Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kerajaan di Balik Kabut

Kerajaan di Balik Kabut

Nayaka | Bersambung
Jumlah kata
33.5K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Kerajaan di Balik Kabut
Kerajaan di Balik Kabut

Kerajaan di Balik Kabut

Nayaka| Bersambung
Jumlah Kata
33.5K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPertualangan
Di sebuah desa pegunungan yang selalu diselimuti kabut tebal, hidup seorang remaja bernama Arka yang sejak kecil dilarang mendekati hutan di utara desa. Kabut di hutan itu dipercaya sebagai batas antara dunia manusia dan dunia terlarang—tempat sebuah kerajaan kuno menghilang ratusan tahun lalu. Larangan itu mulai runtuh ketika Arka menemukan liontin batu berukir lambang aneh, peninggalan mendiang ibunya. Tanpa disadari, liontin tersebut membuka jalan menuju Kerajaan Avarin, sebuah negeri megah yang tersembunyi di balik kabut dan terperangkap dalam kutukan waktu. Di sana, siang dan malam tidak berjalan seperti dunia manusia, dan penduduknya hidup dalam penantian akan seorang pewaris. Arka terkejut saat mengetahui bahwa dirinya memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan Avarin. Kehadirannya membangkitkan harapan sekaligus ancaman. Raja bayangan yang menguasai kabut berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan mengorbankan dunia manusia, sementara Arka harus memilih: kembali ke kehidupan lamanya atau menghadapi takdir sebagai kunci penyelamat dua dunia. Dalam perjalanannya, Arka ditemani Laira, penjaga kerajaan yang menyimpan rahasia besar, serta harus menghadapi pengkhianatan, pengorbanan, dan kebenaran pahit tentang asal-usul dirinya. Kabut bukan lagi sekadar penghalang, melainkan ujian keberanian dan keikhlasan. Saat kabut mulai menipis, satu pertanyaan tersisa: Apakah setiap kerajaan memang layak diselamatkan, jika harga yang harus dibayar adalah segalanya?
Kabut yang Memanggil**

Kabut turun lebih awal pagi itu.

Ia merayap perlahan dari lereng gunung, menyusup di antara pepohonan pinus, lalu menelan jalan setapak menuju hutan utara. Dari kejauhan, kabut tampak seperti dinding putih tak berujung—diam, namun mengandung sesuatu yang membuat dada Arka terasa sesak setiap kali memandangnya.

“Jangan pernah ke sana.”

Kalimat itu selalu terngiang di kepalanya. Pesan terakhir ibunya, diucapkan dengan suara lemah di ranjang kayu kecil mereka, bertahun-tahun lalu. Saat itu Arka masih terlalu muda untuk bertanya lebih jauh. Sekarang, larangan itu justru menjadi pertanyaan yang tak pernah berhenti tumbuh.

Arka berdiri di tepi ladang kentang milik pamannya, menatap batas hutan yang samar. Usianya tujuh belas tahun, dan sepanjang hidupnya ia belum pernah melangkah melewati batu besar penanda batas desa. Tak seorang pun pernah. Mereka menyebut hutan itu wilayah kabut, tempat orang-orang yang nekat masuk tak pernah kembali—atau kembali sebagai orang yang berbeda.

Angin dingin berembus, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang asing. Arka merapatkan jaketnya dan hendak berbalik, ketika sesuatu berkilau samar di tanah dekat kakinya.

Sebuah liontin.

Arka mengernyit. Ia yakin benda itu bukan miliknya—namun saat mengambilnya, jantungnya berdegup lebih cepat. Liontin itu terbuat dari batu keabu-abuan, dingin di telapak tangan, dengan ukiran simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Anehnya, ia merasa pernah mengenalnya.

Tangannya gemetar.

Ia ingat liontin yang sama tergantung di leher ibunya di hari-hari terakhir. Ia mengira benda itu telah dikubur bersama jasadnya.

“Kenapa ada di sini…?” gumam Arka pelan.

Kabut di tepi hutan bergerak. Bukan tertiup angin—melainkan berputar perlahan, seolah bereaksi terhadap sesuatu. Arka mundur selangkah, napasnya tertahan. Namun liontin di tangannya terasa hangat, denyutnya selaras dengan detak jantungnya sendiri.

Lalu suara itu terdengar.

Bukan suara yang jelas, bukan pula bisikan kata-kata. Lebih seperti panggilan—lembut namun mendesak, seakan seseorang menyebut namanya tanpa suara.

Arka menelan ludah.

“Aku cuma berhalusinasi,” katanya pada diri sendiri. Namun kakinya melangkah maju tanpa ia sadari.

Satu langkah melewati batu penanda batas desa.

Kabut menyentuh kulitnya. Dingin, tapi tidak menyakitkan. Dunia di belakangnya memudar, digantikan keheningan yang begitu dalam hingga ia bisa mendengar napasnya sendiri. Jantungnya berdebar kencang, antara takut dan penasaran.

Saat itu, Arka belum tahu bahwa langkah kecilnya akan membuka pintu yang telah tertutup ratusan tahun.

Dan bahwa kabut tidak hanya menyembunyikan hutan—

melainkan sebuah kerajaan yang sedang menunggunya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca