

Hujan malam itu bukan lagi sekadar air yang jatuh dari langit; ia adalah ribuan jarum dingin yang menghujam atap seng tua rumah kami di kaki pegunungan utara Velnara. Suaranya memekakkan telinga, menciptakan simfoni kekacauan yang seolah ingin menenggelamkan jeritan apa pun yang mungkin lahir di bawahnya. Biasanya, hujan membawa aroma tanah basah yang menenangkan, jenis bau yang membuat Ibu menyeduh teh melati dan Ayah membacakan dongeng tentang ksatria kuno. Namun malam ini, udara terasa berbeda. Ada bau karat yang tajam dan menusuk hidung—bau besi tua yang bergesekan, bau yang tak semestinya ada di sebuah ladang sunyi.
Light, bocah laki-laki yang baru berumur dua belas tahun, tersentak dari tidurnya. Matanya yang berwarna cokelat tua menatap langit-langit kamar yang gelap, mencoba membedakan antara mimpi buruk dan realitas. Di luar, di antara deru hujan, ia mendengar bunyi yang asing.
Trek-trek-trek.
Suara logam beradu. Irama langkah kaki yang berat dan terukur. Itu bukan langkah kaki tetangga yang tersesat, bukan pula langkah kaki hewan ternak yang lepas. Itu adalah langkah kaki kematian yang mengenakan bot kulit tebal.
Tiba-tiba, sebuah jeritan pecah dari arah dapur. Itu suara Ibu. Singkat, melengking, lalu mendadak hilang seperti ditarik paksa oleh tangan-tangan tak terlihat. Kesunyian yang mengikuti jeritan itu jauh lebih mengerikan daripada suara hujan paling deras sekalipun.
"Sembunyi! Jangan bersuara, apa pun yang terjadi!"
Pintu kamar Light terbanting terbuka. Ayah muncul di ambang pintu, wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi, matanya membelalak penuh ketakutan yang belum pernah dilihat Light sebelumnya. Cahaya kilat di luar jendela menyinari sosok Ayah sekejap, memperlihatkan noda gelap yang mulai melebar di kemeja putihnya.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Ayah menyeret Light menuju sudut ruangan. Dengan tenaga yang lahir dari keputusasaan, ia menyentak karpet tua yang berbau apek, membuka sebuah lubang sempit di bawah lantai kayu—sebuah ruang rahasia yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan bahan pangan cadangan.
"Masuk, Light. Sekarang!" bisik Ayah, suaranya parau dan bergetar.
"Ayah, Ibu di mana? Apa yang terjadi?" Light bertanya dengan suara mencicit, namun Ayah hanya menekan pundaknya masuk ke dalam lubang yang dingin dan pengap itu. Karpet ditutupkan kembali di atas kepalanya. Hal terakhir yang Light lihat adalah bayangan Ayah yang berdiri tegak, memegang kapak kayu tua, sebelum kegelapan total menyergapnya.
Di bawah lantai, Light meringkuk seperti janin. Dadanya sesak, oksigen terasa menipis setiap kali ia menarik napas. Jantungnya memukul-mukul rusuk dengan begitu keras sampai ia yakin orang-orang di atas sana bisa mendengarnya. Lewat celah kayu yang sempit, selebar helai rambut, Light memaksa matanya untuk melihat ke atas.
Enam pasang sepatu bot masuk ke dalam ruangan. Bot-bot itu kotor oleh lumpur dan darah. Pemiliknya bukan manusia biasa; mereka adalah sosok-sosok jangkung yang mengenakan jubah gelap. Di atas kepala mereka, moncong serigala dari kayu dan cat hitam menyeringai—topeng-topeng Black Fang. Setiap kali kilat menyambar di luar, topeng-topeng itu seolah-olah hidup, memamerkan taring logam yang berkilau jahat.
"Di mana anak itu?" sebuah suara parau bertanya. Suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan.
Ayah tidak menjawab. Yang terdengar hanyalah suara napas Ayah yang berat dan geraman kemarahan.
Dor. Dor.
Dua suara ledakan mesiu merobek keheningan malam, menyisakan denging panjang yang menyakitkan di telinga Light. Ia melihat tubuh Ayah tumbang tepat di atas celah matanya. Hening. Hening yang jauh lebih mematikan dari suara tembakan tadi.
Light menggigit punggung tangannya sendiri. Ia menggigitnya begitu keras sampai kulitnya robek, membiarkan rasa asin darahnya memenuhi mulut. Ia melakukan itu demi satu tujuan: agar teriakan histerisnya tidak lolos dari tenggorokannya. Jika ia bersuara, ia akan mati. Jika ia mati, tidak akan ada yang mengingat nama orang tuanya.
Tak lama kemudian, sesuatu yang hangat dan kental mulai merembes dari sela-sela lantai. Cairan itu menetes tepat di bahu kecil Light, membasahi baju tidurnya. Cairan itu amis dan panas. Darah Ayah. Cairan kehidupan yang kini hanya menjadi noda di atas debu.
"Tidak ada tanda-tanda anak itu," lapor salah satu dari mereka, seorang komandan dengan topeng serigala yang memiliki bekas luka di bagian rahangnya. "Mungkin dia sudah lari ke hutan sebelum kita sampai."
"Tidak masalah," jawab pemimpin mereka dingin. "Tugas kita adalah membersihkan tempat ini. Majelis Bangsawan tidak menginginkan ada saksi dari keluarga ini. Bakar saja semuanya."
