

Purnomo adalah pemuda desa berumur 23 tahun. Dia memiliki tubuh yang sangat tegap dan tinggi. Kulitnya sawo matang, khas orang yang sering bekerja di bawah matahari.
Otot-otot lengan Purnomo terlihat menonjol saat dia memeras kain pel. Keringat membasahi punggungnya, membuat kaos tipis yang dipakainya mencetak bentuk tubuhnya yang atletis.
"Nasib bener jadi orang kecil begini. Kok ya jam segini masih harus ngepel sih? Padahal mata udah ngantuk banget ini," gumam Purnomo pelan sambil menyeka keringat di dahinya.
Dia sebenarnya ingin protes kepada majikannya. Namun, nyalinya menciut setiap ingat hutang budi. Ibunya sakit parah dan biaya pengobatannya ditanggung penuh oleh Juragan Sastro.
"Mau gimana lagi? Kalau aku ngelawan atau males-malesan, bisa-bisa Emak gak dapet obat lagi dari Mantri Desa. Sabar aja lah, Pur," keluhnya lagi dalam hati untuk menghibur diri.
Purnomo mempercepat gerakannya agar pekerjaan cepat selesai. Saat dia sedang asyik mengepel di dekat pintu kamar utama, telinganya menangkap suara aneh.
Kriet. Kriet. Kriet.
Itu suara ranjang kayu tua yang bergoyang cukup keras. Suara itu datang dari dalam kamar Juragan Sastro. Purnomo menghentikan gerakan tangannya seketika. Dia menegakkan kepalanya dan menajamkan pendengaran.
"Aduh, Pak! Jangan kasar-kasar donk! Sakit nih lahannya kalau dipaksa gitu!" terdengar suara wanita mengeluh dari dalam kamar.
Purnomo langsung tahu siapa pemilik suara itu. Itu suara Nyah Muda Ratna. Istri ketiga Juragan Sastro yang paling cantik dan paling muda.
Jantung Purnomo langsung berdegup kencang. Pikirannya mulai melayang ke mana-mana. Dia tahu kalau Juragan Sastro sedang berusaha menggarap lahan di dalam sana.
"Gila bener. Orang tua itu ternyata masih kuat juga ya nyangkul jam segini. Padahal jalan ke kamar mandi aja udah susah napasnya," batin Purnomo keheranan.
Rasa penasaran Purnomo tiba-tiba muncul. Dia melihat ke arah dinding kamar yang terbuat dari papan kayu. Rumah Juragan Sastro memang rumah joglo kuno dan dinding kamarnya masih banyak yang memakai kayu jati tua.
Di salah satu bagian dinding ada lubang kecil bekas paku yang copot. Lubang itu tingginya pas sekali dengan posisi mata Purnomo kalau dia sedang jongkok.
Purnomo menengok ke kanan dan ke kiri. Lorong itu kosong melompong. Tidak ada orang lain yang lewat.
"Ah, coba intip dikit aja deh. Penasaran aku koq suaranya kayak orang lagi berantem rebutan air irigasi gitu," ucap Purnomo dalam hati.
Dengan hati-hati Purnomo mendekatkan wajahnya ke dinding papan itu. Dia menempelkan mata kirinya ke lubang kecil tersebut. Mata Purnomo langsung terbelalak lebar saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Kamar itu diterangi oleh lampu minyak yang cahayanya remang-remang. Suasananya jadi terlihat sangat dramatis. Di atas ranjang kayu yang besar, Purnomo melihat Juragan Sastro sedang berusaha menindih tubuh Nyah Muda Ratna.
Pemandangan itu sungguh timpang. Juragan Sastro yang sudah tua terlihat sangat menyedihkan. Tubuhnya pendek dan perutnya buncit sekali. Kulitnya sudah keriput dan kendor di mana-mana. Napas Juragan Sastro terdengar sangat berat.
Ngik. Ngik.
Suaranya persis seperti kerbau tua yang dipaksa membajak sawah kering. Keringat dingin bercucuran membasahi punggungnya yang lebar dan berlemak.
Sedangkan di bawahnya terbaring sosok yang bagaikan bidadari. Nyah Muda Ratna benar-benar wanita yang sempurna. Umurnya baru 22 tahun. Wajahnya cantik sekali khas kembang desa.
Purnomo menelan ludah dengan susah payah saat melihat tubuh Ratna.
Wanita itu hanya memakai kain jarik yang sudah tersingkap sampai ke paha atasnya. Lahan pertaniannya yang subur terlihat sangat siap untuk digarap. Kulitnya terlihat sangat halus dan bening ditimpa cahaya lampu minyak.
Bagian atas tubuh Ratna juga tidak kalah menggoda. Kebaya tipis yang dipakainya sudah terbuka lebar. Purnomo bisa melihat dengan jelas dua buah pepaya california milik Ratna yang sangat besar dan padat. Pepaya ranum itu berguncang-guncang pelan setiap kali Juragan Sastro bergerak.
