

Kabut turun lebih awal pagi itu.
Ia merayap perlahan dari lereng gunung, menyusup di antara pepohonan pinus, lalu menelan jalan setapak menuju hutan utara. Dari kejauhan, kabut tampak seperti dinding putih tak berujung—diam, namun mengandung sesuatu yang membuat dada Arka terasa sesak setiap kali memandangnya.
“Jangan pernah ke sana.”
Kalimat itu selalu terngiang di kepalanya. Pesan terakhir ibunya, diucapkan dengan suara lemah di ranjang kayu kecil mereka, bertahun-tahun lalu. Saat itu Arka masih terlalu muda untuk bertanya lebih jauh. Sekarang, larangan itu justru menjadi pertanyaan yang tak pernah berhenti tumbuh.
Arka berdiri di tepi ladang kentang milik pamannya, menatap batas hutan yang samar. Usianya tujuh belas tahun, dan sepanjang hidupnya ia belum pernah melangkah melewati batu besar penanda batas desa. Tak seorang pun pernah. Mereka menyebut hutan itu wilayah kabut, tempat orang-orang yang nekat masuk tak pernah kembali—atau kembali sebagai orang yang berbeda.
Angin dingin berembus, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang asing. Arka merapatkan jaketnya dan hendak berbalik, ketika sesuatu berkilau samar di tanah dekat kakinya.
Sebuah liontin.
Arka mengernyit. Ia yakin benda itu bukan miliknya—namun saat mengambilnya, jantungnya berdegup lebih cepat. Liontin itu terbuat dari batu keabu-abuan, dingin di telapak tangan, dengan ukiran simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Anehnya, ia merasa pernah mengenalnya.
Tangannya gemetar.
Ia ingat liontin yang sama tergantung di leher ibunya di hari-hari terakhir. Ia mengira benda itu telah dikubur bersama jasadnya.
“Kenapa ada di sini…?” gumam Arka pelan.
Kabut di tepi hutan bergerak. Bukan tertiup angin—melainkan berputar perlahan, seolah bereaksi terhadap sesuatu. Arka mundur selangkah, napasnya tertahan. Namun liontin di tangannya terasa hangat, denyutnya selaras dengan detak jantungnya sendiri.
Lalu suara itu terdengar.
Bukan suara yang jelas, bukan pula bisikan kata-kata. Lebih seperti panggilan—lembut namun mendesak, seakan seseorang menyebut namanya tanpa suara.
Arka menelan ludah.
“Aku cuma berhalusinasi,” katanya pada diri sendiri. Namun kakinya melangkah maju tanpa ia sadari.
Satu langkah melewati batu penanda batas desa.
Kabut menyentuh kulitnya. Dingin, tapi tidak menyakitkan. Dunia di belakangnya memudar, digantikan keheningan yang begitu dalam hingga ia bisa mendengar napasnya sendiri. Jantungnya berdebar kencang, antara takut dan penasaran.
Saat itu, Arka belum tahu bahwa langkah kecilnya akan membuka pintu yang telah tertutup ratusan tahun.
Dan bahwa kabut tidak hanya menyembunyikan hutan—
melainkan sebuah kerajaan yang sedang menunggunya.