendah, tapi berada di batas paling bawah standar kelulusan. Satu angka saja turun, ia tidak akan lulus. Ia tidak punya keberanian untuk mengulang. Ia hanya bisa mengusahakan yang tersisa. Ia belajar lebih keras dari sebelumnya, tetapi tetap tidak bisa menyamai teman temannya yang konsisten sejak awal.
Akhirnya ia lulus. Tiga tahun itu tidak sia sia. Namun nilai yang tercetak pada ijazahnya membuatnya sulit berkata apa pun. Ia lulus, tapi dengan nilai yang hampir jatuh ke tingkat terendah. Bukan kebanggaan. Lebih mirip selamat karena tidak terpeleset. Ia pulang dengan rasa lega bercampur malu. Ia tidak menceritakan nilai itu pada siapa pun. Orang tuanya hanya melihat kelulusannya, tidak melihat angkanya. Mereka tetap bangga meski Tobby tahu ia belum pantas dibanggakan.
Tapi setelah lulus, masalah lain muncul. Ia kesulitan mencari pekerjaan. Setiap wawancara, ia gugup. Setiap tes, hasilnya tidak maksimal. Ia mencoba bekerja serabutan. Kadang bekerja di bengkel. Kadang membantu proyek kecil. Kadang bekerja di toko. Tidak ada satu pun yang bertahan lama. Kadang ia berhenti karena tidak tahan tekanan. Kadang ia berhenti karena ada pertengkaran kecil yang ia perbesar. Kadang karena ia merasa tidak dihargai, padahal masalahnya hanya hal sepele.
Kesalahan kecil juga sering ia ulangi. Bangun kesiangan. Tugas terlambat. Janji lupa. Sikap yang membuat orang percaya padanya hanya sebentar, kemudian memilih menjauh pelan pelan. Tobby merasakan itu, tapi ia selalu menyalahkan keadaan. Ia belum mau melihat dirinya sebagai sumber masalah.
Hubungannya dengan orang tua juga tidak banyak berubah. Ia masih sering marah tanpa alasan jelas. Kalau ayahnya menasihati tentang kerja, Tobby merasa dipaksa. Kalau ibunya bertanya ada masalah apa, Tobby merasa diawasi. Padahal mereka hanya ingin membantunya. Ia tahu itu. Tapi hatinya kadang keras, kadang kacau.
Dalam diam, ia sering menyesal. Saat malam ia terbaring di kamar, sering kali ia memejamkan mata lama. Mengingat semua kata kata yang ia lontarkan. Mengingat wajah ibunya yang sedih. Mengingat ayahnya yang diam karena lelah. Namun ketika pagi datang, semua penyesalan itu menghilang begitu saja. Kebiasaan buruk kembali menguasai dirinya.
Waktu berjalan. Tobby semakin dewasa, namun hidupnya tidak banyak berubah. Nilai kuliah yang rendah membuatnya susah mencari pekerjaan yang layak. Pergaulan yang tidak terarah membuatnya tidak merasa punya tujuan. Tekanan hidup membuatnya makin mudah terpancing emosi. Kadang ia berjanji akan berubah, namun janji itu hilang begitu saja setiap kali ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Pada masa itu, Tobby mulai mengenal kebiasaan kebiasaan yang akhirnya membuat hidupnya semakin berat. Lingkungannya pelan pelan berubah. Untuk menghilangkan stres, ia mencoba hal hal yang semestinya tidak ia sentuh. Hidupnya berjalan naik turun tanpa arah yang jelas. Setiap kali merasa ingin memperbaiki semuanya, ada saja hal yang membuatnya mundur lagi.
Meskipun begitu, ia tetap memiliki sisi baik. Ia tidak pernah tega melihat orang susah. Teman temannya sering meminta bantuan dan Tobby selalu ada. Ia sering meminjamkan uang meski tidak banyak. Ia membantu teman pindahan. Membantu memperbaiki motor. Membantu tanpa mengharapkan kembali. Sifat baik itulah yang membuat orang tetap menghargainya, meski mereka tahu Tobby punya banyak kekurangan.
Namun kebaikan itu tidak membuat hidupnya lebih ringan. Ia tetap tidak stabil. Pekat dalam kekacauan batinnya sendiri. Terkadang ia berdoa dan merasa sedang menuju perubahan. Terkadang ia kembali terjatuh pada kebiasaan lama. Hidupnya seperti jalan panjang yang tidak punya petunjuk arah. Tidak ada tujuan jelas. Tidak ada rencana.
Meski begitu, ia tetap melanjutkan hari. Tidak tahu harus berharap apa. Tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Di kepalanya sering muncul pertanyaan apakah hidup semua orang memang seperti ini atau hanya dirinya yang selalu mengambil langkah yang membawa pada penyesalan.
Saat melihat teman teman satu per satu berhasil menyusun hidup, Tobby mulai merasa tertinggal jauh. Ia menyadari bahwa waktu tidak menunggu siapa pun. Tapi ia juga sadar bahwa dirinya belum siap mengejar apa pun.
Hari hari terasa panjang. Namun ia terus berjalan tanpa tahu bahwa kesalahan kesalahan kecil yang ia biarkan sejak masa sekolah dan kuliah perlahan berubah menjadi batu besar yang suatu hari akan menutup jalan hidupnya sendiri.
Tanpa ia sadari, segala kegagalan dan kebiasaan buruk itu sedang menuntunnya ke fase terberat yang akan mengubah seluruh hidupnya kelak.