"Busyet! Gede banget itu pepayanya Nyah Muda. Itu sih ukurannya jumbo banget buat jadi pepaya kembar, bisa diekspor ke luar negeri," batin Purnomo. Jakunnya naik turun menahan nafsu.
Purnomo merasa celananya mulai terasa sesak. Singkong miliknya di dalam celana mulai bereaksi. Pemandangan di depannya ini sungguh rezeki nomplok bagi pemuda desa sepertinya.
Namun ada yang aneh dengan ekspresi Ratna. Wanita cantik itu sama sekali tidak terlihat menikmati proses pembajakan sawah itu. Wajahnya justru terlihat bosan dan jengkel. Matanya menatap langit-langit kelambu dengan tatapan kosong. Tangannya diam saja di samping badan.
"Ayo donk, Pak! Koq lemet banget sih paculnya? Katanya tadi udah minum jamu kuat dari pasar," ucap Ratna dengan nada ketus.
"Sabar, Nyah. Ini Bapak lagi usaha lho. Napas Bapak udah ngos-ngosan nih buat manasin mesinnya," jawab Juragan Sastro dengan suara terputus-putus.
"Usaha gimana sih? Itu pacul Bapak koq malah lembek gitu kayak kerupuk kena air? Gak bisa buat gali lobang tau!" protes Ratna lagi dengan suara tinggi.
Ratna terlihat sangat kecewa. Dia melirik ke arah bawah perut suaminya. Di sana, pacul milik Juragan Sastro terlihat layu dan tidak bertenaga sama sekali. Alat tani itu tidak bisa berdiri tegak meskipun sudah dipaksa.
"Aduh, Nyah. Jangan marah-marah donk. Ini Bapak lagi konsentrasi biar bisa tegak lagi. Jangan bikin Bapak stress," bujuk Juragan Sastro sambil mengusap keringat di lehernya.
"Halah! Bapak mah cuma janji doang. Tiap malem juga gini terus alibinya. Aku tuh capek, Pak. Lahan udah basah tapi gak jadi ditanemin. Mubazir tau!"
Ratna mendorong tubuh suaminya yang bau minyak angin itu agar menjauh. Dia benar-benar frustrasi. Hasratnya untuk digarap tidak tersalurkan dengan baik karena alat suaminya tumpul.
"Udah, ah! Minggir sana! Bikin emosi aja," bentak Ratna sambil menepis tangan suaminya.
"Jangan gitu donk, Nyah. Sekali lagi deh. Bapak coba pompa lagi ya?" pinta Juragan Sastro memelas.
"Gak usah! Tidur aja sana! Daripada kena serangan jantung gara-gara maksa nyangkul," tolak Ratna tegas.
Purnomo yang mendengar perdebatan itu hampir tertawa, tapi dia menahannya kuat-kuat.
"Percuma punya bini lahan subur kalo paculnya udah karatan dan patah gagangnya," batin Purnomo mengejek dari balik dinding.
Tidak lama kemudian Juragan Sastro menyerah. Dia ambruk di samping Ratna dengan napas memburu seperti sapi habis lari maraton.
"Hah! Hah! Bapak istirahat dulu ya, Nyah. Jantung Bapak mau copot rasanya. Besok kita coba lagi pas subuh," ucap Juragan Sastro.
Hanya dalam hitungan detik terdengar suara dengkuran keras.
Grok.
Grok.
Juragan Sastro langsung tertidur pulas karena kelelahan. Padahal dia belum menyelesaikan tugasnya sebagai petani yang baik.
Ratna mendengus kesal. Dia bangun dan duduk di tepi ranjang.
Saat Ratna duduk, dua buah pepaya california yang montok itu membusung dengan indahnya. Purnomo yang mengintip dari lubang dinding merasa matanya dimanjakan sekali. Ujung pepaya itu terlihat menyembul samar-samar, menantang untuk dipetik.
Ratna mengambil kain selendang untuk mengelap keringat di leher dan belahan dadanya. Gerakannya sangat sensual. Dia seolah sedang memamerkan keindahan hasil panen tubuhnya pada tembok kamar.
"Dasar tua bangka! Bisanya cuma janji panen raya doang. Giliran di kasur mlempem. Mana bisa puas kalau caranya begini terus," gerutu Ratna pelan tapi Purnomo masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Padahal aku lagi pengen banget digarap. Sialan bener punya laki gak guna," umpat Ratna lagi.
Wanita itu lalu membetulkan letak kain jariknya. Dia memiringkan badannya menghadap ke arah dinding. Tepat ke arah lubang tempat Purnomo mengintip.
Jantung Purnomo seakan berhenti berdetak.
Mata indah Ratna menyapu sekeliling kamar. Lalu tatapannya berhenti di satu titik. Ratna melihat ada mata yang sedang mengintip dari lubang kecil di dinding papan itu.
"Mampus aku! Ketahuan!" teriak Purnomo dalam hati.