Light mendengar suara pemantik api, disusul oleh aroma minyak tanah yang menyengat. Dalam hitungan detik, api mulai melahap dinding kayu rumah yang sudah tua itu. Suara kayu yang terbakar terdengar seperti tulang-tulang yang dipatahkan satu per satu oleh raksasa tak terlihat. Asap hitam mulai turun ke bawah lantai, merayap masuk ke dalam lubang persembunyian Light, mencekik paru-parunya.
Di tengah kesedihan dan rasa sakit yang tak terlukiskan, saat kesadarannya mulai memudar karena kekurangan oksigen, Light seolah mendengar bisikan yang sangat tipis. Bukan suara dari atas lantai, melainkan suara yang seolah datang dari dimensi lain, atau mungkin dari lubuk jiwanya yang paling dalam.
"Lari... Nak... jangan menoleh... Jadilah bayangan yang tak tersentuh..."
Entah berapa lama ia pingsan di bawah sana. Ketika kesadaran akhirnya kembali, udara terasa dingin dan hampa. Cahaya matahari pagi merayap masuk, namun tidak ada lagi rumah untuk disinari. Rumah itu sudah rata dengan tanah, hanya menyisakan kerangka kayu yang masih mengepulkan asap hitam.
Light merangkak keluar dari lubang persembunyiannya. Tubuhnya penuh dengan jelaga hitam yang menempel erat seperti kulit kedua. Wajahnya yang dulu bersih kini legam, menyisakan sepasang mata merah yang kering. Air matanya sudah habis menguap oleh panas api semalam, menyisakan rasa perih yang permanen di sudut matanya.
Ia berdiri di tengah puing-puing, menatap dua gundukan daging yang sudah tak berbentuk lagi. Dengan kuku yang patah dan telapak tangan yang lecet karena mencakar reruntuhan, Light mulai menggali. Ia tidak memiliki sekop, ia hanya memiliki amarah. Ia menggali dua lubang di bawah pohon ek tempat Ibu biasanya menjemur pakaian.
Tanpa batu nisan mewah. Tanpa doa-doa suci dari pendeta. Tanpa air mata. Malam itu, Light menyadari sebuah kebenaran pahit tentang Kerajaan Velnara: Di dunia yang dikuasai oleh The Ledger dan faksi-faksi pembunuh, Tuhan sedang tidur, dan keadilan hanyalah dongeng pengantar tidur bagi mereka yang lemah.
"Enam," bisik Light dengan suara yang pecah. "Enam serigala."
Ia mengepalkan tangannya yang gemetar. Di bawah kuku-kukunya yang hitam oleh jelaga dan darah, tersimpan janji kematian. Ia tidak akan lagi menjadi anak kecil yang bersembunyi di bawah lantai. Ia akan menjadi bayangan yang menghantui mimpi buruk mereka.
Empat tahun berlalu.
Velnara tetaplah kerajaan yang indah di permukaan, namun busuk di dalamnya. Di Distrik Lidah Hitam, wilayah paling kumuh di ibukota, seorang pemuda dengan tatapan sedingin es berjalan di antara kerumunan. Namanya adalah Light, namun di dunia bawah tanah, ia mulai dikenal sebagai "Bayangan Tanpa Nama".
Ia telah mempelajari cara menggunakan Black Coin, mata uang identitas yang mengatur hidup dan mati di bawah pengawasan The Keeper. Ia telah belajar dari Darius Halvern, seorang mantan Warden yang mengajarkannya bahwa dendam tanpa teknik hanyalah upaya bunuh diri yang lambat.
Light kini berdiri di puncak sebuah menara jam tua, menatap ke arah pelabuhan hitam—wilayah kekuasaan Black Fang. Angin malam menyapu rambutnya yang kini dibiarkan panjang menutupi sebagian wajahnya yang penuh luka. Di pinggangnya, terselip sebuah bilah pendek yang terbuat dari baja hitam, sebuah senjata yang tidak memantulkan cahaya bulan.
Ia tidak lagi mencari keadilan. Keadilan terlalu suci untuk dunia sekotor ini. Yang ia cari adalah keseimbangan—darah harus dibayar dengan darah, api harus dibalas dengan abu.
Enam komandan Black Fang masih berkeliaran, menikmati kemewahan dari kontrak-kontrak darah mereka. Mereka tidak tahu bahwa di balik bayangan kota, seorang anak yang mereka anggap telah mati dalam api kini telah kembali sebagai badai. Light akan memastikan mereka tahu rasanya kehilangan napas perlahan-lahan, merasakan paru-paru yang terbakar oleh asap, dan merasakan dinginnya besi yang merobek kulit.
"Malam ini," bisik Light pada kegelapan. "Satu serigala akan kehilangan taringnya."
Ia melompat dari ketinggian menara, menghilang ke dalam pelukan malam. Perang bayangan baru saja dimulai, dan sejarah Velnara akan segera ditulis ulang dengan tinta yang terbuat dari darah para penindas. Light bukan lagi cahaya yang menerangi; ia adalah kegelapan yang menelan segala hal yang berani menyentuh masa lalunya.
Dalam dunia di mana identitas adalah mata uang, Light memilih untuk tidak memiliki nama. Karena seorang pembunuh yang tidak memiliki nama adalah seorang pembunuh yang tidak bisa mati. Dan bagi enam serigala itu, Light adalah maut yang telah lama tertunda.